NovelToon NovelToon
Sanggana1: Perampok Raja Gagah

Sanggana1: Perampok Raja Gagah

Status: tamat
Genre:Action / Petualangan / Barat
Popularitas:213.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Rudi Hendrik

Joko Tenang didedikasikan oleh ayahnya sebagai pendekar pembela kebenaran di dunia persilatan. Menjadi murid tokoh sakti aliran putih Ki Ageng Kunsa Pari membuatnya memiliki kesaktian pilih tanding.

Namun, penyakit keturunan dari kakeknya menjadi kelemahan terbesarnya sebagai seorang pendekar. Ia akan mengalami kelemahan hingga pingsan jika didekati oleh wanita kurang dari tiga langkah, terlebih jika sampai bersentuhan kulit.

Joko Tenang yang masih remaja turut ambil bagian dalam misi penumpasan gerombolan perampok yang suka menyerang desa, merampok harta, dan menculik gadis-gadis perawan desa. Namun, kelompok perampok itu sangat sulit ditemukan dan ditumpas.

Mampukah Joko Tenang menjalani misi pertamanya dalam dunia persilatan? Temukan jawabannya di novel ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Gadis Cadar Maut

Gujara menusukkan jari telunjuk tangan kanannya ke tengkuk Parsuto yang duduk dengan kaki kiri lurus ke depan dan kaki kanan bersila. Parsuto belum bisa menekuk sempurna lutut kirinya karena masih ada pembengkakan.

Parsuto yang memejamkan mata diam merasakan aliran agak panas yang menjalar masuk ke dalam tubuhnya. Aliran panas itu berasal dari telunjuk Gujara.

Sementara Gujara sedang memberikan tahapan penyembuhan berikutnya kepada Parsuto, tampak kedua Joko sedang duduk di akar pohon besar.

“Joko, apa yang ingin kau raih dengan menjadi pendekar pilih tanding?” tanya Joko Tingkir.

“Menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, terutama bagi orang-orang yang lemah. Guru selalu mengulang-ulang pesan itu kepadaku, hampir setiap hari,” jawab Joko.

“Itu artinya kau akan bekerja untuk orang lain?” tanya Tingkir lagi.

“Bisa dikatakan seperti itu, Tingkir,” kata Joko.

“Menurutku, berkorban untuk orang lain itu adalah prinsip pendekar yang salah. Kita hidup, tentunya kita harus menikmatinya sebaik mungkin, bukannya malah membuang tenaga bahkan mempertaruhkan nyawa untuk orang lain. Sudah tentu orang yang kita bela itu belum tentu berpikiran sama dengan kita jika seandainya bertukar tempat. Belum tentu dia akan menolong kita atau berkorban untuk kita. Dengan memilih bermanfaat bagi orang lain, kita tidak akan mendapat keuntungan apa-apa,” kata Tingkir agak panjang, tidak seperti biasanya.

“Kau sok tua!” rutuk Joko lalu bangun berdiri. Ia lalu berdiri menghadap kepada Tingkir yang tetap duduk. “Kau tidak tahu ya, ada kehidupan setelah mati. Di saat itulah kau akan merasakan keuntungan dari pengorbananmu untuk orang lain. Dan kata Guru, tidak semua orang peduli hanya kepada dirinya sendiri. Ada orang-orang yang juga mau berkorban jika orang lain berkorban untuknya. Sekarang aku tanya kau. Kenapa kau mau menyelamatkan Limarsih? Padahal, kau bisa saja mati jika bertarung dengan Perampok Raja Gagah.”

“Aku mau menyelamatkan Limarsih karena dia adalah kekasihku,” jawab Tingkir seraya tersenyum.

“Berarti kau tidak akan menolong Cucur, karena dia bukan kekasihmu?” tanya Joko lagi mencoba menyudutkan sahabatnya itu.

“Aku tetap akan menolongnya, karena dengan demikian aku bisa menjadi kekasihnya, hahaha!” jawab Tingkir lalu tertawa keras.

“Dasar pemuda jelalatan!” rutuk Joko lalu tertawa pula.

“Joko!” panggil Parsuto yang telah berdiri di antara mereka.

Joko dan Tingkir memandangi Parsuto dengan seksama. Parsuto tertawa kecil.

