Ada seorang anak perempuan yang baru lulus SD dan masuk SMP IT bernama AQEELA MENTARI PUTRI dan dia dekat dengan ketua OSIS yang bernama MUHAMMAD RIAN ALFATIH. Mentari yang di panggil Tari ternyata menyimpan luka batin yang sangat dalam dan semua itu ia curahkan kepada Rian apa yang akan terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tatie Hartati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14 Mundur Demi Mereka
Hari Senin yang cerah namun tidak secerah hati Tari tiba-tiba. Tari seperti biasa berangkat ke sekolah dengan langkah yang pasti dan tenang meskipun hatinya masih belum stabil. Sampai sekolah , Tari sangat senang karena ternyata di gerbang tidak ada siapa - siapa. Maka dengan langkah yang penuh semangat, Tari pun masuk ke sekolah namun, baru juga melangkah di depan gerbang, tiba-tiba ada suara yang sangat dia kenal
" Baru datang Ri, kakak tunggu penjelasan dari kamu secepatnya. Pokoknya kakak tunggu paling telat besok pagi" bisik kak Rian membuat hati Tari semakin deg - degan
Tari tertegun sejenak, dia bingung harus jelasin apa sama kak Rian. Masa iya dia harus bilang kalau dia cemburu, emang Tari siapanya kak Rian. Tari menarik napas dalam-dalam dan langsung saja melangkahkan kakinya menuju kelas.
Kelas VII sangatlah ramai sekali karena Sina geng masih saja membahas tentang kak Rian di tambah lagi Novia membahas Rayyan. Tari sadar ternyata Tari itu tidak berhak untuk mencintai apalagi dicintai.
" Ri, jadi kamu gitu ya mau merebut kak Rian dari kita. Kamu tahu kan ,kak Rian itu adalah cowok yang kita incar. Tapi kenapa di saat kami semua berusaha untuk dekat sama kak Rian,kamu malah mau nikung " kata Sina
" Siapa juga yang rebut kak Rian dari kalian,aku gak pernah merasa merebut kak Rian. Lagian aku masih mau fokus belajar dan tugas OSIS dulu " kata Tari sedikit tenang padahal hatinya sakit banget
" Buktinya kemarin waktu hari Sabtu kalian ngobrol di depan mushola " kata Nira
" Emang gak boleh ya , ngobrol sama kak Rian. Bukannya aku kak Rian itu ketua OSIS ya? Wajar dong aku ngobrol sama dia,kan bahas OSIS " kata Tari sambil membuka buku
" Ada apa ini, Ri? " tanya Rayyan tiba - tiba yang membuat aku di tatap tajam sama Novia
" Udah,ga ada apa-apa kok. Udah yuk semuanya keluar sebentar lagi upacara akan di mulai, sekarang kelas VIII yang jadi petugas,tapi siap - siap aja kelas VII pasti ada yang di suruh soalnya kurang orang " kata Tari dan teman - temannya mengikuti dari belakang
Lapangan sekolah sudah ramai sama anak - anak. Kak Rian sedang sibuk di tengah lapangan berdebat dengan beberapa orang anak karena tugas upacara
" Ri,kira - kira kelas VII siapa ya , yang bisa menjadi pembawa bendera merah putih. Perlu dua orang lagi, untuk nemenin Tias " kata kak Rian
" Sina sama Nira aja " kata Tari sambil berdiri di barisan kelas VII
" Oh iya, Nah kamu jadi pembaca acara. Soalnya mau siapa lagi, ayolah Ri, demi OSIS lho " kata kak Rian sambil penuh harap
" Sama Aisyah aja kak, atau Dena juga boleh kok. Mereka juga sama - sama bagus " kata Tari sambil tetap berada di barisan
" Tapi, kakak maunya kamu, karena kamu yang sudah sering" kata kak Rian tetap pada pendiriannya
" Aisyah aja kak ,please demi aku " kata Tari penuh harap
Kak Rian terdiam sejenak, sebenernya hatinya pingin Tari yang jadi pembaca acara. Namun berhubung dia yang berharap seolah biar Aisyah aja, maka terpaksa kak Rian menurunkan egonya. Akhirnya Aisyah yang jadi pembaca acara. Tari merasa bahagia karena ternyata kak Rian mau menuruti keinginannya.
Selesai upacara tak sengaja, Tari dan kak Rian berpapasan.
