Arina Volans dipaksa menikah dengan Jenderal Orion Wezen, pria yang seharusnya menjadi suami adik tirinya. Di mata semua orang, Arina hanyalah wanita pendiam dan berwajah dingin yang tak pernah diinginkan siapa pun.
Namun, di balik wajah tanpa ekspresinya, Arina menyimpan rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun. Saat malam tiba, ia menjalankan rencana-rencana berbahaya yang bahkan tak mampu ditebak oleh Orion.
Ketika identitas Arina perlahan terungkap, sebuah rahasia yang telah terkubur selama puluhan tahun mulai mengguncang kerajaan dan menyeret mereka ke dalam pusaran konspirasi, pengkhianatan, dan perang.
Mampukah seorang jenderal mempercayai istri yang paling misterius di seluruh kerajaan?
*
Cerita murni karangan penulis dan tidak ada hubungannya dengan kehidupan nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Suasana di Taman Bintang Putih semakin semarak ketika para pelayan mulai berdatangan membawa berbagai perlengkapan. Ada alat musik, papan catur, perlengkapan melukis, hingga beragam jenis senjata. Semua itu disiapkan sebagai sarana untuk menguji kemampuan para anggota Majelis Bintang Putih.
"Ayo, Lady Wezen. Tunjukkan keahlianmu!" seru salah seorang lady bangsawan dengan penuh antusias.
Arina menyapu semua perlengkapan itu dengan pandangan singkat. Wajahnya tetap datar, nyaris tanpa ekspresi.
Ia sama sekali tidak berniat menjadi yang paling menonjol.
Menjadi pusat perhatian hanya akan membuat lebih banyak orang mengawasinya, dan itu adalah hal terakhir yang ia inginkan.
Satu atau dua keahlian saja sudah cukup. Orang yang tampak biasa-biasa saja jarang menjadi sasaran perhatian.
Sepasang mata birunya perlahan mengamati setiap perlengkapan yang tersedia.
Karena dalam waktu dekat ia akan berangkat ke Asterra untuk menangani wabah misterius, menunjukkan kemampuan di bidang pengobatan adalah pilihan yang paling masuk akal.
Arina melangkah menuju meja yang dipenuhi berbagai tanaman obat. Ia mengambil sebuah cawan, kemudian memilih beberapa jenis herbal dan dedaunan dengan gerakan tenang dan penuh ketelitian.
"Pengobatan?" Lady Sheratan mengangkat alis. "Jadi kau menguasai ilmu pengobatan?"
"Aku yakin dia hanya berpura-pura." Lady Zosma mendengus sinis. "Meracik beberapa tanaman tidak lantas membuat seseorang menjadi ahli."
Seperti biasa, Lady Zosma selalu mengambil posisi yang berlawanan dengan Lady Sheratan.
Arina sama sekali tidak menanggapi komentar mereka. Ia meletakkan cawan batu di atas meja, lalu mulai menyusun beberapa tanaman obat yang telah dipilihnya.
Ia mengambil daun perak, akar embun, dan bunga kecil berwarna putih yang baru saja dipetik. Dengan gerakan tenang, ia menghaluskan semuanya menggunakan alu batu hingga berubah menjadi pasta berwarna pucat.
Setelah itu, Arina menambahkan sedikit getah pohon pinus putih yang telah dikeringkan, lalu mengaduknya perlahan hingga seluruh bahan menyatu.
Beberapa lady bangsawan yang semula mengobrol kini mulai memperhatikan setiap gerakannya.
Tak lama kemudian, Arina menuangkan ramuan itu ke atas lempeng batu datar dan memanaskannya di atas nyala api kecil. Uap harum bercampur aroma herbal perlahan memenuhi tempat itu.
Saat ramuan itu mengering, Arina kembali menghaluskannya hingga berubah menjadi bubuk putih keperakan yang sangat lembut. Ia memasukkan bubuk tersebut ke dalam botol kecil.
