NovelToon NovelToon
Langit Pasar Subuh

Langit Pasar Subuh

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:79.4k
Nilai: 5
Nama Author: Attalla Faza

Dinara Sasikirana kembali memulai hidup baru dari nol pasca perceraiannya dengan Tri Bayu. Rumah tangga yang ia bangun selama 5 tahun harus kandas karena mantan suaminya berniat melakukan poligami.


Dinara mundur demi menyelamatkan harga dirinya, meski ia tak punya apapun yang jadi tujuan hidupnya.

" Kamu nggak mau pulang ke Ngawi aja, Di? " tanya Mela sahabatnya

" Pulang dengan status janda? Yang ada aku di caci maki sama ibu dan bapakku, belum lagi cibiran warga yang anti banget sama janda.

Padahal belum tentu juga aku tertarik sama suami mereka. Makanya aku milih untuk tetap di kota ini, aku harus kerja dan berdiri di kaki sendiri, Mel"

" Bagus Di, aku suka prinsip hidupmu yang nggak menye-menye. Buktikan kalau kamu bisa bangkit dan nggak jadi beban buat mantan suamimu "

Dinara memang sarjana lulusan S1 di bidang marketing, tapi sayangnya ijazah itu tak pernah ia pakai sejak lulus 3 tahun lalu.

Ia terus mencari pekerjaan meski tak mudah, hingga akhirnya ia diterima kerja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Attalla Faza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mental Yang Mulai Terkikis

Mobil yang dikendarai Haura melaju tak beraturan sepanjang perjalanan pulang. Kedua tangannya mencengkeram setir dengan gemetar hebat, buku-buku jarinya memutih karena tekanan yang begitu kuat. Napasnya tersengal-sengal, dadanya naik turun seolah baru saja selesai berlari melawan badai yang dahsyat. Seluruh tubuhnya terasa lemas, dingin, namun hatinya membara disiram rasa malu, marah, dan dendam yang berkobar liar.

Langit! Lelaki yang dulu ia injak-injak harga dirinya kini berdiri tegak di hadapannya sebagai penguasa yang memegang penuh nasibnya. Dan yang paling menyakitkan, lelaki itu rela menghancurkannya demi melindungi Dinara. Wanita yang ia anggap sudah kalah telak dan mati langkah itu, ternyata kini memiliki tameng yang begitu kokoh dan tak tertembus.

Begitu sampai di halaman rumah mewah yang dulu menjadi impian terbesarnya, Haura membanting pintu mobil sekuat tenaga. Ia berjalan terhuyung-huyung masuk ke dalam rumah yang sunyi itu, menaiki tangga satu per satu dengan langkah berat namun penuh amarah yang tertahan. Begitu pintu kamarnya tertutup rapat di belakang punggungnya, ledakan itu akhirnya terjadi. Tanpa ada lagi yang perlu ia jaga penampilan dan citranya, Haura melepaskan segalanya.

"BR3NGSEK! SEMUA BR3NGSEK!" teriaknya sekuat tenaga, suaranya memantul-pantul di dinding kamar yang luas itu. Dengan mata yang memerah nanar penuh kebencian, ia menyambar vas bunga indah di meja samping tempat tidur dan melemparnya keras ke lantai hingga pecah berkeping-keping, bunga-bunga segar berserakan basah di antara pecahan keramik.

"Dasar Dinara janda si4lan! Janda gatel tak tahu diri! Apa hebatnya dirimu hah?! Apa yang lebih baik kamu miliki dariku? Kamu tak cantik, tak berkelas, dan tak punya apa-apa selain nasib malangmu itu! Kenapa? Kenapa rencana yang sudah kususun indah selalu kamu rusak, hah? Kenapa laki-laki yang dulu mengemis cintaku pun kini rela menolakku demi melindungimu?"

