Cerita ini diangkat dari sudut pandang yang bebeda, dengan alur kehidupan sehari-hari.
Dan menyebabkan kebaperan. Semoga banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita ini.
Amanda, gadis cantik dan lembut. Harus terikat hubungan terlarang dengan pria beristri yang bernama Satria. Berawal dari pertemuan tak sengaja dan hutang budi, akhirnya mereka saling jatuh cinta dan menjalin hubungan yang tak semestinya.
Akankah mereka bersatu? Atau malah berpisah.
IG : nona_vie90
FB : Nevi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZiOzil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ungkapan rasa
Sudah beberapa hari berlalu sejak aku melarang Satria untuk tidak sering-sering datang ke rumahku, lelaki itu benar-benar tak pernah datang lagi, bahkan sama sekali tidak menghubungiku. Dan anehnya, aku merasa seperti kehilangan sesuatu dalam hidupku, aku merasa tak bersemangat untuk melakukan apapun bahkan untuk makan saja aku rasanya tak berselera. Dan yang lebih aneh lagi, tiap malam aku bermimpi Satria datang. Apakah aku sedang merindukannya?
Perasaan aneh apa ini?
Apa wajar kurasakan untuk orang belum lama aku kenal?
Ku akui Satria memang sosok yang hangat, ramah dan perhatian. Ditambah lagi fisiknya yang hampir mencapai sempurna, sangat lumrah jika kaum hawa gampang terpesona dan jatuh cinta dengan lelaki yang satu ini.
Tapi bagiku, apa ini tidak terlalu cepat?
Cinta ... apakah aku sudah jatuh cinta? Lalu bagaiamana dengan dia?
Lihatlah, entah dia tipe orang penurut atau sedang marah, tapi yang pasti dia benar-benar tidak datang ke rumahku seperti yang aku pinta, atau lebih tepatnya dia menghilang. Haaa ... sudahlah, lupakan semuanya, Amanda!
Seperti malam ini, setelah pulang bekerja aku segera masuk ke kamar dan merebahkan tubuh lelahku, sudah beberapa malam ini aku tertidur dalam keadaan masih memakai pakaian kerja dan tidak makan malam, rasa malas benar-benar menyerangku saat ini. Bahkan sudah beberapa kali Dimas datang, tapi aku selalu berpura-pura sudah tidur, karena aku sedang tak ingin bertemu siapapun selain seseorang yang selalu datang ke dalam mimpiku itu.
Sejenak aku merasa menyesal karena melarangnya datang ke rumahku, ini semua gara-gara bu Lela si biang gosip!
Aku sumpahi kulitnya cepat keriput agar dia malu untuk keluar rumah dan mengusili kehidupan orang lain lagi.
"Nak, ada Dimas itu di depan. Temui sana, kasihan sudah beberapa malam ini dia datang untuk menemuimu, mungkin dia ada keperluan." Ayah duduk di tepi ranjangku.
"Bilang saja aku sudah tidur, yah!" Ucapku malas. Aku sungguh tak ingin bertemu siapapun.
"Kalau begitu oleh-olehnya aku bawa lagi saja!" Tiba-tiba Dimas sudah berada di depan pintu kamarku. Aku dan ayah sampai kaget melihat sahabatku ini sudah berdiri disana.
"Dimas ...? Kau mengagetkanku saja!" Aku berbicara sambil mengelus-elus dadaku, jantungku masih berdebar kuat karena kaget.
"Habis kau susah sekali ditemui, aku masuk saja!"
"Ya, sudah sana keluar! Temani Dimas!" Ayah mendorong pundakku agar segera keluar dari kamar.
Aku melangkah malas dengan perasaan malu karena telah tertangkap basah berbohong kepada Dimas, mudah-mudahan saja sahabatku ini tidak sakit hati.
Aku telah duduk di teras rumah bersama Dimas, aku masih tertunduk malu sekaligus merasa tak enak hati.
"Mas, maaf ya. Aku tak bermasud untuk ..." Aku berniat untuk minta maaf, tapi Dimas menyela kata-kataku.
"Sudah, tak usah dibahas! Sekarang coba cerita, kau sedang ada masalah apa? Kata ayahmu, sudah beberapa malam ini kau tidak makan dan seperti orang yang tidak bersemangat." Dimas mulai mengintrogasiku. Sikap seorang kakaknya seketika keluar, dialah tempat ternyaman untukku berbagi sedari dulu. Tapi kali ini, apa aku harus menceritakan semua yang aku rasakan?
Aku terdiam, merasa ragu dan bingung akan memulai ceritaku darimana?
"Manda, kenapa diam? Kau bisa cerita apapun masalahmu kepadaku! Siapa tahu aku bisa membantumu." Dimas menggenggam tanganku, berusaha memberi energi agar aku siap untuk bercerita.
