Karna sakit hati, aku merencanakan menggoda lelaki sok alim yang sering menesehati hubungan haram dan halal padaku. Tapi malam itu, harusnya aku berhenti dan mencibirnya setelah berhasil membuatnya tunduk dengan nafsu. Tapi bukan begitu yang terjadi.
.
.
Saat dia membuka mulut dan membalas ciumanku, aku merasakan ada satu rasa yang tak pernah kurasakan. Perasaan yang kuat hingga aku tak bisa berhenti melepaskannya. Tubuhku mulai meliuk-liuk ketika dia meletakkan tangannya di pinggangku.
"Ahh---" Cimannya terhenti saat aku mulai menggerakkan pinggul diatas pangkuannya.
.
.
"Maaf, semua ini tidak seharusnya terjadi. Saya salah, saya berdosa. Saya biarkan kita berzina."----Adam.
.
.
"Oh, setalah puas, baru Lo ingat dosa? Sedang enak-enak tadi Lo lupa? Cih! Gak usah deh berlagak sok alim lagi di depan gua! Munafik Lo!" Winda
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Remaja01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sah
Tepat pukul 9 malam, mama mengiringku ke pelaminan yang berada di ruang tamu. Sungguh, aku kaget melihat keluarga dekat mama dan papa turut hadir untuk menyaksikan pernikahanku. Baru saja duduk di singgasana pengantin, aunty Dewi--kakak sulung mama berbisik pelan.
"Winda, kok turunnya lama? Pasti nervous ya?"
"Kenapa harus nervous? Calon suami Winda kan ganteng, gagah, pokoknya ndak bosanlah aunty melihat dia. Beruntungnya ponakan aunty." Aunty Adik menyela, adik bungsu dari mama, nama sebenarnya Hesti, tapi mungkin karna paling bungsu di panggil 'adik'.
Aku diamkan saja. Mataku mencari Adam yang ternyata sudah duduk di depan penghulu, membelakangiku. Kemudian penghulu menunjuk ke arahku dan Adam menoleh kebelakang.
"Uuh, lihat senyum dia. Rasanya jantung aunty yang meleleh." Aunty Dewi menggodaku lagi ketika Adam menghadiahkan sunyum padaku sebelum kembali berbalik memandang penghulu.
Ketika doa mulai di baca, aku menunduk. Rasa haru tiba-tiba merasuk jiwa, namun aku coba menepiskan rasa itu jauh-jauh.
"Umarussadam." Penghulu mulai bicara.
"Ya, saya." Adam menyahut mantap.
"Aku nikahkan engkau dengan Sri Winda Putri Atmaja binti Heru Patra Atmaja dengan mas kawin 18.002.000, tunai."
Aku sedikit heran dengan jumlah mahar yang di sebut penghulu. Untuk apa 2000-nya? Kenapa harus pakai 2000?
"Aku terima nikah-"
Suara Adam tiba-tiba terhenti, aku yang tadi menunduk kembali mengangkat kepala. Kupikir Adam akan berubah pikiran, namun ketika mendengar tawa tetamu yang hadir, pikiran itu lenyap. Apalagi dengan santainya dia menolah kebalakang dan tersenyum padaku.
Entah kenapa, aku merasa lucu dengan tingkahnya itu, tapi bibir kukatup rapat agar tidak turut tertawa seperti tetamu.
"Adu duh... Gemasnya wajah Adam aunty lihat," celetuk aunty Dewi.
Aku lansung menunduk. Hati berharap semoga dia kembali salah atau lupa kata membalas akad, hingga pernikahan ini di batalkan.
"Maaf, nervous. Sekali lagi ya, Pak?"
Suara tetamu kembali terdengar, seakan lucu dengan kata-kata yang di ucapkan tadi. Hatiku bertanya-tanya, apakah dia sengaja melakukan itu?
"Iya iya. Saya paham. Pengantin perempuan terlalu cantik, makanya Adam nervous, kan?" Penghulu pun turut tersenyum.
"Ya, cantik, Pak. Sangat cantik," balas Adam.
Aunty Dewi lansung mencubit lenganku, kemudian tersenyum lebar. Mama pun turut tersenyum.
