Spin off Hati Untuk Arya
.
.
Ari putra wongso, mencintai seorang perempuan bernama Karina, namun tanpa sepengetahuannya sang kekasih mencintai sahabatnya sendiri. Ari selalu merasa Karina tak mencintainya,namun ia memilih bertahan dan berharap Karina akan mencintainya. Namun di penghujung jalannya ia menemukan sebuah jalan buntu. Rasa percaya dirinya runtuh karena takut tak bisa membahagiakan orang yang ia cintai.
Sementara Airil Karina Yatri menantang Ari untuk melangkah ke jalan yang serius, ia berjanji akan mencintai Ari setelah mereka resmi menjadi sepasang suami istri. Namun Ari gugup untuk melangkah, tak yakin cinta bisa tumbuh semudah Karina mengatakannya.
Kehadiran seorang janda bernama Vanessa aulia putri memberi warna berbeda bagi laki-laki yang tengah dilanda rasa kesepian karena mengakhiri hubungannya dengan Karina. Kedewasaan Vanessa membuat Ari begitu nyaman dengannya.
Siapakah yang akan menjadi penghujung hati Ari? sang kekasih Karina atau sang janda Vanessa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon catatan kecil di sudut buku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Siang itu ibukota diguyur hujan deras, petir terdengar sesekali menyambar dengan keras. Ari sedang duduk di ruang kerja Arya. Matanya melihat Arya yang tengah fokus menyelesaikan desain untuk restoran Tomy.
“ini gara-gara lo yang hilang tanpa kabar, kalau nggak, pasti udah selesai dari kemarin” ucap Arya dengan ketus.
Helaan nafas panjang terdengar dari Ari, ia merasa jengah dengan alasan yang Arya berikan. “lo berlebihan sekali, dulu lo hilang 3 minggu, kerjaan gue selesai semua kok” jawab Ari dengan ketus.
“jadi Karina gimana Ri? lo nggak mau bicara lagi dengan dia, duduk berdua gitu, bicara baik-baik” Arya mengalihkan pembicaraan mereka.
Karina adalah satu-satunya alasan Ari bisa seperti itu, Arya bisa melihatnya sendiri keputus asaan Ari saat bertemu dengannya di Adinata group.
“gue milih mundur Arya, Karina berhak bahagia dalam hidupnya” ucap Ari dengan sendu.
Arya menghentikan sejenak pekerjaannya, ia tatap lekat wajah sahabatnya yang lagi dilanda masalah asmara. “lo udah yakin?” tanya Arya dengan nada menekan.
“lo pasti pernah di posisi gue, saat lo mencintai Mila dan ternyata dia mencintai laki-laki lain” ucap Ari.
“gue bertahun-tahun mencintai Karina, dan dia mencintai laki-laki lain yang gue nggak tahu itu siapa, selama ini Karina sama sekali tidak pernah mencintai gue”
Deg, ucapan Ari memukul hati Arya, rasa bersalah itu ia rasakan. Sadar siapa laki-laki yang tidak diketahui Ari itu adalah dirinya sendiri. Arya mengalihkan perhatiannya pada apa yang ia kerjakan tadi. Sambaran petir yang keras di luar tak membuat percakapan mereka bergeming sedikit pun.
“lo tahu siapa laki-laki itu Arya? laki-laki yang dicintai Karina selama ini sehingga dia tidak pernah bisa mencintai gue” lanjut Ari yang
semakin memukul hati Arya.
“gue,,” ucap Arya dengan ragu, ia menunduk gamang dengan respon Ari jika tahu semuanya. Tangan Arya yang memegang pensil terasa gemetar menahan keraguan.
“gue nggak tahu Ri” jawab Arya dengan helaan nafas panjang.
Pintu ruangan Arya terdengar diketuk 2 kali, Vanessa masuk dengan membawakan 2 gelas teh hangat untuk Arya dan Ari. Saat membuka pintu, Vanessa melihat wajah Arya dan Ari yang tampak serius. Ia dengan ragu melangkah masuk.
“apa aku mengganggu kalian?” tanya Vanessa dengan hati-hati, tak ingin mencampuri pembicaraan serius diantara Arya dan Ari.
“Masuklah Nes, kami lagi nyantai kok” jawab Ari dengan datar.
Vanessa menautkan alisnya karena merasa heran. ‘santai apanya, aku saja masuk kesini merasa tegang gini’ batin Vanessa
2 Teh disajikan Vanessa di meja Arya, matanya menatap apa yang Arya kerjakan di meja itu, membuatnya merasa tak enak hati. Arya masih mengerjakan desain restorannya, padahal ia tahu Arya sangat sibuk di Adinata group.
“maafin kakak sama Abel dan Tomy ya dek, kamu sudah sangat sibuk di Adinata group, sekarang kamu malah harus ngerjain desain restoran kami” ucap Vanessa dengan nada bersalah.
“ngapain minta maaf Nes, Arya memang sudah seharusnya membantu sahabatnya” ucap Ari menyambar kalimat Vanessa dengan cepat.
