Raisa adalah definisi "gadis di dalam botol". Hidupnya hanya seputar dinding rumah, perpustakaan pribadi, dan petuah-petuah manis ibundanya. Dunia luar yang kejam? Raisa tidak kenal. Dunia Dark Romance yang penuh darah dan obsesi? Raisa bahkan tidak bisa mengeja kata "toksik".
Semua berubah saat ia meminjam sebuah novel bersampul hitam pekat milik temannya. Baru membaca bab pertama, Raisa sudah pusing tujuh keliling. Namun, saat ia memejamkan mata untuk tidur, dunianya berputar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Bel pulang sekolah berbunyi, dan sesuai rencana, mereka bertiga langsung meluncur ke rumah mewah keluarga Elion. Begitu sampai di dalam rumah, mereka bahkan tidak sempat berganti pakaian karena sudah terlalu tidak sabar.
Sekarang, di ruang TV yang luas dan nyaman, Anna, Jolina, dan Emma masih mengenakan seragam sekolah mereka yang sedikit berantakan. Mereka duduk lesehan di atas karpet bulu yang tebal dengan bantal-bantal besar di sekelilingnya. Di atas meja kaca, sudah tersedia berbagai macam camilan mulai dari keripik, pizza yang baru saja datang, hingga es boba berukuran besar.
Di layar TV besar di hadapan mereka, sebuah film komedi romantis sedang berputar, namun fokus mereka justru terbagi dengan sesi gibah dan mengobrol santai.
"Gila, ini pizzanya enak banget!" seru Emma dengan mulut yang masih penuh, matanya tetap tertuju ke layar TV saat adegan lucu muncul. "Tapi asli ya, cowok di film ini kok rada mirip ya sama tipe-tipe cowok dingin yang diceritain Anna tadi? Bedanya yang ini versi kocak."
Jolina tertawa keras sambil melempar popcorn ke arah Emma. "Ngaco lo! Tapi beneran deh, Na," Jolina menoleh ke arah Anna yang sedang asyik mengunyah potongannya. "Di rumah gue ini lo bebas mau ngapain aja. Anggap rumah sendiri. Gue seneng banget akhirnya kita bisa kumpul bertiga santai kayak begini."
Anna tersenyum lebar, menyandarkan tubuhnya ke sofa di belakangnya sambil memeluk bantal. "Gue juga seneng banget, Jol, Em. Makasih ya udah ngajak gue. Rasanya tenang banget bisa cerita-cerita dan makan banyak gini tanpa perlu mikirin omongan orang lain."
Mereka bertiga pun melanjutkan sore itu dengan tawa yang memenuhi ruangan, makan sampai kenyang, dan sesekali mengomentari jalan cerita film yang semakin seru, menikmati momen kebersamaan yang sangat berharga bagi Anna.
Sore pun berganti menjadi senja. Emma akhirnya berpamitan untuk pulang duluan karena sudah dicari oleh orang tuanya. Tinggalah Anna dan Jolina di ruang TV. Karena kekenyangan dan kelelahan setelah tertawa seharian, Jolina akhirnya terkulai tidur di atas karpet bulu, sementara Anna tertidur pulas di atas sofa panjang dengan posisi meringkuk memeluk bantal.
Tak lama kemudian, terdengar suara pintu depan terbuka. Axel melangkah masuk ke dalam rumah. Ia melonggarkan dasinya yang terasa mencekik setelah seharian penuh mengurus bisnis dan memberikan "pelajaran" pada pengkhianat di kantornya.
Langkah kaki Axel terhenti saat melewati ruang tengah. Sepasang matanya menangkap pemandangan dua gadis yang masih berseragam sekolah terlelap di sana. Namun, tatapannya langsung mengunci pada satu sosok: Anna.
Axel berjalan mendekat tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Ia mengabaikan Jolina yang tidur mendengkur halus di lantai, dan memilih untuk berlutut di samping sofa tempat Anna tertidur.
Aura dingin dan kejam yang semalaman ini menyelimuti Axel mendadak luruh begitu saja. Tatapannya melembut saat memandangi wajah polos Anna yang tampak begitu damai dalam tidurnya. Rambut kepang sanggulnya sudah sedikit berantakan, dengan beberapa anak rambut menempel di pipinya.
Axel mengulurkan tangan, dengan sangat perlahan dan hati-hati agar tidak membangunkan gadis itu, jemari besarnya menyelipkan anak rambut Anna ke belakang telinga. Ibu jarinya kemudian mengusap pelan pipi Anna yang kemarin malam sempat memerah akibat tamparan. Beruntung, bekas itu sudah sepenuhnya hilang.
"Eunghhh..." Anna melenguh kecil dalam tidurnya, merasa terusik oleh sentuhan hangat di wajahnya. Bukannya terbangun, Anna justru secara alami mengesekkan pipinya ke telapak tangan Axel, mencari kenyamanan dari kehangatan pria itu.
Tindakan spontan Anna membuat sudut bibir Axel terangkat, membentuk senyuman tipis yang sangat tulus. Jantungnya yang biasanya sedingin es entah mengapa berdegup sedikit lebih kencang hanya karena respon kecil dari gadis di depannya ini.
Axel kemudian menundukkan kepalanya perlahan, lalu mendaratkan sebuah kecupan yang sangat lembut dan lama di kening Anna.
"Mimpi indah, Anna," bisik Axel dengan suara yang sangat rendah, hampir menyerupai helaan napas.
Ia menarik selimut rajut yang tergeletak di ujung sofa, lalu membentangkannya dengan rapi di atas tubuh Anna agar gadis itu tidak kedinginan. Setelah memastikan miliknya itu tidur dengan nyaman, Axel berdiri dan melangkah pergi menuju kamarnya dengan perasaan yang jauh lebih tenang, siap untuk melindungi tidur malam gadis kecilnya.