Nayla Thalita Firliany 21 tahun, gadis cantik yang biasa di panggil Nayla ini merantau dari Riau ke ibu kota Jakarta untuk menuntut ilmu di salah satu kampus ternama.
Dan Naas Nayla harus kehilangan ke Virginan nya dalam sebuah insiden pemerkosaan saat ia tengah mabuk.
Karena pelaku bukan pria yang Nayla kenal, serta dirinya juga tidak hamil maka Nayla memilih melupakan kejadian itu dan menganggapnya sebagai mimpi buruk semata.
Namun beda halnya dengan Giovani Farmost 29 tahun, seorang Presdir sebuah perusahaan kontruksi yang merasa jika Nayla adalah takdirnya.
Gion panggilan dari Giovani menghalalkan segala cara untuk bisa membuat Nayla selalu di sisihnya
Namun kesalah pahaman yang terjadi di awal pertemuan mereka membuat keduanya tidak pernah akur. Terlebih Nayla yang tidak mencintai Gion membuat Gion selalu cemburu berlebihan.
Lalu apa yang akan terjadi pada kisah mereka berdua?
Simak kisah mereka selanjutnya dalam
I'M JUST FOR YOU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jujuk Aza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Farel
Sudah lebih dari tiga Minggu Farel tidak bertemu dengan Nayla. Tentu saja ia rindu dengan gadis itu, cewek yang sudah ia taksir sejak Tiga tahun silam yang baru bisa di pacarinya tiga bulan lalu.
Entah apa yang dimiliki oleh Nayla, yang jelas Farel tergila-gila padanya. Bagaimana tidak Farel sudah naksir berat sama Nayla dari semester dua dan baru bisa pacaran saat akhir semester lima.
Sudah berulang kali ia mengungkapkan rasa cintanya pada Nayla yang selalu di jawab dengan, 'maaf ya Rel gue masih pengen sendiri dulu, Gue belum pengen pacaran'. Dan hasil dari rasa sabarnya itu berbuah manis. Ke empat kalinya saat Farel mengungkapkan perasaanya beberapa bulan lalu, Nayla meng-iya-kan permintaanya.
Farel berjanji jika ditolak lagi, ia akan langsung melamar Nayla ke rumah orang tuanya biar mereka langsung nikah, tidak usah pacaran lagi.
Hahaha... untung aksi gilanya itu tidak kesampaian, karena Nayla keburu menjadi pacarnya.
Nayla tidak bisa di telepon karena HP nya hilang dan mereka tidak bisa ngobrol layaknya pasangan-pasangan lain yang suka telepon setiap malam sebelum tidur untuk melepas rindu.
Ahay...enak nya pacaran ya gini, ada yang bilang meet bobok ya sayang, moga mimpi indah.
Tapi itu buat orang lain, kalau Nayla tidak pernah bilang begitu lantaran dia teramat cuek. Karena ini pertama kalinya cewek itu pacaran yang artinya Farel adalah pacar pertama Nayla meski gadis itu bilang kalau dia pernah naksir kakak kelasnya pas jaman SMA dulu. Tapi tidak pernah jadian lantaran sang kakak kelas sudah punya pacar dan cintanya bertepuk sebelah tangan. Sakit banget deh.
Ngomongin tentang tuan putri itu, Farel tahu jika pacarannya masih ada di rumah sang paman, karena tadi sore ia sempat telpon dan bertanya pada Faya, apakah Nayla sudah pulang ke kost atau belum? Dan sohib kecenya itu bilang, Nayla belum pulang.
Kini Farel berencana untuk ngapel ke sana. Ke rumah paman Nayla.
"Assalamualaikum," ujarnya sambil mengetuk pintu hitam rumah minimalis itu dari luar.
"Walaikumsalam," jawab suara dari dalam, yang tak seberapa lama pintu terbuka dan nampak lah perempuan paruh baya dari arah dalam.
Sesaat perempuan yang Farel ketahui bernama Ani itu mengamati penampilannya malam ini.
Ya....lantaran mau ngapel makanya Farel dandan sedikit biar nampak ganteng, meski aslinya juga ia sudah ganteng.
"Ada perlu apa mas?" Tanya perempuan di depannya.
"Nayla nya ada Tante?" Tanya Farel pada Tante Anni.
"Oh... Nayla ya? Ada. Ini temannya Nayla?" Tanyanya ramah.
"Iya," Farel menjawab dengan sopan.
"Ayo masuk sini mas. Biar saya panggilkan Nayla dulu," Ujarnya sambil mempersilahkan Farel masuk ke ruang tamu dan menyuruhnya duduk pada sofa berwarna putih biru disana. Sedang perempuan itu masuk rumah kebagian dalam.
*
*
"Farel!" Teriak suara yang sangat ia rindukan selama ini.
Farel mendongak, menatap arah suara itu berasal. Sosok Nayla tengah tersenyum kearahnya.
"Kok kamu tahu rumah ini?" Tanyanya sambil berjalan mendekat.
