NovelToon NovelToon
The Professor’S Karma

The Professor’S Karma

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:11.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

​"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."

​Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.

​4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 ​Bom Waktu di Atas Meja Rapat

Langkah kaki Baskara Dirgantara yang lebar dan konstan membimbingnya masuk lebih dulu ke dalam ruang rapat utama Prawijaya Group. Di ujung meja jati panjang, Deon Prawijaya sudah duduk dengan wibawa penuh, didampingi oleh tiga direktur senior dan kepala divisi hukum. Begitu melihat Baskara masuk, Deon bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya, sebuah jabat tangan formal antar penguasa bisnis yang sarat akan kepentingan bersama.

​"Selamat pagi, Baskara. Kuharap draf final yang kita bahas kemarin tidak menemui kendala lagi di internal Dirgantara Group," ujar Deon dengan nada suara baritonnya yang berat.

​"Selamat pagi, Pak Deon. Tim legal saya sudah merapikan beberapa poin minor," jawab Baskara tenang, mengambil posisi duduk tepat di seberang Deon.

​Tepat saat itu, pintu ruang rapat kembali terbuka. Aruna melangkah masuk dengan ritme yang sengaja ia pelan-pelan agar deru napasnya tidak terdengar memburu. Ia tidak menatap Baskara ataupun ayahnya. Fokusnya terkunci mati pada map hitam yang kini diletakkannya di atas meja dengan bunyi debuman pelan yang cukup menyita perhatian.

​Deon melirik putrinya dengan dahi berkerut samar, sedikit terusik dengan atmosfer dingin yang dibawa Aruna. "Kau terlambat dua menit, Aruna. Duduklah, kita akan langsung masuk ke agenda penandatanganan draf kesepakatan integrasi aset koridor barat."

​Aruna menarik kursi di sebelah kiri ayahnya, duduk tegak dengan punggung kaku. "Maaf atas keterlambatan saya, Pak Deon. Ada beberapa dokumen krusial yang harus saya cetak ulang di divisi arsip sekunder menjelang subuh tadi."

​Mendengar kata 'arsip sekunder' dan 'subuh', jemari Baskara yang sedang memegang pulpen Montblanc miliknya sempat berhenti bergerak selama satu sekon. Pria itu menyandarkan punggungnya pada kursi kulit mewah, menatap Aruna dari seberang meja dengan sorot mata elang yang kian menyipit. Di balik wajahnya yang sekeras marmer, Baskara diam-diam menunggu letupan pertama dari bom yang sengaja ia biarkan Aruna bawa dari sistemnya semalam.

​"Baik, mari kita buka dokumen Pasal 14 mengenai pengalihan hak kelola logistik," Deon membuka draf kontrak di depannya, mengabaikan ketegangan tak kasatmata yang merayap di antara putrinya dan sang CEO Dirgantara Group. "Baskara, pihak kami menyetujui klausul efisiensi modal yang kau ajukan kemarin, dengan syarat.."

​"Tunggu, Pak Deon."

​Suara bening namun setajam silet milik Aruna seketika memotong kalimat sang ayah. Seluruh direktur senior di dalam ruangan mendadak menahan napas. Interupsi di tengah kalimat Deon Prawijaya adalah hal yang tabu, dan Aruna baru saja melakukannya tanpa ragu.

​Deon menoleh tajam, sorot matanya berkilat marah. "Aruna, jaga sikap profesionalmu. Kita sedang berada di draf final, bukan sesi debat terbuka."

​"Saya justru sedang bersikap sangat profesional sebagai penasihat hukum internal Prawijaya Group, Papa," Aruna sengaja menekan kata 'Papa' untuk menegaskan posisinya. Ia menggeser map hitamnya ke tengah meja, membukanya dengan satu sentakan tegas. "Sebelum tangan Anda membubuhkan tanda tangan di atas draf kontrak ini, saya meminta dewan direksi untuk membaca laporan anomali audit logistik Dirgantara Group tahun 2024 yang ada di hadapan kalian."

