NovelToon NovelToon
Balas Dendam Menantu Terhina

Balas Dendam Menantu Terhina

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Xavero Ravindra—pria yang pernah diremehkan oleh keluarga mantan istrinya. Dipandang rendah karena status, diabaikan seolah tak punya nilai.

Namun di balik diamnya, ia menyimpan keteguhan yang tak mudah dipatahkan. ia tidak membalas dengan kata-kata. Ia memilih bangkit... dan membuktikan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Target diburu

“Berhenti!”

Xavero menoleh cepat. Di sisi kanan dan kirinya, terlihat segerombolan motor mulai mengepungnya.

Salah satu dari mereka mengangkat pistol, mengarahkannya lurus ke arah Xavero. “Kalau lo gak mau berhenti, lo mati malam ini juga!” teriaknya.

Xavero masih berada di atas motornya. Tatapannya lurus ke depan, waspada. Area di sekitarnya tampak sepi—gelap, tanpa bangunan, hanya jalanan kosong yang membentang.

“Sial…” gumamnya pelan.

Dor!

Suara tembakan memecah kesunyian malam. Peluru meleset, menghantam aspal tak jauh dari ban motornya, memercikkan debu dan serpihan kecil.

Xavero tersentak. Motornya refleks oleng, namun ia berusaha mengendalikan setir dengan kuat.

Tanpa berpikir panjang, ia mencoba melaju, berusaha keluar dari kepungan itu.

Namun lawannya bukan hanya satu.

Dari arah depan, salah satu motor tiba-tiba menghadang jalannya.

Xavero mengerem mendadak.

“Turun lo!”

Xavero menatapnya tajam, rahangnya mengeras. Ia tahu, tidak ada pilihan lain.

Dengan perlahan, ia turun dari motornya.

Belum sempat ia bereaksi lebih jauh—

Bugh!

Tubuh Xavero terhuyung ke depan, pandangannya sempat berkunang sesaat.

Namun sebelum tubuhnya benar-benar jatuh, Ia menahan diri.

Rahangnya mengeras.

Perlahan, ia berdiri kembali.

Tatapannya berubah.

Bukan lagi sekadar waspada, tapi dingin.

“Cuma segini?” ucapnya rendah.

Salah satu pria itu menyeringai.

“Masih bisa bacot juga, ya.”

Tanpa aba-aba, satu orang maju. Melayangkan pukulan lurus ke arah wajahnya.

Xavero menghindar cepat.

Bugh!

Ia membalas dengan hantaman ke perut pria itu hingga terhuyung mundur.

Namun, dua orang lain langsung menyerang dari sisi kanan dan kiri.

Puk!

Puk!

Satu pukulan mendarat di bahunya.

Satu lagi hampir mengenai wajahnya.

Xavero mundur selangkah, napasnya mulai berat.

Jumlah mereka terlalu banyak.

Ia menyapu pandangan cepat.

Sepuluh orang.

Dan semuanya bukan orang sembarangan.

Salah satu dari mereka kembali mengangkat pistol, mengarahkannya santai.

“Jangan terlalu lama,” ucapnya dingin. “Bos cuma mau dia… lumpuh.”

Kalimat itu membuat tatapan Xavero semakin gelap.

Tanpa menunggu, ia bergerak lebih dulu.

Cepat.

Ia menendang kaki salah satu pria hingga jatuh, lalu menarik kerahnya dan menjadikannya tameng saat—

Dor!

Tembakan kembali terdengar.

Peluru itu mengenai lengan pria yang ia jadikan tameng.

Teriakan pecah.

Xavero mendorong tubuh itu ke arah penembak, lalu menerjang maju.

Bugh!

Satu pukulan telak mendarat di wajah pria lain.

Namun—

Brak!

Seseorang menghantam punggungnya dengan benda keras.

Xavero terjatuh ke satu lutut.

Napasnya tercekat.

Belum sempat bangkit—

Puk!

Puk!

Dua pukulan bertubi-tubi mendarat di tubuhnya.

Ia mencoba melawan, namun gerakannya mulai melambat.

Tenaganya terkuras.

Darah mulai terasa di sudut bibirnya.

Pandangan Xavero sedikit kabur.

Salah satu dari mereka menarik kerahnya kasar.

“Masih mau lawan?” ejeknya.

Xavero tertawa pelan.

Serak.

“Kalau cuma kalian…” gumamnya, “belum cukup.”

Brugh!

Pukulan keras kembali mendarat di wajahnya hingga tubuhnya jatuh ke aspal.

Kini, ia benar-benar tergeletak.

Namun tangannya masih mengepal.

Berusaha bangkit.

Sekali lagi.

Pelan.

Tubuhnya gemetar.

Luka di beberapa bagian mulai terasa jelas.

Satu orang menendang perutnya.

Bugh!

Xavero meringis, tapi tidak berteriak.

Ia hanya menahan.

Menatap mereka dengan sorot yang masih sama, keras.

