NovelToon NovelToon
One Night Stand

One Night Stand

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:17.2k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Elvara Naysha kembali ke kota setelah lima tahun, membawa rahasia terbesar dalam hidupnya yaitu seorang putra bernama Rheon.

Ia ingin memulai hidup baru, sampai takdir mempertemukannya lagi dengan Zayden Alvero, CEO dingin yang pernah menghabiskan satu malam bersamanya.

Zayden tak mengingat masa lalu itu, tetapi ia tak bisa mengabaikan wajah Rheon yang terlalu mirip dengannya.

Saat Zayden mulai mengejar kebenaran, Elvara harus memilih antara lterus menyembunyikan rahasia itu, atau menghadapi pria yang mungkin masih memiliki hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34 Pelarian Kedua

Malam itu turun tanpa suara, tetapi terasa berat sejak awal. Kota tetap hidup seperti biasa, lampu-lampu menyala dan kendaraan berlalu lalang tanpa henti, sementara orang-orang menjalani rutinitas mereka tanpa tahu bahwa di satu sudut kecil, sebuah keputusan besar sedang dibuat dengan tangan yang gemetar. Di dalam apartemen yang selama ini menjadi tempat paling aman baginya, Elvara berdiri di tengah ruang tamu dengan napas yang tidak stabil, mencoba mengumpulkan keberanian yang terasa semakin tipis.

Tas sudah terbuka di atas sofa, isinya setengah penuh dengan barang-barang penting yang ia ambil tanpa banyak berpikir. Dokumen, pakaian Rheon, obat-obatan, semuanya ia masukkan dengan gerakan cepat, meskipun jari-jarinya sesekali berhenti karena gemetar. Ia tidak punya banyak waktu untuk menimbang, karena setiap detik terasa seperti ancaman yang semakin mendekat. Sejak percakapan di rumah sakit itu, satu hal menjadi sangat jelas di kepalanya, bahwa Zayden tidak akan berhenti sampai ia mendapatkan jawaban yang ia inginkan.

Ia menutup koper kecil itu dengan cepat, suara resleting terdengar tajam di tengah keheningan ruangan yang terlalu sunyi. Elvara berhenti sejenak, kepalanya sedikit menoleh ke arah pintu seolah mengharapkan sesuatu, lalu menahan napas sambil mendengarkan. Tidak ada suara langkah, tidak ada tanda kehadiran orang lain, tetapi jantungnya tetap berdetak terlalu cepat. Ia mengusap wajahnya pelan sebelum berbalik menuju kamar, memaksa dirinya tetap bergerak sebelum keraguan sempat menguasai.

Lampu kamar menyala redup, menciptakan bayangan lembut di dinding yang terasa terlalu tenang untuk situasi seperti ini. Rheon tertidur di atas tempat tidur, napasnya stabil, wajahnya jauh lebih baik dibandingkan beberapa jam sebelumnya. Melihat itu, langkah Elvara melambat tanpa ia sadari, seolah tubuhnya mencoba menghentikan keputusan yang sudah ia buat. Ia duduk di tepi ranjang, menatap wajah kecil itu lebih lama dari yang seharusnya, mencoba mengingat setiap detail seolah ia akan kehilangannya.

Tangannya terangkat perlahan, menyentuh rambut Rheon dengan lembut, mengikuti garis kecil yang sudah ia kenal di luar kepala. “Sayang...” bisiknya pelan, meskipun ia tahu anak itu tidak benar-benar mendengar. Rheon bergerak sedikit, alisnya berkerut, tetapi tidak bangun sepenuhnya, hanya bergeser lebih dekat ke arah sentuhan itu. Elvara menunduk, mencium keningnya dengan hati-hati, seolah takut momen itu akan pecah jika ia bergerak terlalu cepat.

“Maaf.”

Satu kata itu keluar begitu saja, lebih seperti napas daripada suara. Ia sudah mengucapkannya berkali-kali dalam hidup, tetapi kali ini terasa paling berat, seolah membawa semua keputusan yang tidak pernah ia jelaskan. Ia mengangkat Rheon perlahan, berhati-hati agar tidak membangunkannya, namun anak itu tetap mengerang kecil sebelum akhirnya memeluk lehernya secara refleks. Gerakan sederhana itu membuat dada Elvara terasa sesak, tetapi ia membalas pelukan itu lebih erat tanpa berpikir.

“Kita pergi sebentar.”