"Sekarang, tarik dulu nafas panjang panjang. Kita coba sekali lagi."
Aku masih menunduk, tapi aku tahu itu suara pak penghulu yang bicara.
"Umarussadam."
Kali ini Adam menyahut lebih yakin.
"Aku nikahkan engkau dengan Sri Winda Putri Atmaja binti Heru Patra Atmaja dengan mas kawin 18.002.000, tunai."
Aku menutup mata, jantung semakin berdebar menanti balasan Adam.
"Aku terima nikahnya Sri Winda Putri Atmaja binti Heru Patra Atmaja dengan mas kawin 18.002.000, tunai."
"Sah?"
"Sah!"
Jawaban 'sah' dari saksi dan tetamu yang hadir membuat air mataku tumpah membasahi pipi.
Aku kini telah 'sah' jadi istri orang. Istri musuhku, Adam.
Mama membawaku kedalam pelukannya di susul aunty Dewi dan aunty Adik. Aunty Lia-adik dari papa yang duduk agak jauh dariku hanya tersenyum kecil. Dulu, selama setahun, aku pernah di titipkan padanya. Tapi entah sekarang aku merasa asing dengan kehadirannya.
Kemudian kedua tangan kuangkat mengaminkan doa yang di lantunkan, ironisnya dengan hati yang belum ikhlas dengan pernikahan ini.
Ketika acara pemasangan cincin berlansung dan pembatalan wuduk berlangsung, Adam memandang sayu mataku yang masih mengeluarkan air. Saat dia mengulurkan tangan, agak lama aku sambut dan cium. Sungguh hatiku bergetar. Ini lah sentuhan pertama aku sebagai istri. Istri yang halal untuk di sentuh suami.
Lalu Adam menari kepalaku dan mencium ubun-ubunku, lama. Hingga aunty Dewi yang berada di sebelahku mulai berdeham, tapi tidak di pedulikan Adam. Bibirnya masih berada di kepalaku.
"Hush, Adam udah dulu. Nanti sambung di kamar aja." Tak cukup dengan deheman aunty Dewi malah mengusik dengan candaan.
Candaan aunty Dewi berhasil, perlahan Adam melepaskan bibirnya dari kepalaku, pipiku di sekanya dengan ibu jari.
"Baiklah, aunty. Nanti Adam lanjutkan di kamar."
Rasanya pipiku merah pekat mendengar balasan Adam pada aunty Dewi. Dan aunty Dewi sempat mencubit lengan Adam karna jawabannya itu.
Selesai acara pemasangan cincin, tetamu di persilahkan makan, termasuk aku dan Adam. Di tempatnya, aku merasa mata Adam tak lepas memperhatikanku, tapi aku cuekin.
Mungkin karna menyadari sikapku yang dingin pada Adam, Papa yang duduk di sebelah mengajaknya bicara.
"Ha, Adam. Setalah ini, Adam harus ikut mencuci piring. Itu sudah menjadi tradisi. Pengantin lelaki harus ikut membantu mencuci piring bersama kerabat lelaki lainnya," ucap papa, lalu tertawa kecil.
Adam yang duduk di sebelahku berhenti menyuap makanan.
"Jadi semua piring di dapur Adam yang mencuci?" tanyanya memastikan.
"Tidak Adam sendiri, tapi di bantu kerabat lelaki yang lain. Itu resiko menikah dengan anak Papa," jawab papa dan kembali tertawa.
Adam menoleh padaku, tapi cepat-cepat aku menunduk, tidak ingin melihat wajah kebingungannya.
***
Selesai makan, aku lansung masuk ke kamarku setelah bersalaman dengan tetamu yang akan pulang.
Baru saja selesai mandi dan telah menggunakan pakaian tidur, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Mama muncul di sana.
"Sayang, kenapa tidur di sini? Mama sudah siapkan kamar pengantin untuk Winda dan Adam."
"Gak mau. Winda mau tidur di kamar ini," balasku, sewot.
Mama mendekat dan duduk di sebelahku.
"Oke. Kalau Winda mau tidur di sini, nanti Mama pesan pada Adam suruh masuk ke kamar ini," ucap Mama lembur.