"Mas, sepertinya aku mulai jatuh cinta lagi deh! Tapi aku juga tidak yakin, karena aku merasa ini terlalu cepat." Aku mulai mencurahkan isi hatiku yang beberapa hari ini membuatku galau.
"Haaa ... jatuh cinta? Dengan siapa?" Dimas sepertinya terkejut dengan ucapanku barusan, mata sahabatku ini sampai melotot ke arahku.
"Dengan ... hmm ... Satria!" Walaupun sempat ragu, tapi akhirnya nama itu lolos keluar dari mulutku.
"Tapi kalian kan baru saja kenal, apa mungkin cinta datang secepat itu?" Dimas terlihat emosi dengan pernyataanku, ada guratan tak percaya bercampur kecewa diwajahnya.
"Entahlah, aku sendiripun bingung dengan perasaanku saat ini. Aku merasa ada yang hilang dari hidupku sejak Satria tidak lagi datang." Aku melanjutkan lagi curahan hatiku kepada Dimas.
"Memangnya kenapa dia tidak datang lagi?"
Aku menceritakan semuanya kepada Dimas, mungkin ini salah satu cara agar hatiku sedikit lega karena telah berbagi.
"Lalu bagaimana dengan dia? Apa dia juga mencintaimu? Sekarang saja dia menghilang." Pertanyaan Dimas membuatku tersadar, aku sedang merindukan seseorang yang mungkin saja tak mengingatku.
"Tidak tahu!" Aku tertunduk sedih dan pasrah. Mana ku tahu perasaan lelaki itu yang sesungguhnya, walaupun aku merasakan sesuatu yang aneh dengan sikapnya ditambah lagi ucapannya waktu itu. Tapi kenyataannya, dia menghilang tanpa kabar sekarang.
Dimas hanya menarik nafas dan menghelanya, lalu pria itu pun ikut tertunduk sambil meremas kuat rambutnya seperti seseorang yang sedang frustasi. Aneh sekali sahabatku yang satu ini. Apa dia sedang merasakan kegalauanku saat ini?
"Kau kenapa, Mas?" Aku memegangi pundaknya, memberi sedikit perhatian kepada sahabat yang sudah aku anggap sebagai seorang kakak ini.
"Hmmm ... tidak ... tidak apa-apa! Kalau begitu aku pulang dulu ya? Sudah malam, kau juga sepertinya sudah mengantuk." Dimas mengangkat kepalanya, memandangku dengan tatapan nanar, sekilas kulihat ada genangan cairan bening di pelupuk matanya.
"Mas, kau baik-baik saja? Kau sakit?" Aku mendadak cemas dengan Dimas.
"Sudah ku katakan tidak apa-apa! Aku baik-baik saja! Ya, sudah aku pamit!" Dimas tersenyum lalu beranjak pergi dari runahku. Aku benar-benar heran dengan tingkah anehnya hari ini.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu, bukankah tadi Dimas mengatakan oleh-oleh?
Iya. lagi-lagi dia lupa memberikan oleh-olehku! Apa-apaan sih Dimas, mau memberikan oleh-oleh saja sampai berlarut-larut begini. Aku kan menjadi penasaran, sebenarnya apa sih yang ingin diberikan Dimas? Bahkan aku tak pernah melihat dia membawa sesuatu saat bertemu denganku.
Haaaa ... sudahlah, besok jika bertemu lagi, aku akan menagih janjinya itu.
Aku pun masuk ke dalam rumah, berganti pakaian tanpa mandi, jorok memang tapi sudahlah, aku sedang benar-benar malas. Kuraih ponselku, berharap ada notif pesan atau panggilan masuk dari Satria, tapi nyatanya tidak ada. Kecewa ... rasa itu lagi-lagi menyerangku, berkolaborasi dengan rasa rindu.
Benar kata anak sekarang, rindu itu berat!
Rasanya ingin aku menghubunginya lebih dulu, tapi aku malu dan gengsi bercampur takut ... takut harga diriku jatuh.
Jika sudah begini, aku merasa menyesal memperlakukannya dengan buruk waktu itu. Kalau ku tahu rasa rindu akan sesakit ini, aku abaikan ucapan bu Lela dan membiarkan dia tetap datang. Kebaikan dan perhatian yang berlimpah dari Satria benar-benar membuat benteng pertahanan dihatiku runtuh dalam sekejab, sebagai gadis normal, aku benar-benar tersanjung dengan semua perlakuannya.
Kenapa rasa cinta baru tersadari disaat kita sudah merasa kehilangan?
Aku merindukanmu Satria Wijayanto.
***
Ayo tebak, kira-kira apa ya yang sebenarnya ingin diberikan Dimas kepada Amanda?
Kuy dijawab sayang akuh ...💜
sukses
semangat
mksh