“Ilmu pengobatan Paman Gujara memang luar biasa, kondisiku semakin baik,” puji Parsuto yang kini tidak lagi membawa tongkat pembantu jalan.

“Oh ya, keluarkan Pisau Bulan yang kau bawa!” suruh Joko.

Parsuto lalu merogoh balik bajunya dan mengeluarkan Pisau Bulan peminjaman dari Goceng.

“Kau arahkan pisaunya tepat ke batang pohon itu,” kata Joko lalu menunjuk sebatang pohon yang batangnya setebal pahanya. “Setelah yakin arahnya, barulah kau tekan tombol yang ada di gagangnya. Dan ingat, jangan lepas tombolnya jika pisaunya belum kembali.”

Parsuto lalu memperbaiki arah berdirinya. Ia luruskan arah pisau berbentuk sabit tersebut ke batang pohon yang tadi Joko maksud. Parsuto agak berdebar.

Set! Bset! Tseb!

Bsruakr!

Akhirnya Parsuto menekan tombol yang ada di gagang Pisau Bulan. Maka pisau yang berbentuk sabit, melesat lepas dari gagangnya. Sabit itu melesat sangat cepat dalam balutan sinar merah berbentuk bulat pipih. Dengan begitu mudahnya sinar merah itu menebas batang pohon lalu melesat balik kembali ke gagangnya. Seiring kembalinya, sinarnya juga lenyap. Buru-buru Parsuto melepaskan tekanannya pada tombol di gagang, karena pisau telah pulang ke gagangnya.

Sebatang pohon pun ambruk ke bumi.

“Wow!” pekik Parsuto takjub dengan wajah terpana. Ujung-ujungnya, ia akhirnya tertawa kencang.

“Jangan bangga dulu, Par. Jelas itu bukanlah perlindungan yang menjamin dirimu aman. Jadi tetap kau harus sangat berhati-hati dan waspada dari serangan musuh!” tandas Joko. “Sebenarnya lubang yang ada di gagangnya juga bisa dipakai sebagai senjata, tapi karena kau tidak memiliki tenaga dalam, jadi itu tidak bisa kau fungsikan.”

Parsuto hanya manggut-manggut seperti murid menerima wejangan dari seorang guru.

“Ayo, kita lanjutkan perjalanan!” ajak Gujara.

Mereka pun melanjutkan perjalanan meninggalkan pinggiran hutan itu.

“Tapi aku heran, Joko, kenapa gurumu begitu gampangnya meminjamkan senjata hebat dan berbahaya seperti Pisau Bulan?” tanya Parsuto.

“Entahlah. Mungkin kau akan dijadikan murid juga oleh Guru,” jawab Joko.

“Tidak, gurumu tidak pernah mau memiliki murid, Joko,” timpal Gujara.

“Hah!” kejut Joko. Lalu pemuda berbibir merah alami itu bertanya, “Lalu kenapa Guru punya murid aku dan Goceng?”

“Entahlah. Setahuku, Ki Ageng Kunsa Pari diketahui oleh banyak tokoh persilatan, tidak mau memiliki murid. Tapi entah kenapa, kau dan Goceng menjadi muridnya? Kau harus tanyakan itu kepada gurumu jika kita semua pulang dengan selamat dalam misi. Dan setahu Paman, Pisau Bulan tidak bisa berada di tangan orang yang jahat, karenanya Ki Ageng mau meminjamkan pusaka itu. Sebab, jika Parsuto berniat jahat, Pisau Bulan akan membunuhnya dengan sendiri.”

“Apa, Paman?” tanya Parsuto dengan nada terkejut. Tiba-tiba rasa takut menyerangnya, terdengar dari nada suaranya, “Jadi, pisau... pisau ini, bisa membunuhku sendiri?”

“Hahaha!” tawa Joko dan Tingkir.

“Ya, jika kejahatanmu sudah keterlaluan,” jawab Gujara. “Tak perlu khawatir seperti itu. Simpanlah kembali senjata berbahaya itu, sebelum ada orang jahat yang melihatnya.”

“Beruntung kau mendapat senjata sehebat itu, Parsuto. Aku tidak mendapatkan apa-apa,” kata Tingkir.

