Ratih seorang wanita yang berpendidikan cukup tinggi, D3 Broadcasting, sempat bekerja di sebuah Production House, tapi karena menikah dia memilih resign dan menjadi ibu rumah tangga biasa. Namun kehidupan pernikahan yang dibayangkannya akan bahagia, ternyata penuh luka. Ratih memilih berpisah dari lelaki yang telah memberinya seorang putra.
Ratih tetap melanjutkan hidupnya meskipun dibayangi luka pernikahan, hingga dia bertemu seorang lelaki yang tulus mencintainya dan menjadi suami kedua bagi Ratih. Kehidupan pernikahan keduanya memang tidak lah mulus, namun mereka mampu membuktikan ketulusan cinta dan saling menyembuhkan luka satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kadariah Burhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Babak Baru Cintaku
Vino mengidap Acute lymphocytic leukemia (ALL), menurut dokter yang merawat Vino, merupakan leukemia yang harapan hidup untuk tipe ini adalah 68,2 persen, dengan perawatan cukup panjang sekitar 5tahun.
Aku tak mampu membayangkan penderitaan seperti apa yang bakalan di lalui Putraku. Rasa teriris menyerang jantungku.
Namun ketika Pandu membawaku kepada dokter spesialis kanker yang menangani anak, dokter yang cukup terkenal di sebuah Rumah Sakit ternama, dokter itu mengatakan tingkat kesembuhan pada ALL sudah baik. Sekitar 70-80 persen namanya remisi. Dalam artian dia bisa sembuh dan kembali normal,
Namun kalau sampai Vino mengalami kambuh leukimia setelah semua kemoterapi, jalan satu-satunya barulah transplantasi sum-sum tulang.
Sedikit banyak aku mulai memiliki harapan.
"Kita berjuang sama-sama ya sayang, jangan putus asa karena harapan itu masih ada. Aku akan berikan pengobatan terbaik buat Vino. Kamu jangan khawatir. Aku ngga ingin air matamu terus tumpah karena kesedihan."
Pandu memelukku erat, menepuk punggungku lembut. ku pernah merasakan cinta pada Mas Prabu, sebelum dia menjadi lelaki seperti sekarang, namun cinta yang kini kudapatkan dari Pandu, adalah cinta yang lebih dari indah. Cinta yang lebih banyak menerima kekuranganku. Membuatku memandang dunia dari sisi berbeda.
***"*"***********************
Mas Prabu datang ke Rumah Sakit. Saat Vino terlelap. Aku melihat wajah yang tak bersahabat saat menatap Pandu.
"Kehadiranmu membuat moodku hancur. Tinggalkan ruangan ini, aku dan Ratih orang tua kandung Vino. Kamu ngga punya hubungan apa-apa."
Pandu menggenggam tanganku ketika aku hendak membalas ucapan Mas Prabu.
"Jangan dibalas sayang, kasian Vino, nanti terbangun." bisik Pandu di telingaku.
Pandu berjalan keluar kamar dan duduk di bangku tunggu di depan ruang rawat.
Mbak Lisna dan mantan ibu mertuaku datang.
Mantan Ibu mertuaku mengatakan aku ibu yang gagal dan tidak mampu merawat Vino dengan baik. Berbagai kritik dan hinaan dikeluarkannya untuk membuatku merasa bersalah. Aku hanya diam karena khawatir Vino terbangun.
Beberapa saat kemudian, dokter masuk.
Ketika mendengar keterangan dokter tentang serangkaian pengobatan Vino dan kemoterapi nya, Ibunya Mas Prabu semakin kesal.
Beliau mengatakan agar aku jangan mengganggu mas Prabu dengan meminta-minta uang dengan alasan mengobati Vino.
Tapi sepertinya Mas Prabu tidak sependapat. Dia bilang Vino darah dagingnya. Tak mungkin dia mengabaikan pengobatannya. Aku hanya jengah melihat keduanya, berdebat di depan Vino yang baru saja terlelap karena kelelahan luar biasa setelah melalui kemotherapy.
