Dua tahun menjalani hubungan rahasia (backstreet) dengan Dimas—pria matang keturunan darah biru—Kirana rela mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya. Ia melepaskan masa lalu, melawan restu keluarganya sendiri, hingga meruntuhkan tembok perbedaan besar demi menyamakan arah masa depan dan bersiap melangkah ke jalan yang sama dengan sang kekasih.
Namun, tepat di hari saat ia siap menyerahkan seluruh hidupnya, takdir menghempaskannya tanpa belas kasihan. Di sebuah gedung pesta yang megah, dunia Kirana seolah runtuh. Di atas pelaminan mewah, Dimas justru bersanding dengan wanita lain yang merupakan atasannya sendiri. Tanpa ada kata putus, tanpa perpisahan hangat. Kirana ditinggalkan begitu saja dalam kehampaan oleh pria yang berjanji menjadi kompas hidupnya.
Sanggupkah Kirana bertahan dan menemukan kembali jati dirinya setelah pengorbanan tulusnya diinjak-injak? Dan bagaimanakah takdir menjemput penyesalan terdalam sang lelaki darah biru tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia yang Kau Buka untukku
Bagi sebagian orang, dicintai oleh seorang pria yang matang, mapan, dan berwibawa mungkin terdengar seperti cerita klise yang hanya ada di dalam lembaran novel fiksi. Namun bagi Kirana, perlakuan yang ditunjukkan oleh Dimas selama berbulan-bulan setelah malam pernyataan cinta itu, terasa seperti sebuah anugerah yang teramat nyata. Dimas bukan hanya seorang kekasih yang datang membawa bualan kosong di ujung lidah. Pria berdarah biru itu benar-benar menjelma menjadi sosok pelindung sejati, seorang pria dewasa yang memperlakukan Kirana dengan kelembutan yang begitu tulus dan penuh penghormatan.
Jarak usia tiga belas tahun yang membentang benderang di antara mereka sama sekali tidak pernah menjelma sebagai sekat yang kaku atau canggung. Justru, kematangan usia dan pengalaman hidup yang dimiliki Dimas membuat Kirana merasa aman. Setiap kali dia berada di dekat Dimas, rasa cemas yang biasa menghantui isi kepalanya seketika menguap begitu saja. Dimas tahu bagaimana cara menenangkan hatinya, bagaimana cara mendengarkan keluh kesahnya yang sederhana, dan bagaimana cara membuat Kirana merasa berharga sebagai seorang wanita.
"Mas tidak pernah mempermasalahkan latar belakangmu, Kirana. Bagi Mas, ketulusan dan kesederhanaan yang kamu miliki itu jauh lebih berharga dari gelar apa pun di dunia ini," ucap Dimas suatu sore, sembari mengusap pucuk kepala Kirana dengan sangat lembut saat mereka sedang menikmati makan malam bersama.
Kata-kata itu bukan sekadar pemanis demi menyenangkan hati. Dimas membuktikannya melalui serangkaian tindakan nyata yang mengalir tanpa jeda. Pria itu sangat royal dan bertanggung jawab penuh atas kenyamanan hidup Kirana.
Tanpa pernah Kirana meminta sepeser pun, bahkan tanpa ada kode-kode halus yang keluar dari bibirnya, Dimas secara rutin selalu menyelipkan sebuah amplop tebal berisi jatah uang jajan ke dalam tas Kirana sebelum mereka berpisah di penghujung hari.
Setiap kali Kirana menyadari keberadaan amplop itu dan mencoba menolaknya karena batinnya benar-benar merasa sungkan dengan status hubungan mereka yang belum resmi, Dimas selalu menatap mata Kirana dengan pandangan yang begitu teduh, dalam, dan penuh pengertian. Pria itu akan menahan tangan Kirana, mencegahnya untuk mengembalikan amplop tersebut.
"Terima ya, Sayang. Jangan ditolak lagi. Ini bentuk perhatian kecil dan tanggung jawab dari Mas. Mas ingin memastikan kalau semua kebutuhan kamu sehari-hari tercukupi dengan baik tanpa kekurangan apa pun. Melihat kamu bahagia dan tenang menjalani hari, sudah menjadi kebahagiaan terbesar buat Mas," bisik Dimas dengan nada suara baritonnya yang begitu menenangkan, sembari menggenggam erat kedua belah telapak tangan Kirana, menyalurkan kehangatan yang langsung meresap ke dalam dada gadis itu.
Kebaikan dan keroyalan Dimas pun tidak berhenti di diri Kirana saja. Perhatian pria matang itu meluap hingga menyentuh rumah keluarga Kirana. Hampir setiap pekan, tanpa pernah absen, ada saja kejutan yang datang ke rumah mereka. Kadang berupa bungkusan makanan mewah dari restoran terpandang yang belum pernah dicicipi oleh keluarga Kirana, parsel buah-buahan segar yang ranum, hingga kiriman barang-barang keperluan dapur yang dikirimkan Dimas secara khusus untuk ibu dan kakak Kirana.
"Kirana, Nak Dimas itu pria yang sangat santun dan baik sekali ya. Ibu merasa dihormati meskipun kita ini hanya keluarga biasa," ucap sang ibu suatu hari sembari menata buah-buahan kiriman Dimas di atas meja makan yang sederhana.