“Tapi kau tetap hebat tanpa memakai senjata,” kata Parsuto.

Tingkir hanya tersenyum sambil terus berjalan.

“Paman, gadis-gadis desa dibawa perampok untuk diapakan?” tanya Joko.

“Ah, aku kira kau sudah mengerti sehingga menceramahiku tentang kesucian perempuan. Gadis-gadis itu dibawa oleh para perampok, ya untuk diperkosa!” tandas Tingkir.

“Apa?!” pekik Joko Tenang terkejut. Lalu tanyanya dengan penuh emosi, “Jadi, jadi Kusuma Dewi, Limarsih dan Cucur, terancam kesuciannya?!”

“Terkejutmu itu telat, Sahabat!” rutuk Tingkir.

Ssst!

Desis Gujara tiba-tiba sambil berhenti dan mengangkat tangan kanannya memberi isyarat agar mereka semua berhenti dan diam.

“Ada apa, Paman?” tanya Joko lebih dulu.

“Aku mendengar suara pertarungan,” jawab Gujara.

Mereka pun kemudian diam dan mendengar dengan saksama segala suara yang mereka dengar. Pendengaran mereka mencoba menyaring suara yang menunjukkan adanya pertarungan.

Belum lagi ketiga pemuda itu menemukan suara pertarungan dengan telinga mereka, Gujara sudah lebih dulu bergerak.

“Di sebelah selatan!” seru Gujara sambil berlari kecil menerobos ilalang.

Ketiga pemuda itu segera mengikuti Gujara turut menerobos ilalang.

Gujara berhenti di balik gundukan tanah berumput. Ketiga pemuda yang mengikutinya turut berhenti di tempat yang sama. Sementara pandangan mereka lempar agak jauh ke bawah, sebuah tanah lapang berumput pendek. Gujara dan ketiga pemudanya memang kini berada di tanah yang tinggi.

Di bawah sana, berlangsung pertarungan seorang wanita bercadar kuning dan berpakaian kuning. Wanita itu bersenjatakan sebuah tombak kayu. Sementara lawannya adalah seorang lelaki bertampang sangar berpakaian serba hitam dan bersenjatakan golok.

Bisa dilihat pula di sisi lain, berdiri seorang gadis tanggung berpakaian serba merah dengan usia kisaran 15 tahun. Parasnya ayu dan masih sangat segar.

Kehadiran Gujara dan ketiga ekornya di tempat itu ternyata bisa langsung diketahui oleh gadis berbaju merah. Hal itu terlihat ketika ia agak mendongak memandang kepada Gujara dan yang lainnya. Selanjutnya gadis muda itu kembali fokus kepada pertarungan yang terjadi.

“Paman kenal dengan mereka?” tanya Tingkir, tapi pandangannya tertuju kepada gadis berbaju merah.

“Itu Gadis Cadar Maut dan adiknya, Tembangi Mendayu. Lawannya aku tidak kenal,” jawab Gujara.

Ting ting ting!

Percikan-percikan api bertebaran ketika mata golok beradu dengan tombak Gadis Cadar Maut, padahal tombak itu berbahan kayu murni. Namun, peraduan mata golok itu tidak melukai tombak sedikit pun.

Dilihat dari kadaannya saat ini, Cadar Maut lebih unggul, karena tampak si lelaki agak kewalahan mengelaki dan menangkis jika wanita bercadar itu balas menyerang. Posisinya yang mulai unggul, memicu Cadar Maut lebih gencar menyusulkan serangan demi serangan.

Selain memang memiliki kesaktian yang tidak rendah, wujud senjata yang lebih panjang menjadi faktor utama bagi Cadar Maut cepat unggul.

Pada satu kesempatan di saat terdesak, lelaki sangar mencuri kesempatan untuk melompat mundur.

“Gila! Padahal hanya tombak kayu, tapi kenapa bisa sekeras baja?” membatin lelaki itu. “Biar aku coba dengan tenaga penuh.”

“Hiaaat...!” teriak lelaki itu keras dan panjang. Teriakannya disertai dengan lompatan. Sementara kedua tangannya menggenggam erat gagang golok. Tebasan sekuat tenaga lagi cepat itu mengincar untuk membelah dua kepala Cadar Maut.

