NovelToon NovelToon
My Savage Wife: Mafia Juga Takut Istri!

My Savage Wife: Mafia Juga Takut Istri!

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Dokter Genius
Popularitas:47k
Nilai: 5
Nama Author: dhya_cha7

Gara-gara difitnah "impoten" oleh mantan istri, Kenzo sang CEO Mafia terpaksa menikahi Zia, dokter spesialis sekaligus pengacara yang mulutnya sepedas cabai.

‎Sialnya, Zia juga punya hobi latah yang bikin harga diri Kenzo jatuh di depan anak buahnya!

‎"EH COPOT-COPOT, MAFIA GANTENG PISTOLNYA KARATAN!"

‎Mantan istri? Kena mental lewat jalur medis dan hukum! Tapi bagi Kenzo, menghadapi musuh lebih mudah daripada menghadapi satu istri latah ini!


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhya_cha7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Protokol Posesif dan Jurus Bakwan Maut

Kenzo hanya bisa menghela napas panjang sambil menatap sosok Zia yang sibuk membereskan stetoskop dan botol obat ke dalam tas medisnya. Ruangan itu mendadak terasa sempit bagi Kenzo.

Bagaimana tidak? Pinggangnya masih terasa panas sisa pengobatan bar-bar Zia tadi. Namun di sisi lain, pikirannya justru dipenuhi oleh bayangan tato di lengan Marco.

Simbol bintang sabit itu bukan sekadar gambar biasa di dunia mafia. Itu adalah lambang keluarga yang sangat eksklusif dan sakral.

Bagaimana mungkin seorang dokter cempreng dan latah yang hobinya makan bakwan bisa memiliki liontin dengan ukiran yang identik? batin Kenzo gusar.

Keheningan itu pecah saat Kenzo berdeham berat, membuat Zia sempat menoleh sekilas dengan wajah bingung.

"Rico," panggil Kenzo dengan suara rendah yang penuh penekanan.

"Iya, Bos?" Rico langsung berdiri tegak di samping Kenzo.

"Jaga dia, pastikan Zia aman. Jangan sampai ada satu helai rambut pun yang disentuh orang luar, terutama anak buah Marco. Kalau dia sampai hilang dari radar, jangan pernah tunjukkan wajahmu lagi di hadapanku!" perintah Kenzo.

Sorot mata Kenzo yang tajam kini berubah menjadi sangat protektif. Ia bukan lagi sekadar bos yang menyewa jasa medis.

"Siap, Bos, laksanakan! Saya akan menjadi bayangan Nona Zia di setiap langkahnya mulai detik ini!" sahut Rico tegas dengan posisi siap grak.

Zia yang sedari tadi asyik merapikan alat medisnya mendadak cengo. Ia menoleh ke arah Kenzo, lalu ke arah Rico, lalu kembali ke Kenzo lagi dengan mata mengerjap tak percaya.

"What? Bentar-bentar... Mas Letoy, Mas barusan ngomong apa? Jangan lepas dari pandangan?" tanya Zia sambil menunjuk dirinya sendiri dengan ujung botol alkohol.

"Kamu sudah dengar sendiri, kan, Zia. Ini semua hanya demi keselamatanmu," jawab Kenzo dingin tanpa mau menatap mata Zia.

"Dih, gila? Keamanan atau pelumpuhan hak asasi manusia?! Mas pikir saya ini barang antik yang harus dipantau terus? Saya ini manusia, Mas Letoy! Butuh ruang napas dan gerak, juga butuh privasi!" Zia mulai berkacak pinggang.

Kenzo tetap bersedekap. Ia tidak bergeming sedikit pun meski pinggangnya masih terasa nyut-nyutan.

"Zia, saya mohon mengertilah. Marco sudah melihat wajahmu. Dia bukan orang yang bisa diajak bercanda dengan bakwan, semprotan pembersih luka, atau balsem setan milikmu itu. Kamu dalam bahaya!"

