[ SEDANG REVISI ]
Apa yang akan kamu lakukan jika ternyata kamu menikah dengan seorang pria pemarah dan sangat egois?
Kalista, seorang wanita smart dan penuh prestasi, terpaksa menerima pahit takdir hidupnya, ketika ia tahu jika pria yang menjadi suaminya ternyata sosok pria pemarah dan sangat egois.
Kalista bahkan seperti tidak pernah melihat cinta dan kasih sayang dari diri suaminya itu. Sampai pada suatu hari, dia berada di ujung kesabarannya saat mengetahui jika suaminya punya hubungan dengan wanita lain.
"Aku minta cerai! " Ucap Kalista
Tiga kata yang keluar dari mulut Kalista yang sudah sejak lama ia pendam dan bungkam.
Apakah keputusan Kalista untuk berpisah dengan suaminya merupakan keputusan yang tepat?
Benarkah jika suaminya, berselingkuh dengan wanita lain seperti dugaan Kalista?
Dan benarkah jika Raditya Gunawan, pria yang sudah memberikan Kalista dua orang anak perempuan itu, sama sekali tak menaruh hati kepada Kalista?
Siapkan kesabaran dan tisu sebelum me
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lv Edelweiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RIBUT
Para tamu undangan sudah mulai berdatangan. Hari ini grand opening toko kue ayah mertuaku yang nantinya akan aku kelola. Beberapa orang karyawan tampak sibuk mondar mandir guna mempersiapkan kue-kue yang sudah di buat sebelumnya.
Ada banyak jajanan dan snack daerah yang tersusun rapi di atas meja dan rak. Kue-kue kering dan basah di letakkan pada tempat yang berbeda. Kebanyakan jenis kue kering dikirim oleh ayah mertuaku dari cabang utama usahanya. Sedangkan untuk jenis kue basah seperti bolu dan lainnya, dibikin oleh para karyawan dibawah pengawasanku.
Aku berdiri di depan pintu utama menyambut para tamu undangan. Mas Radit dan mertuaku juga ada di sana. Hanya Ibu dan Ayah ku yang tidak bisa datang. lagi pula, aku mana mungkin ayah dan Ibu bisa berada dalam satu lokasi yang sama. Sejak mereka bercerai, mereka sudah tidak pernah lagi berjumpa.
"Lis... selamat ya untuk usaha bakery Lo... " Sintya mengucapkan selamat padaku.
"Makasih ya Sin. Eh, ayo di cobain kue-kue buatan gue." ajak ku padanya.
"Aman. Bentar lagi itu kue, bakalan habis semua.." kata Sintya sambil tertawa.
"Lo kan emang rakus... " Tiba-tiba suara seseorang membuat kami berdua terkejut.
Aku dan Sintya langsung menoleh ke samping secara bersamaan.
"Eh Lo Dem... ngapain lo disini?" tanya Sintya sambil menepuk bahu Demian.
"Kan gue juga diundang." jawab Demian.
"Eh, sini gue bisikin. " kata Sintya sambil mendekatkan kepalanya ke telinga Demian.
"Apa? " tanya Demian.
"Mantan... dilarang untuk datang. " bisik Sintya yang aku jelas bisa mendengarnya.
"Siapa bilang nggak boleh? Aku kan juga anggota alumni. "
Aku geli menahan tawa melihat tingkah mereka berdua. Sebelum akhirnya mataku menangkap seseorang yang berjalan menuju ke arah kami. Bukan-bukan... dia menuju ke arah mas Radit.
"Bianca... " bisikku dalam hati.
Aku terus memperhatikan gerak geriknya. Dia tampak langsung akrab dengan ayah dan ibu mertuaku. Mereka terlihat tertawa-tawa bahagia. Sesekali dia juga mengajak Kaila dan Kinan bercanda. Ah, apa maunya? Aku harus menghampiri mereka.
"Eh, bentar ya. Gue ke sana dulu. " kataku pada Sintya dan Demian.
"Gue makan kue ya.. " kata sintya
"Makan aja. Ajak Demian ya... " kataku sambil berlalu meninggalkan mereka.
Wanita itu, kenapa dia bisa ada di sini? Aku kan tidak pernah mengundangnya. Aneh sekali dia berani datang ke acara ku meski tak diundang. Gumamku.
"Eh, Lis... kenalin ini.... " belum selesai ibu mertua berbicara aku langsung seolah menebak.
"Bianca kan Ma? "
"Loh, kalian uda saling kenal? " tanya Papa.
"Enggak. Kalista nggak kenal sama dia. Cuma tau aja. "
"Mereka pernah ketemu Ma, Pa, di kantor Radit. Kemarin. " jelas mas Radit yang tampak tak tenang.
Kenapa mas? kamu takut ya kalau aku bakalan bongkar perselingkuhanmu dan Bianca di depan Mama dan Papa?
"Oh begitu ternyata. Lis... Bianca ini anak sahabat Papa waktu kuliah dulu." kata Papa sambil tersenyum.
