NovelToon NovelToon
The Professor’S Karma

The Professor’S Karma

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

​"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."

​Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.

​4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 ​Jejak Langkah di Bawah Bayang Profesor

Matahari baru saja terbit, memancarkan sinar keemasan yang menembus celah gorden ruang makan kediaman Prawijaya. Namun, kehangatan pagi itu sama sekali tidak mampu mencairkan atmosfer dingin yang kembali menyelimuti rumah mewah tersebut. Di ujung meja makan panjang, Deon Prawijaya duduk dengan wajah tegang. Kejadian memekakkan telinga di ruang CEO kemarin, saat Aruna membanting vas bunga hingga hancur berkeping-keping, masih menyisakan rasa sesak di dadanya.

​Deon meletakkan cangkir kopinya dengan dentingan yang sedikit keras. Ia menatap putri tunggalnya yang duduk di hadapannya, sibuk mengaduk bubur tanpa minat.

​"Aruna," panggil Deon. Nada suaranya berat dan syarat akan penekanan, namun ia berusaha sekuat tenaga agar tidak membentak. Ia tahu, memicu emosi gadis itu hanya akan membahayakan kondisi jantungnya yang baru saja pulih. "Tindakanmu kemarin di kantor benar-benar keterlaluan. Kamu tidak hanya mempermalukan Papa, tapi kamu juga menunjukkan sikap yang tidak profesional di depan keluarga Dirgantara. Mau ditaruh di mana muka Papa?"

​Sebelum Aruna sempat membuka suara, sang ibu yang duduk di sisi meja lain langsung menyela dengan nada protektif. "Cukup, Pa! Jangan mulai lagi pagi-pagi begini. Aruna baru saja pulang dari rumah sakit, jiwanya belum stabil setelah trauma besar di London. Kenapa Papa selalu menuntutnya menjadi sempurna dan memaksanya masuk ke dunia bisnis yang kejam itu?"

​"Aku melakukan ini semua demi masa depannya, Ma! Prawijaya Group butuh penerus, dan dia adalah satu-satunya pewaris kita!" balas Deon, mulai terpancing beradu argumen dengan istrinya.

​Kedua orang tuanya terus saling melempar kalimat pembelaan dan tuntutan, berdebat sengit di tengah keheningan pagi. Sementara itu, Aruna hanya diam membeku. Ia meletakkan sendoknya perlahan, lalu menyandarkan punggung ke sandaran kursi. Sepasang netra indahnya menatap lurus ke arah sang ayah dengan tatapan yang teramat sinis dan dingin. Di dalam hatinya, rasa muak kian merajalela. "Kalian berdebat seolah-olah pendapatku penting, padahal sejak awal aku hanya dianggap sebagai aset perusahaan" batinnya pahit.

​Ketegangan di ruang makan itu mendadak terinterupsi ketika kepala pelayan mengumumkan kedatangan tamu. Ayah Baskara, pria paruh baya yang selalu berwibawa, melangkah masuk ke dalam rumah seorang diri. Kedatangannya yang mendadak ini bertujuan untuk menanyakan kelanjutan perihal pekerjaan dan kerja sama eksekutif pasca insiden kemarin. Deon yang merasa mendapat angin segar segera menyambut sahabat lamanya itu. Setelah berbincang singkat dan meneguk kopi bersama, Deon akhirnya pamit kepada istri dan anaknya untuk pergi ke kantor pusat bersama ayah Baskara guna menyelesaikan urusan bisnis yang sempat tertunda.

​Setelah mobil mewah ayahnya melaju meninggalkan pelataran rumah, suasana menjadi jauh lebih tenang. Sang ibu melangkah mendekati kursi Aruna, lalu berlutut kecil di samping putrinya. Ia menggenggam jemari Aruna yang terasa dingin, menatap mata anaknya dengan kelembutan seorang ibu yang tulus.

​"Aruna... jika kamu memang tetap pada impianmu yang dulu, jika kamu benar-benar ingin mengabdikan dirimu untuk membela hukum para petani kecil dan mencari keadilan, lakukanlah, Nak. Mama akan selalu mendukungmu. Mama tidak akan membiarkan Papamu memaksamu lagi," bisik ibunya, memberikan suntikan semangat yang sangat berarti.

