"Zahra hanya ingin menikah jika dengan kak Rafif, Abi" ucap Zahra yang membuat semua orang di ruangan itu terkejut mendengarnya
Zahra adalah anak tunggal dari pasangan Abi Ahmad dan Umi Khadijah. Kedua orangtuanya sepakat untuk menjodohkan putri satu-satunya itu dengan anak sulung sahabatnya. Tapi siapa sangka, pada akhirnya Zahra menikah dengan Rafif anak kedua dari sahabat Abinya.
Mereka menikah setelah seminggu menjalani proses ta'aruf yang batal di lakukan oleh Zahra dan anak sulung dari sahabat Abinya. Zahra memilih jalan itu untuk membantu Daffa, orang yang seharusnya di nikahkan dengannya karena Daffa saat itu juga memiliki masalah lain yang tidak memungkinkan dirinya untuk menikah dengan Zahra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Kita
"Sudah selesai" ucap Zahra setelah selesai mengemas barang-barangnya
"Yakin tidak ada yang tertinggal?" tanya Rafif memperhatikan dua koper besar dan satu koper kecil milik istrinya
"Iya kak, semuanya sudah ku kemas" jawab Zahra malas-malasan
"Ya sudah, kau bisa turun menungguku di bawah. Akan ku bawakan kopermu ke mobil dulu" perintah Rafif yang membuat Zahra mengangguk mengiyakan
"Baiklah" Zahra beranjak turun dari kamarnya menemui Abi dan Uminya yang sedang menunggunya di ruang keluarga mereka
Rafif mulai membawakan koper Zahra satu persatu ke mobil. Tidak membutuhkan waktu yang lama, lelaki itu sudah selesai mengerjakan tugasnya dan langsung menghampiri istri dan mertuanya yang kini berpindah tempat menunggunya di sofa luar rumah
"Abi, Umi. Saya pamit membawa anak Abi dan Umi" ucap Rafif sekali lagi meminta izin pada kedua orangtua Zahra
"Hati-hati di jalan nak, tolong jaga putri Abi yah" pesan Abi memegang bahu Rafif
"Kalian sering-seringlah berkunjung kemari, jangan lupa berikan cucu yang lucu untuk Abi dan Umi" kata Umi yang membuat mata Zahra membulat merasa aneh dengan permintaan Uminya
"Umi.. " tegur Zahra
"Insya Allah Umi" jawab Rafif tersenyum membuat Zahra makin merasa aneh dengan pembicaraan mereka
"Kak Rafif.. " tegur Zahra pada Rafif
"Kalau begitu kami pamit Abi, Umi" ucap Rafif sembari mencium tangan kedua orangtua Zahra yang sudah menjadi mertuanya "Ayo Zahra" ajaknya pada Zahra ketika selesai
"Abi, Umi. Zahra pamit dulu, jaga kesehatan Abi dan Umi yah" Zahra mulai memeluk Abi dan Uminya satu persatu sembari berusaha menahan air matanya karena takut jika Uminya terbawa suasana dan mulai menangis bersamanya. Zahra lalu mencium tangan kedua orangtuanya dan segera berlalu pergi dari sana setelahnya
***
Di tempat lain, Daffa terlihat begitu gelisah di kamarnya. Ia terlihat mondar mandir kesana kemari memikirkan keputuaannya untuk memberitahu Mamanya tentang apa yang sudah ia perbuat. Sebelumnya, Daffa memutuskan untuk mengakui hubungannya dengan Zeline yang kini sudah menghasilkan benih di dalam rahim Zeline. Tapi Daffa masih ragu apakah keputusan yang di ambilnya akan membuat Mamanya luluh atau tidak
Dengan hati yang masih dilema dengan kebimbangan, Daffa beranjak keluar dari kamarnya dan menemui Mamanya yang sedang menyiapkan makan siang di dapur. Daffa dengan ragu mendekati Mamanya yang kini sedang sibuk menata makanan di atas meja makan dengan bantuan pelayan rumahnya
"Mama" paggilnya yang membuat Mamanya menoleh ke arahnya
"Ada apa sayang?" tanya Mamanya dengan seulas senyum untuk anak sulungnya itu
"Daffa ingin membicarakan sesuatu dengan Mama, apa boleh?"