Bisikan itu nyaris tidak terdengar, namun cukup untuk dirinya sendiri. Ia meraih tas, mematikan lampu kamar, lalu melangkah keluar tanpa menoleh lagi. Setiap langkah terasa seperti meninggalkan sesuatu yang tidak bisa ia ambil kembali, tetapi ia tetap berjalan, karena berhenti hanya akan membuatnya ragu. Dan ragu adalah hal terakhir yang ia izinkan malam ini.

Lift turun perlahan, angka di layar bergerak satu per satu dengan kecepatan yang terasa menyiksa. Elvara berdiri di dalam, memeluk Rheon yang masih setengah tidur, tubuh kecil itu terasa hangat di pelukannya. Tangannya dingin, kontras dengan suhu tubuh anak itu, sementara pikirannya dipenuhi kemungkinan yang tidak ingin ia pikirkan terlalu jauh. Ia tidak tahu ke mana mereka akan pergi, tetapi ia tahu mereka tidak bisa tetap di tempat yang sama.

Pintu lift terbuka dengan bunyi pelan, memperlihatkan lobi yang hampir kosong. Hanya satu petugas keamanan yang duduk di meja depan, sesekali melirik tanpa benar-benar memperhatikan. Elvara menunduk sedikit, menjaga langkahnya tetap tenang meskipun hatinya berdebar cepat. Ia berjalan melewati pintu keluar, mendorongnya perlahan sebelum udara malam menyambut dengan dingin yang menusuk.

Di tepi jalan, ia mengangkat tangan untuk menghentikan taksi yang lewat. Kendaraan itu berhenti, dan ia langsung masuk tanpa ragu, menyebutkan tujuan dengan suara yang lebih tegas dari yang ia rasakan. “Bandara.” Mobil mulai bergerak, meninggalkan gedung apartemen yang selama ini menjadi tempat pulang, dan Elvara tidak menoleh ke belakang.

Lampu kota berlari di balik jendela, berubah menjadi garis-garis cahaya yang kabur. Di dalam mobil itu, Elvara akhirnya menghembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan, namun tidak ada rasa lega yang menyertainya. Ia hanya merasa kosong, seperti sesuatu di dalam dirinya tertinggal di tempat yang baru saja ia tinggalkan. Tangannya bergerak mengambil ponsel, menatap layar beberapa detik sebelum akhirnya mematikannya tanpa ragu.

Layar itu menjadi gelap, sama seperti keputusan yang ia ambil. Tidak ada panggilan yang akan masuk, tidak ada pesan yang akan ia baca, dan tidak ada cara bagi siapa pun untuk menemukannya dengan mudah. Ia menyandarkan kepala ke kursi, memejamkan mata sejenak, tetapi bayangan itu tetap datang. Wajah Zayden, tatapan tajam yang tidak lagi ragu, dan pertanyaan yang terus berulang di kepalanya.

Di sisi lain kota, Zayden berdiri di depan pintu apartemen yang tertutup rapat. Tangannya masih berada di udara setelah mengetuk beberapa kali tanpa jawaban, sementara alisnya mulai berkerut. Ia mencoba lagi, kali ini lebih keras, tetapi hasilnya tetap sama, hanya keheningan yang menyambut. Perasaan tidak nyaman muncul perlahan, tumbuh menjadi sesuatu yang lebih jelas saat ia mengeluarkan ponsel.

Ia menghubungi nomor Elvara, tetapi suara di ujung sana hanya memberi satu jawaban. Tidak aktif. Zayden diam beberapa detik, menatap layar sebelum mencoba lagi, berharap ada perubahan yang tidak datang. Sesuatu langsung terasa salah, dan kali ini ia tidak mengabaikannya.

Ia menekan nomor lain, menunggu hanya beberapa detik sebelum suara itu menjawab. “Arsen.”

“Ya, Pak.”

“Di mana dia.”

Nada suaranya tenang, tetapi jelas tidak memberi ruang untuk kesalahan. Di ujung sana terdengar jeda singkat sebelum jawaban datang, sementara Zayden tetap menatap pintu di depannya dengan tatapan yang mulai berubah. “Saya masih mencoba melacak, Pak.”

“Dia tidak ada di sini.”

Kalimat itu keluar datar, tetapi rahangnya mengeras. “Dia pergi.”

