NovelToon NovelToon
Bukan Sekedar Pengganti

Bukan Sekedar Pengganti

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:49.4k
Nilai: 5
Nama Author: Triyani

Setelah bertahun-tahun diabaikan dan dibuang, akhirnya Alisa pun kembali kerumah Ayahnya, Pak Ali. Mirisnya, kepulangan Alisa bukan untuk kembali jadi putrinya. Melainkan untuk dijadikan pengantin pengganti untuk Kakak sambungnya, Marisa.

Dan Alisa diharuskan langsung bercerai setelah Marisa kembali. Lalu, bagaimana jadi nya, jika Harlan menolak berpisah dan lebih memilih Alisa untuk tetap menjadi istrinya?

Lalu, apa yang akan dilakukan Ibu Yuni dan juga Marisa untuk merebut kembali posisi Alisa?

Saksikan kisahnya disini….

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.5

Suara tepuk tangan perlahan memenuhi ruangan, memecah keheningan yang sejak tadi menyelimuti suasana akad.

Beberapa tamu tampak tersenyum haru, sementara yang lain sibuk mengabadikan momen dengan ponsel masing-masing.

Namun, di tengah keriuhan itu… Harlan dan Alisa justru masih terdiam dalam posisi mereka. Saling berhadapan dengan tangan Harlan yang masih membelit di pinggang Alisa.

Sementara Alisa sendiri, masih menyandarkan kepalanya di dada Harlan, perlahan mulai tersadar. Ia bisa mendengar dengan jelas detak jantung pria itu.

Dug.

Dug.

Dug.

Cepat. Terlalu cepat untuk sikap Harlan yang terlihat tenang dan dingin. Ternyata, detak jantung pria dingin itu tidak setenang yang ia kira.

Perlahan, Alisa mengerjapkan matanya. Nafasnya tertahan sesaat, sebelum akhirnya ia buru-buru menarik diri dengan gerakan canggung.

“Ma… maaf…” bisiknya lirih, nyaris tak terdengar.

Harlan tidak langsung menjawab.

Tatapannya sempat jatuh pada wajah Alisa yang kini kembali menunduk. Ada sesuatu yang aneh yang ia rasakan… sesuatu yang belum pernah ia alami dan ia rasakan sebelumnya.

Perasaan aneh yang… cukup mengusik hatinya. Namun, seperti biasa, ia memilih untuk menutupi itu dengan kembali bersikap dingin dan datar.

Harlan berdehem pelan, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.

“Tidak apa-apa.” jawabnya singkat. Datar. Tapi… tidak sedingin sebelumnya.

Keduanya terlihat salah tingkah. Alisa menggenggam ujung kebaya yang ia kenakan, jemarinya meremas kebaya itu cukup erat. Seolah tengah mencari pegangan untuk menenangkan diri.

Wajahnya masih tertunduk, pipinya terlihat merona, entah karena malu… atau karena detak jantung yang sejak tadi belum juga kembali normal.

Sementara di sampingnya, Harlan berdiri tegap. Rahangnya sedikit mengeras, seolah menahan sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak tahu apa yang kini ia rasakan.

Tatapannya lurus ke depan, namun sesekali, tanpa ia sadari, ia melirik ke arah Alisa yang masih setia dengan menunduk kepala.

“Sekarang, mempelai bisa duduk kembali.”

Hingga akhirnya, suara Pak Penghulu terdengar kembali, memecah kecanggungan yang menyelimuti kedua pengantin baru itu.

Harlan mengangguk tipis. Dengan gerakan singkat, ia memberi isyarat kepada Alisa untuk duduk lebih dulu. Tidak ada kata-kata, tapi sikapnya kali ini… terasa sedikit lebih lembut.

Perlahan Alisa pun kembali duduk, diikuti oleh Harlan di sampingnya. Seorang petugas kembali mendekat, menyerahkan buku nikah kepada keduanya untuk ditandatangani. Tangan Alisa kembali bergetar saat menerima pena dari sang petugas.

Dan Harlan cukup menyadari hal itu. Tanpa banyak bicara, pria itu sedikit mendekat. Tidak menyentuh, hanya cukup dekat untuk memastikan jika Alisa tidak membuat kesalahan.

“Pegang yang benar penanya.” ucapnya pelan.