Tak!

Dengan kedua tangan memegang dua sisi batang tombaknya, Cadar Maut menangkis tebasan kuat itu di atas kepala. Hingga-hingga sepasang kaki Cadar Maut sedikit bergetar. Sebaran tenaga pun timbul dari peraduan itu.

Sementara si lelaki garang, ia mendarat dengan sepasang kaki yang langsung gemetar dan kedua lengannya juga gemetar.

Trak!

Golok yang dipegangnya jatuh dengan sendirinya dari genggaman ke bumi. Kedua tangan lelaki berpakaian hitam tampak gemetar kuat dan seolah terserang kelumpuhan.

Melihat lawannya kalah dalam menahan kekuatan benturan tenaga dalam tadi, Cadar Maut cepat ambil kesempatan.

Wesr! Srep!

Seberkas sinar hijau seperti meteor mini melesat dari ujung jari Gadis Cadar Maut. Betapa paniknya lelaki sangar itu. Tenaganya yang terkuras banyak membuatnya tidak bisa berbuat lebih selain pasrah sinar itu masuk ke dalam tubuhnya.

Bluk!

Tanpa jeritan, si lelaki sangar itu tumbang terkapar tidak bergerak lagi. Sepasang matanya mendelik menyeramkan.

“Tembangi! Pindahkan tubuhnya ke bawah pohon itu!” teriak Cadar Maut kepada adiknya.

Belum lagi Tembangi merespon perintah kakaknya, tiba-tiba Joko Tingkir muncul berlari turun dari tanah tinggi.

“Aku saja, Bi!” teriak Tingkir seraya datang dengan berlari kencang dan sekali lompat sudah berada di dekat tubuh si lelaki sangar.

Melihat kemunculan Tingkir yang tiba-tiba, sejenak Gadis Cadar Maut hanya memandangnya dan memandang Gujara yang bergerak turun bersama Joko dan Parsuto. Gadis bercadar kuning itu lalu berjalan pergi ke bawah pohon yang ditunjuknya tadi.

Joko Tingkir dengan semangat meraih kaki kanan lelaki itu dan menariknya.

Tiba-tiba di udara berkelebat sosok merah Tembangi Mendayu ke arah Tingkir yang sedang susah payah bekerja.

Bak!

Kecepatan terjangan Tembangi ditambah posisi Tingkir yang tidak siap, membuat terjangan kaki kanan si gadis mendarat telak di dada Tingkir. Seketika Tingkir terjengkang.

Serangan yang menjatuhkan itu membuat Joko yang melihatnya jadi mengerenyit. Ia tahu, terjangan keras itu pasti sakit.

Sementara Tingkir yang sempat menggeliat kesakitan, dalam hitungan detik akhirnya melompat bangkit dengan wajah mengerenyit dan memerah marah. Tatapannya tajam kepada Tembangi yang berdiri gagah sebagai seorang wanita.

Tembangi kemudian membungkuk, sepasangan tangannya dicengkeramkan ke pakaian lelaki lawan kakaknya. Dengan tenaga yang tidak biasa, Tembangi yang bertubuh mungil menghentakkan sepasang lengannya melempar tubuh besar lelaki tersebut ke udara.

“Wow!” pekik Parsuto terkejut, seiring Joko yang juga mendelik.

Tingkir yang tadi marah, berubah ternganga tidak percaya.

“Gila, tubuh semungil itu bisa melempar kerbau sebesar itu ke udara,” ucap Tingkir lirih.

Buk!

Di saat tubuh lelaki besar masih di udara, Tembangi melompat naik dan menendang tubuh berat itu hingga terdorong agak jauh, lalu jatuh tepat di bawah pohon yang dikehendaki kakaknya.

“Hei! Kalau kemampuanmu terbatas, tidak usah berlagak menolong. Kau pikir wanita itu lemah, hah?!” hardik Tembangi kepada Tingkir.

“Jangan kau pikir, hanya dengan bisa melempar beban seberat kerbau itu kau sudah hebat!” balas Tingkir yang tidak mau diremehkan. “Ayo kita buktikan, siapa yang lebih hebat!”

“Jangan menyesal!” seru Tembangi tidak kalah galak.