Haura mengamuk tak terkendali. Ia menyapu segala benda yang ada di atas meja rias mewah itu. Botol-botol parfum mahal, kosmetik berharga jutaan rupiah, sisir, bingkai foto, semuanya jatuh dan pecah berserakan. Ia memukul-mukul permukaan cermin besar itu hingga retak-retak halus menyebar di sana, menampilkan bayangan dirinya sendiri yang kini hancur, kusut, dan jauh dari kata bidadari syar'i yang ia banggakan.

"Dasar perempuan penggoda! Perusak kebahagiaan orang lain! Kamu pikir kamu menang hah? Belum tentu Dinara! Aku belum kalah! Aku tidak akan menyerah! Br3ngsek! Br3ngsek! Br3ngsek kamu Dinara!" teriaknya histeris di antara isak tangis yang mencekik tenggorokan.

Ia merobek bantal, membanting lampu tidur, dan mengacak-acak sprei tempat tidur yang rapi, seolah benda-benda tak bernyawa itu adalah perwujudan dari Dinara, Langit, dan seluruh dunia yang menentangnya.

Suara hantaman, pecahan kaca, dan teriakan penuh makian itu menggema ke seluruh sudut rumah, menembus pintu kamarnya yang kokoh hingga terdengar jelas sampai ke ruang tamu di lantai bawah.

Di saat yang sama, tepat di detik-detik Haura melampiaskan kekalahannya, Bu Hesti beserta kakak perempuan Mas Tri, Mbak Mala, baru saja melangkah masuk melewati pintu utama. Mereka datang dengan maksud yang sama seperti biasa, menagih "jatah bulanan" yang jumlahnya tak pernah sedikit, sekaligus ingin menikmati kenyamanan rumah besar yang dulunya milik Dinara namun kini dinikmati oleh Haura.

Mereka baru saja duduk bersila di kursi tamu yang empuk saat suara gedebuk keras disertai jeritan melengking dari lantai atas membuat keduanya tersentak kaget.

"Loh, loh... Suara apa itu Mala?" tanya Bu Hesti, wajahnya mengernyit bingung bercampur curiga. Ia menengadahkan lehernya ke arah langit-langit. "Kedengarannya seperti ada yang pecah, apa itu di lantai atas?"

Si Mbok yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di sana mendekat dengan wajah pucat dan cemas. Ia melirik ke arah tangga dengan takut-takut.

"Anu, Bu... Itu... itu sepertinya dari kamar Bu Haura. Sudah dari tadi Bu Haura seperti itu, Bu. Saya takut terjadi apa-apa, tapi saya tidak berani naik ke atas. Apa... apa Ibu dan Mbak Mala bisa sekalian mengecek keadaan di atas? Takutnya Bu Haura kenapa-kenapa." jawab Si Mbok ragu-ragu.

Mbak Mala yang memang sejak awal tak pernah menyukai Haura, segera bangkit dari duduknya dengan napas mendengus kasar. Wajahnya yang keras kini makin terlihat sinis dan tak sabaran.

"Ayo, Bu! Kita naik ke atas! Aku memang penasaran sekali kelakuan istri Tri yang pelit, sombong, dan angkuh itu! Baru aja datang sudah disambut suara gaduh seperti dunia mau runtuh." seru Mbak Mala penuh nada geram.

Bu Hesti ikut bangkit lalu melangkah cepat menaiki tangga diikuti oleh putri sulungnya. Tanpa perlu sopan santun lagi, Mbak Mala langsung mendorong daun pintu kamar utama itu dengan keras.

BRAK!

Pintu terbuka lebar, menampakkan pemandangan yang membuat Bu Hesti dan Mbak Mala ternganga seketika, lalu segera berganti menjadi amarah yang meledak.