​Mendengar penuturan hangat itu, dinding es di wajah Aruna sedikit mengikis. Sebuah senyuman tipis yang sangat tulus terukir di bibirnya yang pucat. "Terima kasih, Ma. Itu sangat berarti untukku," jawab Aruna lirih.

​Satu jam kemudian, Aruna bersiap-siap untuk pergi keluar. Ia mengenakan pakaian kasual yang santai, celana jins gelap, kaus putih polos, dan sepasang sepatu kets yang nyaman. Namun, saat melangkah keluar dari pintu utama, Aruna mendadak menghentikan langkahnya. Ia berdiri terpaku di halaman rumah yang luas, merasa bingung harus melangkah ke mana. Devan dan Theo, dua sahabat yang biasanya selalu siap sedia menemaninya, saat ini sedang sangat sibuk mengurus pendaftaran ulang dan orientasi untuk program beasiswa S2 mereka di Jakarta.

​Enggan merepotkan siapa pun dan enggan menyentuh fasilitas mewah milik ayahnya, Aruna memutuskan untuk tidak naik mobil pribadi atau meminta sopir rumah mengantarnya. Ia memilih untuk berjalan kaki, melangkah pelan membelah jalanan aspal kompleks perumahan elite yang sepi menuju ke arah gerbang depan yang berjarak cukup jauh.

​Aruna berjalan dengan tenang, menikmati embusan angin pagi yang menerpa wajahnya. Di balik ketenangannya, ia tidak menyadari bahwa sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam metalik sedang melaju pelan dari arah belakang.

​Di dalam mobil itu, Baskara Dirgantara sedang mencengkeram kemudi dengan raut wajah cemas. Niat awal Baskara pagi ini adalah mendatangi rumah keluarga Prawijaya demi bisa melihat kondisi Aruna dan memastikan gadis itu baik-baik saja setelah insiden kemarin. Namun, pemandangan di depannya membuat Baskara refleks menginjak rem. Melalui kaca depan, ia melihat sosok yang dicarinya sedang berjalan sendirian di trotoar kompleks, tanpa pengawalan, tanpa kendaraan.

​Baskara memutuskan untuk mengikuti Aruna dari belakang dengan kecepatan sangat rendah, menjaga jarak agar tidak mengganggu ketenangan gadis itu. Namun, langkah kaki Aruna mendadak berhenti. Tali sepatu kets sebelah kanannya terlepas. Tanpa curiga, Aruna langsung berjongkok di tepi jalan, menundukkan kepalanya fokus membetulkan ikatan tali sepatu tersebut.

​Melihat kesempatan itu, Baskara segera memarkirkan mobilnya di bahu jalan. Ia turun dengan langkah cepat namun berhati-hati, lalu berjalan mendekat hingga tubuh tegapnya berdiri tepat di hadapan Aruna yang masih berjongkok.

​Aruna yang telah selesai mengikat tali sepatunya kemudian mendongakkan kepala, bersiap untuk kembali berjalan. Namun, gerakannya seketika terkunci. Netranya menangkap sepasang sepatu pantofel mahal, naik ke atas hingga bertemu dengan wajah Baskara yang sedang menatapnya dengan tatapan penuh intensitas.

​Aruna terkejut, jantungnya berdegup sedikit lebih kencang karena kaget. Namun, dalam hitungan detik, ekspresi terkejut itu langsung lenyap tanpa bekas, digantikan oleh tatapan acuh, datar, dan sedingin es yang melukai hati Baskara.

​Baskara memajukan langkahnya satu jengkal, lalu bertanya dengan nada suara yang teramat lembut dan sarat akan kecemasan. "Aruna... kamu mau kemana sendirian? Kenapa berjalan kaki di bawah terik matahari seperti ini? Apa kamu sudah pulih sepenuhnya, Sayang? Bagaimana dengan bekas operasimu, apakah kakimu terasa pegal atau dadamu sakit? Ayo, aku antar ke mana pun kamu ingin pergi."