Alisa sempat menoleh, terkejut dengan suara itu. Bukan karena apa yang dikatakan… tapi karena nada suaranya.

Masih datar, tapi sedikit melembut. Alisa mengangguk dan mulai menandatangani buku nikah tersebut. Meski tangannya masih sedikit gemetar, ia berusaha menyelesaikannya dengan baik.

Setelah itu, kini giliran Harlan. Berbeda dengan Alisa, goresan tanda tangan Harlan terlihat jauh lebih tegas dan cepat. Tidak memperlihatkan adanya keraguan saat menandatangani buku nikah itu.

Seolah-olah, ia sudah menerima takdirnya. Takdir yang mengharuskannya menikah dengan pengantin pengganti.

Namun… tidak ada yang tahu apa yang pria itu rasakan saat ini, dan hanya Harlan sendiri lah yang tahu, bahwa pikirannya tidak sepenuhnya berada di situ.

Sesaat, ia teringat kembali pada momen beberapa detik lalu. Ketika tubuh Alisa bersandar padanya.

Ketika ia bisa merasakan kehangatan tubuh wanita itu… dan detak jantungnya yang berirama cepat, nyaris seirama dengan miliknya.

Harlan menghela nafas pelan. Ia benar-benar tidak mengerti dengan perasaan asing yang tiba-tiba hadir itu.

“Sudah selesai?”

Harlan tersentak pelan, suara lembut Alisa menyadarkan nya dari lamunan.

Harlan menutup buku nikah itu, lalu menyerahkannya kembali pada petugas tanpa menjawab pertanyaan tersebut. Namun, sekilas, ia menoleh.

Acara pun berlanjut dengan sesi doa. Semua tamu kembali hening, menundukkan kepala, larut dalam harapan dan doa untuk kedua mempelai.

Di tengah doa yang dipanjatkan… Tanpa sadar, jemari Alisa bergerak pelan di atas pangkuannya.

Dan tanpa ia sadari pula… Punggung tangannya menyentuh tangan Harlan yang berada di sampingnya.

Sentuhan yang tidak disengaja itu cukup membuat keduanya tersentak pelan dan terdiam.

Menyadari hal itu, Alisa pun refleks ingin segera menarik tangannya. Namun, jari Harlan tiba-tiba bergerak lebih dulu.

Menahan tangan mungil Alisa… tidak kuat, tidak juga memaksa. Hanya menahan dengan lembut. Membuat Alisa tidak berani lagi menggerakan tangannya.

Perlahan, Alisa menoleh. Dan untuk kedua kalinya dihari itu… Tatapan mereka kembali bertemu.

***

Satu persatu proses pernikahan itu pun dilalui dengan lancar. Harlan dan Alisa melakukan semua interupsi petugas WO dengan sangat baik.

Meski keduanya baru bertemu dan tidak pernah ada interaksi sebelumnya, namun keduanya terlihat luwes saat menjalani satu persatu proses yang harus mereka lalui setelah ijab kabul selesai.

Sampai, tibalah saatnya menyambut para tamu undangan yang khusus diundang untuk menjadi saksi di pernikahan itu.

Satu persatu tamu undangan naik ke pelaminan untuk memberikan selamat serta doa terbaik kepada pasangan baru itu.

Harlan berdiri tegap di sisi Alisa, senyum tipis terlukis di wajah yang sejak tadi terlihat kaku itu. Sementara Alisa, meski masih menyimpan gugup di dalam dadanya, berusaha membalas setiap ucapan selamat dengan anggukan sopan dan senyum lembut.

“Selamat, ya. Semoga sakinah, mawaddah, warahmah,” ucap seorang tamu paruh baya sembari menjabat tangan Harlan, lalu beralih menepuk pelan bahu Alisa.

“Aamiin… terima kasih,” jawab keduanya hampir bersamaan, meski tanpa saling menatap.

Tamu demi tamu datang silih berganti. Ada yang hanya berjabat tangan singkat, ada pula yang menyempatkan perbincangan singkat. Bahkan beberapa di antaranya melontarkan candaan ringan yang membuat suasana yang kaku dan canggung mulai mencair dan lebih hangat.

“Wah, pengantinnya cantik sekali. Harlan beruntung, nih.” goda salah satu rekan kerja Harlan.