Aku benar-benar merasa muak melihat tingkah orang-orang berpendidikan namun bertingkah sangat bar-bar ini, dan benar Vino terbangun, dan yang pertama dicarinya adalah Papa.
Mas Prabu heran dan mengatakan biasanya Vino panggil ayah kenapa sekarang panggil Papa?
Vino menggeleng lemah saat Mas Prabu memegang tangannya. Aku sangat sedih sampai seorang balita tak menyukai ayah kandungnya sendiri.
"Papa, Vino mau Papa." Vino menangis lemah.
Dia terus memanggil Papa, namun Mas Prabu tetap memeluknya. Hingga Vino mengucapkan dengan lantang
"Vino mau Papa Pandu." Dia terisak. Dan dengan geram Mas Prabu menatapku tajam, begitu pun Ibu Mas Prabu, hanya Mbak Lisna yang tampak memahami situasi. Dia segera menyuruh Mas Prabu melepaskan Vino, dan Mbak Lisna memanggil Pandu.
Pandu masuk ke kamar rawat Vino dan mendekat ke tempat tidurnya. Vino memeluk Pandu erat.
"Papa di sini dengan Vino ya Pa, Vino ngga mau Papa jauh."
Pandu memeluk Vino dan menciuminya, menenangkan Vino dengan senandung lembut, hingga Vino kembali tenang.
Ku lihat Mbak Lisna menitikkan air mata. Di seretnya Mas Prabu keluar dari ruangan.
Sedang mantan Ibu mertuaku menarik tanganku ikut keluar.
Beliau menuduhku meracuni pikiran Vino. Lagi-lagi mereka ribut tak terkendali
"Bu tanya Mas Prabu kenapa anaknya bisa ngga menyukai dia, bocah seumur itu pasti pernah trauma dengan tingkah orang dewasa." Mbak Lisna memintaku menjelaskan apa maksud kara-kataku.
Bagaimana tingkah mas Prabu saat dulu mengasuh Vino.
Aku terpaksa mengatakan yang sebenarnya, bahwa Mas Prabu sering berteriak padaku untuk menjauhkan Vino darinya saat Vino ingin digendong. Dan itu terjadi bukan sekali, tapi berkali-kali. Membentak dengan kasar hingga Vino gemetar saat Vino menyentuh gawainya, atau berteriak kasar padaku saat di depan Vino. Dia selalu merasa terganggu dengan kehadiran putranya sendiri
Mbak Lisna menatap Prabu sangat tajam.
"Prabu harus sadar, introspeksi dirimu, kamulah sesungguhnya ayah yang gagal, mungkin kamu sukses menjadi putra Ibu, tapi kamu suami yang gagal dengan dua perkawinanmu, gagal mencintai putramu. Salahkan dirimu sendiri,saat kamu kehilangan cinta putramu. Jangan salahkan Ratih!"
Ibunya Mas Prabu hendak protes tapi Mbak Lisna terlihat sangat marah. Mas Prabu meremas rambut di kepalanya.
Mbak Lisna membawa mereka pulang.
"Sadar ngga sih Bu, kalian berdebat di depan Vino yang sedang lelap tertidur karena habis dikemo? Sadar ngga kalau kalian itu salah."
Suara Mbak Lisna masih terdengar. Aku bersyukur masih ada yang baik di keluarga itu.
Aku kembali ke kamar Vino. Dan ku lihat dia terlelap dalam gendongan Pandu. Kepalanya terkulai di bahu Pandu.
Ya Allah, haruskah aku menikahi lelaki ini. Besok lusa Vino pulang dan berobat jalan, tidak mungkin Pandu berada di rumahku setiap hari tanpa ikatan pernikahan.
Setelah meletakkan Vino di ranjangnya dan mengembalikan infus ke tiang gantungannya, Pandu duduk di sofa dan menepuk tempat di sampingnya.
Aku duduk dan Pandu merapatkan dirinya padaku.
