Sinopsis: The Broken Lens
Bagi Savya, bidikan kamera analog dan kedamaian di Thalassa Coffee adalah pelarian terbaik dari masa lalu. Namun, dunianya yang tenang mendadak retak saat Katya kembali hadir—membawa intimidasi dan ancaman yang siap menghancurkan sisa hidupnya.
Di tengah kepungan panik yang nyaris membuat Savya runtuh, Valerius datang mengintervensi. Pria misterius itu hadir sebagai perisai yang tak tergoyahkan, siap pasang badan dan menjadi fokus baru yang menyatukan kembali kepingan hidup Savya.
Saat masa lalu menolak pergi, mampukah Savya bertahan? Ataukah lensa kehidupannya akan hancur sepenuhnya sebelum Valerius sempat mendekapnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vian's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10: Menambah Warna di Sudut Kedai
Setelah beberapa kandidat tidak ada yang cocok, kini giliran dua CV terakhir yang tersisa . Savya duduk dengan tenang, sesekali menyesap kopinya sambil mengamati Dua lembar CV yang tersisa. Setelah beberapa kandidat sebelumnya dirasa kurang pas dengan "nadi" kedai, kini giliran seorang gadis bernama Mika.
Sila berdiri di samping Savya, ikut mengintip dengan antusias.
"Jadi, Mika... apa alasanmu ingin bekerja di sini?" tanya Savya ya lembut.
Mika terdiam. Matanya berkedip lambat. Satu detik... dua detik... lima detik berlalu. Sila mulai gelisah, ia melambaikan tangannya di depan wajah Mika. "Halo? Mika? Pertanyaannya gampang kok, kenapa mau kerja di sini?"
"Oh..." Mika akhirnya bersuara, suaranya tenang tapi datar. "Suka... aroma kopinya. Menenangkan."
Sila menepuk jidatnya. "Cuma itu? Tapi kamu tahu kan kalau kedai lagi ramai kita harus gerak cepat?"
Mika mengangguk mantap. Meski cara bicaranya lambat, tangannya dengan sangat rapi merapikan letak asbak dan tisu di meja yang sedikit miring—bahkan tanpa diminta. Vya memperhatikan itu; Mika lamban dalam memproses kata-kata, tapi matanya sangat cekatan melihat ketidakteraturan.
"Sabar, Sil," bisik Savya sambil tersenyum kecil. Savya merasa kelemotan Mika justru bisa menjadi penyeimbang di kedai, meski ia tahu Sila harus ekstra sabar menghadapinya nanti.
"Oke, Mika. Bisa ceritakan pengalaman kerjamu sebelumnya?" tanya Savya dengan nada paling ramah.
Mika tidak langsung menjawab. Ia menatap langit-langit kedai, lalu beralih menatap ujung sepatu Savya, kemudian menatap mesin kopi. Lima detik... sepuluh detik... Sila mulai mengetuk-ngetukkan pulpennya ke meja.
"Mika? Masih di sini, kan?" tanya Sila gemas.
"Oh... iya," jawab Mika pelan. "Dulu... saya pernah jaga toko bunga."
"Terus? Apa yang kamu lakukan di sana?" kejar Sila.
Mika kembali terdiam. Ia tampak berpikir keras, dahinya berkerut seolah sedang memecahkan rumus fisika kuantum. "Menyiram... air."
Sila menarik napas panjang. "Mika, sayang... kalau di sini, kamu harus hafal menu kopi, handle pelanggan, dan gerak cepat. Kalau pelanggan tanya 'Kopi apa yang paling enak?', kamu jawabnya jangan nunggu lebaran monyet ya?"
Mika mengangguk mantap. "Paham. Kopi... hitam."
"Bukan itu poinnya!" seru Sila mulai frustrasi, yang membuat beberapa pengunjung menoleh. "Poinnya itu kecepatan koneksi otak kamu, Mika! Kamu ini kayak pakai internet edge di tengah hutan, tahu gak?"
Savya hanya bisa menahan tawa melihat Sila yang mulai "berasap" kepalanya. Namun, di tengah perdebatan kecil itu, tiba-tiba tangan Mika bergerak. Dengan gerakan yang sangat halus dan super cepat, ia menangkap seekor lalat yang terbang di dekat cangkir Vya hanya dengan dua jari, lalu melepaskannya ke luar jendela tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang datar.