Kamar yang dulunya rapi, wangi, dan megah itu kini porak-poranda. Pecahan kaca berserakan di mana-mana, isi meja rias berantakan tak berbentuk, bantal dan selantai tergeletak di lantai kotor. Dan di tengah kekacauan itu, berdiri Haura dengan napas memburu, rambutnya sedikit berantakan, wajahnya merah padam oleh amarah yang belum sepenuhnya usai. Riasannya yang sempurna kini meleleh bercampur air mata dan keringat, membuatnya tampak buruk rupa dan mengerikan.

"Kamu itu apa-apaan ini, Haura?" teriak Bu Hesti duluan, suaranya melengking menusuk telinga. Ia menunjuk-nunjuk wajah menantu keduanya itu dengan gemetar karena kesal. "Kamu mau bikin rubuh rumah anakku ini, hah? Kamu kira ini kandang kambing di kampung yang bisa kamu rusak sesuka hatimu Jangan mentang-mentang kamu merasa sebagai manajer resto yang hebat, terus kamu bisa berlaku kasar begini! Kamu pikir barang-barang ini dibeli pakai daun, hah?! Semuanya butuh uang! Uang yang didapatkan dari keringat Tri yang banting tulang seharian!"

Haura membalas tatapan mertuanya itu dengan pandangan yang masih liar dan penuh kebencian. Ia sama sekali tidak gentar, bahkan rasa kesalnya kini beralih sasaran ke kedatangan yang dianggapnya makin memperburuk suasana hatinya.

"Biarkan saja hancur! Semuanya hancur saja sekalian! Kalian tahu apa? Kalian tidak tahu apa-apa!" balas Haura nyaris menggeram, suaranya parau namun penuh penolakan.

Mbak Mala tertawa sinis, matanya menjelajahi tubuh Haura dari atas ke bawah dengan tatapan menghakimi yang tajam.

"Tentu saja kami tidak tahu apa-apa! Karena kamu memang pandai sekali menyembunyikan sifat aslimu yang seperti s3tan ini di balik penampilan agamais itu! Lihatlah dirimu sekarang, Ra! Dimana bidadarinya? Dimana wanita solehah yang santun tutur katanya? Ternyata isinya memang hanya sampah yang meledak-ledak begitu saja! Padahal kalau dibandingkan, dulu waktu Tri masih sama Dinara, rumah ini selalu harum, bersih, dan damai! Dinara itu pandai sekali mengurus suaminya, mengatur rumah tangga dengan benar, membuat Mas Tri selalu tampak ceria dan bahagia setiap hari walau saat itu mereka belum punya anak!"

Mbak Mala mendekat selangkah, menunjuk dada Haura dengan telunjuknya yang kasar.

"Tapi lihat Tri sekarang, Haura! Dia makin hari makin kucel, kurus, matanya cekung, kulitnya kusam! Dia terlihat seperti orang yang tidak pernah makan enak, tidak pernah tidur nyenyak, dan tidak pernah diurus dengan benar! Kamu bisa tidak sih jadi istri yang benar? Kamu perhatikan tidak apa yang masuk ke perut suamimu? Atau kamu terlalu sibuk memoles wajahmu sendiri sampai lupa kalau ada suami yang butuh perhatian lebih dari sekadar kata-kata manismu yang kosong itu?"

Kalimat-kalimat pedas itu bagaikan duri-duri tajam yang menancap ke dada Haura yang memang sedang rapuh tak bertulang. Ia merasa sudah tak punya tempat lagi untuk melindungi dirinya. Di luar sana Langit menghancurkan egonya, dan di dalam rumah ini, bahkan mertua serta iparnya sendiri membandingkannya dengan Dinara dengan gamblang dan menyakitkan.

Sudah cukup! Semuanya sudah cukup! Kesabaran Haura yang tipis itu akhirnya putus sama sekali. Topeng lemah lembutnya terkoyak sampai ke akar-akarnya.