​Rentetan pertanyaan yang keluar dari bibir Baskara seolah menggerogoti keheningan di antara mereka. Pria itu tampak begitu frustrasi sekaligus sangat memedulikannya. Namun, Aruna sama sekali tidak tersentuh. Ia tidak mengeluarkan satu patah kata pun untuk menjawab kekhawatiran mantan dosennya itu. Aruna hanya memberikan penolakan mutlak dengan sebuah gelengan kepala yang tegas dan dingin.

​Setelah menggeleng, Aruna menggeser tubuhnya, mengabaikan eksistensi Baskara dan mulai melangkah berjalan lagi melewati pria itu begitu saja.

​Melihat pengabaian yang terus-menerus diterimanya, sisa kesabaran Baskara runtuh. Rasa takut kehilangan Aruna dan rasa bersalah yang teramat besar membuat pria itu bertindak nekat. Baskara berbalik dengan cepat, mengejar langkah kaki Aruna yang mulai menjauh. Dengan gerakan yang teramat pelan namun tegas, tangan kekar Baskara meraih pundak Aruna, menarik pelan tubuh mungil itu berputar hingga mereka kini berdiri berhadapan dalam jarak yang sangat dekat.

​Aruna terpaksa menghentikan langkahnya. Namun, ia tetap menolak untuk menatap manik mata elang milik Baskara. Pandangannya lurus menatap dada bidang pria itu, sebelum akhirnya ia membuka bibirnya dengan suara yang teramat dingin dan tajam.

​"Jangan ikuti saya lagi, Pak Baskara."

​Mendengar panggilan formal 'Pak Baskara' yang sarat akan jarak pembatas itu, dada Baskara terasa seperti ditusuk belati. Ia menggelengkan kepalanya dengan tegas, menolak mentah-mentah titah Aruna. Tanpa memedulikan tatapan benci yang mulai terpancar dari mata gadis itu, Baskara dengan lembut namun tak terbantahkan menarik pergelangan tangan Aruna. Ia menuntun tubuh kaku Aruna berjalan menuju mobil mewahnya yang terparkir di pinggir jalan.

​Baskara membuka pintu penumpang depan, menuntun Aruna masuk ke dalam, lalu menutup pintunya dengan rapat dari luar.

​Aruna tidak memberontak secara fisik. Ia hanya diam membeku di dalam kursi kulit yang empuk, menatap lurus ke kaca depan dengan rahang yang mengencang. Keheningan yang pekat kembali merayap di antara mereka saat Baskara berjalan memutar dan masuk ke kursi kemudi, menyadari bahwa perjalanan ini akan menjadi medan perang sunyi lainnya yang harus ia hadapi demi bisa menyentuh kembali hati porselen milik Aruna yang telah hancur.

1
Desi Santiani
semangat trus thor up nyaa 😍💪
Desi Santiani
semakin seruuu, dtunggu selalu thor update kisah mereka😍
Desi Santiani
terima kasih thor, untuk up kisah mereka dgn lgsg bbrp bab, selalu dtunggu cerita mereka, sehat selalu thor /Heart/
Ra H Fadillah: Sama-sama 😉 Semoga kamu suka dengan ceritanya !
total 1 replies
Desi Santiani
semangat up nya trus thor, alur ceritanya sgt seru
Ra H Fadillah: Terima kasih, senang sekali melihat komentar mu yang sangat positif 😉 💞
total 1 replies
Ra H Fadillah
Terima kasih sudah bantu ngeramein💕 Semoga betah terus marathon bacanya ya!😇
Desi Santiani
up lg thor... ceritanya keren
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Mantap, Aruna, tunjukkan 'pesona'mu 🔥🔥🔥
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱: Cama², Ade, Siap, kami tunggu, udh gk sabar liat 'Karma' utk yg udh nyakitin Tuan Putri ❤️🤗😘
total 2 replies
Anonim
sepele bgt ni dosen 😡
Anonim
masuk tata rias aja lu michel 😡
Anonim
wahhhh 💞 cerita baru lagi dri author kesygn 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!