" Ri,kamu masih punya utang penjelasan sama kakak, " bisik kak Rian
" Hah, hmmmm, gimana kakak aja " kata Tari sambil terus aja masuk ke dalam kelas. Menuju bangkunya Tari tidak bisa fokus karena kata - kata kak Rian terus aja terngiang - ngiang di telinganya
Ya Allah kak Rian bilang aku utang penjelasan, emang penjelasan apa sih yang dia inginkan. Penjelasan kenapa aku jutek? Atau penjelasan soal kedekatan aku sama Rayyan? Aduh kak ,please deh bukannya menjauh malah semakin dekat. Bagaimana aku mau bener-bener mundur kalau seandainya seperti ini terus?
Tari duduk di kursi dan disamping nya ada Sina yang sedang senyum - senyum senyum sendiri karena bahagia bisa ngobrol atau bercanda sama kak Rian
" Ri, kamu boleh anggota OSIS,tapi bukan berarti kamu nikung seenaknya ngambil kak Rian dari kami. Hanya diantara aku,Nira, Aisyah dan Dena yang harus bisa miliki kak Rian selain itu harus bisa hadapi kita dulu " kata Sina memperingatkan Tari
" Ambil aja tuh kak Rian, emang cowok hanya dia doang apa? Masih banyak yang lain " kata Tari sambil tetap membuat coretan di kertas
" Oh , masih banyak yang lain ya ! Maksudnya Rayyan? Kamu tuh gak deketin Kakak nya , deketin adeknya. Jadi orang tuh jangan serakah? " kata Novia tiba-tiba membuat Tari semakin terjepit
" Apa? Serakah? Satu aja ga ada . aku sama kak Rian dan Rayyan tidak ada hubungan apa-apa dan maaf aku juga tidak ada perasaan yang lebih sama mereka berdua jadi kalian tenang aja , silahkan gapailah orang yang kalian suka dengan cara yang baik maka kalau caranya baik insyaallah hubungannya akan baik - baik saja " kata Tari sambil tersenyum manis
" Tapi Ri,aku gak suka kamu deketin Rayyan, " kata Novia
" Udahlah bubar, sekarang waktunya belajar " kata Tari
Tari pun duduk dengan perasaan yang sangat campur aduk dan dia terjepit di antara fansnya kak Rian dan Rayyan.
Ya Allah kenapa sih engkau ciptakan aku kalau aku harus menanggung semua ini. Aku juga ingin di cintai sama seperti orang lain tapi bagiku jangankan dicintai, mencintai aja aku gak boleh. Ya Allah!!!! Cabutlah nyawaku agar aku tak bisa melihat nya lagi. Aku tahu kak Rian gak akan bisa aku gapai,gak akan bisa aku miliki tapi izinkan aku untuk mengagumi nya saja. Begitu juga dengan Rayyan, aku ikhlas kalau sampai kak Rian dan Rayyan gak bisa aku miliki asal mereka bahagia bersama orang yang mereka sayangi
Tari pun berdiri dia mengecek buku absensi murid dan agenda harian yang harus dia isi setiap harinya. Dan ternyata semua administrasi aman. Saat itu, Tari mencari wali kelasnya dan ternyata ada di kelas IX
" Sina , anterin aku ke kelas IX yuk?" aku mau ke Bu Tita
" Gak maulah malu , emang mau ngapain? " tanya Sina
" Ini mau nanyain tugas , yakin gak mau nganterin aku, padahal di kelas IX ada kak Rian lho " kata Tari sambil menahan panas
" Oh iya, ya udah yuk " kata Sina
Sina dan Tari pun langsung pergi ke kelas IX dan ternyata pintu kelas IX terbuka
" Assalamualaikum, ibu maaf ganggu, ini tugas di kerjakan besok atau sekarang? " kata Tari serius banget biar ga ngeliat ke arah kak Rian yang sedang belajar matematika
" Waalaikumsalam, itu tugas buat besok. Emang Rayyan gak bilang? " kata Bu Tita
" Ish , Rayyan bilangnya kerjain aja tugasnya. Oh kalau begitu makasih ya Bu,maaf ganggu, assalamualaikum " kata Tari sambil keluar dari kelas IX
Tari dan Sina berjalan berdua secara berdampingan. Sina bahagia karena dia bisa melihat muka kak Rian yang sedang serius belajar
Saat istirahat tiba, suasana kelas VII sangatlah ramai karena anak - anak mulai beraktivitas kesana kemari. Tari dan kawan-kawan masih ada di dalam kelas
" Wah , pada ada di dalam kelas nih ?gak ada istirahat?" kata kak Rian tiba-tiba yang membuat Tari semakin tak karuan karena mungkin akan terjadi salah paham lagi diantara Sina geng.