"Ramuan ini bernama Hemara," ucap Arina tenang. "Selain menghentikan pendarahan, Hemara juga membersihkan luka sehingga mengurangi risiko infeksi."
Ia menutup botol kecil berisi bubuk itu, lalu menoleh kepada Putri Vega.
"Yang Mulia Putri, jika anda berkenan, saya ingin membuktikan khasiatnya."
Vega tampak sedikit terkejut, tetapi rasa penasarannya jauh lebih besar. "Bagaimana caranya?"
Arina mengalihkan pandangan ke arah para kesatria yang berjaga di sekitar taman.
"Bisakah saya meminjam salah satu pengawal Yang Mulia? Saya hanya membutuhkan seseorang yang memiliki luka gores ringan."
Seorang kesatria maju selangkah setelah mendapat anggukan dari Putri Vega.
"Pedang latihan saya sempat menggores lengan saya tadi, Lady Wezen."
"Bagus," kata Arina sambil mengangguk. "Luka seperti itu sudah cukup untuk membuktikan khasiat Hemara."
Semua mata tertuju pada botol kecil berisi bubuk putih keperakan di tangan Arina, menunggu apakah ramuan itu benar-benar mampu bekerja seperti yang baru saja ia katakan.
Putri Vega mengangguk pelan.
"Silakan."
Kesatria itu maju beberapa langkah. Ia menggulung lengan seragamnya hingga terlihat sebuah luka gores sepanjang beberapa sentimeter di lengan bawahnya. Luka itu tidak dalam, tetapi masih mengeluarkan darah tipis.
Arina membuka tutup botol kecil berisi bubuk Hemara. Butiran-butiran putih keperakan di dalamnya berkilau lembut saat terkena cahaya matahari sore.
Ia mengambil sedikit bubuk menggunakan ujung sendok kecil, lalu menaburkannya secara merata di atas luka sang kesatria.
Bubuk itu segera menempel pada darah yang masih mengalir. Dalam beberapa detik, warna merah perlahan memudar, seolah terserap oleh butiran halus tersebut.
Pendarahan berhenti.
Arina kemudian menuangkan sedikit air hangat ke telapak tangannya dan membilas sisa bubuk yang berlebih. Luka itu tampak jauh lebih bersih daripada sebelumnya, tanpa darah yang kembali merembes keluar.
"Sudah selesai," ucapnya tenang.
Kesatria itu menggerakkan perlahan lengannya, lalu mengepalkan tangan beberapa kali.
"Rasa perihnya... berkurang." Nada suaranya dipenuhi keterkejutan. "Lukanya juga sudah tidak berdarah lagi."
Putri Vega bangkit dari kursinya dan menghampiri mereka. Ia memperhatikan luka itu dari jarak dekat.
"Menakjubkan..."
Beberapa lady bangsawan yang semula berdiri cukup jauh kini ikut mendekat. Mereka saling berbisik sambil menatap lengan sang kesatria.
"Benar-benar berhenti..."
"Aku bahkan tidak melihatnya membalut luka itu."
"Ramuan itu juga membersihkan lukanya."
Lady Sheratan menatap Arina dengan sorot mata penuh kekaguman. "Ramuan seperti ini sangat berguna di medan perang."
"Benar," jawab Arina singkat. "Jika luka tidak segera dibersihkan, infeksi sering kali lebih mematikan daripada pedang itu sendiri."
Lady Zosma yang sejak tadi berusaha mencari cela akhirnya terdiam. Ia memandangi botol kecil berisi Hemara dengan wajah iri yang sulit disembunyikan.
Tak seorang pun menyangka bahwa lady yang selama ini dikenal pendiam dan nyaris tak pernah terlihat di lingkungan bangsawan ternyata mampu meracik obat dengan keterampilan setingkat tabib kerajaan.
Sejak saat itu, tatapan para lady kepada Arina tidak lagi dipenuhi tatapan meremehkan.
...***...
...Like, komen dan vote ...