NovelToon NovelToon
Ratu Di Antara Tiga Kaisar

Ratu Di Antara Tiga Kaisar

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Istana/Kuno / Fantasi Isekai
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Hz. ceria

Amel adalah seorang mahasiswi jurusan seni yang akan melakukan penelitian di sebuah pulau. hingga sebuah tragedi besar tragedi, Amel yang berniat menolong sahabatnya yang mengalami kram saat sedang bermain air justru tenggelam.

ketika dia membuka matanya lagi, yang mengejutkan dia sudah berada di sebuah tempat aneh dan kuno.

Amel ternyata melakukan transmigrasi dan memasuki tubuh seorang ratu yang terkenal kejam, di benci rakyat dan berdarah dingin. dunia ini dipimpin oleh seorang wanita, dan seorang pria hanya boleh menyenangkan wanita, memasak, anggun dan menawan.

tidak boleh belajar, berbicara kasar pada wanita, dan hanya boleh diam di rumah dan merawat anak-anak mereka. sedangkan wanita mencari nafkah, ikut perang, menjabat di istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hz. ceria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. jalur gelap

Malam itu, hujan kembali turun, membasahi atap-atap genteng di Distrik Bawah—kawasan kumuh di kaki bukit istana yang jarang disentuh oleh cahaya lentera kerajaan. Di sini, udara berbau amis ikan busuk, lumpur, dan asap arang murah.

Kael berjalan menyusuri gang-gang sempit yang licin. Dia tidak mengenakan seragam penjaga istana atau jubah bangsawan. Dia mengenakan tunik wol kasar berwarna cokelat tua, topi bertepi lebar yang menutupi sebagian wajahnya, dan sepatu bot berlumpur. Penampilannya biasa saja, hampir tak terlihat, seperti ribuan warga miskin lainnya yang mencoba bertahan hidup.

Namun, langkahnya pasti. Dia tahu persis ke mana harus pergi.

Dia berhenti di depan sebuah pintu kayu lapuk yang ditandai dengan simbol samar: sebuah mata yang tertutup, dilukis dengan kapur putih pudar. Ini adalah markas "The Whispering Eye" (Mata Berbisik), sebuah sindikat penyelundup bawah tanah yang beroperasi di seluruh benua. Mereka tidak peduli pada politik, perang, atau moralitas. Mereka hanya peduli pada profit.

Kael mengetuk tiga kali. Jeda. Dua kali. Jeda. Satu kali.

Pintu terbuka sedikit. Sepasang mata waspada mengintip dari kegelapan.

"Siapa?" bisik suara parau.

"Burung Hantu membawa pesan dari Elang," jawab Kael, menggunakan kode lama yang pernah dia pelajari saat masih menjadi agen ganda untuk Zenthoria sebelum dia kabur.

Mata itu melebar sejenak, lalu pintu terbuka lebih lebar.

Kael masuk. Ruangan di dalamnya pengap, diterangi oleh satu lilin lemak hewan. Tiga pria duduk mengelilingi meja kayu yang penuh goresan pisau. Pemimpin mereka, seorang pria bertubuh besar dengan bekas luka bakar di separuh wajahnya, menatap Kael dengan curiga. Namanya Goran.

"Kael," gumam Goran, suaranya seperti gergaji menggesek batu. "Kami kira kau sudah mati. Atau worse, sudah menjadi anjing peliharaan Ratu Floren."

"Aku masih hidup," kata Kael datar. Dia menarik kursi dan duduk tanpa diundang. "Dan aku bukan anjing peliharaan siapa pun. Aku adalah klien."

Goran tertawa sinis. "Klien? Kau datang ke sini dengan tangan kosong? Kau tahu harga barang kami naik dua kali lipat sejak blokade Isolde. Risiko tinggi, harga tinggi."

"Aku tidak datang dengan uang tunai," kata Kael. Dia meletakkan sebuah gulungan perkamen kecil di atas meja. "Aku datang dengan informasi."

Goran melirik gulungan itu, tapi tidak menyentuhnya. "Informasi apa?"

"Jadwal patroli kapal perang Aethelgard di Selat Hitam," kata Kael tenang. "Dan titik buta di sensor sihir mereka. Selama tiga hari ke depan, ada celah empat jam setiap tengah malam di mana konvoi kalian bisa lewat tanpa terdeteksi."

Mata Goran menyipit. "Dari mana kau mendapatkan ini? Itu informasi militer tingkat tinggi."