"Tangan saya... cepat. Otak saya... cuma butuh waktu buat buffering," ucap Mika santai.
Sila melongo. "Mbak Vya, dia ini sebenarnya ninja atau siput sih?"
Belum sempat Sila tenang dari keajaiban Mika, pintu kedai terbuka dengan bantingan keras.
Seorang pemuda masuk dengan gaya seperti sedang berjalan di atas panggung fashion show, namun sialnya, kakinya tersangkut keset selamat datang.
BRUAK!
Arka jatuh tersungkur tepat di depan meja interview. Bukannya malu, ia malah melakukan gerakan push-up dua kali lalu berdiri sambil merapikan rambutnya.
"PERMISI! CALON KARYAWAN TERBAIK ABAD INI SUDAH DATANG!"
"Selamat siang Mbak! Pagi Kakak-kakak semua! Saya Arka, yang paling ganteng di daftar lamaran hari ini!" serunya tanpa rasa malu. Arka berjalan dengan langkah lebar, hampir saja menyenggol vas bunga di dekat pintu kalau saja Farel tidak sigap menangkapnya.
"Maaf Mbak Bos, itu tadi atraksi pembukaan. Biar gak tegang," ucap Arka dengan cengiran tanpa dosa. "Sekali lagi maaf Mbak Bos! Terlalu semangat!" Arka nyengir lebar, lalu duduk dengan gaya yang sangat santai, jauh lebih sembrono dan ceplas-ceplos dibandingkan Farel.
Farel yang memperhatikan dari balik bar hanya bisa menggelengkan kepala. "Mbak Savya, kayaknya kita bakal punya versi saya yang lebih... 'rusuh' ya?"
Savya tertawa kecil melihat interaksi mereka. Meskipun Arka terlihat sangat sembrono dan Mika sangat lambat dalam memahami sesuatu, Savya merasakan kejujuran dari keduanya. Ia merasa kehadiran mereka akan benar-benar menambah "warna" yang baru—warna yang mungkin akan membuat kedainya lebih berisik, tapi jauh lebih hidup.
Ia langsung menarik kursi dan duduk dengan posisi terbalik. "Saya Arka. Kelebihan saya: saya sangat rajin. Kekurangan saya: saya sering lupa kalau saya punya kelebihan. Oh, dan saya bisa bikin kopi, meskipun kadang gulanya saya ganti garam kalau lagi ngelamun."
"Mbak Savya, tolong..." Farel berbisik dari balik bar sambil memijat pelipisnya. "Satu Mika yang koneksinya macet saja sudah berat, jangan ditambah satu Arka yang bautnya lepas begini."
Savya tertawa lepas. Meja sudut itu kini benar-benar penuh warna. "Mika yang cekatan tapi buffering, dan Arka yang enerjik tapi sembrono. Sepertinya kedai kita tidak akan pernah sunyi lagi mulai besok."
Savya hanya bisa memegangi perutnya yang mulai kaku karena tertawa, sementara Sila sudah menyandarkan kepalanya di atas meja, tampak sedang menghitung sisa kesabarannya hari ini.
"Oke, oke... karena kalian berdua kandidat terakhir, saya mau tes kekompakan kalian," ucap Savya sambil mencoba menahan tawa. "Bayangkan ada pelanggan memesan kopi tapi dia sedang buru-buru. Apa yang kalian lakukan?"
Arka langsung menggebrak meja dengan semangat. "Gampang, Mbak Bos! Saya bakal bikin kopinya secepat kilat, kalau perlu saya lari ke meja pelanggan sambil parkour biar estetik!"
"Tapi jangan di tumpahkan ke baju pelanggannya, Arka!" seru Sila sambil menghela napas frustrasi.
"Eh, soal itu... biasanya saya sedia tisu banyak, Kak Sila. Buat jaga-jaga kalau atraksinya gagal," jawab Arka tanpa dosa.
Savya beralih ke Mika yang sedari tadi hanya diam menatap cicak di dinding. "Kalau kamu, Mika?"
Mika terdiam. Satu detik... dua detik... Sila sudah mulai menarik-narik rambutnya sendiri.
"Mika... pelanggan... buru-buru..." pancing Sila dengan suara yang bergetar menahan gemas.
"Saya..." jawab Mika perlahan. "...saya kasih air putih dulu."
