NovelToon NovelToon
Dari Benci Menjadi Bucin

Dari Benci Menjadi Bucin

Status: tamat
Genre:Idola sekolah / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖

Kenzo yang keras dan Anisa yang berani selalu tak akur, saling berselisih setiap hari. Namun saat terpaksa bekerja sama, benci perlahan berubah menjadi cinta manis yang tak disadari keduanya. Dari yang saling menentang, kini berubah menjadi tak bisa berpaling satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28.Kata-kata yang Hampir Terucap

Setelah berhenti berusaha menjauh, kedekatan mereka kembali terasa namun kini membawa beban perasaan yang jauh lebih berat. Ada ribuan kata yang tersimpan di ujung lidah, berdesak-desakan ingin segera meluncur bebas. Namun setiap kali bibir terbuka, kata-kata itu selalu tertahan kembali, terperangkap oleh rasa gugup yang meluap-luap, takut salah diucapkan, takut mengubah segalanya menjadi berbeda dari sebelumnya. Selalu saja — hampir terucap, namun pada akhirnya tetap tak terkatakan.

Suatu sore yang tenang, mereka berdua duduk berdampingan di bangku kayu di sudut halaman sekolah. Angin berhembus lembut, membawa aroma bunga yang samar harum. Sore itu langit tampak indah dengan semburat jingga yang meluas lembut. Hening yang menyelimuti mereka bukan lagi hening yang berat atau canggung, melainkan hening yang penuh arti — seakan menunggu salah satu dari mereka berani memecahnya dengan kata yang selama ini dipendam.

Kenzo menatap lurus ke arah cakrawala, namun pandangannya kosong, pikirannya justru tertuju sepenuhnya pada sosok di sebelahnya. Ia menarik napas perlahan, merangkai kata demi kata berulang kali di dalam hati agar tak keliru saat terucap. Lidahnya terasa sedikit kaku, jantungnya berdetak kencang tak menentu. Berkali-kali ia membuka bibirnya...

"Aku sebenarnya... ingin..."

Kalimat itu baru sampai di pangkal kerongkongan, namun seketika terhenti. Kenzo menelan ludah pelan, merasa seketika napasnya tertahan saat Anisa perlahan menoleh dan menatapnya lekat-lekat dengan sepasang mata jernih yang menunggu. Tatapan mata itu begitu tulus, begitu lembut, membuat keberanian yang baru saja terkumpul seketika luruh kembali. Ia takut. Takut jika kata itu terucap, semuanya akan berubah. Takut jika Anisa belum merasakan hal yang sama, hubungan mereka justru menjadi canggung selamanya.

Kenzo pun akhirnya hanya menghela napas pelan, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke arah langit. "Tidak... bukan apa-apa. Hanya... pemandangan sore ini tampak begitu indah, bukan?"

Anisa mengangguk pelan, namun hatinya mencelos seketika. Ia tahu. Ia menangkap jelas getaran di mata Kenzo, keraguan yang tersembunyi di balik kalimatnya yang terpotong. Ia pun tahu kata apa yang hampir meluncur dari bibirnya. Dan sungguh... hatinya seakan berteriak menyambut kata itu, bersiap membalasnya dengan perasaan yang sama persis. Namun sama seperti Kenzo, Anisa pun terdiam menahan diri.

Karena sesungguhnya, Anisa pun sedang mengalami hal yang sama. Saat Kenzo berhenti bicara dan menatapnya, di dadanya kata-kata itu ikut berdesakan ingin keluar. Ia ingin berkata: "Bukan hanya pemandangannya yang indah. Bagiku... kehadiranmulah yang membuat semuanya tampak indah." Ia ingin berkata: "Aku tahu apa yang hampir kau ucapkan. Dan aku merasakannya juga."

Namun saat bibirnya perlahan terbuka, rasa malu yang luar biasa tiba-tiba menyergap. Pipi terasa panas menjalar, jantung berpacu begitu cepat hingga napasnya terasa sesak. Kata-kata itu begitu dekat di ujung lidahnya, namun tak satupun mampu meluncur keluar. Ia hanya menunduk pelan, membetulkan ujung bajunya yang tak kusam, lalu menjawab lirih dengan suara yang hampir tak terdengar: "Iya... memang sangat indah."

Sore itu berlalu dengan begitu banyak kata yang nyaris terucap namun pada akhirnya tetap tersimpan dalam diam. Ada kalimat yang menggantung di udara, seakan terlihat namun tak pernah terdengar telinga. Ada keberanian yang tumbuh sebentar lalu kembali runtuh karena keraguan dan rasa takut. Ada detak jantung yang saling membalas namun tak satu pun berani mengakuinya.

Mata mereka saling bertemu berkali-kali sepanjang percakapan sore itu. Setiap kali tatapan itu bertemu, seakan ada pesan yang disampaikan tanpa suara, seakan kata-kata itu hampir terucap lewat pandangan saja. Namun selalu — hampir saja, namun belum cukup berani untuk diwujudkan menjadi kata nyata.

Sebelum berpisah di gerbang pulang, Kenzo sempat berhenti sejenak dan menatap Anisa yang berdiri tak jauh darinya. Bibirnya kembali bergerak pelan, kali ini tampak lebih serius, seakan benar-benar berniat menyelesaikan kalimat yang tertunda tadi. Ia menatap Anisa lekat-lekat, napasnya teratur namun dalam terlihat bergetar halus.

"Anisa... sebenarnya ada hal yang ingin..."

Sekali lagi kalimat itu terputus. Langkah kaki seseorang yang lewat di dekat mereka membuat Kenzo seketika menahan diri. Ia mengepalkan tangan pelan di sisi tubuhnya, menelan kata-kata itu kembali ke dalam hati dengan raut wajah yang tampak berat. Akhirnya ia hanya tersenyum samar, senyum yang penuh makna namun juga penuh penahanan. "Lain kali... akan kukatakan padamu lain kali. Hati-hati di jalan ya."

Anisa menatapnya pergi dengan hati yang berdebar campur aduk. Ia tahu betul apa yang hampir dikatakan Kenzo. Dan ia pun tahu, dirinya telah bersiap mendengar dan membalasnya. Namun kesempatan itu kembali berlalu begitu saja, meninggalkan sisa yang mengganjal namun sekaligus menghangatkan dada. Kata-kata itu belum terucap hari ini. Namun Anisa menyadarinya: hal itu justru menjadi tanda — bahwa kata-kata yang begitu dijaga dan hampir terucap itu kelak akan menjadi sesuatu yang jauh lebih berharga saat akhirnya berani terucap dengan sungguh-sungguh. Bahwa menunggu sedikit lebih lama demi kesempurnaan pengakuan itu... tentu saja sepadan.

BERSAMBUNG....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!