"JANGAN PERNAH BANDING-BANDINGKAN AKU DENGAN JANDA TAK BERGUNA ITU! SEKALI LAGI JANGAN!" teriak Haura meledak, kedua tangannya mengepal kuat hingga kukunya menancap ke telapak tangan sendiri. "Kalau kalian semua begitu merindukan Dinara yang sempurna itu, kenapa kalian tidak ikut saja pergi bersamanya saat dia diusir dari sini hah? Kenapa kalian malah datang ke sini mengganggu hidupku?"

Bu Hesti yang tak pernah dibentak seperti itu oleh menantunya seketika melotot marah besar.

"Heh! Kamu bicara apa, Haura?! Kamu berani membentak ibu mertuamu sendiri? Ingat posisimu Haura!"

"Ingat posisi apa? Posisi menantu yang harus diperas sampai kering seperti sisa jeruk nipis begitu?" sergah Haura tak mau kalah, matanya melotot menatap tajam ke arah Bu Hesti dan Mbak Mala bergantian. "Sudah cukup lama aku menahan semuanya! Sudah cukup lama aku berpura-pura sopan pada kalian semua yang sebenarnya hanya parasit hidup numpang hidup! Kalian pikir aku tidak tahu? Aku tahu semuanya! Aku tahu betul kalau gaji Mas Tri yang pas-pasan itu sebagian besar selalu kalian minta dengan dalih jatah bulanan yang konyol itu!"

Suara Haura makin meninggi, menumpahkan segala unek-unek yang selama ini ia pendam rapat demi menjaga citra.

"Setiap bulan uangnya mengalir ke kantong Bu Hesti! Ke kantong Mbak Mala dan Mbak Vera yang hidupnya malas tapi selalu merasa berhak! Kalian pikir aku tidak tahu kalau Mas Tri sering kekurangan uang jajan sendiri karena terlalu banyak kalian bagi-bagikan pada kalian yang tidak pernah puas itu?"

Mbak Mala tak terima dirinya disebut pemalas dan parasit. Ia maju lagi hendak mencengkeram Haura, namun Haura dengan cepat mendorong dada kakak iparnya itu mundur kembali.

"Heh! Kurang ajar kamu, Ra! Kami itu keluarganya Tri! Tugas anak dan adik memang menyokong hidup orang tua dan saudaranya yang lebih tua! Apa susahnya sih memberinya sedikit saja dari limpahan rezeki kalian yang berlimpah itu? Kamu memang pelit! Dasar wanita kikir! Makanya tidak diberkati rumah tangganya! "

"Cukup! Hentikan!!" jerit Haura histeris, air matanya kembali meluncur deras, namun kali ini bercampur rasa benci yang meluap-luap. " Aku lelah, Bu! Aku lelah menanggung kalian semua yang lebih jahat dari rentenir! "

Haura menunjuk pintu kamar dengan tangan gemetar penuh kemarahan yang tak lagi terbendung.

"KELUAR! KELUAR KALIAN SEMUA DARI KAMARKU INI! AKU SUDAH TIDAK MAU MELIHAT WAJAH MUNAFIK KALIAN YANG HANYA MENCARI KEUNTUNGAN SENDIRI! AKU TIDAK PUNYA UANG LAGI BUAT DIBAGI-BAGIKAN PADA PARASIT SEPERTI KALIAN! PERGIII!!"

Haura berteriak sekuat tenaga hingga tenggorokannya terasa nyeri, ia bahkan mengambil bantal dan melemparnya ke arah Bu Hesti dan Mbak Mala agar mereka benar-benar segera pergi dari hadapannya.

Bu Hesti dan Mbak Mala kaget bukan main melihat perubahan drastis Haura yang tak lagi terlihat alim. Mereka mundur perlahan, terdesak oleh kemarahan Haura yang begitu meledak-ledak.

"Dasar wanita tidak tahu diuntung! Lihat saja nanti akibatmu sudah menyuruh kami keluar begini! Akan kami adukan sampai Tri mencampakkanmu!" ancam Bu Hesti dengan wajah merah padam menahan amarah, lalu berbalik berjalan gontai keluar kamar diikuti putrinya yang masih memaki-maki dengan suara tinggi.