" Eh ada kak Rian, kita gak jadi istirahat deh , soalnya mumpung ada kak Rian " kata Nira
"Waduh, kalau mau istirahat , istirahat aja GPP " kata kak Rian
" Kak,maaf ya aku mau keluar sebentar "kata Tari sengaja untuk menghindari kak Rian
" Mau kemana, Ri ?" kata kak Rian
" Panggilan alam tidak bisa di tolerir lagi " kata Tari sambil pergi ke luar dan berjalan dengan cepat layaknya lari maraton. Padahal panggilan alam hanya alibi saja . Kenyataannya dia sengaja menghindari kak Rian karena kalau tak menghindar dia akan terus di tagih soal penjelasan dan juga sakit hati yang mendalam
Di toilet Tari cuci muka biar segar,namun begitu keluar dari toilet. Di luar toilet sudah ada kak Suma dan kak Naura yang mau ke toilet juga
" Lho , Tari kamu ada di sini? Kamu gak tau apa itu di kelas VII ada ketua OSIS. Dia paling rajin kalau istirahat ke kelas VII, kira - kira dia deketin siapa ya ?" kata kak Suma
" Hmmm aku kurang tahu kak, tapi di kelas VII teman - teman aku seperti Sina,Nira, Aisyah dan Dena memang suka sama kak Rian bahkan mereka rebutan kak Rian. Nah mungkin saja kak Rian juga mungkin ngincer dia antara mereka. Palingan juga ngincer Nira secara dia yang paling bening dan paling cantik di kelas VII " kata Tari sambil berdiri nyender ke dinding toilet
" Ya seperti itulah dugaan kakak juga. Pasti Rian ngincer Nira" kata kak Suma sambil masuk ke dalam toilet
" Ri, kamu yakin Rian deketin mereka? Justru kalau kakak agak berbeda dengan pandangan teman - teman. Kakak tahu Rian, dia kalau suka sama seseorang itu bisa terlihat dari tatapan dan interaksi dengan orang tersebut. Justru kakak menganggap kalau Rian datang ke kelas VII itu karena nyari kamu, Ri " kata kak Naura sambil merangkul pundaknya Tari
Tari tertegun sejenak, dia tak percaya dengan apa yang menjadi prasangka kak Naura. Itu kan hanya prasangka kak Naura, belum tentu sama kenyataannya. Kalau memang kenyataannya seperti itu, maka Tari semakin berada di tengah - tengah gencatan persahabatan dan perasaan . Tari kembali teringat akan rencana awalnya yaitu akan mundur perlahan demi persahabatan. Yang terpenting Sina dan geng bahagia bersama kak Rian
Kalimat itu seperti petir di siang bolong. Aku berjalan gontai menyusuri koridor kembali menuju kelas. Langkahku terasa kosong. Di ujung lorong, aku melihat Kak Rian baru saja keluar dari kelas VII dengan wajah yang tampak kecewa, mungkin karena tidak menemukanku di sana.Air mataku nyaris jatuh. Kenapa takdir begitu rumit? Di satu sisi, ada kebahagiaan kecil yang membuncah karena tahu aku diinginkan. Namun di sisi lain, wajah Sina dan Novia yang penuh kebencian terus membayang di mataku.
Maafkan aku, Kak Rian. Kalaupun benar akulah yang Kakak cari, biarlah aku tetap menjadi Mentari yang bersembunyi di balik awan. Karena bagiku, kehilangan Kakak jauh lebih baik daripada harus mengkhianati persahabatan.
Aku memejamkan mata erat-erat, mencoba menghalau rasa sesak yang kian mencekik. Besok pagi aku harus memberikan penjelasan, tapi setelah mendengar kata-kata Kak Naura, penjelasan apa yang tersisa selain sebuah kebohongan demi kebahagiaan mereka?
eh tapi gapapa deng. kali aja bisa bertahan smpe ke SMA mwehehe