Salah satu dari mereka kembali maju, berniat menghajar Xavero sekali lagi.

Namun belum sempat pukulannya mendarat—

Brugh!

Tubuhnya justru terlempar lebih dulu, jatuh keras ke aspal.

Temannya yang lain langsung menoleh kaget. Ia melihat rekannya sudah tergeletak, lalu mengalihkan pandangan ke arah beberapa orang yang kini berdiri tak jauh dari sana.

“Siapa kalian?! Jangan ikut campur!” bentaknya.

Salah satu dari mereka melangkah maju, menyeringai tipis.

“Dasar pecundang… beraninya main keroyokan,” ucapnya dingin.

Tanpa banyak bicara lagi, ia dan empat rekannya langsung bergerak.

Pertarungan pun tak terhindarkan.

Suara pukulan dan tendangan saling bersahutan di tengah jalan yang sunyi. Salah satu penyerang terhuyung setelah menerima pukulan telak di wajah, sementara yang lain jatuh tersungkur saat dihantam dari samping.

Sementara itu, salah satu dari mereka berjalan mendekati Xavero yang masih berusaha menyeimbangkan diri.

“Lo nggak apa-apa?” tanyanya.

Xavero membuka mata perlahan.

Pandangannya masih buram, tapi siluet pria di depannya mulai terlihat jelas.

Napasnya berat.

“Aman,” gumamnya serak.

Pria itu tersenyum tipis, lalu berjongkok di depannya.

“Bagus. Gue kira lo udah tumbang beneran.”

Xavero mencoba bangkit, tapi tubuhnya langsung goyah.

Pria itu refleks menahan bahunya.

“Jangan dipaksain. Kondisi lo udah kacau.”

Di belakang mereka, suara pukulan kembali terdengar.

Bugh!

Brak!

Puk!

Perkelahian berlangsung cepat dan brutal.

Lima orang yang datang tadi bukan orang biasa.

Gerakan mereka rapi, terlatih.

Satu orang menjatuhkan lawan dengan pukulan tepat di rahang.

Yang lain menyapu kaki hingga lawannya tersungkur sebelum dihantam tanpa ampun.

Dalam hitungan menit, keadaan berbalik.

Satu per satu penyerang Xavero tumbang di aspal.

Yang tersisa memilih mundur, menyeret tubuh temannya yang terluka.

“Anjing… mundur!” teriak salah satu dari mereka.

Motor kembali meraung.

Dalam sekejap, mereka menghilang ke dalam gelapnya malam.

Hening.

Hanya suara napas berat yang tersisa.

Pria di samping Xavero melirik ke arah teman-temannya yang baru saja menyelesaikan pertarungan.

“Beres.”

“Terima kasih, Bang…” ucap Xavero pelan, napasnya masih sedikit tersengal.

Pria itu mengangguk singkat, namun tatapannya tak lepas dari wajah Xavero. Ia memperhatikan lebih dalam, seolah mencoba memastikan sesuatu.

Deg!

“Tatapannya… sama seperti Tuan saat muda,” gumamnya pelan, hampir tak terdengar.

“Rik, sepertinya dia nggak bisa bawa motor.”

Erik tersadar dari lamunannya. Ia mengedipkan mata sekali, lalu kembali fokus.

“Di mana alamat lo? Kita antar,” ucapnya tegas.

“Saya masih bisa, Bang… bawa motor sendiri,” balas Xavero, berusaha bangkit.

Namun tubuhnya goyah. Tenaganya seakan terkuras habis.

“Udah, jangan sok kuat,” potong Erik. Ia menoleh ke arah rekannya. “Teman gue yang bakal antar lo.”

Ia kembali bersuara, kali ini lebih tegas.

“Bawa dia balik. Dan lo, Bim… bawa motor dia.”

Mereka berdua mengangguk patuh, lalu segera membantu Xavero berdiri. Salah satu merangkul bahunya agar tetap seimbang.

“Bawa dia ke rumah sakit,” tambah Erik, yang langsung diangguki oleh rekannya.

Tak lama, mereka pun membawa Xavero pergi dari tempat itu, meninggalkan jalanan yang kembali sunyi.

Namun—

Tatapan Erik masih terpaku ke arah Xavero yang semakin menjauh.

Belum berubah.

“Rik… lo sadar gak?” ucap Edward, saudara kembar Erik, berdiri di sampingnya. “Dia mirip Tuan… waktu masih muda.”

Erik mengangguk pelan. “Iya, Ward… gue juga ngerasa gitu.”

Hening sejenak.

Angin malam berhembus pelan, membawa suasana yang tiba-tiba terasa berbeda.

Mereka saling menatap.

“Jangan bilang...”

1
Adrianus Eleuwarin
banyakin thor up ny
Adrianus Eleuwarin: ok tetap semangat and sukses tetus cerita nya 💪💪💪
total 2 replies
Hendra Yana
good job
Hendra Yana
gasss pol
Nona Jmn
🤭🤭
indri ana
ini baru namanya sahabat🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!