"Kamu pasti dapat balasan setimpal, Ra! Kamu tidak akan bahagia selamanya!" teriak Mbak Mala sebelum akhirnya pintu kamar dibanting balik dengan keras dari luar.

Terdengar langkah kaki mereka yang cepat dan kasar menuruni tangga, disertai teriakan-teriakan makian yang makin lama makin menjauh hingga akhirnya terdengar pintu depan dibanting tertutup kencang.

Kini, Haura kembali sendirian. Sendirian di tengah kamar yang hancur, berantakan, dan hening kembali menyelimutinya.

Tubuhnya yang kaku karena tegang perlahan melemas sepenuhnya. Ia terjatuh berlutut di lantai yang dingin dan keras di antara pecahan barang-barang kesayangannya itu. Kekalahan telak di kafe tadi, rasa sakit hati karena penghinaan Langit, lalu disusul serangan bertubi-tubi dari mertua dan iparnya yang tak pernah memahami kondisinya, semuanya bertumpuk menjadi satu hingga menghancurkan mentalnya hingga ke dasar.

Haura memeluk kedua lututnya yang gemetar, tenggelam dalam isak tangis yang pilu dan memilukan. Tubuhnya terguncang hebat oleh setiap desah napas yang berat dan menyakitkan. Ia merasa benar-benar sendirian di dunia ini. Ia merasa menjadi musuh bagi semua orang. Ia yang dulu merasa begitu menang, begitu hebat, begitu di atas angin, kini jatuh terperosok ke dalam lubang yang begitu dalam, gelap, dan tak berdasar.

Kenapa Dinara bisa dicintai dan dibela mati-matian oleh orang-orang baik seperti Langit? Kenapa Dinara meski sudah pergi jauh, masih terus dibanding-bandingkan sebagai yang terbaik? Kenapa ia, yang sudah berusaha mati-matian menutupi segala kekurangannya dengan kemewahan dan kesalehan palsu, tetap saja dianggap kurang, tetap saja menjadi sasaran kebencian dan rasa ingin dimanfaatkan orang-orang terdekatnya sendiri?

"Kenapa... kenapa nasibku begini..." rintihnya lirih di antara sisa tangisnya yang kering dan perih. "Aku sudah berusaha sekuat tenaga. Aku sudah berkorban segalanya, tapi kenapa aku tetap merasa kalah? Kenapa rasanya aku kalah telak oleh Dinara dalam segala hal..."

Di tengah kekacauan yang ia buat sendiri itu, di antara sisa-sisa kehancuran harga dirinya, Haura merasakan satu kebenaran yang pahit dan menyayat hati. Bahwa kemenangannya hanyalah mimpi semu yang kini runtuh berkeping-keping, persis seperti vas bunga yang ia banting tadi. Dan mentalnya, kesombongannya, serta keyakinannya yang selama ini kokoh kini hancur lebur bersama debu itu.

Ia menangis bukan hanya karena kesal, melainkan karena ia mulai sadar bahwa Dinara memiliki sesuatu yang tak bisa ia beli dengan jabatan, tak bisa ia curi dengan rayuan, dan tak bisa ia hancurkan dengan fitnah. Sesuatu yang membuat Dinara tetap berdiri tegak, dicintai, dan dilindungi meski hidup dalam kesederhanaan. Sesuatu yang kini membuat Haura merasa begitu kecil, begitu kotor, dan begitu miskin sendirian di atas tumpukan kemewahan yang kosong dan dingin ini.