“Tingkir! Jangan cari masalah dengannya!” teriak Gujara yang sudah berdiri bersama Gadis Cadar Maut di bawah pohon.

“Dia dulu yang cari masalah, Paman!” teriak Tingkir bela diri.

“Kau yang lebih dulu mencampuri urusanku!” tukas Tembangi sengit.

“Tembangi!” panggil Gadis Cadar Maut.

Tembangi pun berpaling kepada kakaknya. Lalu katanya kepada Tingkir, “Selamat kau kali ini!”

“Awas kau!” kata Tingkir geram.

Tembangi segera pergi kepada kakaknya.

Joko Tenang dan Parsuto menghampiri Tingkir.

“Hebat kau, Tingkir!” puji Parsuto.

“Hebat apanya? Aku dipermalukan oleh perempuan siluman itu!” gerutu Tingkir sambil usap-usap dadanya yang masih terasa berdenyut sakit.

Parsuto dan Joko hanya tertawa.

“Mau pergi ke mana kau, Gujara, sehingga membawa pasukan seperti itu?” tanya Cadar Maut yang sudah kenal dengan Gujara sebagai sesama orang persilatan aliran putih.

“Kami mencari jejak Perampok Raja Gagah yang baru saja melakukan serangan di sebuah desa,” jawab Gujara.

“Berarti kemunculanmu tepat waktu. Lelaki ini mungkin bisa memberi keterangan penting. Aku mencurigainya sebagai teliksandi Perampok Raja Gagah,” kata Cadar Maut.

Joko bersama Tingkir dan Parsuto datang kepada Gujara. Tingkir dan Tembangi saling menunjukkan wajah bermusuhan. Gujara dan Cadar Maut tidak ambil peduli dengan sikap keduanya.

Sementara alam mulai menggelap, karena memang matahari mulai tenggelam di barat.

“Hari sudah gelap, apakah kau akan bermalam di sini, Cadar Maut?” tanya Gujara.

“Aku akan bermalam di sini,” jawab Cadar Maut.

“Jika demikian, biar kami menemani kalian bermalam,” kata Gujara.

“Asalkan bocah-bocah itu tidak menjahili adikku dan kau tidak menggangguku,” kata Cadar Maut.

“Jangan khawatir, kami semua sudah jinak,” kata Gujara seraya tertawa kecil.

Gadis Cadar Maut lalu menyentuhkan ujung lancip tombak kayunya ke dahi lelaki besar sangar di bawah pohon yang posisinya sudah disandarkan ke batang pohon. Melalui tombak itu, Cadar Maut menyalurkan tenaga dalamnya lalu sampai kepada tubuh si lelaki besar.

Terlihat tubuh lelaki sangar bergerak lemah, seperti orang hidup yang tidak memiliki tenaga sedikit pun. Pandangannya kosong ke depan, seperti tidak melihat keberadaan orang lain di dekatnya.

“Apa yang kau lakukan di desa itu?” tanya Cadar Maut.

“Melakukan pengintaian kekuatan yang ada di dalam desa,” jawab lelaki sangar itu seperti orang yang terhipnotis.

“Siapa tuanmu?” tanya Cadar Maut lagi.

“Pangeran Bejat.”

“Di mana sarang kalian?”

“Di Bukit Gagah.”

“Di mana itu?”

Kali ini lelaki sangat itu tidak menjawab, ia hanya diam seperti patung hidup.

“Di arah mana dari tempat terakhir kau bertarung?” tanya Cadar Maut lagi.

“Selatan.”

“Berapa lama berjalan kaki?”

“Sehari berjalan kaki.”

“Jelaskan tentang pemerkosaan terhadap gadis-gadis yang diculik?” tanya Gujara menyela proses interogasi Cadar Maut.

Hasilnya, lelaki itu hanya diam, tidak menjawab.

“Dia hanya akan menjawab pertanyaanku,” kata Cadar Maut kepada Gujara.

“Jika demikian, tanyakan kepadanya tentang hal tadi,” kata Gujara.

“Untuk apa?” Cadar Maut malah balik bertanya.

“Untuk meyakinkan kami bahwa gadis-gadis terdekat kami yang mereka culik masih bisa diselamatkan,” jawab Gujara.

Cadar Maut akhirnya beralih kembali kepada korbannya.

