“Benciku adalah candu, dan obsesinya adalah penjara paling mematikan.”
Ceisya, seorang santriwati tengil sekaligus hacker cerdas, tiba-tiba terbangun dalam tubuh Ceisyra Valenor—tokoh antagonis yang seharusnya mati tragis.
Namun takdir berubah…
Kaelthas Virelion, penguasa dunia bawah yang dingin dan kejam, justru terobsesi padanya—bahkan menikahinya secara rahasia.
Di tengah fitnah licik sang adik, Clarisse, serta ancaman Axton—rival berbahaya yang mulai kehilangan kendali karena dirinya—Ceisya terjebak dalam permainan yang mematikan.
Haruskah ia melarikan diri dari sangkar emas itu…
atau bertahan dalam perlindungan berbahaya dari pria posesif yang siap menghancurkan dunia demi dirinya?
“Kamu adalah napasku, Ceisyra. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merebutmu dariku.”
Takdir, obsesi, dan kekuasaan bertabrakan.
Mampukah Ceisya mengendalikan nasibnya sendiri… atau justru tenggelam dalam obsesi yang semakin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyelamatan Berdarah di Pelabuhan Tua
Pukul 23:00 Malam – Ruang Rahasia Penthouse.
Kaelthas baru saja pergi dengan konvoi besarnya, meninggalkan Ceisya terkunci di ruang rahasia dengan sistem keamanan tingkat militer. Kaelthas pikir dengan mengunci Ceisya, ia bisa melindungi miliknya. Tapi dia lupa satu hal: Ceisya adalah mahasiswi TI semester akhir yang otaknya lebih encer dari kabel server.
"Dikiranya aku beneran bakal duduk manis nunggu dia bawa kepala Axton? Enak aja! Aku bukan Clarisse yang cuma bisa nangis cantik," gumam Ceisya sambil memakai sepatu boots-nya.
Jemarinya menari di atas keyboard utama di ruang rahasia itu. "Maaf ya, Mas Suami Posesif, sistem keamananmu ini cuma butuh waktu tiga menit buat aku bobol."
CLICK!
Pintu rahasia terbuka. Ceisya tidak lewat lift utama, ia meluncur lewat saluran pembuangan udara yang sudah ia retas jalurnya. Di bawah, ia sudah memesan taksi online lewat akun palsu. Namun, saat ia keluar dari gedung, dua orang sudah menunggunya dengan motor sport.
"Lama banget sih lo! Gue udah abis tiga bungkus kuaci nih!" teriak Rara dari balik helmnya.
"Gue udah siapin tongkat baseball sama cabe bubuk buat nyemprot si Ular Tato itu, Cei!" sahut Bimo yang duduk di motor satunya, siap dengan jaket ojolnya buat penyamaran.
"Sableng kalian emang! Ayo jalan!" Ceisya naik ke motor Bimo. Duo sahabat gokil ini ternyata nggak bisa membiarkan sahabat mereka dalam bahaya.
Pukul 00:00 Tengah Malam – Pelabuhan Tua Jakarta.
Suasana pelabuhan sangat mencekam. Kabut laut menyelimuti kontainer-kontainer karatan. Kaelthas berdiri di tengah lapangan luas, dikelilingi oleh Guntur dan timnya. Di depannya, Axton duduk di atas tumpukan kayu, memegang pisau yang ditempelkan ke leher Bastian Valenor yang sudah babak belur.
"Mana istrimu, Kael? Aku tidak butuh nyawa tua bangkai ini. Aku butuh dewi perangku," ucap Axton sambil menjilat bibirnya sendiri dengan tatapan obsesif.
"Kau tidak akan pernah melihatnya lagi, Axton. Malam ini adalah malam terakhirmu bernapas," sahut Kaelthas dingin. Senjatanya sudah terkokang.
Tepat saat ketegangan mencapai puncak, suara raungan mesin motor terdengar. Sebuah motor melompat melewati tumpukan ban bekas.
"DOR!"
Bukan tembakan peluru, tapi letusan kembang api yang dilempar Bimo untuk mengacaukan pandangan. Di tengah asap warna-warni itu, Ceisya melompat dari motor dan langsung melancarkan tendangan terbang ke arah anak buah Axton yang memegang Bastian.