"Tentu saja, bicaralah nak" kata Mamanya mempersilahkan
"Apa bisa bicara di ruang keluarga saja Ma, tidak enak jika di dengar pelayan" pinta Daffa memperhatikan kedua pelayan yang membantu Mamanya menyiapkan makan siang
"Ya sudah, ayo" Mamanya berjalan mendahului Daffa yang kini menyusulnya
"Kau ingin bicara apa?" tanya Mamanya saat mereka sudah berada di ruang keluarga dan duduk saling berhadapan di atas sofa
"Begini Ma, hmm.. Daffa, ingin menikah Ma" ucap Daffa dengan ragu langsung pada intinya
"Menikah? dengan siapa?" tanya Mamanya terkejut, baru saja ia melepas Zahra untuk dinikahi oleh adiknya, lalu bagaimana ia bisa mendapatkan seorang calon istri dengan begitu cepat. Pikir Mamanya
"De-dengan Zeline Ma" jawab Rafif terbata
"Zeline? Zeline yang waktu itu kau kenalkan dengan Mama?" Daffa menjadi lebih takut dari sebelumnya karena melihat Mamanya sudah mulai tersulut emosi
"I-iya Ma, Daffa tidak bisa melepaskan Zeline, Daffa sangat mencintainya Ma. Dia gadis yang baik" ucapnya terlihat memelas berharap Mamanya bisa memberikan restunya
"Apa alasan mu tidak bisa melepas Zeline, Daffa?" suara Mamanya terdengar sedikit melunak membuat Daffa bingung tetapi sedikit tenang untuk mengungkapkan kehamilan Zeline
"Mama akan segera mendapat cucu, Zeline mengandung anakku Ma" mata Mamanya membulat penuh saat mendengar pernyataan dari anaknya itu
"Apa?" Mamanya terlihat begitu terkejut tak mempercayai apa yang di katakan oleh anak sulungnya saat ini
"Ma, biarkan Daffa mempertanggung jawabkan perbuatan Daffa. Kasihan Zeline Ma" pinta Daffa menatap Mamanya dengan wajah yang sangat putus asa
"Kau yakin bayi yang ada di dalam kandungan Zeline anakmu?" tanyanya masih tidak mempercayai anaknya bisa melakukan hal sampai sejauh itu
"Iya Ma, Daffa yakin" jawab Daffa dengan sangat yakin
"Biar Mama pikirkan dulu" putus Mamanya kemudian berusaha menenangkan dirinya
"Untuk apa memikirkannya lagi Ma, Daffa sudah sangat dewasa. Awalnya Daffa berniat pergi tanpa memberitahu Mama, tapi Daffa tidak akan setega itu pada keluarga Daffa. Daffa hanya meminta Mama merestui kami, itu saja Ma" seru Daffa saat Mamanya memilih untuk memikirkan keputusannya memberi restu padanya, ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk menikahi Zeline
"Kenapa kau selalu saja membuat masalah Daffa? kenapa kau tidak bisa menjadi seperti adikmu sedikit saja? pantas saja Zahra lebih memilih Rafif di bandingkan dirimu" akhirnya kemarahan Mamanya keluar saat dirinya berbicara dengan keras pada orangtuanya tersebut
"Selalu saja membandingkan Daffa dan Rafif" ucap Daffa merasa kesal karena terlalu sering di bandingkan dengan adiknyan itu
"Karena kau memang tidak bisa bersikap lebih baik seperti adikmu, Daffa"
"Terserah Mama saja, dengan atau tanpa restu Mama Daffa akan tetap menikahi Zeline dan membesarkan anak kami Ma. Permisi"
Daffa meninggalkan ruangan itu dengan perasaan kesal karena setiap kali berbuat kesalahan pasti ia akan di bandingkan oleh adiknya, awalnya Daffa ingin meyakinkan Mamanya dengan baik, tetapi rasanya tidak mungkin setelah mendengar ucapan Mamanya yang mengatakan ia tidak lebih baik dari adiknya
***
Rafif menghentikan mobilnya di halaman rumah miliknya. Zahra memperhatikan tampak depan rumah Rafif yang begitu besar menurutnya dan juga terkesan mewah untuk di tinggali sendiri saja oleh suaminya itu
"Ini rumah mu kak?" tanya Zahra sembari melepas safety belt nya
"Iya, turunlah" perintah Rafif yang turun terlebih dahulu dan segera di susul oleh Zahra
"Kau tinggal sendiri di rumah sebesar ini kak?"
"Berdua dengan satpam di rumah ini"
"Wah rumah mu bagus sekali kak" puji Zahra ketika turun dari mobil dan melihat tampak depan rumah itu secara keseluruhan
"Rumah kita, sekarang ini juga rumahmu. Ayo masuk" ucap Rafif membuat Zahra tersenyum kecil mendengar Rafif menyebut "rumah kita"
Mereka melangkah beriringan memasuki rumah Rafif yang kini juga sudah menjadi rumah Zahra. Mata Zahra di suguhi pemandangan yang sangat menenangkan ketika memasuki rumah suaminya itu. Tatanan rumah Rafif sangatlah bagus dan teratur, rumahnya di dominasi dengan warna putih dan di tambah dengan taman mini di dalam rumah yang menambah kesan asri rumah ini sehingga sangat tenang dan nyaman untuk di tinggali
"Rumah ini bagus sekali kak, aku sangat menyukai suasana asrinya. Sangat nyaman" puji Zahra sekali lagi saat memasuki rumah itu
"Aku senang kau nyaman disini" kata Rafif tersenyum dan memegang kepala Zahra
"Ohiya, dimana kamarku?" tanya Zahra penasaran dengan kamar tidur yang akan di tempatinya
"Ikut aku" ajak Rafif yang mendahului Zahra
Rafif membawa Zahra menuju ke kamar utama yang merupakan kamarnya yang berada di lantai dua rumah tersebut, ia membukakan pintu kamar untuk Zahra ketika sudah sampai di sana. Zahra segera masuk ke kamar tersebut, namun dirinya merasa terkejut saat mengetahui kamar itu milik Rafif
"Kak Rafif, ini kan kamarmu" protes Zahra merasa terkejut karena Rafif malah membawanya ke kamarnya
"Yah memang kamarku, apa ada masalah?" tanya Rafif bingung dengan istrinya itu
"Aku bilang kamarku di mana? aku menanyakan kamarku bukan kamarmu"
"Kau akan tidur di kamar ini bersamaku" ucap Rafif dengan santainya membuat mata Zahra membulat penuh merasa terkejut dengan pernyataan Rafif yang merupakan hal wajar untuk suami istri, tapi karena belum terbiasa dengan itu membuat Zahra menjadi tidak nyaman