"Tih, aku mencintaimu, mencintai Vino, dan hari ini aku merasa sudah saatnya kita menikah, aku ingin ikut merawat Vino, kita bisa bahu membahu saling meringankan beban. Aku ngga ingin kamu sendirian, Ibu juga tidak sehat Tih, dan saat Vino mencariku ..."
Pandu belum selesai berbicara, aku mengangguk. Ku tatap matanya sedalam-dalamnya.
"Aku mau Pandu. Aku bersedia."
Pandu menatapku seakan tak percaya.
Pandu memelukku erat. Tanpa kusadari kutangkup wajah tampannya, kukecup bibirnya sekilas. Dadaku berdegup kencang. Pandu membalas ciumanku dengan penuh cinta. Lama tautan bibir itu tak terurai, ketika suara Vino mengigau menyentakkan kami dari ciuman panjang.
Pandu menyentuh bibirku dengan jemarinya.
"Tunggu Ratih, saat kita telah halal, aku akan menciummu lebih lama lagi."
Aku meletakkan kepala di bahunya dan kami tertidur sambil menautkan jemari, sementara Vino masih terlelap di ranjangnya. Agak malam kulihat Pandu berpindah duduk di kursi di samping tempat tidur Vino.
Aku menatapnya dari sofa dan hatiku terasa hangat.
Luka pernikahan yang kurasakan bersama Mas Prabu semoga terkikis oleh pernikahanku dengan Pandu.
Pagi sekali ketika Ibu dan Tante Neneng datang, Pandu sedang menggendong Vino. Mengantarnya pipis.. sedari malam Pandu kurang tidur. Dia terus memintaku istirahat saat Vino terbangun. Aku meneteskan air mata haru.
Kami mandi bergantian di Rumah Sakit, dan berganti pakaian dengan pakaian yang sudah disiapkan di mobil. Setelah semua selesai, seperti kemarin, aku yang menyetir mobil dan Pandu terlelap di kursi penumpang. Hingga tiba di parkiran CNTV.
Ku telusuri hidung dan bibirnya dengan telunjukku sembari membangunkannya perlahan.
Pandu menangkap tanganku dan menarikku ke dekatnya. Wajah kami saling mendekat. Pandu hendak menciumku ketika gawainya berbunyi.
"Ya Pa, besok Pandu ajak Ratih ketemu Papa."
Pandu menatapku lembut.
"Sayang, esok kita ketemu Papa, tapi kamu harus tegar, Papa ngga seperti Ibu. Dia orang yang sedikit kasar dan tidak mudah menyukai orang."
Aku mengangguk pelan.
Pandu menangkup wajahku.
"Percaya sama aku ya Ratih, jangan lepaskan tanganku apa pun yang akan Papaku katakan.
Ku mohon Ratih."
Aku menatap mata Pandu dengan lembut.
"Aku akan tegar di sisimu, asal kamu yang tetap tak berpaling dan mengkhianatiku Pandu."
Kami saling meyakinkan. Pandu mencium bibirku sekilas.
"I love you Ratih."
Aku mengangguk dan membalasnya. Perut kami berbunyi. Pandu tertawa. Dan kami berdua melangkah ke kantin. Waktu masih lumayan lama sebelum jam kerja kami.
Pandu menggenggam jemariku tak mau melepaskan.
Tak perduli dengan tatapan beberapa gadis yang menatap cemburu.
Kami bertemu dengan Mitha, dan dia menghampiri kami berdua.
"Mas, ngga malu kamu terus-terusan menunjukkan kemesraan di muka umum? ngga menyadari posisimu di CNTV?"
Pandu tersenyum.
"ngga perlu perdulikan kami Mitha, kami sebentar lagi akan menikah."
Mitha tertegun. Wajahnya seketika pias.
"Kamu ngga perduli perasaanku Mas, dan lagi apa Om Waskito tahu status Ratih?"
Pandu menarik tanganku ke meja dan memesan menu untuk kami berdua. Mitha menatapku sangat kesal.
Bersambung
akhirnya mereka hidup bahagia semuanya..