Mendengar pujian dari sang ibu, hati Kirana membuncah penuh rasa haru sekaligus bangga. Perhatian intens tanpa jeda itu, perlahan namun pasti, membuat seluruh benteng pertahanan dan keraguan di hati Kirana runtuh tanpa sisa. Dia jatuh cinta sedalam-dalamnya, menyerahkan seluruh kepercayaannya pada sosok pria dewasa yang begitu memuliakan dirinya dan keluarganya.
Namun, yang paling membuat Kirana merasa sangat dihargai dan diakui sebagai seorang wanita adalah bagaimana cara Dimas membawa dirinya masuk ke dalam lingkaran kehidupan sosialnya. Meskipun hubungan asmara mereka harus dikunci rapat-rapat sebagai rahasia besar dari lingkungan keluarga besar Dimas yang berdarah biru, Dimas tidak pernah menyembunyikan Kirana dari dunia luar. Pria itu tidak pernah malu memperlihatkan Kirana kepada rekan-rekan dekatnya.
Bahkan, ada satu momen indah yang membekas sangat dalam dan terpatri kuat di dalam sanubari Kirana hingga detik ini.
Malam itu, kantor Dimas sedang dihantam oleh tenggat waktu proyek besar yang sangat menguras tenaga dan pikiran. Seluruh tim, termasuk para petinggi kantor, terpaksa harus lembur total. Demi efisiensi waktu dan kenyamanan kerja, mereka memindahkan seluruh ruang aktivitas kerja sementara ke rumah sang atasan yang megah. Di tengah hiruk-pikuk dan kesibukan yang luar biasa padat tersebut, Dimas tidak melupakan Kirana. Pria itu menyempatkan diri untuk menjemput Kirana ke rumahnya.
"Ikut Mas ya malam ini? Mas ingin kamu menemani Mas di sana. Melihat kamu duduk di dekat Mas bakal bikin Mas makin semangat dan gak ngerasa lelah kerjanya," ajak Dimas dengan seulas senyuman manisnya yang meluluhkan seluruh keraguan Kirana.
Malam itu, di dalam ruang tengah rumah megah milik atasannya, Kirana duduk dengan tenang di sebuah kursi, berada di antara tumpukan berkas-berkas penting, laptop yang menyala, dan riuh rendah suara rekan kerja Dimas yang sedang sibuk mematangkan proyek. Di hadapan rekan-rekan kerjanya, di hadapan atasannya langsung yang memiliki posisi tinggi, Dimas memperlakukan Kirana dengan sangat manis tanpa ada rasa canggung, ragu, atau malu sedikit pun.
Pria itu sesekali beranjak dari kursinya hanya untuk mengambilkan minuman hangat untuk Kirana, memastikan gadis itu tidak merasa bosan atau kedinginan, dan dengan penuh rasa bangga memperkenalkan Kirana sebagai wanita yang mengisi hatinya saat ini kepada semua orang yang lewat.
"Kenalin semuanya, ini Kirana, kekasih saya," ucap Dimas dengan nada suara yang terdengar penuh kebanggaan di telinga semua orang yang berada di ruangan besar itu.
Melihat bagaimana seluruh dunia kerja Dimas mengetahui, menyambut hangat, dan menghargai kehadirannya, hati Kirana melambung tinggi menembus awan. Rasa insecure yang selama ini kerap menyelinap akibat status dirinya yang hanya gadis biasa dari kalangan rakyat jelata, seketika luruh dan menguap tanpa bekas.
Kirana merasa bahwa pengorbanan mereka untuk menjalani hubungan rahasia alias backstreet ini benar-benar sepadan, karena Dimas menaruh masa depan dan hatinya secara utuh pada diri Kirana.
Harapan-harapan indah tentang sebuah pernikahan yang suci dan sakral mulai tumbuh subur, berakar kuat di dalam lubuk hati Kirana setiap harinya. Dia menaruh kepercayaannya pada janji manis pria berdarah biru itu.
Kirana percaya, walau ada dinding kasta yang menjulang tinggi serta perbedaan arah keyakinan yang membentang diantara doa mereka, cinta tulus yang di miliki Dimas Wijaya akan mampu menuntun hubungan rahasia mereka menuju akhir yang bahagia di atas pelaminan suatu hari nanti.
pasti ada kekecewaan disitu ,wajar sih kalau mereka marah
malahan Ratna lebih peduli kehilangan Dimas,kalau ayahnya Dimas koid,Dimas bebas haha,dsar otak nya 😄
dia yang salah tapi tidak mau disalahkan
hasil merebut itu ga awet bu, inget umur
kamu wanita kaya ,mandiri knp harus merebut hak orang lain. percuma hartamu😄
udah merebut malahan dia merasa korban😄
kan bisa dibicarakan baik" ,kalian sudah mendzolimi kirana
rasakan akibatnya sendiri
setidaknya harus ada omongan, Ratna juga ksian hasil merampas itu ga akan tenang
kalau kamu itu seorang yang tau agama
tidak akua menawarkan nikah siri ,padahal baru 3hari
ayo tetap semangat
tapi semoga ini bisa jadi pelajaran buat kamu iya
cinta beda agama apakah mereka akan bahagia