Alisa hanya tersenyum tipis, menundukkan wajahnya sedikit. Sementara Harlan… hanya membalas dengan senyuman tanpa berkata apa-apa.

Namun, dibalik semua itu, ada satu hal yang mulai terasa berbeda.

Tanpa disadari, setiap kali ada tamu yang mengajak mereka berfoto bersama, Harlan akan sedikit mendekat.

Tangannya, yang semula terasa kaku saat menyentuh Alisa, kini mulai lebih natural saat diletakkan tangannya di pinggang istrinya itu.

Awalnya, Alisa sempat terkejut saat Harlan menyentuh pinggangnya, lalu menariknya agar lebih mendekat lagi. Jantungnya berdegup lebih cepat setiap kali pria itu mendekat. Tapi anehnya… ia tidak lagi merasa setegang sebelumnya.

Seolah perlahan, jarak asing di antara mereka mulai menipis, meski hanya sedikit. Tubuh Alisa pun seolah mulai terbiasa dengan sentuhan itu.

“Capek?” tanya Harlan tiba-tiba, suaranya pelan, nyaris tak terdengar di tengah riuhnya suara tamu dan juga alunan musik yang sejak awal, mengalun mengiringi jalannya acara.

Alisa menoleh, sedikit terkejut. Ini pertama kalinya pria itu berbicara padanya. Sejak mereka dipertemukan di meja akad, Harlan sama sekali tidak pernah membuka suara.

Pria itu hanya menjawab pertanyaan yang orang lain lontarkan, itu pun dengan jawaban yang singkat sesingkat singkatnya. Dan acuh tak acuh terhadap Alisa, meski mereka duduk berdampingan.

“Sedikit…” jawab Alisa jujur, masih dengan nada hati-hati.

“Tahan sebentar lagi, ya. Setelah ini kita akan ganti baju dan saat itu, bisa kita gunakan untuk istirahat juga.”

Kalimat panjang itu cukup membuat Alisa terdiam sesaat. Bukan karena isinya… namun karena cara Harlan mengucapkannya.

Nadanya tidak sedingin dan tidak juga datar seperti sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya… pria itu berkata cukup panjang lebar. Tidak lagi menjawab dengan jawaban yang singkat.

Alisa menatap lurus ke depan lagi, mengamati situasi ballroom yang mulai terlihat lengang. Semua tamu sudah mulai berkurang dan sepertinya waktu istirahat telah tiba saat ada beberapa petugas WO datang menghampiri kedua mempelai dan membimbing mereka kembali ke kamar untuk berganti baju dengan baju resepsi.

1
Uba Muhammad Al-varo
akhirnya happy ending, terima kasih kakak author 🙏🙏♥️💪💪💪
🌸 Triyani 🌸: sama sama kak 🤗
total 1 replies
Reni Anjarwani
baguss
Lusi Hariyani
tamat beneran ini kak
🌸 Triyani 🌸: iya 😭
total 1 replies
Reni Anjarwani
ucap syukur
Uba Muhammad Al-varo
akhirnya Alisa melahirkan bayi laki-laki nya dengan selamat 🙏
Uba Muhammad Al-varo
semoga Alisa dan janinnya sehat dan selamat sampai kelahirannya, inilah buah kesabarannya Alisa mendapatkan suami dan keluarga yang menyayanginya
Reni Anjarwani
up doubel thor
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Teh Yen
lanjut thor
Teh Yen
selamat yah buat Alisa d Harlan
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Reni Anjarwani
bagus sayang upnya lama bgt
Uba Muhammad Al-varo
akhirnya pak Ali sadar dari kezalimannya terhadap Alisa anak kandung nya
Ani Basiati
lanjut thor💪💪💪
Ani Basiati
lanjut thor
Uba Muhammad Al-varo
Alisa, Harlan semoga mereka berdua cepat diberikan keturunan 💪💪💪
Reni Anjarwani
lama bgt upnya
Siti M Akil
hadeh bertahun² kma baru nyadar
Oma Gavin
keputusan yg terlambat tsoinlrbih baik dari pada tidak pernah sadar akan kesalahannya, pak ali jgn pernah lagi luluh sama rengekan dan tangisan yuni semua palsu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!