​Suasana ruangan mendadak berubah mencekam, sedingin es yang siap retak. Kepala divisi hukum Prawijaya Group dengan ragu meraih lembaran dokumen yang disodorkan Aruna, lalu membacanya. Dalam hitungan detik, wajah pria paruh baya itu memucat.

​"Ini... ini laporan pengalihan modal terselubung?" gumam kepala divisi hukum itu terbata-bata, menatap Deon dengan pandangan horor.

​Deon menyambar dokumen tersebut dengan kasar. Sepasang matanya bergerak cepat memindai barisan angka yang tercantum di sana. Rona merah amarah di wajahnya perlahan luruh, digantikan oleh ekspresi syok yang luar biasa. Dokumen itu menunjukkan dengan sangat rinci bahwa Dirgantara Group mengalami kebocoran margin yang masif di koridor barat, dan Pasal 14 yang diajukan Baskara sebenarnya hanyalah taktik licik untuk menutupi kerugian tersebut menggunakan aset Prawijaya Group.

​"Baskara..." Deon mengangkat wajahnya, menatap rekan bisnis mudanya itu dengan rahang yang mengeras sempurna. "Apa arti dari semua angka-angka ini? Kau mencoba menjebak Prawijaya Group untuk menambal lubang margin perusahannmu?"

​Para direktur senior mulai berbisik panik. Suasana rapat yang semula formal kini berubah menjadi medan laga yang panas. Aruna melipat kedua tangannya di depan dada, menatap lurus pada Baskara dengan binar mata yang sarat akan kemenangan. Ia berhasil. Ia telah meruntuhkan keangkuhan pria itu tepat di depan singgasananya.

​Namun, reaksi Baskara Dirgantara di luar ekspektasi semua orang. Pria itu tidak panik. Tidak ada gurat ketakutan atau penyangkalan di wajah tampannya.

​Baskara justru menurunkan pandangannya pada draf audit yang tersebar di atas meja, lalu perlahan beralih menatap wajah pucat Aruna. Di balik topeng esnya, sesuatu di dalam ulu hati Baskara justru berdenyut aneh. Ada rasa bangga yang terselubung, berbaur dengan rasa bersalah yang kian mengikis egonya. Gadis ini benar-benar telah belajar cara bertarung dengan kejam. Dan anehnya, Baskara sama sekali tidak merasa marah meskipun reputasi bisnisnya dipertaruhkan.

​"Laporan yang sangat akurat, Nona Aruna," suara bariton Baskara mengalun konstan, tenang tanpa riak, membuat seisi ruangan terperangah. Pria itu meletakkan pulpennya, lalu menatap Deon Prawijaya dengan tatapan lurus. "Pak Deon, angka-angka itu memang benar adanya. Ada fluktuasi margin di koridor barat pada kuartal ketiga tahun lalu akibat perbaikan infrastruktur internal kami."

​"Lalu kau sengaja menyembunyikannya dari draf awal?!" bentak Deon, memukul meja dengan telapak tangannya.

​"Saya tidak menyembunyikannya. Saya hanya menunggu apakah tim legal Prawijaya Group memiliki kapasitas yang cukup jeli untuk mendeteksinya sebelum kontrak ditandatangani," jawab Baskara dingin, namun sepasang netranya kembali mengunci siluet wajah Aruna. "Dan ternyata, putri Anda jauh lebih genius daripada seluruh jajaran direktur senior yang Anda bayar mahal di ruangan ini."

​Aruna mengernyitkan dahi. Kalimat Baskara sama sekali tidak terdengar seperti pembelaan diri, melainkan sebuah pengakuan mutlak yang dibalut pujian terselubung. Mengapa pria ini menyerah begitu cepat? Mengapa ia tidak menggunakan kuasa hukumnya untuk membalikkan argumen seperti yang selalu ia lakukan di London dulu?

​Di bawah meja rapat, Aruna meremas jemarinya yang mulai terasa dingin. Rasa pening yang sejak subuh ia tahan kini kembali menghantam pelipisnya dengan lebih hebat. Spekulasi dan taktik Baskara yang tidak menebak balik justru membuat batinnya kian tertekan.