"CEISYRA?!" teriak Kaelthas dan Axton bersamaan. Kaelthas panik, Axton malah kegirangan.
Ceisya mendarat dengan anggun, jilbab hitamnya berkibar tertiup angin laut. "Halo para cowok posesif! Maaf telat, tadi macet di lampu merah!" serunya dengan gaya tengil.
Rara muncul dari balik kontainer sambil membawa toa (pengeras suara). "WOI ULAR TATO! MENYERAH LO! POLISI UDAH GUE TELPON... TAPI BOONG! TAPI TEMEN GUE JAGO SILAT, RASAIN LO!"
Axton tertawa gila. "Ini dia! Ini yang aku mau! Wanita yang punya nyali!" Axton melepaskan Bastian dan menerjang Ceisya.
Pertarungan jarak dekat terjadi. Ceisya menggunakan teknik silat pesantrennya yang mematikan. Ia berkelit dari serangan pisau Axton, lalu menangkap lengan pria itu dan melakukan bantingan aikido yang keras.
BRAKK!
Axton jatuh menghantam tanah, namun ia justru meraih kaki Ceisya dan menariknya. Kaelthas yang melihat istrinya dalam bahaya tidak tinggal diam. Ia menerjang maju dan menghantam rahang Axton dengan pukulan maut.
"JANGAN. SENTUH. ISTRIKU!" teriak Kaelthas dengan gairah pelindung yang luar biasa.
BRAKK!
Sepatu pantofel mahal milik Kaelthas menghantam tepat di rahang Axton, membuat cengkeraman pria itu terlepas seketika. Kaelthas tidak berhenti di sana. Dengan mata yang sudah memerah karena amarah murni, ia menarik kerah jaket Axton dan menghantamkan lututnya ke perut pria itu berkali-kali.
"Sudah kukatakan padamu, jangan sentuh milikku dengan tangan kotormu itu!" raung Kaelthas.
Axton terbatuk darah, namun bukannya takut, ia justru tertawa gila. Ia menyapu darah di bibirnya dengan punggung tangan dan melancarkan pukulan balasan yang mengenai tulang pipi Kaelthas.
Keduanya berguling di atas aspal pelabuhan yang kasar. Kaelthas bertarung dengan teknik militer yang presisi dan mematikan, sementara Axton bertarung seperti binatang buas—liar dan tak terduga.
Axton mencabut pisau lipat dari balik sepatunya dan mengayunkannya ke arah dada Kaelthas. Kaelthas berkelit, namun ujung pisau itu sempat menyobek kemeja hitamnya, meninggalkan goresan merah di kulitnya yang kokoh.
Tanpa membuang waktu, Kaelthas menangkap pergelangan tangan Axton, memutarnya dengan paksa hingga terdengar suara KRAK yang mengerikan.
"Argh!" Axton mengerang, pisaunya terjatuh.
Kaelthas tidak memberi napas. Ia menghujani wajah Axton dengan pukulan bertubi-tubi. Pukulan pertama menghancurkan hidung Axton, pukulan kedua merobek pelipisnya. Kaelthas benar-benar kehilangan kendali diri; setiap pukulan adalah balasan atas ketakutan yang ia rasakan saat Ceisya hampir direnggut darinya.
"Kael, sudah! Kamu bisa membunuhnya!" teriak Ceisya dari kejauhan sambil melumpuhkan anak buah Axton yang lain.
Axton yang sudah babak belur justru menatap Kaelthas dengan tatapan mengejek. "Bunuh aku, Kael... ayo bunuh aku! Tapi ingat, selama aku masih bernapas, aku akan menghantuimu. Aku akan mengambil permata ini darimu dan merusaknya tepat di depan matamu!"
Mendengar kata merusak, Kaelthas semakin gelap mata. Ia mencengkeram leher Axton, mengangkatnya sedikit, dan menghantamkan kepala Axton ke sebuah kontainer besi di belakang mereka.
DANG!
Suara logam yang berdentum keras itu menggema di seluruh dermaga. Axton langsung terkulai lemas, matanya memutar ke atas sebelum akhirnya jatuh pingsan dengan tubuh bersimbah darah.
Kaelthas berdiri di atas tubuh musuhnya yang tak berdaya itu. Napasnya memburu kasar, dadanya naik turun dengan cepat. Tangan yang tadi memukul Axton kini gemetar hebat—bukan karena takut, tapi karena adrenalin dan amarah yang belum tuntas.
