NovelToon NovelToon
I'M An Imperfect Mom

I'M An Imperfect Mom

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:899
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Shakira

"Di kantor, Aruna adalah pemenang. Namun di rumah, ia adalah orang asing yang kehilangan tempat. Ketika mantan suaminya kembali membawa 'istri sempurna', hidup Aruna mulai retak.

Satu per satu barangnya hilang, ingatannya mulai dikhianati, dan putranya perlahan menjauh. Apakah Aruna memang ibu yang gagal, atau seseorang sedang merancang skenario untuk membuatnya gila?

Menjadi ibu itu berat. Menjadi ibu yang waras di tengah teror... itu mustahil."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: UMPAN YANG MULAI DI MAKAN

Bab 12: Umpan Yang Mulai Di Makan

Siska hampir saja tersedak kopinya sendiri. Matanya yang tadi berbinar ramah seketika menyipit tajam, menatap Rhea—atau Aruna—dengan tatapan yang seolah ingin menguliti wanita di depannya itu hidup-hidup. Kata "Sekretaris" adalah penghinaan terbesar bagi Siska yang sudah merasa menjadi ratu di kantor ini.

"Saya Siska, Direktur Operasional sekaligus... tunangan Pak Bimo," jawab Siska dengan nada bicara yang ditekan, mencoba menjaga wibawanya di depan investor. Ia sengaja menekankan kata 'tunangan' sambil memamerkan cincin berlian di jari manisnya—cincin yang Aruna tahu persis dibeli Bimo menggunakan uang dari rekening bersama mereka setahun lalu.

Aruna hanya mengangkat alisnya sedikit, memberikan senyum tipis yang meremehkan. "Oh, tunangan? Maaf, saya pikir tadi asisten pribadi karena Anda terlihat sangat sigap menyiapkan dokumen untuk Pak Bimo. Senang berkenalan dengan Anda, Ibu Siska."

Bimo berdehem, mencoba mencairkan suasana yang mendadak beku. "Mari, silakan duduk, Ms. Mahendra. Kita langsung ke inti pembicaraan. Resort di Bali ini adalah proyek terbesar kami tahun ini. Lokasinya premium, konsepnya sustainable luxury. Kami hanya butuh suntikan dana sekitar lima puluh miliar untuk mempercepat fase konstruksi."

Aruna duduk dengan anggun, menyilangkan kakinya yang dibalut stiletto hitam. Ia membuka draf proposal yang disodorkan Adrian. Matanya dengan cepat memindai angka-angka yang ada di sana. Sebagai mantan manajer keuangan di perusahaan ini, Aruna tahu persis di mana Bimo menyembunyikan "lubang" anggarannya.

"Konsepnya menarik, Pak Bimo," ucap Aruna sambil meletakkan dokumen itu kembali ke meja dengan suara *plak* yang mantap. "Tapi saya melihat ada ketidakkonsistenan pada proyeksi arus kas di tahun kedua. Dan lokasi ini... bukankah masih dalam sengketa dengan warga lokal terkait akses air bersih?"

Bimo dan Siska saling lirik. Mereka terkejut. Investor biasanya hanya peduli pada keuntungan, tapi wanita di depan mereka ini masuk ke detail teknis yang sangat spesifik.

"Itu masalah kecil yang sedang kami tangani, Ms. Mahendra. Tidak akan mengganggu jalannya proyek," sela Siska cepat, mencoba mengambil kendali pembicaraan. "Kami punya koneksi kuat di pemerintahan daerah."

Aruna menatap Siska dengan tatapan yang sangat dingin. "Dalam bisnis saya, tidak ada yang namanya 'masalah kecil'. Satu kebocoran kecil bisa menenggelamkan seluruh kapal. Saya tidak suka menanam modal di kapal yang bocor, kecuali..." Aruna menggantung kalimatnya, membuat Bimo condong ke depan karena cemas. "...kecuali saya yang memegang kendali atas audit keuangannya."

"Maksud Anda?" tanya Bimo.

"Emerald Capital akan mengucurkan seratus miliar—dua kali lipat dari yang Anda minta—tapi dengan satu syarat," Aruna mencondongkan tubuhnya ke arah Bimo, aroma parfum mahalnya yang berbeda dengan parfum lamanya kini memenuhi ruangan. "Saya akan menempatkan auditor internal saya sendiri di kantor ini untuk mengawasi setiap rupiah yang keluar masuk. Dan orang itu adalah rekan saya, Adrian."

Siska langsung bereaksi. "Itu tidak bisa! Kami punya prosedur sendiri. Memasukkan orang luar ke dalam sistem keuangan kami itu sangat berisiko."

"Berisiko untuk siapa? Untuk perusahaan, atau untuk Anda, Ibu Siska?" Aruna membalas dengan nada yang sangat tenang namun mematikan. "Jika tidak ada yang disembunyikan, kenapa harus takut dengan audit?"

Bimo tampak berpikir keras. Seratus miliar adalah angka yang sangat menggiurkan. Itu bukan hanya bisa menyelamatkan proyek Bali, tapi juga menutupi utang-utang perusahaan yang mulai menumpuk. Tanpa modal ini, perusahaannya bisa kolaps dalam hitungan bulan.

"Setuju," ucap Bimo akhirnya, mengabaikan tatapan protes dari Siska. "Seratus miliar adalah komitmen yang serius. Kami bersedia menerima syarat itu."

Aruna tersenyum—senyum predator yang baru saja berhasil menggiring mangsanya masuk ke dalam perangkap. "Keputusan yang bijak, Pak Bimo. Saya rasa ini adalah awal dari kerjasama yang... sangat tidak terlupakan."

Saat rapat berakhir dan Aruna berjalan menuju pintu, ia sengaja menjatuhkan sebuah pulpen di dekat meja Siska. Saat ia membungkuk untuk mengambilnya, ia berbisik sangat pelan, hanya untuk telinga Siska.

"Warna rambut yang bagus, Siska. Sangat cocok dengan gaun tidur lilac yang biasa kau pakai."

Siska membeku. Wajahnya mendadak pucat pasi. Sebelum ia sempat bereaksi, Aruna sudah melangkah keluar ruangan dengan suara langkah kaki yang mantap, meninggalkan Siska yang gemetar ketakutan di kursinya.

...****************...

Bersambung...

Bab 13: Teror dalam Bayangan.

...**Author Note:**...

...Skak mat! Aruna bener-bener main cantik. Dia dapet akses ke keuangan Bimo lewat Adrian, dan dia mulai neror mental Siska lewat bisikan maut tadi. Menurut kalian, Siska bakal langsung lapor Bimo atau dia malah makin panik dan bikin kesalahan fatal? Tulis teori kalian!...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!