​Baskara bangkit berdiri dari kursinya, merapikan kancing jas abu-abu gelapnya dengan gerakan yang teramat tenang. "Karena celah ini sudah dibuka oleh Nona Aruna, maka Dirgantara Group bersedia merevisi total Pasal 14. Kami akan menanggung seluruh risiko margin koridor barat tanpa melibatkan aset logistik Prawijaya Group. Draf revisi akan dikirimkan oleh asisten saya besok pagi."

​Baskara memutar tubuhnya, bersiap meninggalkan ruangan. Namun, tepat sebelum langkah kakinya mencapai pintu ganda, ia berhenti sejenak tanpa menoleh ke belakang, melontarkan kalimat terakhir yang hanya dipahami maknanya oleh Aruna seorang.

​"Pertarungan yang bagus, Aruna. Tapi lain kali... pastikan tubuhmu cukup kuat untuk merayakan kemenanganmu sendiri. Wajahmu terlalu pucat untuk ukuran seorang pemenang."

​Brak.

​Pintu rapat menutup rapat, meninggalkan Deon yang masih mengatur napas marahnya dan Aruna yang mendadak mencengkeram dadanya yang terasa begitu sesak. Di dalam ruangan yang mendadak senyap itu, Aruna menyadari satu hal yang mengerikan: Baskara tidak sedang kalah. Pria itu sengaja membiarkannya menang, dan perhatian terselubung yang disisipkan dalam kalimat terakhirnya justru terasa jauh lebih mengintimidasi daripada semua bentakan di London dulu.

1
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💋🅹🆄🅽👻ᴸᴷ
Hi hi gemes bgt, Ade tp unik jdx, 1 lari, 1 mengejar 🤭👍🥳
Anonim
lanjut ka 😍
Desi Santiani
apa sbnrnya isi flasdisk itu, apaa ad hubungannya sikap bagaska saat dlondon terhadap arunaa ?
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💋🅹🆄🅽👻ᴸᴷ
Aduh, jd bulan-bulann para warga 🤭🤦🙈
Anonim
cerita author x ini tak kalah menarik seru bgt 🥰🥰
Ra H Fadillah: halo terima kasih atas bintang 5 nya semoga kamu selalu suka dengan ceritanya ya 💞😉
total 1 replies
Anonim
jadi kepo thorrr
Anonim
ceritanya seruuuuuu😍
Desi Santiani
apa sebenarnya isi flasdisk itu, apa rahasia bagaskara yg selama ini pura2 jahat n kejam krna adanya tekanan atau apa, ahh dbuat skot jantung bacanya
Desi Santiani
semakin seruu thor
Desi Santiani
semangat trus thor up nyaa 😍💪
Desi Santiani
semakin seruuu, dtunggu selalu thor update kisah mereka😍
Desi Santiani
terima kasih thor, untuk up kisah mereka dgn lgsg bbrp bab, selalu dtunggu cerita mereka, sehat selalu thor /Heart/
Ra H Fadillah: Sama-sama 😉 Semoga kamu suka dengan ceritanya !
total 1 replies
Desi Santiani
semangat up nya trus thor, alur ceritanya sgt seru
Ra H Fadillah: Terima kasih, senang sekali melihat komentar mu yang sangat positif 😉 💞
total 1 replies
Ra H Fadillah
Terima kasih sudah bantu ngeramein💕 Semoga betah terus marathon bacanya ya!😇
Desi Santiani
up lg thor... ceritanya keren
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💋🅹🆄🅽👻ᴸᴷ
Mantap, Aruna, tunjukkan 'pesona'mu 🔥🔥🔥
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💋🅹🆄🅽👻ᴸᴷ: Cama², Ade, Siap, kami tunggu, udh gk sabar liat 'Karma' utk yg udh nyakitin Tuan Putri ❤️🤗😘
total 2 replies
Anonim
sepele bgt ni dosen 😡
Anonim
masuk tata rias aja lu michel 😡
Anonim
wahhhh 💞 cerita baru lagi dri author kesygn 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!