NovelToon NovelToon
The Kings And The Woman

The Kings And The Woman

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Reinkarnasi / Time Travel / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lilly✨

Ribuan lembar di Papirus,ribuan kata kata cinta yang aku hanturkan Tidak cukup mendeskripsikan Aku mencintaimu.

"Aku tidak pernah bisa menaklukkan rindu ini."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilly✨, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Dua minggu. Sudah dua minggu berlalu sejak terakhir kali Cassandra berbicara dengan Selena.

Sejak saat itu, tidak ada kabar, tidak ada pesan. Selena yang biasanya tak pernah menghindarinya, kini seakan menghilang begitu saja. Bahkan panggilannya selalu diabaikan. Dan hari ini, dia merasa harus melakukan sesuatu.

"Dia tidak ingin berbicara dengan siapa pun, bahkan dengan Cassandra sekalipun."

Kata-kata itu menggema di kepala Cassandra ketika pelayan Selena menyampaikan pesan tersebut. Ia menggenggam gelas teh di tangannya lebih erat, menekan jemarinya ke permukaan porselen seakan ingin meredam gejolak yang mulai memenuhi dadanya.

Tidak ingin berbicara dengannya? Kenapa? Apa yang telah terjadi?

Cassandra meneguk teh yang kini terasa hambar di lidahnya. Pikirannya terus berputar, mencari alasan mengapa Selena tiba-tiba menjauh.

Ketika Earl Greyes akhirnya berhasil menghubungi Selena, Cassandra duduk di sofa dengan gelisah, menatap pria itu yang tengah berbicara di telepon. Namun, percakapan mereka tidak berlangsung lama.

"Akan aku tutup teleponnya."

Suara Selena yang dingin dan tanpa emosi membuat Cassandra spontan berdiri. Jantungnya berdegup kencang. Tidak. Tidak. Dia tidak bisa membiarkan ini terjadi.

Dengan gerakan cepat, ia meraih ponsel dari tangan Earl dan menempelkannya ke telinganya.

"Selena, jawab!!" suaranya lantang, nyaris bergetar karena emosi.

Hening. Tak ada jawaban di seberang sana.

Dan kemudian, suara itu datang. Datar, tajam, menusuk.

"Siapa kau?"

Cassandra merasa tubuhnya menegang. Seketika, darahnya seakan berhenti mengalir. Matanya membelalak, bibirnya sedikit terbuka, namun tak ada kata yang keluar.

Di seberangnya, Earl menatapnya dengan khawatir, tangannya sudah terulur untuk menahannya jika ia terjatuh.

"Selena, jangan bercanda! Kenapa kau melakukan ini kepadaku?! Bukankah kita teman?!" Cassandra berteriak, tidak peduli lagi bagaimana nadanya terdengar. Ada perasaan panik yang mulai merayapi dadanya, sebuah rasa takut yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Dan Selena menjawab.

"Sejak kapan?"

Dunia Cassandra terasa berputar.

"Sejak kapan kita menjadi teman? Aku merasa tidak begitu."

Tidak. Tidak. Ini tidak benar.

Cassandra mencengkeram lengan Earl dengan kuat, seolah-olah pegangan itu bisa menahannya dari kehancuran yang perlahan melingkupinya.

"Selena... tolong—"

Klik.

Panggilan itu berakhir. Selena menutup telepon.

Keheningan menyelimuti ruangan. Cassandra masih menggenggam ponsel di tangannya, tetapi suaranya tidak lagi terdengar. Ia menatap layar yang kini gelap, seolah masih berharap nama Selena akan muncul kembali.

"Madam Cassandra…" Earl memanggilnya pelan, suaranya dipenuhi kekhawatiran.

Namun, Cassandra tidak merespons. Perlahan, ia duduk kembali di sofa, matanya kosong menatap ke depan.

Selena baru saja menghapusnya dari hidupnya.

Dan itu jauh lebih menyakitkan daripada yang pernah ia bayangkan.

Mata Cassandra membelalak, tubuhnya gemetar saat suara Selena yang dingin menembus pikirannya.

"Sejak kapan kita menjadi teman? Aku merasa tidak begitu."

Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk tanpa belas kasihan.

Ponsel di tangannya nyaris terlepas, namun genggaman eratnya menahannya. Tangannya gemetar, jantungnya berdegup kencang. Napasnya memburu, seolah dunia di sekitarnya tiba-tiba runtuh.

"Tidak... tidak mungkin... Ini hanya candaan, kan? Selena hanya sedang marah..."

Tapi suara itu, suara yang dulu begitu lembut dan menghangatkan, kini terdengar bagai es yang menusuk hingga ke tulang.

Cassandra menatap layar ponsel yang kini gelap. Pandangannya mulai mengabur, bukan karena air mata—tidak, dia tidak akan menangis—tapi karena hatinya terasa seakan terhimpit sesuatu yang tak kasat mata.

Sejak kecil, Selena adalah mataharinya.

Gadis kecil dengan rambut emas dan mata biru itu yang pertama kali mengulurkan tangan saat dirinya tidak punya siapa-siapa. Saat pesta-pesta mewah hanya memberinya kehampaan, saat orang-orang hanya melihatnya sebagai anak bangsawan yang tak berarti.

"Aku menyukai sejarah."

Kata-kata sederhana itu dulu diucapkan Selena dengan senyum kecil. Saat itu, Cassandra membenci sejarah. Baginya, itu hanya cerita masa lalu yang tidak ada gunanya. Tapi karena Selena menyukainya, dia mulai belajar. Dia mulai mengumpulkan artefak, menelusuri kisah-kisah kuno, hanya agar ada sesuatu yang bisa dia bicarakan dengan gadis itu.

Ketika Selena pergi ke Yunani, Cassandra menunggunya. Saat Selena kembali ke Inggris dengan kecerdasan dan bakat luar biasa hingga diangkat menjadi penasihat kerajaan, Cassandra berusaha lebih keras untuk masuk ke lingkaran itu, untuk tetap berada di sisinya.

Dia pergi ke kasino, berpura-pura bertemu secara kebetulan, hanya agar mereka bisa kembali berbincang seperti dulu. Agar Selena kembali melihatnya.

Tapi sekarang…

Mata Cassandra meredup. Suara Selena masih bergema di telinganya, mengulangi kalimat itu tanpa henti.

"Sejak kapan kita menjadi teman?"

Cassandra menunduk, mencengkeram dadanya yang terasa sesak.

Di hatinya, dia selalu tahu.

Matahari tidak pernah tinggal di satu tempat. Matahari bersinar untuk semua orang. Tapi dia? Dia hanya seorang gadis kecil yang berharap matahari itu akan tetap bersinar untuknya selamanya.

Dan sekarang, matahari itu telah pergi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!