Aku membalas senyuman Papa seraya melihat ke arah Bianca. Ternyata mertuaku kenal baik dengan Bianca. Tapi tidak, mereka tidak tahu Bianca seperti apa. Aku yakin, dia punya niat yang tidak baik padaku.
"Selamat ya mba, untuk outlet barunya.... " Bianca mengulurkan tangannya. Aku menyambutnya perlahan.
"Makasih... " kataku.
"Eh, kamu cobain dong kue-kue racikan Kalista. Enak banget. Kamu pasti suka. " kata Mama pada Bianca.
"Pasti tante." Jawab Bianca.
Aku terus memperhatikan setiap gerak gerik Bianca dan mas Radit. Mustahil jika mereka tidak punya hubungan apa-apa, karena mas Radit selama ini sangat perhatian padanya. sampai mau menemuinya kapan saja.
Mama dan Papa berjalan bersamaan dengan Bianca menuju rak-rak kue yang sudah ramai dengan tamu undangan lainnya. Aku masih berdiri berdua dengan mas Radit. Diam tanpa ada perbincangan.
"Lis.... " Tiba-tiba seseorang menyapaku dari belakang.
"Eh Dem, yuk kita cobain kue bikinan ku? " kataku pada Demian.
"Kamu yang namanya Demian kan? " tanya mas Radit spontan.
"Kenalin...Aku Demian... " Demian mengulurkan tangannya.
"Owh, jadi kamu mantan pacar Kalista.. " Nada suara mas Radit sangat tidak bersahabat. Dia tidak menyambut uluran tangan Demian.
"Mas, kamu apaan sih? " tanyaku.
"Kamu masih suka sama Kalista? " Mas Radit maju selangkah. Aku semakin takut dia berbuat kasar pada Demian. Aku tahu persis bagaimana sifat suamiku. Dia adalah orang yang sangat tidak bisa mengontrol emosinya.
"Kalau iya kenapa? " Jawab Demian tanpa mundur selangkah pun.
Mataku membulat mendengar jawaban Demian. Astaga Demian, apa yang kamu katakan? Kamu sudah menyiram bensin ke atas percikan api. Celaka.
"Brengsek kamu... " mas Radit mendorong Demian sampai dia hampir terjatuh. Sintya memegang Demian dengan wajah panik.
"MAS!.... " teriakku.
Para tamu undangan semua melihat ke arah kami. Mama dan Papa langsung datang menghampiri.
"Ada apa ini Dit? Lis?" Tanya Papa.
Mas Radit tidak menjawab pertanyaan Papa. Dia langsung pergi meninggalkan kami.
"Ada apa ini Lis? " Tanya mama. Mama datang bersama Bianca. Wanita itu menatap Demian dengan serius. Aku merasa mereka saling kenal. Apa jangan-jangan....
"E... ini ma, cuma salah paham aja. " jawabku.
Aku lalu mendekati Demian. Ku lihat dia masih menahan emosinya atas perilaku mas Radit.
"Kita, bicara diluar aja yuk. " Ajakku pada Demian dan Sintya. Sintya langsung mengangguk cepat.
...****************...
"Minum dulu... " aku menyodorkan segelas air putih pada Demian. Dia langsung mengambilnya dan meneguknya.
Aku menarik nafas dalam. Tak tahu harus berkata apa. Aku juga tak tahu kenapa aku saat ini lebih memilih bersama Demian ketimbang bersama mas Radit, suamiku sendiri.
"Maaf ya Dem... " kataku dengan nada bersalah.
"Kamu nggak salah kok Lis... " dia kembali meneguk air dalam gelas.
"Lagian suami Lo aneh banget sih Lis...Kok bisa ya, dia marah-marah tanpa alasan gitu?" Sintya tampak kesal.
"Lo kayak nggak tau suami gue aja. Dari dulu kan dia emang gitu orangnya. Emosian. "
"Trus... kenapa kamu mau nikah sama dia? " Tiba-tiba Demian bertanya tentang sesuatu yang aku sendiri tidak tahu jawabannya sampai saat ini.
"Iya tuh... kenapa sih Lo mau sama cowok modelan preman kayak gitu?" tanya Sintya lagi.
"Kalian apaan sih, kenapa jadi nanyakin hal yang nggak penting gini?"
Kami bertiga terdiam cukup lama.
"Ya udah... masuk lagi yuk... " ajakku.
"Hmm kayaknya, aku pulang aja deh Lis. " kata Demian.
"Loh, kok pulang sih?" tanyaku.
"Iya Lis, baiknya kami balik aja. Suasana pasti uda nggak nyaman juga kan." tambah Sintya.
"Sorry banget ya... aku jadi nggak enak sama kalian." aku benar-benar merasa bersalah.
"Santai aja Lis..."
"Yaudah, yuk kita pulang... mau bareng nggak?" tanya Demian pada Sintya.
"Nggak ngerepotin nih?" Sintya berpura-pura tidak enakkan padahal dia sih suka banget kalau nebeng gratis. Bahkan sejak di sekolah dulu. Dasar.