Di Aethelgard, mata ungu Varian dianggap dosa. Ia bertahan hidup di distrik kumuh hanya demi adiknya, Elara. Namun, malam "Pembersihan Suci" merenggut segalanya.
Saat Ksatria Suci membunuh Elara di depan matanya, kewarasan Varian hancur. Bukan cahaya yang menjawab doanya, melainkan kegelapan purba. Ini bukan kisah pahlawan penyelamat dunia, melainkan kelahiran sang Evil God.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arfian ray, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wajah Ganda Sang Iblis
Keesokan Harinya. Ruang Kelas 3B - Teori Sihir Lanjutan.
Matahari pagi menyinari ruang kelas yang berdesain ampiteater itu. Debu kapur tulis beterbangan di udara.
Profesor Horatio, seorang pria tua dengan jenggot putih panjang yang menyentuh meja, sedang berapi-api menjelaskan tentang "Hukum Kekekalan Mana" dan bagaimana energi tidak bisa diciptakan atau dimusnahkan.
Varian duduk di barisan depan. Penampilannya rapi sempurna. Kacamata sihir bertengger di hidungnya, pena bulunya menari-nari di atas kertas perkamen, mencatat setiap kata yang keluar dari mulut Profesor.
Sesekali, dia mengangkat tangan.
"Profesor," tanya Varian dengan nada sopan dan penuh rasa ingin tahu. "Jika mana tidak bisa dimusnahkan, lalu kemana perginya mana yang dikonsumsi oleh Magical Beast tipe penyerap? Apakah menjadi massa tubuh atau residu eter?"
Profesor Horatio tersenyum lebar. Matanya berbinar. Jarang ada murid tahun pertama yang mengajukan pertanyaan secerdas itu.
"Pertanyaan brilian, Tuan Valdris! Itu akan kita bahas di bab termodinamika sihir minggu depan. 10 poin untuk Asrama Utara!"
Di seberang ruangan, Putri Aeliana mematahkan pena bulunya tanpa sengaja. Krek.
Dia menatap punggung Varian dengan tatapan membunuh. Sejak duel mereka, Varian berubah. Dia tidak lagi dingin dan menyebalkan (setidaknya di permukaan). Dia menjadi murid teladan, ramah, dan pintar. Terlalu sempurna. Dan itu membuat Aeliana semakin curiga dan kesal. Dia merasa Varian sedang memakai topeng lain.
"Lihat dia," bisik Aeliana pada teman sebangkunya. "Sok pintar. Pasti dia cuma cari muka."
Varian menoleh sedikit ke arah Aeliana, lalu tersenyum tipis dan mengangguk sopan, seolah tidak menyadari permusuhan sang Putri.
Tapi itu bukan Varian.
Itu adalah Kloning.
Entitas itu hanya menjalankan perintah sederhana: "Jadilah murid yang baik. Jangan buat masalah. Buat mereka percaya aku anak baik-baik."
Pada Saat Bersamaan. 50 Kilometer di Luar Tembok Akademi.
Angin kencang menderu di atas bukit berbatu yang gersang. Tidak ada ruang kelas yang hangat. Tidak ada bau kapur tulis. Yang ada hanya bau debu dan kuda.
Varian yang Asli berdiri di tepi tebing.
Dia tidak memakai seragam akademi. Dia mengenakan jubah hitam panjang dengan tudung yang menutupi wajahnya, dan sebuah topeng putih polos dengan satu lubang mata ungu yang menyala.
Di sampingnya, berdiri Agna, sang Death Knight. Armor hitamnya tampak semakin menyatu dengan tubuhnya. Pedang besarnya tertancap di tanah, menunggu perintah.
Di bawah bukit, di jalan setapak yang berkelok, terlihat sebuah iring-iringan kereta kuda yang dijaga ketat. Bendera Gereja berkibar.
"Konvoi suplai rahasia," gumam Varian Asli. Suaranya dingin, kontras dengan nada sopan kloningnya di kelas. "Mereka membawa Batu Mana Suci dari tambang selatan. Batu-batu itu seharusnya untuk memperkuat Barrier Ibu Kota."
Varian menoleh pada Agna.
"Mereka pikir aku sedang sekolah, duduk manis mendengarkan dongeng orang tua," Varian tertawa kecil. Tawa yang kering dan kejam. "Ayo rampok mereka, Agna. Aku butuh batu-batu itu. Tulangmu butuh kalsium sihir agar lebih keras."
Agna menggeram rendah sebagai tanda setuju. Dia mencabut pedangnya.
Varian melompat turun dari tebing setinggi dua puluh meter itu. Jubahnya berkibar seperti sayap kelelawar raksasa. Dia mendarat dengan dentuman keras di tengah jalan, tepat di depan konvoi, menghalangi laju mereka.
"BERHENTI!" teriak pemimpin pengawal konvoi.
Dia adalah seorang Ksatria Templar berbaju zirah tebal berlapis emas, menunggang kuda perang. "Siapa kau?! Ini adalah properti Gereja Suci! Minggir atau mati!"
Varian berdiri tegak. Dia tidak mencabut pedangnya. Dia hanya mengangkat jari telunjuk kanannya, mengarahkannya lurus ke dahi sang pemimpin pengawal yang berjarak lima puluh meter darinya.
"Pilihan kata yang buruk," ucap Varian.
Di ujung jarinya, setitik cahaya ungu berkedip. Sangat kecil. Nyaris tak terlihat.
"Needle of Nihility."
Zipp.
Tidak ada ledakan.
Pemimpin pengawal itu tiba-tiba tersentak ke belakang. Di tengah helm bajanya yang tebal—yang seharusnya anti-panah dan anti-sihir—muncul lubang kecil yang rapi. Lubang itu menembus logam, menembus tengkorak depan, menembus otak, dan keluar dari belakang helm.
Darah menyembur halus dari lubang kecil itu.
Pria itu jatuh dari kudanya seperti karung beras. Mati seketika sebelum dia mendengar suara jentikan jari Varian.
"KAPTEN!" teriak para pengawal lain panik. "SNIPER! ADA SNIPER!"
Mereka mengangkat perisai, mencari pemanah di tebing. Mereka tidak sadar bahwa kematian datang dari jari anak kecil di depan mereka.
"Giliranmu, Agna," perintah Varian.
Dari atas tebing, Agna melompat turun seperti meteor hitam, menghantam kereta logistik di tengah barisan.
BOOM!
Kekacauan pecah. Jeritan para pengawal bercampur dengan suara besi beradu dan raungan Death Knight.
Varian berjalan santai melewati pertempuran itu. Dia mendekati mayat sang kapten, mengambil kantong koinnya, lalu berjalan menuju peti-peti berisi Batu Mana.
"Panen yang bagus," gumamnya sambil memasukkan batu-batu bercahaya biru itu ke dalam Cincin Spasialnya.
Sementara di ruang kelas yang jauh di sana, Varian (Kloning) sedang tersenyum ramah pada Profesor, "Terima kasih, Profesor. Topiknya sangat menarik."
Dua wajah. Satu iblis. Dan dunia tidak tahu apa yang sedang menimpa mereka.