"Ya terus kenapa?! Santai aja kali, Mas. Masako itu cuma butuh disiram air doa biar insaf! Kalau perlu, aku bakal panggil ustaz untuk merukiah dia. Jadi nggak perlu sampai nyuruh Mas Royco jadi bayangan saya!" Zia makin sewot.

Saking kesalnya, Zia mencoba berjalan ke arah pintu keluar. Tapi Rico dengan sigap ikut melangkah satu langkah tepat di belakangnya. Bahkan saat Zia geser ke kiri, Rico ikut geser ke kiri persis seperti sedang latihan baris-berbaris.

"Loh, loh! Mas Royco ngapain sih? Kok ngikutin aku terus?!" bentak Zia.

"Maaf Nona Zia, ini perintah Bos Kenzo. Satu meter, tepat di mana posisi Anda berdiri," jawab Rico singkat, padat, dan menyebalkan.

"Huft..." Zia menghela napas kasar hingga poninya terbang layaknya burung dalam sangkar. Ia lalu menoleh ke arah Kenzo dengan tatapan tajam.

"Oh, jadi mau main begini ya? Terus kalau aku mau ke kamar mandi, Mas Royco mau ikut juga? Mau jagain gayung atau mau bantuin saya nyikat lantai?!"

"Zia, diamlah. Itu protokol kesehatan terbaru, asal kamu tahu. Kan bahaya kalau kamu terpeleset di dalam atau tiba-tiba ada... tikus raksasa berkepala hitam yang mencoba menculikmu," jawab Kenzo asal-asalan sambil memijat pelipisnya.

"Halah! Alasan klasik banget, Mas Letoy kira ini drama Korea pagi hari? Bilang aja Mas takut kalau aku diculik Masako lagi, kan? Ngaku deh! Mas cemburu, kan, karena Masako lebih tinggi dan nggak encokan?" goda Zia sambil menaik-turunkan alisnya.

Kenzo hanya mendengus kesal melihat tingkat kepercayaan diri Zia. Namun, ia tidak bisa menyembunyikan rona merah di telinganya yang mulai panas.

"Cepat kembali ke kamar. Dan Rico, pastikan pintunya dijaga ketat!"

Sementara itu di markas rival yang suasananya gelap gulita layaknya masa depan jomblo, Marco kini duduk angkuh di kursi kebesarannya. Lengannya sudah dibalut perban, namun hatinya masih cenat-cenut teringat wajah Zia.

Kalau kata Smash, kenapa hatiku cenat-cenut pas ada kamu, pikirnya melantur.

Ia kemudian memanggil anak buah yang paling dipercaya, namun sayangnya otaknya agak sedikit telmi alias telat mikir, bernama Angga.

"Angga! Cari tahu siapa sebenarnya orang tua dokter gila itu sekarang juga! Cari sampai ke akar-akarnya!" bentak Marco sambil memukul meja hingga gelas kopinya goyang.

Angga berkedip bingung. "Anu... itu... Bos, buat apa? Bos mau ngelamar dia ya? Buat daftar undangan pernikahan atau buat daftar penerima bansos?"

"Goblok! Buat daftar tahlilan kamu kalau nggak segera berangkat!" teriak Marco emosi.

"Cari tahu apakah dia punya tanda lahir bintang sabit di bagian tubuh lainnya. Gunakan kamera pengintai atau apa pun, terserah!"

"Siap, Bos! Laksanakan!" Angga langsung lari kocar-kacir seperti dikejar maling. Ia hampir saja menabrak pintu keluar karena saking semangatnya memata-matai "calon ibu bos" menurut pikirannya yang ngawur itu.

Keesokan harinya, Zia mulai sesak napas karena pergerakan terbatas. Bagaimana tidak? Ke mana pun ia melangkah, selalu ada bayangan Rico di belakangnya persis seperti anak ayam dengan induknya.

Markas Kenzo yang biasanya sunyi mendadak terasa seperti penjara. Zia mencoba mengalihkan rasa bosannya dengan melakukan yoga di taman samping untuk melemaskan ototnya yang kram.

