Kesalahan di masa remajanya membuat Dewi harus menerima konsekuensi dari semua itu. Memiliki dua orang anak tanpa suami membuat Dewi menjadi bahan pembicaraan di kampungnya. Hingga suatu hari dia menerima lamaran dari saudara ayahnya yang memiliki seorang anak laki laki. Bertahun-tahun berumah tangga Dewi dan Randi belum memiliki anak. Segala cara mereka melakukan, pengobatan tradisional sampai ke dokter kandungan yang terbaik di kota mereka tidak menunjukkan tanda-tanda kehamilan.
Dewi mulai lelah menghadapi tuntutan suami dan keluarga suaminya yang menginginkan keturunan. Hingga semua keluarga besarnya berprasangka buruk pada Dewi, mereka mengatakan kalau Dewi itu mandul karena minum obat ketika belum bersuami.
Suami Dewi juga mulai terpengaruh dengan pembicaraan orang orang. Pertengkaran menjadi hal biasa. Setiap kali ada pertemuan keluarga, mereka selalu mengatakan agar Randi menikah lagi. Agar bisa memiliki anak.
Bagaimana kisah selanjut
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvy Anggreny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Waktu terus berlalu,hari berganti hari, Minggu berganti minggu. Hingga hari ini tiba juga Randi melamar Mariam. Ketika Dewi sedang bekerja dan Randi sedang melamar Mariam di kampung halaman mereka.
Dewi tau hari ini namum Dewi membiarkan saja, Dewi ingin melihat bagaimana kebahagiaan yang yang akan di raih oleh adiknya itu dan keinginan untuk memberikan anak.
"Kak... Kakak nggak mencegah apa yang di lakukan kak Randi dan keluarganya?"
Pesan dari Maya adik tiri Dewi.
"Biarkan saja Dek, Kita bisa apa? Ayah sama abang abang yang lain saja setuju kok. Nanti kamu pasti tau gimana kehidupan pernikahan mereka juga "
"Kakak...."
"Udah....kamu berpura pura aja nggak tau apapun.ok"
Dewi tak ingin memperjuangkan apa yang seharusnya menjadi miliknya. Baginya mengikuti apa yang mereka lakukan saat ini itu lebih baik. Walaupun dia tau Randi sedang melakukan pernikahan adat di kampung halamannya.
"Bu Dewi hari ini kita akan menemui klien yang ingin menyewa gedung untuk resepsi pernikahan nanti" Kata Bu Aini , kening Dewi berkerut, biasanya yang melakukan itu ada orang lain. Tapi kenapa kali ini dirinya yang harus melakukan itu.
"Ahh baik Bu, Kita berangkat sekarang?"
"Oh nggak, pertemuannya di sini. Sebentar dia akan ke sini "
"Baik Bu "
Beberapa saat kemudian, Klien yang di tunggu datang.
Dewi terpaku menatap seorang pria yang berdiri di hadapannya.
"Jack?"
"Hallo kak"
Dewi menarik nafas panjang, Seharusnya dia sudah tau karena mereka pernah membicarakan tentang hal ini.
"Bu Dewi tolong temani pak Jack sebentar ya, saya ke bawah dulu ingin menemui suami saya dulu"
"Baik Bu "
Setelah kepergian manajer baru itu, Dewi menatap Jack.
"Jadi gimana Jack, kamu udah tau tentang gedung ini.. apakah akan tetap di pakai untuk resepsi nanti?" Tanya Dewi tanpa banyak bicara lagi.
"Kakak nggak apa-apa?"
"Maksud kamu?"
"Kak Dewi baik baik saja ?"
Dewi tau apa maksud Jack, mungkin Reni juga sudah mengatakan tentang Randi.
"Saya baik-baik saja Jack, bisa lanjutkan lagi "
"Untuk gedung akan di pakai hotel ini aja kak "
"Baiklah "
Jack terus menatap Dewi yang sedang memutar video menunjukkan aula tempat resepsi pernikahan nanti.
"Saya menyukai kakak"
Dewi menatap Jack tak percaya, dalam hati dia akui Jack terlalu berani mengatakan ini.
"Kapan kalian akan melanjutkan hubungan kalian ke jenjang yang lebih serius Jack? Gedung ini udah pasti ya ?" Tanya Dewi mengalihkan perhatian Jack darinya.
"Tiga bulan lagi kak, hum ......Saya berharap bisa bicara berdua dengan kakak sebelum saya menikah "
Kening Dewi berkerut dalam mendengar kata Jack.
