Dalam satu waktu, Giana kehilangan dua hal paling berharga dalam hidupnya. Bayi yang ia nantikan sejak lama, dan suami yang memilih pergi saat ia sangat rapuh. Di tengah duka yang belum sembuh, satu-satunya penghiburnya hanyalah suara tangis bayi yang baru lahir.
Namun, takdir justru mempertemukannya dengan Cameron Rutherford, presdir kaya dan dingin yang tengah mencari ibu susu untuk keponakannya yang baru lahir. Sebuah kontrak pun disepakati. Giana mendadak jadi Ibu susu bagi keponakan sang presdir.
Awalnya, semua berjalan seperti biasa. Giana melakukan tugasnya dengan baik. Tetapi kemudian, semuanya berubah saat Cameron merasa terpesona oleh ibu susu keponakannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Malam itu, Regina duduk di tepi tempat tidur dengan wajah pucat dan mata sembab. Riasan wajahnya yang biasanya sempurna tanpa cela kini sedikit berantakan, seolah tidak lagi menjadi prioritas. Ponsel di tangannya menyala, menampilkan panggilan video yang baru saja terhubung.
Di layar itu, wajah Bianca muncul, tampak elegan seperti biasa, dengan sikap tenang yang mencerminkan kendali diri yang kuat.
“Regina?” panggilnya pelan, keningnya berkerut tipis. “Ada apa, Sayang? Kau terlihat tidak baik.”
Mendengar itu, bibir Regina bergetar. Dalam hitungan detik, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
“Auntie ….” Suaranya langsung pecah, dipenuhi tangisan yang sengaja ia biarkan terdengar jelas. “Aku … aku tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi Cameo.”
Ekspresi Bianca langsung berubah serius. “Ada apa dengan Cameo, Sayang? Apakah dia tidak memperlakukanmu dengan baik?” tanyanya serius. “Tenangkan dirimu dulu lalu ceritakan semuanya pelan-pelan.”
Regina mengangguk sambil menyeka pipinya dengan tisu. Meski tangisnya belum sepenuhnya mereda, ia menarik napas yang terputus-putus sebelum mulai berbicara. I
Kemudian, ia menceritakan kedatangannya ke rumah Cameron, apa yang terjadi di sana sampai tentang Giana dan keberadaan bayinya serta sikap Cameron terhadapnya.
Setiap kalimat yang Regina ucapkan dipenuhi luapan emosi dan drama. Tangisnya menyelip di antara kata-kata, memperkuat kesan luka yang ia tampilkan.
“Kau harus melakukan sesuatu, Auntie,” ucap Regina dengan suara bergetar. “Cameo membiarkannya tinggal di sana. Dia bahkan mendapat perlakuan yang berbeda dari pelayan biasa. Aku tidak ingin Cameo sampai melakukan kesalahan yang akan membuatmu malu dan kesal.”
Kalimatnya menggantung. Ia menunduk, lalu kembali menangis sambil sesekali menyeka pipinya dengan tisu, bersikap seolah-olah dialah wanita yang hatinya paling tersakiti.
“Auntie bahkan tidak akan percaya, Cameo bahkan membentakku hanya demi melindungi pelayan rendahan itu. Aku tidak bisa menerima perlakuan seperti ini, aku adalah calon istrinya, kenapa Cameo begitu tega padaku, Auntie?” lanjutnya lagi.
Bianca terdiam. Awalnya, ia tidak langsung percaya. Ia mengenal putranya sebagai sosok yang tidak bertindak tanpa alasan. Namun melihat kondisi Regina yang tampak begitu hancur dan tidak lagi menjaga citra dirinya, keraguan itu perlahan mulai goyah.
“Kau yakin dengan apa yang kau katakan, Regina?” tanyanya perlahan, sejenak merasa ragu.
Regina mengangguk cepat. “Apakah menurutmu aku berbohong, Auntie? Aku bisa mengerti jika Cameo sibuk dan tidak memiliki waktu untuk menemaniku. Tapi kali ini Cameo benar-benar keterlaluan. Aku tidak bisa menerima perlakuan seperti ini, Auntie!”
Ucapan itu cukup untuk mengubah sesuatu dalam diri Bianca. Tatapannya menjadi lebih tajam, lebih dingin.
“Baiklah,” katanya akhirnya. “Aku mengerti, aku akan langsung menegur Cameo. Berhentilah menangis, kau jadi tidak cantik lagi jika terlalu banyak menangis.”
Regina menatap layar dengan harap. “Aku percaya padamu, Auntie. Terima kasih sudah mendengarkan aku,” katanya dengan mata yang berkaca-kaca.
Lalu, panggilan itu pun berakhir. Di dalam kamar yang kembali sunyi, Regina perlahan mengangkat wajahnya. Tangisnya mereda, namun di balik itu, senyum tipis muncul di sudut bibirnya, merasa puas.