Namun, Rico tetap saja mengikutinya. Ia bahkan berdiri mematung di samping pohon mangga layaknya manekin toko baju yang gagal produksi.

"Oh my gat, Mas Royco...! Plis deh, jangan liatin saya terus, apalagi pas lagi posisi nungging begini! Saya ini lagi olahraga, bukan lagi audisi sirkus!" keluh Zia terengah-engah melakukan pose downward dog.

"Maaf Nona, sesuai instruksi Bos Kenzo, jarak harus satu meter. Saya hanya menjalankan tugas agar Nona tidak tiba-tiba menghilang ditelan bumi," jawab Rico tanpa ekspresi, meski sebenarnya ia bingung harus menatap ke arah mana.

"Hidih! Bilang aja kalau bos kamu itu takut saya diculik Masako, kan? Posesif banget, padahal statusnya cuma pasien. Lama-lama nih saya kasih balsem campur cabai rawit juga itu pinggangnya biar tahu rasa!" omel Zia geram.

Bahkan saat Zia telah selesai yoga dan memilih dandan di depan cermin, Rico tetap berdiri tegak di pojok ruangan.

"Haduh, Mas Royco... kamu nggak bosan ngeliatin saya terus? Saya tahu kok saya ini cantik paripurna sejagat raya, tapi kalau dilihat terus pas lagi pasang bulu mata gini, saya jadi grogi, Mas! Nanti kalau kecolok gimana?!"

"Maaf Nona, saya tetap di sini. Anggap saja saya ini pot bunga," jawab Rico datar.

"Pot bunga dari Hongkong! Mana ada pot bunga pakai setelan hitam gini, emang mau melayat?!"

Zia yang sudah bosan memutar otaknya yang licin layaknya belut yang habis mandi oli. Ia tidak tahan dikurung seperti tahanan. Ia butuh bakwan dan es cendol di pasar tradisional untuk mendinginkan otaknya yang mendidih!

"Oke... oke, Mas Royco. Saya mau tidur siang cantik dulu. Jangan masuk ya! Kalau Mas berani masuk, berarti Mas mau ngintip saya tidur. Nanti saya bakal laporin Mas Letoy biar gaji Mas dipotong!" ancam Zia sambil membanting pintu kamar dengan keras.

Begitu mendengar suara pintu dikunci dari luar, Zia langsung beraksi. Ia tidak keluar lewat pintu, melainkan lewat jendela—persis gaya Spiderman. Dengan lincah, Zia turun menggunakan kain seprai yang disambung-sambung.

"Rasakan itu, Mas Letoy! Haha... Emang enak punya dokter pinter ngibul kayak saya! Mending posesifnya simpan aja di kulkas!" gumam Zia bangga setelah kakinya menyentuh tanah.

Zia segera berlari menuju pasar tradisional terdekat dengan penyamaran tingkat dewa: daster batik bunga-bunga yang kegedean dan caping bambu yang ia "pinjam" dari jemuran asisten rumah tangga. Penyamaran itu terlihat begitu sempurna sampai ia dikira warga lokal yang mau borong sayur.

Di pasar, Zia merasa hidupnya kembali normal. Bau ikan asin dan terasi bagaikan parfum surga baginya.

"Bang! Saya pesan bakwan lima ribu, sambalnya yang banyak ya! Sama es cendol satu, jangan banyak kenangan, cukup banyakin santannya aja!" teriak Zia penuh semangat.

"Siap! Eh, ternyata Neng Dokter! Tumben kostumnya beda, lagi nyamar jadi intel pasar ya?" sahut si Abang gorengan sambil tertawa kecil melihat penampilan Zia. Tangannya cekatan membungkus bakwan panas ke dalam kantong plastik.

"Ih, si Abang mah gitu! Ini namanya tren daster kekinian. Masa Abang nggak tahu sih," jawab Zia asal. "Mana pesanannya? Perut saya sudah demo nih!"

"Sabar atuh, Neng. Oke, ini bakwan maut plus es cendol spesial buat Neng Cantik," si Abang menyerahkan pesanan Zia.