"Tahu lah, kan aku tanya si mbah."
"Siapa Mbah kamu? hebat bener sampai tahu rumah bibi aku ini."
Farel nyengir, "Google" jawabnya ngaco yang langsung di sambut cubitan oleh Nayla di lengannya.
Kini cewek itu sudah duduk di Farel.
"Nih, aku bawakan bingkisan," Farel menyerahkan kantong kresek putih yang sedari tadi ia bawa.
"Asik..." Jawab Nayla. "Apaan nih?" tanyanya lagi.
"Rahasia," jawab Farel.
Nayla nyengir, "gue bawa masuk dulu ya?" Nayla meminta izin kepada Farel sebelum kemudian cewek itu masuk ke dalam, dan menghilang di tikungan.
Sepuluh menit Nayla keluar lagi sambil membawa nampan putih berisi dua cangkir teh panas, sepiring pisang goreng dan sepiring martabak telur yang tadi ia bawa.
Nayla memang selalu begitu setiap Farel berkunjung membawa makanan. Dia akan menyuguhkan sebagian dari makanan yang Farel bawa di hadapan mereka berdua lagi. Alasannya, karena Farel yang beli jadi biar ikut makan juga.
"Dimakan itu pisang gorengnya," pinta Nayla, "Itu pisang goreng bikinan aku loh, kamu pasti suka," Ujarnya sambil mempersilahkan Farel menikmati pisang goreng yang ada di atas meja.
"Kamu pinter banget sih, ngerti suasana. Hujan-hujan gini bikin pisang goreng," jujur Farel.
Nayla tersenyum, "karena di rumah yang ada cuma pisang. Coba kalau ada tepung sama keju kan jadinya bikin kue. Bukan pisang goreng."
"Tapi kalau hujan gini kan emang cocok nya pisang goreng, bukan kue goreng," Goda Farel, "entar kalau jadi istri aku juga harus gitu ya... bisa cocokin makanan dengan keadaan sekitar biar aku betah deket-deket kamu," Lanjutnya.
Wajah Nayla memutih seketika menandakan jika dia terkejut. "kenapa terkejut gitu? Kamu gak mau jadi istri aku?" Tanya Farel lagi.
"Emmm bukan begitu. Aku mau banget jadi istri kamu. Tapi itu kan masih lama, kenapa diomongin sekarang."
"Ya, kan kalau kamu mau biar aku mulai nabung buat ngasih hantaran besok," Jawab Farel becanda, tapi serius.
"Itu masih lama kali. Kuliah yang bener saja dulu, kagak usah mikir yang aneh-aneh," Ucap Nayla sambil terkekeh.
Meski begitu Farel tahu jika sikap Nayla padanya agak berbeda kali ini. Tidak seperti Nayla yang ia temui beberapa minggu lalu, seolah dia sedang memikirkan banyak hal, karena bentar-bentar Nayla terlihat bengong dan tidak fokus saat diajak berbicara. Bukan hanya itu, Nayla juga terasa agak menjauh dari Farel, biasanya ia selalu duduk di sebelah Farel. Tapi kali ini, cewek itu lebih memilih duduk di kursi single yang letaknya jauh dari jangkauan dirinya.
Mungkin karena sekarang di rumah pamannya kali ya, sehingga Nayla memang beneran jaga jarak. Mesti biasanya juga begitu, tapikan tidak sejauh ini. Seolah terlihat jika pacaranya itu sama sekali tidak merindukan dirinya. Berbeda dengan Farel yang sangat merindukan Nayla. Namun Farel bersyukur melihat keadaan Nayla yang masih dalam keadaan sehat seperti ini. Ketimbang melihatnya sakit.
*
*
*
*
Melihat Farel yang begitu sangat mencintainya membuat hati Nayla sangat sedih.
Ia mulai berfikir apakah Farel juga akan tetap mencintainya seperti saat ini? Bila dia tahu jika dirinya sudah tidak virgin lagi? Apakah pacarnya akan tetap sayang padanya, menerima ia apa adanya? Atau dia akan meninggalkannya begitu saja? Mungkinkah Farel akan gantian minta jatah padanya sebagai bukti atas cintanya itu? Seperti pria-pria yang lain, para Pria yang selalu di ceritakan oleh teman-teman kampus mereka?
Nayla takut jika Farel tiba-tiba menghilang begitu saja dari hidupnya, tapi ia lebih takut lagi jika pacarnya itu mengajaknya bercinta lantaran tahu jika dia sudah tidak virgin. Karena alasan yang seperti itu, Nayla tidak bisa bercerita kejadian yang sesungguhnya pada Farel.
Nayla belum sanggup, juga belum siap untuk menerima masalah baru yang harus ia hadapi untuk saat ini.
"Kenapa nay? Kok melamun gitu?" Kata-kata Farel membuyarkan lamunannya.
"Tidak, bukan apa-apa, aku lagi mikir saja. Apakah hubungan kita ini akan berakhir bahagia atau putus di tengah jalan? Apakah kamu akan selalu sayang sama aku seperti ini selamanya?" Tanya Nayla pada Farel.