Arya menatap Ari dengan datar, kemudian ia melihat ke arah Vanessa. “Ari benar kak, kakak nggak perlu merasa nggak enak gini sama aku”
“udah Nes, nyantai aja, kalau ada perlu bilang aja sama kami, ingatin juga si Tomy, dia itu kalau ada masalah suka diam-diaman, melamar Abel aja nggak ada ngasih tahu aku sama Arbi” ucap Ari lagi.
Vanessa mengangguk paham, “nanti makan siang kalian langsung ke bawah ya, jangan tunggu aku datang kesini buat memanggil kalian” Vanessa kemudian berjalan ke arah pintu untuk kembali turun ke lantai 1.
Mata Ari menatap dalam punggung Vanessa hingga menghilang saat gadis itu menutup pintu. Ia tersadar saat pensil Arya melayang ke pipinya.
“aduh, ngapain sih lo ngelempar gue pake pensil” ucap Ari mendengus kesal.
“ngapain lo ngelihatin kak Vanessa seperti itu, ke sensem sama janda lo” ejek Arya.
“apaan sih, nggak lucu” ucap Ari dengan ketus.
“anak yang lo bilang kemarin udah masuk ke 3A Sahabat, kerjanya lumayan bagus” kali ini Ari mengalihkan pembicaraan mereka.
“adeknya Hilman? Sari?” tanya Arya menatap lekat wajah Ari yang tampak datar.
“iya, kan lo yang minta dia untuk ke perusahaan kita” jawab Ari.
Arya mengangguk pelan, ia mengambil pensil yang baru dari kotak pensil dan melanjutkan pekerjaannya.
“lo anak tunggal Ri, sampai kapan lo bakalan di 3A Sahabat, siapa nanti yang bakalan ngurus bisnis ayah lo dan bisnis butik ibu lo?” tanya Arya dengan nada santai, mengembalikan suasana mereka agar tidak tegang lagi karena membahas masalah Karina.
“gue nggak tahu, gue hanya ingin menikmati hidup sekarang” jawab Ari dengan asal.
Mereka kemudian turun ke lantai bawah menuju meja makan. Disana terlihat Mila dengan menggunakan cadar merah mengambilkan nasi untuk pak Sarman. Sementara Vanessa tengah menyajikan sayur di meja makan.
Arya menarik kursi dan mempersilahkan Ari duduk, ia kemudian duduk di samping Mila, tidak di depan Mila lagi seperti dulu.
“jadi apa yang kalian bicarakan tadi? apa masalah bisnis?” tanya pak Sarman saat melihat Arya sudah duduk di samping Mila.
“nggak kek, Cuma restoran baru kak Vanessa:” jawab Arya.
“saya hanya ingin memastikan Arya mengerjakan desain itu pak, dia sering lupa kalau nggak diingetin” sambung Ari pada penjelasan Arya.
Pak Sarman mengangguk kepala, “jika kalian bicara soal bisnis, kakek juga mau ikut, otakku masih cukup bagus membahas strategi bisnis” ucap pak Saraman yang dilanjutkan dengan suara tawanya.
Arya ikut tertawa tipis, pak Sarman masih sangat piawai dalam masalah bisnis, ia hampir setiap malam mengajak pak Sarman untuk berdiskusi masalah bisnis. Sementara Ari menyipitkan matanya, menatap kesal mendengar tawa kakek tua itu, tawa itu seolah mentertawai kegagalannya dulu.
“Abi kok ngambil piring lagi, ini udah umi ambilin nasinya” ucap Mila melihat Arya mengambil piring untuk segera diisinya dengan nasi.
“nasi itu untuk abi, nasi yang ini untuk umi” jawab Arya dengan lembut.
Mila tersenyum senang mendengarnya, dan kali ini Ari melihat jengah sahabatnya itu. Jengah mendengar bualan Arya untuk Mila.
“sejak kapan lo bisa gombal kayak gitu, jijik gue mendengarnya” ucap Ari dengan datar, tak peduli dengan sosok pak Sarman yang seharusnya ia hormati.
Rasa kesal dan marah masih ia simpan pada kakek tua yang membuatnya seperti orang bodoh. Kalah telak dalam adu strategi bisnis dulu.
“sejak gue nikah sama Mila” jawab Arya dengan santai.
“masa sih, lo lupa shubuh-shubuh ke rumah gue buat ngajak gue ke slamet, lo udah ngombalin Mila kayak gini waktu itu” ucap Ari nyerocos tak peduli.
Hatinya terasa gerah saat itu, sosok pak Sarman membuatnya tak nyaman disana. Ari mengalihkan pandangannya kepada Vanessa yang membawa sepiring cumi saus tiram untuk disajikannya di meja makan.
Ari tersenyum pias melihat Vanessa, kenapa aku begitu gila dulu? aku menyakiti perempuan ini saat pertama kali melihatnya’ batin Ari.
apalagi Karina yang katanya didikan agama nya lebih dari Ari
dan itu sangat jarang...