Ia berbalik pelan, menatap Ceisya yang berdiri terpaku dengan jilbab yang sedikit miring. Auranya yang haus darah seketika melunak saat matanya bertemu dengan mata jernih istrinya.
Kaelthas masih berdiri dengan napas memburu di depan Ceisya. Saat ia hendak menarik Ceisya ke dalam pelukannya, dua sosok tiba-tiba muncul dari balik kontainer dengan gaya yang sangat tidak estetik.
"CEI! GILA LO YA! Itu tadi jurus apa?! Tendangan maut apa tendangan rindu?!" teriak Rara sambil berlari kencang, masih memegang toa di tangan kiri dan tas skincare di tangan kanan.
"Aduh Cei, jantung gue mau copot! Untung sambel ulek emak gue manjur buat bikin buta musuh!" sahut Bimo yang menyusul di belakang, napasnya tersengal-sengal sambil masih memegang plastik berisi sisa cilok.
Kaelthas langsung memasang posisi protektif, menghalangi Ceisya. Matanya yang tajam menatap Rara dan Bimo dengan aura mengintimidasi yang sangat pekat. Guntur dan tim pengawal lainnya pun sudah bersiap mencabut senjata.
"Kael, santai! Ini Duo Sableng yang aku ceritain," ucap Ceisya sambil menepuk bahu kokoh Kaelthas.
Rara berhenti mendadak tepat di depan Kaelthas. Ia mendongak, menatap wajah Kaelthas yang tinggi menjulang, tampan, tapi menyeramkan. "Waduh... ini toh Mas Sultan yang posesif itu? Ganteng banget, Cei! Pantesan lo betah dikurung, kalau gue mah udah pingsan duluan liat rahangnya!"
Bimo ikut mendekat, ia malah menyodorkan plastik ciloknya ke arah Kaelthas. "Om Sultan, mau cilok nggak? Masih anget nih, tadi gue beli pas nungguin Ceisya berantem. Anggap aja salam kenal dari rakyat jelata."
Kaelthas tertegun. Belum pernah ada orang yang berani menyodorkan cilok di depan wajahnya setelah ia baru saja menghancurkan wajah musuh. Ia menatap plastik cilok itu, lalu menatap wajah polos Bimo dan wajah genit Rara secara bergantian.
Sudut bibir Kaelthas berkedut. Sangat tipis, namun Ceisya bisa melihatnya—Kaelthas tersenyum. Sebuah senyuman remeh namun tulus karena ia merasa dua orang di depannya ini sangat tulus melindungi istrinya dengan cara mereka yang konyol.
"Terima kasih sudah menjaga istriku," ucap Kaelthas dengan suara baritonnya yang berat. Ada sedikit nada cemburu saat ia melihat betapa akrabnya Ceisya tertawa dengan Bimo, tapi rasa syukur lebih mendominasi.
"Sama-sama, Om Sultan! Tapi lain kali kalau mau perang kasih kabar ya, biar gue bawa pasukan tawuran dari pasar induk!" balas Bimo semangat.
Kaelthas kembali ke mode dinginnya. Ia merangkul bahu Ceisya dengan sangat posesif, seolah ingin menunjukkan siapa pemilik sah bidadari itu. "Guntur, berikan kartu namaku pada mereka. Beri mereka fasilitas apa pun yang mereka mau sebagai tanda terima kasihku."
Kaelthas lalu menatap Rara dan Bimo dengan tatapan tajam. "Kami harus pergi. Jangan mencoba mencari Ceisyra selama sebulan ke depan. Dia ada dalam otoritas penuhku."
"Wuidih, bahasanya 'otoritas penuh'! Bilang aja mau unboxing istri di tempat sepi kan, Om?" celetuk Rara tanpa saringan.
Wajah Ceisya memerah seketika. Kaelthas tidak menjawab, ia hanya menarik Ceisya menuju mobil dengan langkah lebar.
"Dah Ceisya! Inget ya, kalau Om Sultan galak, telpon gue! Nanti gue kirim santet cilok!" teriak Bimo sambil melambaikan tangan saat mobil mewah Kaelthas meluncur pergi.
kok kejam amat
menarik banget alurnya 😃
seperti biasa kutunggu cerita tamat dulu baru ku baca