JANGAN DI BACA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khinanti Nomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
☘️ *Api kecil bisa menjadi kawan, Tapi kalau api besar bisa menjadi lawan.* 🔥
🍂🍂🍂
Flashback on
Seorang wanita paruhbaya yang masih terlihat cantik dan menawan, keluar dari pusat perbelanjaan departement store. Dia yang memang menyetir sendiri dan tidak mau menggunakan sopir, menuju mobil di parkiran dan melajukan mobil menyusuri jalan saat lampu merah dan mobil berhenti.
Wanita itu melihat atau seseorang yang sedang berjalan di penyebrangan jalan, Dan wanita itu pun mengingat-ingat dimana ia pernah melihatnya, "Siapa dia? kenapa aku merasa tidak asing dengan wajahnya." gumam wanita itu. Seketika wanita itu mengingat 15 tahun yang lalu.
Memutar ingatan akan lima belas tahun yang lalu, Wanita itu Meiying. Dan ketika lampu lalulintas berwarna hijau, Meiying menekan gas dan mengarahkan kemudi kearah orang yang lewat di penyebrangan jalan.
Mengikuti kemana orang itu pergi dan tibalah di sebuah pemukiman padat penduduk, Mobil yang ia kemudi tidak bisa masuk kejalan yang orang itu lalui.
Meiying pun turun dari mobil, Dan meninggalkan mobilnya di pinggiran jalan yang cukup lebar.
Orang itu terus saja berjalan menyusuri gang sempit, Dan tiba di sebuah rumah petak yang cukup sempit. Orang itu pun masuk kedalam rumah itu.
Meiying terus mengamati Orang itu, hingga orang itu menghilang di balik pintu. Meiying hendak keluar dari tempat persembunyianya. Berniat menghampiri rumah itu.
Belum sempat kakinya belangkah, Meiying kembali bersembunyi. Ada yang mengetuk rumah orang itu. Tak lama pemiliknya pun keluar dan terkejut melihat siapa orang yang datang kerumahnya.
Seketika orang itu hendak menutup pintu kembali, tetapi tangan orang misterius itu menahan dan kembali membuka pintu secara paksa.
"M..mau apa Kau datang kemari? aku sudah tidak ada hubungan apa pun denganmu." tanya orang itu bergetar.
Orang misterius itu yang tadinya memakai masker dan topi untuk menutupi wajahnya membuka masker.
"Hah.." Meiying terkejut dengan siapa orang misterius itu. "Gwang Xi." gumam Meiying menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Pergilah dari sini sejauh mungkin," gertak Gwang Xi dengan nada mengancam.
"Aku su..sudah mengikuti semua yang kau inginkan, tapi aku akan pergi kemana lagi, ini adalah ru..rumahku." tanya orang itu bergetar.
"Terserah, Atau bila perlu Kau mati, Meiying sudah mulai curiga. Aku tidak ingin Dia menemukanmu, dan dia tahu yang sebenarnya, kalau aku yang telah menjebak Erwin dengan menyuruhmu untuk berpura-pura telah tidur dengannya." ucapan Gwang Xi. membuat Meiying syok.
"Ya Tuhan apa yang sudah aku perbuat selama ini, Aku sudah jahat dengan suami dan anakku. Aku justru seperti Api yang membakar keluarga ku." batin Meiying, merasa bersalah kepada Dimas dan suaminya.
"Ta..tapi itu sudah lima belas tahun yang lalu, dan tidak mungkin Meiying, mengingatnya."
"Sudahlah aku tidak mau mendengar penjelasanmu pergilah dan tinggalkan negara ini." ucap Gwangxi memaksa.
Setelah mengancam Gwangxi akhirnya pun pergi, Meiying keluar dari tempat persembunyiannya dan hendak menghampiri orang itu yang telah menjebak suaminya.
Sebelum orang itu benar-benar menutup pintu, Meiying menahan pintu itu. Sontak membuat orang itu kembali membuka pintu kembali.
Belum hilang rasa keterkejutannya, orang itu
lebih terkejut dengan siapa yang datang dan berdiri di ambang pintu.
"M..Meiying?" suara orang itu gagap
"Iya, ini aku Meiying. Kenapa kau nampak kaget, bukankah kau dulu yang menjebak suamiku." Jawab Meiying menetralisir suara yang bercampur kemarahan.
"Aku ti.. tidak mengerti yang Kau bi.. bicarakan?" suara yang lirih dan tidak berani manatap mata tajam Meiying.
Meiying mendorong orang itu, membuka pintu lebar-lebar dan berjalan masuk sambil menutup pintu itu kembali.
"Jelaskan apa yang terjadi lima belas tahun lalu?" Meiying mencengkram pundak orang itu kuat, hingga orang itu merasa kesakitan.
"Erwin yang menggodaku?"
"Bohong! aku tahu siapa orang yang telah menyuruh mu. Kalau aku mau aku bisa membuang mu kelautan dan menenggelakanmu hidup-hidup."