"Nah, ini baru mantap!" Zia menerima gorengan itu dengan mata berbinar seperti habis menang lotre.

Ia merogoh saku dasternya, mengeluarkan beberapa lembar uang lusuh lalu menyerahkannya pada si Abang. "Nih Bang, uangnya. Kembaliannya ambil aja buat beli vitamin biar kuat goreng bakwan terus!"

"Waduh, makasih banyak Neng Dokter Cantik! Alhamdulillah, penglaris... penglaris..." ucap penjual gorengan itu senang.

Zia segera celingak-celinguk mencari tempat yang pas. Ia akhirnya menemukan sebuah bangku kayu kosong di bawah pohon rindang di pojok pasar.

Hmm, bagus nih. Tempat yang strategis buat makan sambil mengawasi keadaan, ucap Zia dalam hati. Ia duduk santai sambil menyilangkan kaki beralaskan sandal jepit, lalu mulai menikmati bakwan panasnya dengan khidmat.

Namun, saat sedang asyik mengunyah, Zia merasa ada sepasang mata yang terus memperhatikannya dari balik tumpukan kangkung. Ternyata itu Angga, anak buah Marco, yang sedang gemetaran mencoba memotret tanda lahir di dekat telinga Zia diam-diam.

Wah, siapa itu? Apa dia penguntit yang naksir sama kecantikanku yang tiada tara ini? pikir Zia penuh percaya diri.

Begitu Angga mendekat untuk mengamankan foto lebih jelas, Zia langsung berbalik arah dengan gerakan karate dadakan.

"Hiyat! Hei kau, mas-mas topi hitam! Mau ngapain? Mau nyolong bakwan saya ya?! Atau mau nyolong kecantikan saya?!" teriak Zia kencang, membuat seisi pasar heboh.

"Eh, bukan Nona! Saya... anu... cuma mau survei harga sayur!" jawab Angga gemetaran sampai ponselnya hampir meluncur ke selokan.

"Apa, survei?! Jangan pikir saya nggak tahu ya, dari tadi kamu jeprat-jepret saya terus! Rasakan ini, bumbu kacang mematikan dari surga!"

Tanpa pikir panjang, Zia menyiramkan plastik kuah bakwan yang masih panas tepat ke arah kaki Angga.

"Aduh! Aduh, panas! Panas! Ampun, Dokter Galak!" Angga langsung lari kocar-kacir sambil memegangi kakinya yang kepedasan.

"Hah, rasain! Emang enak. Berani-beraninya mau jambret Dokter Zia yang paling cantik se-kecamatan!" ucap Zia bangga sambil lanjut menyedot es cendolnya hingga bunyi slruuupp.

Tiba-tiba, sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti mendadak tepat di depan pasar, menimbulkan debu yang beterbangan. Kenzo langsung keluar dari mobil dengan wajah yang sudah berubah menjadi hitam legam karena amarah yang tertahan.

Di belakangnya, Rico berjalan sambil tertunduk lesu. Ia merasa gagal total menjaga sang "aset".

"Waduh! Mobil siapa itu? Mengkilap benar kayak gigi emas nenek yang terkena lampu!" seru seorang ibu-ibu penjual sayur sambil menutupi hidung.

"Eh buset! Itu yang turun dari mobil ganteng banget kayak artis Korea di TV, tapi mukanya galak bener kayak mau nagih utang!" sahut pedagang ikan di sebelahnya.

Suasana pasar yang tadinya riuh mendadak senyap. Semua mata kini tertuju pada sosok Kenzo yang berjalan tegap menembus kerumunan. Aura mafianya membuat orang-orang spontan memberi jalan seolah dia adalah pejabat yang sedang blusukan.

"Zia Xaviera! Apa yang sedang kamu lakukan di tempat kumuh ini dengan daster compang-camping itu, hah?!" bentak Kenzo sambil berjalan cepat ke arah Zia.

"Eits, santai dong Mas Letoy! Jangan teriak-teriak, nanti saraf lehernya ikut kejepit loh! Mending duduk dulu sini makan bakwan biar tensi Mas nggak naik terus," sahut Zia santai sambil mengelap keringat di dahi Kenzo menggunakan ujung dasternya yang sedikit bau minyak goreng.

