Setelah rencana Mugen Tsukuyomi hancur, Madara Uchiha menemui ajalnya di Perang Dunia Ninja Keempat. Namun, bukannya pergi ke alam baka, ia justru terbangun di pesisir Grand Line yang ganas dalam wujud remajanya yang berusia 16 tahun. Kehilangan ambisi lamanya, sang "Hantu Uchiha" kini hanya ingin hidup bebas dan terlepas dari pertumpahan darah yang tak berarti.
Berbekal sebuah Sistem misterius yang memulihkan kekuatan dewanya secara bertahap, Madara memulai perjalanan barunya. Ironisnya, sikap Madara yang arogan, dingin, dan selalu menolak membunuh musuh lemah malah memicu rentetan kesalahpahaman yang konyol. Dunia dan para pengikutnya—mulai dari Nico Robin, Boa Hancock, hingga Enel—menyanjungnya sebagai sosok penyelamat agung sekaligus penguasa mutlak yang tak tertandingi.
Bersama Bajak Laut "Mugen", eksistensi Madara perlahan meruntuhkan alur takdir lautan. Mulai dari mempermalukan Angkatan Laut, membelah langit melawan Yonko, hingga diakui sebagai "Kaisar Kelima".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Musuh Terbesar Sang Hantu: Mabuk Laut
Kapal kayu usang itu membelah ombak West Blue. Suara derit lambung kapal beradu dengan hembusan angin laut yang cukup kencang. Layar putih yang sebelumnya terkoyak telah ditambal seadanya oleh para kru bajak laut.
Mereka bekerja dalam diam. Tidak ada lagi tawa kasar atau teriakan penuh semangat.
Setiap gerakan para pria babak belur itu terukur dan dipenuhi kehati-hatian. Mata mereka sesekali melirik ke arah ujung haluan kapal. Di sanalah sang penguasa baru berdiri.
Madara berdiri di ujung paling depan geladak kapal.
Dia berdiri tegak, tak bergeming meski kapal bergoyang mengikuti ritme ombak. Kedua lengannya bersilang kokoh di depan dada. Pelindung dada merahnya seolah menyatu dengan cahaya matahari sore yang mulai meredup. Rambut hitam panjangnya berkibar tertiup angin laut. Matanya tertutup rapat.
Dari luar, postur tubuhnya memancarkan dominasi yang absolut.
Udara di sekitar ujung haluan itu terasa sangat padat. Seolah ada gravitasi tak kasatmata yang menekan setiap jengkal ruang di sekitar Madara. Burung-burung laut yang biasanya bertengger di ujung tiang layar, kini terbang menghindar dalam radius beberapa ratus meter.
Langit di atas Madara sedikit bergemuruh. Awan tipis berkumpul, bereaksi terhadap aura gelap yang memancar dari tubuh pemuda itu.
Aura itu adalah Haoshoku Haki. Haki Penakluk yang meledak keluar karena insting bertahannya sedang bereaksi keras.
Namun, tidak ada satu pun orang di kapal itu yang menyadari alasan sebenarnya di balik fenomena mengerikan ini.
Di bagian tengah geladak, mantan kapten gemuk yang kini kakinya dibalut perban kain kotor sedang menggosok lantai kayu menggunakan sikat kasar. Dia sesekali menengadah, menatap punggung Madara dengan penuh kekaguman.
“Kalian merasakan tekanan itu?” bisik mantan kapten itu kepada anak buahnya yang sedang menggulung tali tambang.
Pria bermata satu yang berada di dekatnya mengangguk cepat. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.
“Tentu saja, Bos,” balas pria bermata satu itu. “Napas saya terasa berat hanya dengan melihat punggungnya. Tuan Madara... beliau benar-benar monster.”
“Jangan panggil dia monster,” tegur mantan kapten itu dengan nada memuja. “Dia adalah Raja. Lihatlah bagaimana dia berdiri di haluan itu. Matanya tertutup, tapi aura yang dikeluarkannya bisa membunuh kita kapan saja.”
Seorang bajak laut lain yang sedang mengepel lantai ikut mengangguk setuju.
“Benar. Lihat langit di atasnya. Bahkan awan pun bereaksi pada kehadirannya. Apa yang sedang beliau lakukan di sana?”
Mantan kapten itu menyipitkan mata. Dia memperhatikan sosok Madara yang diam mematung di ujung kapal yang terus-menerus dihantam ombak.
“Beliau sedang bermeditasi,” ucap mantan kapten itu dengan nada sok tahu. “Tuan Madara sedang beradu niat dengan lautan itu sendiri! Udara sampai terasa berat karena beliau mencoba menaklukkan ombak West Blue hanya dengan kekuatan pikirannya!”
Para anak buahnya terkesiap takjub.