1
rosita ambarwati
Masya Allah tabarakallah... Selamat & terima kasih utk Kak Attalla Faza. Novel ini sukses diselesaikan dgn apik, sederhana saja tanpa terlalu banyak bunga rampai. Tetapi tidak mengurangi keindahan & kesyahduan novel ini hingga bab terakhir. Mari berdoa utk Kak Attalla Faza juga para pembaca novel ini kelak mendapatkan kebahagiaan hidup tak terhingga yg kita nikmati dg penuh rasa syukur kpd Allah Azza Wa Jalla, Allah jaga & lindungi diri kita serta keluarga dari marabahaya, Allah mudahkan, lancarkan setiap urusan + rizki dunia wal akhirat kita & kita semua juga Allah beri akhir/episode penutup kehidupan yg husnul khotimah, aamiin 🤲🙏💖
Neny Tryana
bagus
diah larasati
cepet ya kak tamat nya
Feni Puji Pajarwati
semangat thor... karya2 TOP BANGET...
chie
suka dengan cerita nya
Sri Desika Arfianti
/Good//Good//Good//Good/
ɴᴏᴠɪ
kayaknya seh bakalan berlayar juga neh kapal Dimas sama Mela 🤭🤭
Ma Em
Akhirnya Dinara dgn Langit berakhir dgn bahagia bersama ketiga putra putrinya , begitu juga Mela sdh bahagia bersama Dimas serta kedua anaknya , mereka semua berakhir dgn happy ending , terima kasih Thor karena sdh membuat cerita yg bagus dan seru , semoga author selalu sehat dan bahagia serta sukses dgn karya karyanya 🤲💪👍 🥰
Attalla Faza: Aamiin.
doa yang sama buat kamu beb🩷
total 1 replies
ɴᴏᴠɪ
bagus deh kamu ambil keputusan itu, lagian kasian anak kamu punya ibu kayak gitu apalagi kakek dan nenek nya astaga
Achom
yeay DinLang MelDim udh bahagia sama pasangan masing² 🙂👏
kok udh tamat aj kk othor?😔☹️
salsa safiarahma
cerita kk selalu menarik
ɴᴏᴠɪ
Dim kan Mela bersandar di bahu kamu gak ada rasa gimana gitu, siapa tau dia jadi jodoh kamu 🤭🤭
ɴᴏᴠɪ
ya ampun masih panjang kasusnya, semoga Mela aman² aja seh ya
maria Yuddy
luar biasa bgs/Drool/
Attalla Faza
Dear Beb Kesayangan🩷
Terimakasih ya sudah membersamai Dinara dan Langit dari awal sampai akhir.

Sampai bertemu lagi di buku selanjutnya.
Sekarang saia sedang mempersiapkan buku baru di Tatangga Oren. love you all 🥰
Dwi Dwi: makasih Thor......kutunggu karya2 mu ....😍
total 15 replies
rosita ambarwati
Baarakallahu laka fil-mawhubi laka, wa syakartal-waahib, wa balagha asyaddahu, wa ruziqta birrah.
"Semoga Allah memberkahimu atas anugerah yang diberikan kepadamu, kamu mensyukuri Sang Pemberi (Allah), semoga anak ini mencapai usia dewasa, dan kamu diberi rezeki berupa baktinya anak tersebut."
Aamiin 🤲 Selamat utk Dinara, mas Langit & kedua ortu atas kelahiran anak pertamanya 🙏💐🎊
nurul @zna
Welcome to the world, Baby Boy...😍😍
Selamat u Dinara n mas Langit dah resmi jadi Ortu... 🥰🥰
Ma Em
Indra tdk pernah hdp nya kekurangan karena setiap ada kesulitan sama pak Djarot langsung dibantu jadi tdk pernah berpikir untuk usaha yg serius , untung ada Langit yg menerangkan maksud tujuan pak Djarot dan Bu Tita jadi Indra tdk salah paham lagi .
Achom
wuihhh baby boy syelamat DinLang udh jd parents,sehat² kelen y 🤲🙂
Loly Askhara
Laila dan Indra ini sama sama gengsian dan pemalas, makanya hidupnya diuji terus, harusnya indar dns Laila itu sregep (rajin), tekun, telaten biar hidupnya maju berkah.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!