"Ya ampun, itu kan si Neng Dokter. Berani bener dia ngelap muka cowok ganteng pakai daster! Apa jangan-jangan pacarnya ya?" Bisik-bisik warga pasar mulai terdengar lagi. Ada yang kagum, tapi lebih banyak yang menahan tawa.

Kenzo yang tadinya ingin meledak, tiba-tiba terdiam seribu bahasa saat Zia mengusap keringat di dahinya. Ia menatap Zia lekat-lekat, lalu menariknya ke dalam pelukan pelindung agar tidak terlihat oleh mata-mata Marco di kejauhan.

"Kita pulang sekarang. Dan jangan pernah berani kamu kabur lagi lewat jendela, atau saya akan pasang teralis besi di seluruh kamar kamu! Mengerti?"

"Dih, situ siapa? Posesif amat! Mas mau jadi bodyguard apa mau jadi sipir penjara sih?" cibir Zia, namun diam-diam ia menyandarkan kepalanya di dada Kenzo, menikmati rasa aman yang aneh itu.

1
Muft Smoker
lanjut kaak
Muft Smoker
aaa si pak su udh mulai kode2 niih Zia ,,
semoga mereka ttap sama2 yx gx da tuh kontrak2 ,,
Umma Ridwan
akhiri donk author pernikahan kontraknya 🙏🙏😍
Muft Smoker
ulat bulu bertebaran dmna2 ,, kayakny semprotan hama yg kmren kurang mempan yx ,,
😂😂😂😂😂 buktiny tu ulet Clarissa bulu msh ganggu aj ,,

😒😒😒😒
Muft Smoker
cuma modal sarung tgan medis , alkohol Dan jarum medis ,, sesi Tanya jawab ny ala dokter reog beres kn ken ,,
Muft Smoker
ayooo Zia ,, kasih paham ,,
Muft Smoker
duuuh ni jgn cari masalah ma rombongan singa yg lgi kelaparan ,, bisa2 ente semua di makan
Muft Smoker
perang yg sebenarny ny sdang dlm perjalanan ,, 😏😏😏😏😏
Muft Smoker
ni keluarga mafia gx da garang2 ny ,, 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣 ,,
Muft Smoker
semangat ziaa ,,
tenang km punya byk pelindung skraaang ,,
Jumi Saddah
👍👍👍👍👍👍buat zia
Muft Smoker
puncaak konflik udh d mulai
Umma Ridwan
cerita nya seru menarik dan tidak membosankan thor
Umma Ridwan
👍👍👍👍💪💪💪
Muft Smoker
wah trnyata ayh angkat Zia bukan org sembarangan ,,
saat ni perjalanan menuju konflik sebenarny udh di mulai ,,
tentu saja di bumbui dg sifat dokter reog yg takk terduga ,,
Muft Smoker
aaaa penasaran kak ,,
knp ad barang2 Dari mafia Marco Dan kenzoo ,, siapa sebenarny ayah angkat Zia ini ,,
ayooo dtggu kelanjutan ny ,,
Jumi Saddah
penasaran🤔🤔🤔🤔🤔 double thor,,🤭🤭🤭
Muft Smoker
waaaah masiih ad rahasia besar niih ,,
lanjuuut kak ,,

penasaran banget
Muft Smoker
skraaang mereka bnr2 mafia yx ,, tegas , kaku , dingiin tp tetap penuh hormat ,,,
tp yaaaa gx tau klo pas sarapan nnti ,, wibawa mafia ny msh ad gx🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣
Muft Smoker
dsni qta bisa belajar yx ,,
sx pun mereka mafia,, tp sikap solidaritas , sikap kerja sama Dan sikap persaudaraan mereka patut di acungi jempol ,,
krn bagaimana pun mereka ttap manusia yg memiliki hatii ,,
meski di beberapa waktu mereka bisa menghabisi musuh tanpa belas kasihan ,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!