Cowok itu tersenyum, "kenapa mikir gitu, memang ada apa?"
Nayla menggeleng.
"Kamu sendiri pengennya hubungan kita berakhir seperti apa? Berakhir di pelaminan, sampai kita kakek nenek atau putus di tengah jalan?" Tanya Farel.
"Aku cewek Rel, kalau kamu tanya begitu tentu aku akan menjawab sampai kita kakek nenek namun semua kan terserah pada mu."
"Kok begitu?"
"Ya secara, aku tidak mungkin datang ke rumah kamu buat ngelamar, apa lagi saat kamu sudah tidak mau bersama aku lagi."
"Kalau memang mau kamu hubungan kita bisa langgeng sampai jadi kakek dan nenek bahkan sampai ajal menjemput, maka kita harus bisa menjaga hubungan ini dengan baik Nay. Paling tidak jangan sampai ada dusta diantara kita. Kita harus saling percaya," Jawab Farel.
Nayla mengaguk setuju, meski ia sendiri untuk saat ini sudah berdusta pada Farel, tapi ia berjanji pada diri sendiri, suatu saat nanti akan Jujur pada cowok itu mengenai keadaanya. Walau itu bukan sekarang, dan semoga Farel bisa menerima ia dengan segala kekurangannya.
"Kalau kamu suntuk, bagaiman kalau kita jalan-jalan keluar. Cari angin begitu? Kan sudah lama kita tidak malam mingguan bareng?" Pinta Farel pada Nayla.
"Tidak usah deh Rel, diluar lagi gerimis, entar kamu sakit lagi kalau kita kehujanan," Tolak Nayla, karena memang dari sore hujan dan belum juga reda hingga sekarang, meski kini tinggal gerimis nya saja, tidak sederas saat sore tadi.
"Tenang saja Nay, aku bawa mobil kok, jadi kamu tidak usah takut kehujanan." Farel menjelaskan.
"Tidak usah deh Rel, aku emang lagi malas keluar. Kita di rumah saja ya?!" Pinta Nayla.
Farel mengangguk sebagai jawab iya.
"Kalau tidak mau keluar tidak apa, tapi pasang wajah ceria dong. Masak aku jauh-jauh ngapeli kamu, tapi kamu malah cemberut gitu!" Pinta Farel.
Kini Nayla tersenyum kearah cowok itu mesti terasa berat.
Yang kemudian suasana berubah menjadi lebih ceria saat Farel menggoda Nayla dengan candaan-candaan konyol yang dia lontarkan. Farel memang pintar mencairkan suasana yang tegang karena itu Nayla sangat mencintainya.
*
*
*
*
Begitu Farel pulang Nayla langsung di goda habis-habisan oleh sepupu dan bibinya.
"Cie... cie... Yang sedang berbunga karena habis di apeli, Cie..." Goda Arum pada Nayla.
Nayla senyum menanggapi godaan Arum.
"Katanya sudah putus kok masih ngapel. Udah baikan ya Nay?" Tanya sang bibi.
"Iya," Jawab Nayla malu.
"Bagus lah kalau begitu, biar kamu tidak sakit lagi. Masak gara-gara putus saja kamu langsung sakit," Komen sang bibi, dengan senyum mengembang, "Tapi bibi setuju kok Nay, kalau kamu sama dia. Anaknya ganteng, sopan dan sepertinya juga cowok baik-baik," Sang bibi mengomentari tentang Farel.
"Dia memang baik kok bi," Nayla membenarkan ucapan bibinya.
"Mbak Nay, kalau yang tadi pacar mbak Nayla, terus cowok yang mengantarkan mbak Nay kemarin itu siap?" Tanya Rahel pada Nayla, " mbak punya pacar dua ya?"
Pertanyaan Rahel membuat semua orang di ruang keluarga itu menatap ke arah Nayla minta penjelasan lebih.
"Emm... kalau yang kemarin itu teman mbak Nay," Jawab Nayla jujur, karena ia memang tidak punya hubungan apa-apa sama cowok gila itu.
"Kalau cuma temen kenapa harus nangis segala?" Tanya adiknya lagi.
"Kamu nangis Nay?" Sang bibi ikutan kepo, "Kapan? Kenapa? Ada masalah?"
"Em itu bi, cuma salah paham saja, bukan masalah besar kok," Jawab Nayla memberi alasan. Duh si Rahel katanya rahasia tapi malah dibongkar di depan umum gini. Dasar musuh dalam selimut, mulut ember Nayla mengutuki sepupunya dalam hati.
"Udah ya bi, Nayla mau ke kamar dulu," pamit nya, mendahului percakapan, kemudian lekas melesat ke kamarnya sebelum sang bibi bertanya lagi. Karena ia takut kalau di tanya-tanya terus nanti ujung-ujungnya bakal ke bongkar kejadian pemerkosaan yang menimpanya.
*
*
*
*