“Kau akan segera tahu posisimu yang sebenarnya, Giana. Dasar pelayan rendahan,” gumamnya tersenyum miring lalu merebahkan dirinya di atas tempat tidur dengan puas. Tidak sia-sia ia mengeluarkan air matanya di hadapan Bianca.
Sementara di sisi lain, Cameron baru saja kembali ke rumah. Hari itu terasa panjang dan melelahkan. Perjalanan, pekerjaan, dan tekanan yang belum sepenuhnya hilang membuat langkahnya sedikit berat. Usai membersihkan diri, ia ingin beristirahat, tetapi pikirannya tertuju pada Cayden.
Begitu ia memasuki kamar Giana, melihat Cayden dan suasana di dalamnya sedikit meredakan pikiran dan rasa lelahnya. Tanpa banyak berpikir, Cameron menggendongnya. Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri melalui keheningan sederhana yang hanya diisi oleh napas kecil Cayden.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama saat ponselnya berdering dengan nyaring. Nama yang tertera di layar membuatnya berhenti sejenak.
“Ibu? Mau apalagi meneleponku malam-malam begini,” gerutu Cameron sebelum akhirnya menerima panggilan itu.
“Halo, Bu?”
Suara Bianca langsung terdengar di ujung sana, tegas dan dingin. “Apa yang sebenarnya terjadi di rumahmu, Cameron?”
Cameron tidak langsung menjawab. Ia sudah bisa menebak arah pembicaraan ini.
“Regina baru saja menghubungi Ibu sambil menangis,” lanjut Bianca. “Dan apa yang ia ceritakan tidak terdengar seperti sesuatu yang bisa aku abaikan.”
Cameron tetap diam. Ia tidak menyangkal, tidak pula mencoba menjelaskan. Seperti biasa, ia memilih mendengarkan. Namun justru sikap itu yang membuat Bianca semakin kesal.
“Jadi, apakah semua itu benar?” tekan Bianca. “Kau membawa seorang wanita ke rumahmu? Menempatkannya di kamar tamu? Apakah semua yang diceritakan Regina itu benar?” Nada suaranya mulai meninggi.
Cameron tetap tidak menyela. Ia berdiri di tengah kamar, masih menggendong Cayden yang mulai bergerak gelisah dalam pelukannya.
“Jawab aku, Cameron. Apakah semua itu benar?” desak Bianca menuntut jawaban.
“Ya,” jawab Cameron akhirnya.
Satu kata, pendek dan tanpa penjelasan itu cukup untuk menegaskan semuanya.
Keheningan sejenak menyelimuti percakapan itu, sebelum akhirnya kemarahan Bianca meledak.
“Apa yang sebenarnya kau pikirkan, Cameron?!” bentaknya, bahkan amarahnya dapat Cameron ketahui dengan jelas, suaranya sarat emosi yang tidak lagi ditahan. “Kau tahu posisimu, kan? Kau tahu apa yang bisa saja kau pertaruhkan di sini, kan?”
Cameron menutup matanya sejenak, menahan napas. Ia tetap diam, tetap mendengarkan, seperti yang selalu ia lakukan. Namun tanpa ia sadari, genggamannya sedikit berubah. Dan itu cukup untuk membuat Cayden menangis.
Tangisan itu pecah tiba-tiba, keras dan memenuhi ruangan. Suara itu bahkan terdengar jelas melalui sambungan telepon.
Bianca terdiam sesaat. “Suara tangis siapa itu?” tanyanya tajam. “Apakah kau sedang menggendong anak pelayan itu Cameron?”
Cameron melirik Cayden di pelukannya yang kini menangis, wajah kecil itu memerah dan tubuhnya bergerak gelisah.
“Iya,” jawabnya singkat.
Namun jawaban singkat itu justru memperkeruh keadaan. “Sekarang kau bahkan tidak bisa berpikir jernih? Untuk apa kau menggendong seorang anak pelayan?” tanya Bianca, tak habis pikir.
Tangisan Cayden semakin keras, menciptakan suasana yang semakin menekan. Namun, sikap Cameron tetap sama seperti sebelumnya.n
“Dengarkan aku baik-baik, Cameron,” lanjut Bianca dengan suara yang kini lebih rendah, tetapi tetap tegas. “Aku tidak peduli apa yang kau lakukan di sana. Tapi jangan sampai kau melakukan sesuatu yang bisa merusak nama keluarga kita. Dan segera bujuk Regina. Aku tidak ingin calon menantuku merasa sedih terus-menerus karena sikapmu.”
Setiap kata yang diucapkan oleh sang ibu itu terasa seperti peringatan yang tidak bisa diabaikan.
Cameron tetap tidak mengatakan apapun hingga sang ibu memutuskan panggilan itu secara sepihak. Ia hanya menatap Cayden yang masih menangis dalam pelukannya.
“Bagaimana aku bisa menjelaskannya kepadamu, Bu? Bahwa Cayden sebenarnya adalah cucumu,” gumamnya menatap Cayden dengan sendu.