"Bicara berdua? Untuk apa ?"
"Kakak nggak menanggapi omong saya tadi "
"Jack, Maksud kamu apa ?"
"Saya suka sama kakak"
"Maaf, saya sedikit lama di bawah menemui Suami saya " Suara Bu Aini menyelamatkan Dewi dari pernyataan Jack.
"Oh iya Bu, 3 bulan lagi resepsi pernikahan di lakukan di gedung ini Bu" Sahut Dewi.
Aini bisa melihat tatapan mata Jack yang tak lepas dari Dewi. Aini tau Jack menyukai karyawannya ini.
"Baiklah pak Jack, 3 bulan lagi berarti bulan juli ya pak ?"
"Ah iya Bu..." Jawab Jack
"Baik pak"
"Karena udah deal, saya permisi dulu Bu" Dewi pamit ingin keluar. Dia sudah tidak sanggup lagi menghindari tatapan Jack padanya.
Dewi segera berlalu pergi dari ruangan itu, dia segera menuju ke ruangannya sendiri. Di sana Deni sedang mengerjakan pekerjaannya.
brakkk...
Deni terkejut mendengar suara pintu di tolak dengan keras
"Hei... Kamu kenapa sayang?"
"Nggak, Saya capek aja..Saya mau baring sebentar di sofa. Sumpah capek banget"
"Emang tadi sama Bu Aini kalian ngapain? Lagi zumba ya ?"
"Pokoknya saya capek, nggak usah banyak tanya "
"Ohh ok deh"
Deni hanya geleng-geleng kepala melihat sikap Dewi yang langsung tidur di sofa.
*
Sementara di kampung halaman Dewi, Randi dan orang tuanya sedang berbahagia karena Randi akhirnya bisa memperistri Mariam.
"Apakah kalian langsung pulang?" tanya ibu mertua Dewi dan Mariam
"Iya dong Bu, ibu mau punya cucu nggak?" Rani yang menjawab dan Mariam hanya bisa tersipu sipu malu.
"Ya udah, mumpung masih sore kalian buruan pulang aja"
Satu jam kemudian...
Kini mereka semua telah tiba di rumah Rani. Randi dan Mariam segera membawa barang barang mereka ke rumah yang mereka kontrak.
Randi tidak tau jika ada sepasang mata yang menatap ke arahnya dengan tatapan tajam. Entah sejak kapan Dewi di sana.
"Jadi mereka menyewa rumah di sebelah kak Rani, Hufft.. itu lebih baik "
Dewi tadinya ingin membuktikan perkataan Maya yang mengatakan kalau mereka sudah pulang dan mereka menyewa rumah di sebelah rumah kak Rani.
"Ya baiklah kak Randi, selamat berbahagia dengan rumah tangga baru mu , semoga keinginan kamu segera terwujud "
Dewi berlalu pergi menuju rumah Amalia..
"Jadi beneran hari ini nikah adat mereka ya?" Tanya Amalia dan di balas anggukan kepala Dewi.
"Gila ya, cepat sekali. Perasaan baru kemarin kamu ceritain kalau suami kamu minta ijin kawin lagi"
"Udah berbulan bulan dia ijin Lia, jangan aneh aneh deh "
"Hahaha.....Maduku adalah adik ku "
"Iis...saya pengen lihat gimana hasil perkawinan mereka " Sambung Dewi dengan tertawa.
Dewi dan Amalia tertawa terbahak-bahak, entah apa yang membuat mereka sebahagia itu.
"Oh ya, saya punya cerita seru lagi Lia "
"Hum...apa.?"
"Dengerin ini.." Dewi memutar rekaman suara pembicaraan mereka tadi siang.
"Bicara berdua? Untuk apa ?"
"Kakak nggak menanggapi omong saya tadi "
"Jack, Maksud kamu apa ?"
"Saya suka sama kakak"
"Oh my God, Ini serius Wi..?" Tanya Amalia dengan mulut terbuka
"Serius dia ngomong lah..."
"Wow...Wi.....di khianati suami, di sukai brondong. Gila ya, lah saya yang janda aja nggak ada yang bilang suka " Ujar Amalia dengan sengaja.