“Jelaskan tentang gadis-gadis yang kalian culik!”

“Semua gadis akan diperkosa oleh Pangeran Bejat. Satu malam satu gadis. Kemudian diberikan kepada anak buahnya. Gadis yang tidak cantik dijadikan sebagai korban awal, yang cantik dijadikan korban penutup,” ujar lelaki itu.

“Itu berarti Limarsih akan mendapat giliran terakhir, karena dialah yang tercantik,” kata Tingkir girang, menyimpan harapan.

Tembangi Mendayu hanya melirik tajam kepada Tingkir.

Mendapat lirikan tidak bersahabat seperti itu, Joko Tingkir lalu berbisik kepada Joko Tenang.

“Sekarang ada wanita, ini kesempatan bagus untuk menyembuhkan penyakitmu,” kata Tingkir pelan, tapi masih terdengar jelas oleh Tembangi.

Tembangi jadi melotot tajam kepada kedua pemuda tampan itu, menunjukkan kemarahannya. Melihat wajah cantik Tembangi mendelik seperti itu, Joko merasa tidak enak hati. Sementara Tingkir tertawa cengengesan kepada Tembangi. Joko memilih pergi menjauh dengan mengajak Parsuto. Tingkir pun akhirnya berlari pergi menyusul Joko dan Parsuto.

“Sepertinya ia lebih galak dan lebih berbahaya dari Kusuma Dewi,” kata Joko kepada Parsuto.

“Ia lebih galak dari harimau, hahaha!” kata Tingkir.

“Kau jangan macam-macam dengan memancing kemarahannya,” kata Joko kepada sahabatnya itu.

“Joko, kau tidak tahu ya? Pada dasarnya, wanita yang selalu menunjukkan kegarangannya, jika sudah kenal yang namanya pemuda tampan sepertiku, rasa cinta dan setianya lebih besar dari kegalakannya,” kata Tingkir.

“Tingkir! Pergilah kumpulkan kayu bakar!” teriak Gujara kepada Tingkir.

“Ah, selalu aku, selalu aku!” rutuk Tingkir kesal.

“Biar aku temani,” kata Parsuto.

“Kau, Joko?” tanya Tingkir.

“Aku sedang malas, mau istirahat,” kata Joko.

“Ayo, Par!” ajak Tingkir.

Sementara Gujara dan Cadar Maut asik berbincang-bincang tidak jauh dari pohon, Joko Tenang memilih merebahkan tubuhnya di atas rerumputan dan wajahnya menghadap ke langit luas. Sementara Tembangi duduk di atas sebongkah batu setinggi lutut, tidak begitu jauh dari posisi kakaknya.

Perhatiannya sesekali memandang keberadaan Joko Tenang. (RH)

1
Muhamad Yasri
Luar biasa
Ling Kun menghilang
wkwkwk jantungnya Joko sabar Joko😂
Om Rudi: terima kasih
total 3 replies
Ling Kun menghilang
kasian siapa yang perduli nya itu untuk minta tolong
Hadijah Nadia
👍👍👍👍👍🌹🌹🌹🌹🌹
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
wah joko yg menyelamatkan kusuma ya. keren
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
waduh kusuma dewi beraksi. ngga bahaya ta buat dia
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
wkwkwk kebayang adegannya kaya apa😂😂
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
anak manusia masa anak setan ih
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
berani juga si parsuto sm centeng ki lurah.. awas hati2 nanti kena hajar kau
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
wah tdi beli monyet,sekarang lagi nawar burung. mau buat kebun binatang ya
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
emangnya apa yg lagi di cari sih joko..
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
jaman dulu ki lurah punya tukang pukul.. kok sekarang ngga ya
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
buat apa joko membeli monyet..?
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
sungguh kasihan siapa yang kelak dapat menumpas Rombongan biaadab ini?
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
sadeees ini rombongan raja gagah
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
gerombolan ini sangat licin susah dibasmi dan ditangkap ya
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
Hmm nama pangeran yang Unic
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
ini pasti gerombolan perampook
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
nah hanyut kan bolanya. mainnya jangan di pinggir sungai ya..jd ngga masuk ke kali tuh bola
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
nah..kena temennya kan bolanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!