Aku melepaskan keluhan halus. Jujur, tubuhku begitu lelah. Setelah siang tadi seharian di kampus, di lanjutkan denga drama menangis menolak perjodohan, kemudian di lanjutkan melayani tetamu yang baru saja pergi. Sekarang aku tidak ada daya lagi untuk beradu argumen dengan mama.
Dengan malas aku bangun. Satu buku di rak aku ambil sebelum keluar dari kamar menuju kamar pengantin yang di katakan mama.
Baru saja membuka pintu, aku lihat kamar yang asalnya di sediakan untuk tamu itu telah di sulap lebih menarik. Semua perabotan dalam kamar itu baru, lemari, gorden, meja, termasuk ranjang.
Aku dekati jendela yang menghadap ke belakang rumah. Di satu sudut, kulihat Adam dan kerabat dekat lainnya sedang sibuk mencuci piring kotor. Dia masih menggunakan. Pakaian pengantin. Pada bagian lengan tangan dan kaki di sinsingkan agar tidak basah terkena cipratan air. Sesekali di melap keringat di dahinya dengan lengan baju.
"Rasain! Siapa suruh nikahin aku." Aku mengumpat dan tersenyum sendiri.
Aku lanjutkan berbaring di ranjang membaca buku yang kuambil di rak kamar tadi secara random. Why Mariage Suck?adalah buku yang terpilih. Waw, pertanda apakah ini?
Buku ini aku beli waktu tunggal di London. Niatku ingin belajar dan memahami kenapa pasangan yang menikah bisa berhenti saling mencintai satu sama lain dan akhirnya bercerai.
Dulu aku membaca buku ini untuk memahami kegagalan rumah tangga papa dan mama, namun sejak mendapat kabar mereka telah rujuk kembali, buku ini hanya terpajang rapi di rak dan tak pernah kusentuh.
Aku mau membaca dari awal, karna niat ingin membaca untuk melelahkan mata. Sedang asyik membaca karya Missy Venus ini, bunyi pintu kamar di buka dan di tutup lagi menarik perhatianku. Adam masuk dengan baju pengantinnya yang sudah basah.
"Tadinya saya kira papa hanya bercanda waktu bilang, pengantin lelaki harus mencuci piring. Tidak tahunya benaran." Adam bicara dan tertawa sendiri, lalu berjalan ke tepi lemari. Mungkin karna aku tidak merespon dia menolah kearahku.
"Lagi baca apa?" tanyanya sambil membuka baju pengantinnya.
Untuk pertama kali, aku dapat melihat bentuk tubuhnya yang begitu sempurna. Ya, begitu sempurna, bahkan aku tidak menyangka bentuk tubuhnya seindah itu. Pasti dia rajin olah raga.
Walau diam, tapi hatiku berdegup kencang. Tadinya aku berencana membaca sedikit saja dan tidur sebelum Adam masuk kekamar ini, namun karna terlalu asyik, kini semuanya terlambat. Buku masih di tangan, tapi mata sibuk mencuri pandang kearahnya.
"Why Marriage Sucks," jawabku ringkas. Adam mengambil handuk dari dalam lemari, lalu memandang ke arahku.
"Why Marriage Sucks?" Keningnya berkerut seketika, lalu kemudian berjalan mendekatiku dan duduk di tepi jmranjang sambil membaca sampul buku yang kupegang.
"Coba lihat," pintanya sambil menarik buku itu dari tanganku. Dia hanya melihat-lihat saja sebentar sebelum mengembalikan lagi padaku.
"Saya yakin penulis buku ini berniat baik."
Cepat-cepat kubuka lagi halaman yang tadi kubaca dan coba untuk fokus melanjutkan membaca, tapi mataku sesekali masih mencuri pandang pada Adam yang sedang memperhatikanku.
"Kenapa melihat aku seperti itu?" Tanpa aku sadari, aku membahasakan diri 'aku-kamu' dengannya. Rasanya panggilan itu lebih nyaman dari pada 'Lo-Gue'
Adam tersenyum, lalu menundukkan sedikit wajah mendekatiku. Kepalaku semakin terbenam kebantal ingin membuat jarak.
