Selena Victoria, siswi SMA 16 tahun yang egois dan kadang menjengkelkan, tapi memiliki hati yang lembut. Hidupnya berubah drastis setelah insiden kopi tumpah ke jaket cowok paling ditakuti di sekolah. Dengan bantuan bestie-nya Rora, juara olimpiade sains dan matematika yang nyentrik, Selena harus menghadapi konsekuensi aksinya dan belajar tentang empati. 😐
baca yuk Novel aku "Noda Kopi di Jaket Abu"!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BOCCI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
geng pick Kena mental
Selena berjalan keluar dari markas dengan langkah yang terasa lebih mantap. Di pergelangan tangan kirinya, gelang kulit The Thunder Chain melingkar dengan pas. Sesekali ia mengangkat tangannya ke arah cahaya lampu jalan, mengagumi plat perak yang berkilau itu.
Gila, gue beneran diakui sama mereka, batinnya kegirangan.
Rasanya seperti baru saja naik level dari sekadar "babu" menjadi "VIP". Selena membayangkan bagaimana reaksi Rora besok, atau bagaimana muka Bella dan geng "Donat Gula"-nya yang hobi pakai bedak retak itu kalau melihat simbol sakral ini ada di tangannya.
"Kenapa senyum-senyum sendiri? Mirip orang stres," tegur Zeus yang berjalan di sampingnya menuju mobil.
"Dih, sirik aja! Gue lagi ngerasa keren tahu!" balas Selena sambil pamer gelang di depan muka Zeus. "Liat nih, sekarang gue punya 'jimat' anti-bully. Lo harus bangga punya babu sekeren gue."
Zeus hanya mendengus, tapi diam-diam dia merasa tenang melihat Selena menyukai pemberian itu. "Jangan terlalu sombong. Gelang itu tanggung jawab. Kalau lo macem-macem, gue tarik lagi."
"Pelit amat sih, Kulkas!"
Beberapa menit kemudian....
Mobil SUV hitam itu akhirnya sampai di depan rumah sederhana Selena. Selena buru-buru mengambil belanjaan santan dan deterjennya (yang tadi dibayar dengan harga diri Zeus).
"Makasih ya buat tumpangannya, buat jajanannya, dan... buat ini," Selena menunjuk gelangnya lagi. "Besok jangan kaget kalau gue jalan di sekolah sambil pasang muka paling angkuh sesekolah."
"Jangan bikin malu nama gue," sahut Zeus datar, tapi matanya menatap Selena dengan lembut sebelum ia menutup kaca mobil.
Selena masuk ke rumah dengan perasaan bangga yang meluap-luap. Namun, begitu membuka pintu, ia langsung disambut oleh Mamahnya yang sudah berdiri dengan tangan di pinggang dan mata yang tertuju tajam pada satu hal: Belanjaan di tangan Selena.
"Lama banget sih, Sel! Supermarket depan aja sampe berjam-jam! Itu santannya udah mau basi kali di dalem plastik!" omel Mamah Selena.
Selena nyengir kuda. "Tadi ada kendala teknis, Mah. Antrenya panjang, terus... ada sesi pemotretan dadakan."
"Kata rora kamu diculik"mamahnya yg agak keliatan panik.
"Ya...bukan diculik sih"
"Oh"
Mata Mamah Selena tiba-tiba tertuju pada gelang baru di tangan Selena. "Lho, itu gelang apa? Bagus banget, perak ya? Dari siapa?"
Selena langsung menyembunyikan tangannya di balik punggung. "Ini... hadiah dari klub robot, Mah! Karena Selena jadi anggota paling rajin bersih-bersih!"
"Masa klub robot logonya petir sama rantai gitu? Kayak geng motor," gumam Mamahnya curiga. "Jangan-jangan dari cowok ganteng yang kemarin ya?"
"Aduh Mamah kepo banget deh! Udah ah, Selena mau mandi, capek jadi keren!" Selena langsung lari ke kamar sebelum interogasi berlanjut.
Malam itu, Selena duduk di meja belajarnya. Biasanya dia akan sibuk merakit robot mainannya, tapi kali ini dia malah sibuk memotret gelangnya dari berbagai sudut (tentu saja tidak untuk diposting, karena dia tahu itu berbahaya, tapi buat koleksi pribadi saja).
Dia merasa dunianya berubah hanya dalam satu minggu. Dari benci setengah mati pada cowok yang yang nyuruh jadi babu gegara gak sengaja ketumpahan kopinya, sekarang malah jadi orang yang paling dilindungi oleh cowok itu.
Drrtt... drrtt...
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk.
Unknown: Tidur. Besok jangan telat, superhero.
Selena tersenyum lebar. Dia tahu persis siapa pemilik gaya bicara singkat dan menyebalkan itu. Dia mengganti nama kontak tersebut menjadi: "Kulkas Alexandra ⚡".
Besok akan jadi hari yang sangat menarik di sekolah. Selena sudah tidak sabar ingin melihat wajah dunia saat dia berjalan masuk sebagai bagian dari lingkaran paling eksklusif di sekolah.
Besoknya.....
Selena lagi jalan di koridor.
Bruk....
Geng pick me sengaja nabrak selena.
"Ups gk sengaja tapi di sengaja sih"
"Hey dempul lo apa-apaan sih"selena tetep Santai walau marah.