"Kamu pengen banget ya di suka sama brondong? Ntar saya kasih tau Jack ya "
"Eeh.. Nggak... nggak...saya lebih baik menjanda selamanya aja"
"Lah kenapa ? kamu nggak mau punya suami?" Tanya Dewi berpura-pura
"Kalau saya lihat kamu bahagia sama pernikahan kamu baru saya juga kawin. Ok... untuk sekarang saya lebih memilih menjanda dan hidup berdua sama Nora aja deh "
"Hahaha.... Terserah kau aja, udah saya tawarkan cowok brondong loh "
"No...no..no...janda pilihan terbaik untuk saya "
Dewi tertawa terbahak-bahak, Dewi tau Amalia tidak ingin menikah, Alasan Amalia ingin hidup berdua bersama Nora saja.
Uuu
"Udah ah.. Saya pulang ya, Yan sama Arumi sendiri aja di rumah "
"Ok sayang.."
"Nora.. Bunda pulang ya "
Malam ini Dewi sengaja membeli bakso untuk mereka bertiga, sebelum pulang Dewi menelpon Yan dan Arumi.
Memasuki halaman rumahnya Dewi melihat motor Randi terparkir di halaman rumahnya.
"Kakak adek, lagi ngapain?"
"Oh ini bu, Ayah bawain hadiah dari kampung" Sahut Arumi
"Oh ya..."Dewi bisa melihat makanan khas kampung halaman mereka.
"Terus Ayah mana?"
" Di kamar Bu"
Dewi hanya mengangguk tanpa ingin menemui suaminya.
Tak lama kemudian, suara pintu kamar di buka.
"Sayang,malam ini saya piket. Terus besoknya saya bareng kak Johan mau mengecek mesin yang rusak"
"Baiklah kak.." Jawab Dewi , Randi menatap Dewi yang tidak berbalik sama sekali menatap kepadanya.
"Sayang, maaf ya... Baru pulang saya langsung pergi lagi"
"Ya kayak gitu lah bekerja kak. Di nikmati saja. Toh hasilnya kan di rasakan juga. Apalagi lembur lembur kayak gini"
Randi diam mendengar kata kata Dewi yang mengatakan bahwa dia lembur. Semua itu hanya akal-akalan dia saja.
"Ya udah sayang, saya pergi dulu". Randi ingin membelai kepala Dewi namun Dewi menjauh
Randi segera berlalu pergi dari rumah mereka.
"Ayo kita makan, ibu udah beliin bakso loh.Kak...ambil mangkok ya"
Mereka menikmati makan mereka dengan sukacita. Tak ada kesedihan di wajah Dewi. Dia juga berpikir, jauh lebih indah ketika dia hanya bersama kedua anaknya.
Di sebuah rumah yang lain, sepasang suami istri sedang duduk bersama di meja makan.
"Sayang, Dewi itu umur berapa to?" Tanya Aini
"35 tahun, dia adik dua tahun dari saya.. emang kenapa?"
"Oh pantes aja kalau dia masih di sukai brondong "
Rama hampir saja tersedak makanannya sendiri.
"Pelan pelan sayang"
"Di sukai brondong?"
Aini mengangguk" Tadi ada cowok yang menatap Dewi dengan tatapan yang dalam. Dan sudah beberapa hari ini, pria ini hanya mau bertemu Dewi untuk membicarakan masalah sewa gedung untuk resepsi pernikahannya "
"Pernikahan nya"?
"Rupanya dia itu calon adik ipar Dewi.. Dia sepertinya jatuh cinta pada seorang Dewi"
Rama merasakan panas seluruh tubuhnya mendengar kata kata istrinya.
"Apakah mereka sempat bicara berdua?"
"Ya... Kebetulan saya tadi menemui kamu di lobi dan mereka bicara di ruangan saya. Kamu tau nggak sayang, waktu saya mau masuk ke dalam saya dengar pria itu mengatakan... Saya suka sama kakak"
"Oh ya?"
"Dewi belum menjawab, saya keburu masuk...saya bisa melihat Dewi nggak nyaman ngomong berdua sama pria itu"
Rama hanya bisa diam, ras panas menjalar di sekujur tubuhnya.
"Sayang... Sayang..." Suara panggilan Aini bahkan tidak terdengar di telinga Rama karena lamunannya
"Sayang...." Aini mengusap lembut tangan suaminya.
"Ah maaf sayang, saya...saya... Ehh saya..." Sahut Rama dengan gagap
"Apakah kamu cemburu sayang?" Tanya Aini
.
.
.
.
Bersambung....
Masih banyak drama ya, ☺️ 🤭 🤣
Semoga suka ceritanya dan jangan lupa tinggalkan jejak nya juga ♥️
sudahlah miskin belagu pulak tuh