"Winda, saya akan buktikan bahwa pernikahan kita tidak akan 'sucks' seperti yang di tulis penulis buku itu. Saya janji akan menjaga kamu." Perlahan tangannya mengelus rambut di samping telingaku.
Nafasku semakin tak teratur, dada kembang kempis, rasa-rasa di serang asma pun ada, apalagi saat dia semakin menundukkan wajahnya.
"Saya berjanji akan membahagiakan kamu."
Bau keringatnya semakin menusuk hidungku. Selama ini aku tidak suka mendekati orang yang berkeringat, tapi entah kenapa dengan Adam malam ini kurasa berbeda. Aroma keringatnya yang bercampur parfum semakin seksi di penciumanku. Jujur aku teransang.
"Saya mandi dulu ya? Hmm... Winda mau ikut saya mandi?" ajaknya membuat dadaku semakin kembang kempis. Apalagi melihat tubuhnya yang tidak berbaju berada tepat di depanku.
Buku di tangan kugenggam kuat-kuat, menahan diri agar tidak sampai menyentuh tubuhnya yang sejak tadi begitu menggoda.
"Never!" jawabku setegas yang aku bisa, walau itu bertentangan dengan hati kecil.
Adam menyipitkan mata memandangku. "Oke. Never," katanya sambil mengangguk-anggukan kepala.
"Never!" Aku ulang kalimat itu lebih tegas lagi.
"Never say never, Winda. What about a rain check instead?" Dia semakin mendekatkan wajahnya, hingga bibirnya mengusap batang hidungku.
Aku yakin saat ini dia bisa mendengar deru nafasku yang semakin cepat keluar masuk hidungku.
"No." Jawabanku menghianati tubuhku yang menginginkan sentuan Adam. Di karnakan ego di hati yang jadi batu penghalang.
"No?"
Kini bibirnya di usapkan ke pinggir bibirku. Belum sempat aku menegaskan pendirianku, bibirnya lebih dulu melahap bibirku.
Buku di tangan seketika jatuh karna kedua tangan kugunakan menarik lehernya agar lebih mendekat.
Lidahnya mulai menarindi tepi bibirku sebelum di masukkan kedalam mulut. Aku balas dengan dengan lidahku. Dan untuk kali kedua aku mendengar desahan Adam.
Setelah ciuman itu, dia mengangkat kepalanya dan memandangku.
"Still no?" tanyanya dengan suara serak.
Aku coba bernafas teratur agar tidak terlihat kecewa ketika dia menghentikan ciuman. Sekuat tenaga aku menahan getar nafsu yang meledak-ledak karna ulahnya ini.
"Still no." Jawabanku berhasil menyembunyikan keinginanku.
Adam tertawa kecil dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku hampir merengek saat dia menegakkan badannya dan kembali duduk di tepi ranjang.
"Kalau begitu mungkin tidak malam ini," katanya dan tertawa sendiri. "Hari ini sangat melelahkan, kamu tidurlah dulu, tidak perlu tunggu saya. Saya butuh mandi air dingin yang lama," katanya sambil menyeringai, lalu bangun dan pergi ke kamar mandi.
Aku menghembuskan nafas besar. Laga karna dia sudah pergi. Ya, aku mamang harus tidur cepat karna tidak sanggup berhadapan dengannya seperti tadi.
Namun, setelah berguling ke kiri dan ke kanan, mata ini masih saja sehat. Hingga bunyi air di dalam kamar mandi berhenti, menandakan Adam sudah selesai mandi. Cepat-cepataku berbalik membelakangi arah kamar mandi, pura-pura sudah tidur.
Tidak lama setelah terdengar pintu kamar mandi terbuka, ranjang di sebelahku bergerak. Apakah dia berbaring di sebelahku? Perlahan buku yang masih di tanganku diambilnya, lalu selimut di kakiku di tarik hingga ke paras dada. Apakah malam ini dia akan meminta haknya?
Kucupan singkat kurasa di dahiku. Tidak lama terdengar nafasnya teratur.
Apakah dia sudah tidur?
Ada rasa kecewa membayangkan karna kemesraan tadi harus berakhir.