"Itu urusanku," jawab Kael dingin. "Yang penting, informasinya akurat. Jika kalian menggunakannya, kalian bisa menyelundupkan gandum, obat-obatan, dan bahan baku industri ke Mobelle tanpa hambatan. Dan sebagai imbalannya..."

Kael mencondongkan tubuh ke depan. "...aku ingin kalian memberikan prioritas pengiriman untuk Mobelle. Harga pasar normal. Tidak ada markup perang."

Goran terdiam. Dia menatap Kael lama, menilai kejujuran pria itu. Akhirnya, dia mengambil gulungan perkamen itu dan membukanya. Matanya bergerak cepat membaca detail koordinat dan waktu.

"Ini... sangat spesifik," gumam Goran. "Jika ini jebakan, kau akan mati perlahan, Kael."

"Ini bukan jebakan," kata Kael. "Ini adalah tawaran bisnis. Mobelle butuh barang. Kalian butuh rute aman. Simbiosis mutualisme."

Goran melipat perkamen itu dan memasukkannya ke dalam saku dadanya. "Baik. Kami akan coba. Tapi jika kapal kami tenggelam, kepala kau yang akan kami tagih."

"Adil," kata Kael. Dia berdiri. "Pengiriman pertama besok malam. Dermaga Tua, Gudang 4. Pastikan muatannya adalah gandum dan obat-obatan dasar. Jangan bawa senjata atau barang ilegal lainnya. Floren punya mata di mana-mana."

Goran mendengus. "Kita tahu aturannya. Pergi sekarang. Sebelum anak buahku berubah pikiran dan memutuskan untuk menjual kepalamu ke Isolde sebagai hadiah."

Kael berbalik dan keluar dari ruangan, kembali ke hujan dan kegelapan.

Keesokan harinya, suasana di Istana Kristal tegang. Floren duduk di ruang kerjanya, menumpuk laporan keuangan yang semuanya berwarna merah. Defisit membengkak. Keluhan rakyat meningkat.

Pintu terbuka. Kael masuk. Dia sudah berganti pakaian, kembali menjadi penjaga istana yang rapi, meski ada noda lumpur halus di ujung sepatunya yang mungkin luput dari perhatian orang biasa.

"Yang Mulia," panggil Kael, membungkuk hormat.

Floren tidak mengangkat kepalanya. "Ada apa, Kael? Jika ini tentang jadwal jaga, bicaralah dengan Kaelia."

"Ini bukan tentang jadwal jaga," kata Kael. Suaranya tenang, tapi ada nada serius yang membuat Floren akhirnya mendongak.

Kael meletakkan sebuah kotak kayu kecil di atas meja Floren. Kotak itu sederhana, terbuat dari kayu pinus murah.

"Apa ini?" tanya Floren, alisnya berkerut.

"Buka," kata Kael.

Floren ragu sejenak, lalu membuka tutup kotak itu. Di dalamnya, terdapat segenggam biji gandum emas yang berkualitas tinggi—jenis yang hanya tumbuh di dataran subur Aethelgard, jenis yang sudah hilang dari pasaran Mobelle selama dua minggu terakhir.

Floren mengambil sebutir gandum, memeriksanya di antara jari-jarinya. Itu nyata. Bukan ilusi. Bukan tipuan.

"Darimana ini?" tanya Floren, matanya menajam. "Jalur perdagangan resmi ditutup total. Kapal-kapal kita ditahan."

"Jalur resmi, yang mulai" kata Kael. "Tapi ada jalur lain. Jalur yang tidak terdaftar di peta. Jalur yang digunakan oleh mereka yang tidak peduli pada bendera, hanya pada keuntungan."

Floren menatap Kael tajam. "Kau bekerja sama dengan penyelundup?"

"Saya memanfaatkan sumber daya yang tersedia," koreksi Kael. "Saya menghubungi sindikat 'Mata Berbisik'. Saya memberikan mereka informasi strategis tentang kelemahan patroli Aethelgard. Sebagai gantinya, mereka setuju untuk menyelundupkan pasokan penting ke Mobelle dengan harga wajar."

Floren terdiam. Wajahnya sulit dibaca. Di satu sisi, dia merasa lega. Gandum berarti roti. Roti berarti rakyat tidak kelaparan. Rakyat yang kenyang tidak akan memberontak.

Di sisi lain, dia merasa tersinggung. Dan khawatir.

"Kau mengkhianati protokol keamanan," kata Floren dingin. "Bekerja sama dengan kriminal adalah pelanggaran hukum kerajaan. Aku bisa memenjarakanmu karena ini."