"KOK AIR PUTIH?!" teriak Sila.
"Biar... dia gak haus... pas nunggu," jawab Mika datar.
Sila langsung menoleh ke arah Savya dengan wajah melas. "Mbak Savya, tolong... kalau mereka berdua diterima, aku mau minta kenaikan tunjangan kesehatan mental. Yang satu pengen jadi ninja kopi, yang satu lagi masih pakai internet 2G!"
Di balik bar, Farel makin gelisah. Ia terus-menerus mengelap gelas yang sebenarnya sudah sangat bersih. "Mbak Savya," bisik Farel cukup keras, "kalau Arka yang pegang mesin espresso, aku takut kedai ini malah jadi bengkel las. Dan kalau Mika yang pegang kasir, antrean pelanggan bisa sampai ke lampu merah depan!"
Arka malah nyengir ke arah Farel. "Tenang, Bang Farel! Kita kan tim. Abang bagian panik, saya bagian bikin panik, Mika bagian... bagian apa ya Mik?"
Mika menatap Arka pelan, lalu menjawab, "Bagian... sabar."
Sila hampir saja membenturkan kepalanya ke meja mendengar jawaban Mika. "Kamu yang lemot, malah kita yang harus sabar, Mikaaa!"
Savya akhirnya meletakkan kedua tangannya di atas meja, mencoba menenangkan suasana yang sudah mirip sirkus itu. "Sudah, sudah. Justru karena kalian 'unik', sepertinya kedai ini akan punya cerita baru setiap harinya. Sila, Farel... tolong bimbing mereka ya. Anggap saja ini tantangan baru untuk kalian."
Sila hanya bisa pasrah sambil menghela napas panjang untuk kesekian kalinya, sementara Farel kembali mengelap gelasnya dengan wajah seolah sedang menghadapi kiamat kecil. Kedai yang biasanya tenang, kini benar-benar sudah mendapatkan "warna" barunya—walaupun warnanya sedikit berantakan.
Sambil menahan sisa-sisa tawa yang masih menggelitik perutnya, Savya merapikan tumpukan kertas di meja sudut itu. Ia menatap keempat orang di depannya secara bergantian—Sila yang masih tampak lemas, Farel yang terlihat waspada, serta Mika dan Arka yang menunggu dengan ekspresi yang sangat bertolak belakang.
"Oke, sudah diputuskan," ucap Savya dengan nada final yang mantap. "Arka, Mika... selamat bergabung. Kalian bisa datang besok jam delapan pagi untuk mulai bekerja."
Sambil menutup map draf CV-nya. "Mika, Arka... selamat bergabung di tim kecil kami."
Arka langsung melompat dari kursinya seolah baru saja memenangkan lotre. "SIAP, MBAK BOS! Besok saya datang jam tujuh! Kalau perlu saya tidur di depan pintu kedai biar jadi karyawan paling rajin!"
"Jangan, Arka. Nanti dikira gelandangan sama tetangga," sahut Sila ketus, meski sudut bibirnya mulai sedikit terangkat melihat semangat pemuda itu.
Savya beralih pada gadis di sebelah Arka. "Mika, kamu mengerti kan? Besok jam delapan pagi."
Mika terdiam sejenak. Matanya berkedip pelan. Satu detik... dua detik... lalu ia mengangguk sangat pelan. "Jam delapan... besok. Saya... mulai... mandi sekarang?"
"GAK SEKARANG JUGA, MIKAAA!" teriak Sila gemas, yang membuat seisi kedai—termasuk para pelanggan yang sedari tadi menonton—meledak dalam tawa.
Savya berdiri, memandang kedainya yang kini terasa jauh lebih hidup. Meskipun ia tahu esok hari mungkin akan menjadi hari paling kacau dalam sejarah kedai kopinya, ia merasa tenang. Kegelisahannya tentang masa lalu seolah tertutup oleh hiruk-pikuk manusia-manusia unik di depannya.
"Sampai jumpa besok, semuanya," tutup Savya dengan senyuman paling hangat yang pernah ia miliki.
Sore itu, saat matahari mulai turun di ufuk barat, savya menyadari bahwa terkadang, obat terbaik untuk hati yang gelisah bukanlah kesunyian, melainkan keramaian yang jujur dari orang-orang yang baru saja masuk ke dalam hidupnya.
..."Story by Vian's."...