"Hey lo katanya gk ada hubungan nyatanyaan kemarin dianter zeus"bella marah.
"Lah emang gk ada tapi ya ada deh go ahah ikut campur"selena emosi.
Dan dari kejauhan zeus berjalan di koridor itu saat melewati selena dia memperlambat jalannya.
"Nanti istirahat ke perpustakaan"lalu Zeus lanjut jalan.
Bella dan gengnya masih mematung di tengah koridor seperti patung lilin yang hampir meleleh. Mereka benar-benar kena mental. Ucapan Zeus yang hanya tertuju pada Selena itu terasa seperti tamparan keras yang membungkam mulut nyinyir mereka seketika.
"Z-Zeus tadi ngomong sama dia?" bisik salah satu teman Bella dengan suara bergetar. "Bukannya Selena bilang udah nggak ada hubungan?"
Bella baru saja mau membuka mulut untuk membalas, tapi tiba-tiba langkah Zeus terhenti. Sang Pangeran Mafia itu tidak berbalik sepenuhnya, dia hanya menolehkan kepalanya sedikit ke arah geng pick-me tersebut.
Tatapan Zeus sangat tajam, dingin, dan menusuk—tipe tatapan yang biasa dia berikan pada musuh bebuyutan Geng Thunder sebelum keributan dimulai. Dia menatap mata Bella selama tiga detik tanpa ekspresi.
"Birisik."
Hanya satu kata. Cuma satu kata yang keluar dari bibir Zeus, tapi volumenya yang rendah justru bikin bulu kuduk semua orang yang mendengar langsung berdiri.
Bella seketika pucat pasi. Dia merasa lidahnya mendadak kelu dan kakinya lemas. Dia langsung menunduk dalam-dalam, tidak berani lagi menatap punggung Zeus yang kembali menjauh. Geng pick-me yang tadi sibuk tertawa kini benar-benar ciut, mereka diam seribu bahasa, bahkan takut untuk sekadar bernapas kencang.
Selena masuk ke kelas dengan wajah yang sebenarnya ingin tertawa kencang, tapi dia tahan demi menjaga wibawa "silent hero"-nya.
Rora langsung menyergapnya di bangku. "SEL! GILA! Tadi gue liat di koridor! Si Bella langsung kicep ditatap Zeus! Lo apain sih si Kulkas sampe dia mau belain lo gitu? Padahal biasanya dia nggak peduli urusan cewek!"
Selena duduk dengan tenang, meletakkan tasnya, lalu berbisik. "Gue nggak ngapa-ngapain, Ror. Mungkin dia cuma nggak suka ada lalat berisik di dekat telinganya."
"Halah, bohong banget! Eh, mana coba liat tangan lo!" Rora mencoba menarik lengan seragam Selena. "Gue liat tadi ada yang berkilau di pergelangan tangan lo pas lo benerin jam!"
Selena buru-buru menarik tangannya. "Sssttt! Pelanin suara lo! Ini rahasia, Ror. Zeus bilang jangan sok keren, jadi gue sembunyiin."
"Wah, parah lo! Sama gue aja rahasia-rahasiaan!" Rora cemberut, tapi matanya tetap berbinar kagum. "Tapi beneran deh Sel, aura lo hari ini beda. Kayak punya pelindung gaib gitu."
Saat jam istirahat...
Sesuai perintah "Sang Kulkas", Selena berjalan menuju perpustakaan saat bel istirahat berbunyi. Perpustakaan sekolah adalah tempat paling sepi karena anak-anak lebih memilih ke kantin.
Di pojok paling belakang, di antara rak buku sejarah yang berdebu, Zeus sudah duduk di sana. Dia tidak membawa buku, hanya duduk menyandarkan punggungnya dengan tangan terlipat di depan dada.
"Duduk," perintah Zeus saat melihat Selena datang.
Selena duduk di kursi depan Zeus. "Ngapain sih ke sini? Tadi di koridor lo bikin heboh tahu nggak. Si Bella kayaknya habis ini harus ke panti pijat gara-gara syok berat."
Zeus tidak menanggapi candaan Selena. Dia meraih tangan kiri Selena, lalu menarik pelan lengan seragam gadis itu sampai gelangnya terlihat.
"Bagus. Lo dengerin kata-kata gue buat nggak pamer," ucap Zeus. Dia lalu mengeluarkan sesuatu dari sakunya—sebuah kunci kecil dengan gantungan kunci berbentuk robot mini yang sangat detail.
"Ini apa lagi?" tanya Selena bingung.
"Kunci loker cadangan di markas. Di dalemnya udah gue isi stok camilan dan... beberapa barang yang mungkin lo butuhin kalau lo tiba-tiba diculik lagi," jawab Zeus datar. "Gue nggak mau denger lo kelaparan atau nggak punya uang cash lagi kayak di supermarket kemarin."
Selena tertegun. Di balik sifat dinginnya, ternyata Zeus sangat memperhatikan detail kecil yang memalukan itu.
"Zeus..." Selena menatap kunci itu, lalu menatap Zeus. "Lo sebenarnya... baik ya?"
Zeus langsung membuang muka. "Gue cuma nggak mau repot kalau lo pingsan gara-gara nggak makan. Dah, simpen kuncinya. Jangan sampe ilang, jadi..jangan geer"
Bersambung...