Ia tidak menunggu lebih lama, langsung menutup panggilan dan berbalik. Langkahnya cepat, penuh tujuan, tanpa ragu sedikit pun. Ia sudah menduga kemungkinan ini sejak awal, tetapi melihatnya terjadi tetap memicu sesuatu yang tidak bisa ia abaikan.

Mobil taksi berhenti di depan bandara, lampu terang menyambut kedatangan mereka. Elvara turun dengan cepat, membayar sopir tanpa banyak bicara sebelum melangkah masuk. Suasana di dalam ramai, penuh orang dengan tujuan masing-masing, tetapi semuanya terasa jauh darinya. Ia bergerak mengikuti arus, mengurus tiket dengan cepat, menjawab seperlunya tanpa memberi ruang untuk percakapan.

Setelah semuanya selesai, ia duduk di ruang tunggu dengan Rheon di pelukannya. Anak itu bergerak sedikit, membuka mata perlahan sebelum menatapnya dengan bingung. “Mommy...” suaranya masih berat oleh kantuk.

“Iya, sayang.”

“Kita di mana...”

“Pergi sebentar.”

Rheon tidak bertanya lagi, hanya mengangguk kecil sebelum kembali memeluknya. Kepercayaan sederhana itu membuat dada Elvara kembali sesak, tetapi ia menahannya dengan napas panjang. Ia tidak boleh goyah sekarang, tidak setelah sejauh ini.

Pengumuman keberangkatan terdengar di udara, memanggil penumpang untuk bersiap. Elvara berdiri perlahan, menguatkan langkahnya meskipun hatinya masih tertinggal di tempat lain. Ia tidak menoleh, tidak memberi dirinya kesempatan untuk ragu, karena ia tahu satu hal dengan pasti.

Jika ia berhenti sekarang, ia tidak akan pernah benar-benar pergi.

Dan di tempat lain, seseorang baru saja memutuskan bahwa kali ini, ia tidak akan membiarkan itu terjadi lagi.

1
Lisa
Good job Zayden..kamu harus melindungi Elvara & Rheon..
Lisa
👍👍 berarti Elvara mulai ada perasaan cinta nih ke Zayden..udh diresmikan aj hubungan kalian..😊
Lisa
Benar Elvara kamu harus mencoba lg utk percaya pd Zayden..supaya Zayden dapat membuktikan kata²nya yaitu tdk meninggalkan kalian lg
Lisa
Gitu donk Elvara kamu harus mempertimbangkan lg lamaran dari Zayden..dia serius loh mau nikah sama kamu & jadi papa seutuhnya utk Rheon
Lisa
Ngapain sih si Celestia ini muncul lg..sadar donk Zayden tdk menyukaimu..
Lisa
Ayo Zayden..tinggal di rmh itu dan jadi ayah yg sesungguhnya utk Rheon
Lisa
👍 ada perkembangan yg bagus nih..Zayden mau memperbaiki kesalahannya di masa lalu & Elvara mau menerimanya..
Lisa
Syukurlah akhirnya Elvara menceritakan semuanya & Zayden bisa memahami..setelah ini kamu tidak sendiri lg Elvara..
Lisa
Moga Zayden & Elvara dpt bersatu lg
Lisa
Akhirnya Rheon memanggil Zayden Daddy..itulah kata yg sangat berarti utk Zayden..moga aj setelah ini Zayden bisa bersatu dgn Elvara..
Lisa
Pelan² Rheon mulai menyayangi Zayden..Elvara jg mulai merasa nyaman dengan kehadiran Zayden..
Lisa
Moga lama² Elvara membuka hatinya lg utk Zayden
Lisa
Moga hubungan mereka bertiga makin dekat..dan membentuk 1 keluarga lagi.
Lisa
Sekarang Zayden benar² mengisi waktunya dgn melakukan kegiatan bersama Rheon putranya..moga lama² Elvara mau mengatakan yg sebenarnya pada Rheon.
Lisa
👍👍 good job Zayden..kamu sudah memutuskan yg terbaik..Rheon jauh lebih penting drpd jabatanmu di perusahaan itu..
Lisa
Kamu harus mengatakan kejadian tdi ke Zayden Elvara supaya dia dapat melindungi kalian.
Jj^
lanjut Thorr😁
Jj^
Thor aku sedih lihat rheon🥲
Lisa
Makin seru nih ceritanya
Lisa
Pasti itu ulah Celestia..ayo Zayden segera bereskan yg menyebarkan berita itu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!