Orang itu adalah seorang wanita bermarga Li. Li Mei, masih tetap diam dan tak bergeming dengan ucapan Meiying. Membuat Meiying geram dan Meiying pun kembali bersuara dengan sebuah ancaman untuk membuka rahasia antara Li Mei, Gwangxi dan Suaminya Erwin.
"Baiklah, Kalau kau masih tidak mau mengakuinya. Aku akan mencari keberadaan anak gadismu dan akan menjualnya untuk di jadikan santapan Pria hidung belang." Meiying dengan nada lebih mengancam.
"Kau tahu kan koneksi yang kupunya. Aku juga tau Kau telah menyembunyikannya dan menghapus indentitasnya sebagai anakmu." ancam Meiying yang telah membuat tubuh wanita itu lemas dan beringsuk ke lantai.
"Ampun Meiying ampun, Aku hanya menjalankan perintah, Aku butuh uang untuk melunasi hutang-hutang ku kepada rentenir. Kalau tidak rentenir itu akan mengambil anak gadisku dan menjualnya sebagai ganti hutangku." ujar Li Mei menagis terisak. membayangkan akan anak gadisnya dan nasib dirinya. Yang selau berada di tengah-tengah orang-orang yang mengancam keselamatan mereka.
"Pergilah ke tempat di alamat ini dan jangan pernah keluar ataupun pergi tanpa seizinku. Mengerti,! kalau tidak aku akan menyeret anakmu." ucap Meiying sembari memberikan secarik kertas berisikan alamat. wanita itu masih termangu dan terdiam entah apa lagi yang akan terjadi dalam hidupnya.
Meiying pun keluar dan kembali ke arah mobilnya. Menancap gas dan memutar arah ke jalanan yang lengang.
Mei Ying pun pulang dalam keadaan marah dan sangat terluka sekaligus menangis mengingat perlakuan dirinya kepada suami dan anaknya. Bisa-bisanya Meiying terjatuh dalam permainan yang dilakukan Gwangxi.
Meiying masuk ke dalam rumah dan melihat putranya sedang duduk di taman belakang memandangi kolam ikan yang berisikan ikan ikan koi.
Meiying pun menghampiri Dimas dan duduk di sebelahnya. Memandangi lekat-lekat wajah dan memeluknya. Dimas yang kaget akan perlakuan Mamanya yang secara tiba-tiba pun bingung.
"Ada apa Ma?" tanya Dimas
"Mama minta maaf Dimas Mama minta maaf."hanya kata itu yang keluar dari mulut mamanya.
"Dimas tidak mengerti, kalau Mama hanya mengatakan itu?"
"Mama bersalah padamu dan Mama juga bersalah pada almarhum Papamu." Jawab Meiying.
"Mama tidak akan memaksa mu menikah dengan viola menikahlah dengan gadis yang kau cintai." sambung Mama lagi, Dimas masih diam tidak berkata apa-apa mendengar penjelasan dari Mamanya padahal Ia sudah mengetahui, akan tetapi Dimas pura-pura tidak terjadi apapun.
Dimas ingin Mamanya menyadari kesalahannya sendiri dan inilah waktunya.
Flashback off
Kesokan harinya Meiying mendatangi rumah Gwangxi. Meiying melihat Xian Guo di ruang tamu sedang mondar-mandir gelisah.
Meiying lebih terkejut lagi atas pengakuan Anak kandungnya dari mantan kekasihnya Gwangxi.
Sebelum Meiying bertemu dan menikah dengan Erwin. Meiying sempat menjalin kasih dengan Gwangxi dan melakukan hubungan terlarang hingga akhirnya Meiying hamil. Dan mengandung Xian Guo. Tapi Gwangxi malah meninggalkannya dengan pergi kenegara lain.
Setelah satu bulan Meiying melahirkan anak Gwangxi, Meiying merasa tidak mau mengurus anak dari lelaki yang telah meninggalkanya.
Meiying pun akhirnya memutuskan untuk meletakkan Xian Guo di depan pintu di kediaman orangtua Gwangxi.
"Jagalah anak dari perbuatan Anak kalian." begitu tulisan di atas kertas yang Meiying letakkan di atas tubuh Xian Guo.
Empat bulan kemudian Meiying pun berlibur ke Indonesia dengan teman-temannya nya yang berjumlah 5 orang wanita. Untuk bisa melupakan Gwangxi
Tujuan mereka ke Candi Borobudur di Magelang.
🍂
🍂
ikuti terus kisah selanjutnya ya jangan lupa dukungannya. semoga ceritaku tidak membosankan ya teman-teman.
#
makasih ya udah singgah dan baca novel ku serta memberikan dukungan berupa Vote, like dan komentar.
#
salam dariku manis ☺️
salam kenal🙏
walaupun jarang coend🤭
padahal aku di daerah BOROBUDUR😌
no cimend🤐🤐🤐😐😐