"Kau bisa," akui Kael. Dia tidak membela diri. Dia berdiri tegak, menerima kemungkinan hukuman itu. "Tapi apakah kau akan melakukannya? Saat rakyatmu kelaparan? Saat menterimu putus asa?"

Floren menatap Kael. Dia mencari kebohongan, manipulasi, atau agenda tersembunyi di mata pria itu. Tapi yang dia temukan hanyalah ketenangan. Sebuah kepercayaan diri yang aneh.

"Mengapa?" tanya Floren tiba-tiba. "Mengapa kau melakukan ini? Kau bukan bagian dari pemerintahan. Kau tawanan. Kau seharusnya berharap Mobelle runtuh agar kau bisa kabur atau kembali ke Zenthoria."

Kael tersenyum tipis, senyum yang sedih. "Karena saya lelah melihat orang-orang menderita akibat permainan kekuasaan orang lain. Saya lelah melihat Anda stres sampai rambut Anda beruban di usia muda. Dan... karena saya mulai percaya bahwa visi Anda tentang Mobelle yang adil adalah satu-satunya hal yang layak diperjuangkan di benua yang rusak ini."

Dia melangkah selangkah lebih dekat.

"Saya tidak melakukan ini untuk Isolde. Saya tidak melakukan ini untuk Zenthoria. Saya melakukan ini untuk Anda. Karena jika Anda jatuh, harapan saya juga jatuh."

Hening panjang menyelimuti ruangan. Floren menatap Kael, lalu menatap gandum di tangannya.

Perlahan, ketegangan di bahu Floren mengendur. Dia meletakkan gandum itu kembali ke dalam kotak.

"Berapa banyak yang bisa mereka kirimkan?" tanya Floren, suaranya lebih lembut.

"Cukup untuk memberi makan ibu kota selama sebulan," jawab Kael. "Dan jika kerja sama ini berhasil, kita bisa memperluasnya ke obat-obatan dan bahan baku industri. Kita bisa memutus cekikikan Isolde, setidaknya untuk sementara waktu."

Floren menghela napas panjang. Dia berdiri dan berjalan menuju jendela.

"Ini berbahaya, Kael. Jika Isolde mengetahui kau terlibat, dia akan mencapmu sebagai pengkhianat tingkat tinggi. Nyawamu akan dipertaruhkan."

"Saya sudah mempertaruhkan nyawa saya sejak hari pertama saya menginjakkan kaki di sini," kata Kael. "Satu taruhan lagi tidak akan membuat perbedaan."

Floren menoleh, menatap Kael lurus-lurus. Untuk pertama kalinya, tatapannya tidak mengandung kecurigaan atau kalkulasi dingin. Ada sesuatu yang baru. Pengakuan. Rasa hormat. Dan mungkin, benih dari kepercayaan.

"Terima kasih, Kael," kata Floren pelan. Kata-kata itu terasa asing di lidahnya, tapi tulus. "Lanjutkan operasimu. Tapi lakukan dengan hati-hati. Jika ada masalah, lapor langsung padaku. Jangan melalui perantara."

"Seperti perintah Anda, Yang Mulia," kata Kael, membungkuk dalam-dalam.

Saat Kael berbalik untuk pergi, Floren memanggilnya sekali lagi.

"Kael."

Kael berhenti di ambang pintu. "Ya, Yang Mulia?"

"Jangan biarkan mereka menipumu. Jika mereka mencoba menaikkan harga atau membawa barang terlarang... hentikan transaksi. Saya tidak ingin utang budi pada kriminal."

Kael mengangguk. "Saya akan menanganinya."

Pintu tertutup. Floren tetap berdiri di jendela, menatap hujan yang mulai reda. Di cakrawala, awan hitam mulai pecah, memperlihatkan seberkas sinar matahari pagi yang lemah namun menjanjikan.

Ekonomi Mobelle mungkin masih terluka, tapi detak jantungnya telah kembali berdenyut. Dan kali ini, denyut itu dibantu oleh tangan yang tak terduga: tangan seorang mantan musuh yang kini menjadi sekutu paling tidak terduga.

Floren menyentuh dada kirinya, di mana jantungnya berdetak. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, dia tidak merasa sendirian dalam beban ini. Ternyata di belakangnya ada orang-orang yang peduli padanya pada rakyatnya, orang-orang yang benar-benar tulus.

"Floren, mari kita bersama-sama melewati badai politik ini," gumamnya.

1
Musim
Menarik dan menginspirasi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!