“Menaklukkan lautan dengan pikiran? Benar-benar luar biasa! Kita benar-benar beruntung tidak dibunuh olehnya!”
“Bekerjalah lebih keras! Jangan sampai Tuan terganggu oleh suara bodoh kalian!”
Mereka kembali bekerja dengan gerakan yang sangat hati-hati. Sapuan sikat pada kayu geladak dilakukan sepelan mungkin. Suara langkah kaki diatur agar tidak menimbulkan bunyi berdecit.
Mereka tidak tahu bahwa interpretasi heroik mereka sangat jauh dari kenyataan.
Di ujung haluan, Uchiha Madara memang sedang bertarung dengan kekuatan alam. Namun, bukan dengan cara yang elegan atau puitis seperti yang dibayangkan para kru.
Madara sedang bertarung melawan rasa mual yang luar biasa.
Matanya terpejam rapat bukan untuk bermeditasi, melainkan karena setiap kali dia membuka mata dan melihat cakrawala yang bergoyang naik turun, isi perutnya terasa ingin berontak keluar.
Kedua tangannya disilangkan erat di depan dada bukan untuk menunjukkan keangkuhan, melainkan untuk menekan ulu hatinya yang terasa sangat tidak nyaman.
Aura Haki Penakluk yang menyebar di sekitarnya bukan hasil dari latihan mental tingkat tinggi. Haki itu bocor secara tidak sadar karena insting tubuhnya mencoba menstabilkan diri dari guncangan lautan. Tubuh Madara secara otomatis melepaskan tekanan energi untuk menciptakan semacam medan gaya pertahanan di sekitarnya.
'Sialan,' batin Madara. Rahangnya terkatup rapat.
Dia telah menghadapi ribuan musuh di medan perang. Dia telah melawan Hashirama selama berhari-hari tanpa henti. Dia telah menahan serangan Bijuu dengan tangan kosong. Dia pernah tertusuk pedang, terbakar Katon, dan dihantam oleh elemen kayu raksasa.
Semua luka fisik itu bisa dia tanggung dengan mudah.
Tetapi goyangan konstan dari kapal kayu jelek ini adalah jenis penyiksaan baru yang belum pernah dia alami.
Sebagai seorang shinobi yang lahir dan dibesarkan di daratan padat, Madara tidak memiliki pengalaman berlayar di laut lepas. Menyeberangi sungai atau danau menggunakan chakra adalah hal biasa. Namun, berdiri di atas papan kayu kecil yang terombang-ambing di atas lautan selama berjam-jam adalah konsep yang sangat berbeda.
Perutnya seolah diputar-putar. Rasa asam naik ke tenggorokannya.
'Aku adalah Uchiha Madara,' ucapnya dalam hati, mencoba mensugesti dirinya sendiri. 'Tidak ada yang bisa menjatuhkanku. Apalagi genangan air asin sialan ini.'
Dia menarik napas panjang dan pelan melalui hidung. Udara dingin laut sedikit membantu menetralkan rasa mualnya. Dia memaksa aliran chakranya berpusat pada sistem pencernaan dan keseimbangan telinga dalamnya, mencoba meredam gejala mabuk laut.
Butuh waktu beberapa menit yang terasa sangat lama hingga perutnya mulai terasa sedikit lebih tenang.
Madara membuka matanya perlahan. Dia menatap cakrawala yang masih bergoyang ringan. Kali ini, dia bisa memfokuskan pandangannya tanpa merasa pusing.
Dia melepaskan lipatan tangannya. Aura Haki Penakluk yang sedari tadi menyelimuti haluan kapal langsung memudar dalam sekejap. Awan tipis di atasnya pun perlahan kembali cerah.
Perubahan drastis pada tekanan udara itu membuat para kru bajak laut di belakangnya menghela napas lega secara serentak.
Madara berbalik perlahan. Dia menatap ke arah geladak kapal yang kini terlihat jauh lebih bersih daripada sebelumnya. Noda darah dan lumut kotor telah hilang.
“Hei. Kau.”
Suara Madara terdengar datar dan dingin, tetapi cukup keras untuk didengar oleh seluruh kru kapal.
Dia tidak menunjuk siapa pun, tetapi pandangannya mengarah lurus ke arah pria gemuk yang sedang menggosok lantai.
Mantan kapten itu terlonjak kaget. Sikat kayu di tangannya terlepas. Dia segera menyeret tubuh besarnya ke arah Madara, mengabaikan rasa sakit di lututnya yang masih dibalut perban.
Pria itu berhenti beberapa langkah dari Madara, lalu langsung menjatuhkan diri dalam posisi berlutut. Dahinya menempel pada lantai kayu yang baru saja dia bersihkan.
“Y-Ya, Tuan Madara! Hamba siap mendengarkan perintah Anda!” seru pria gemuk itu dengan suara bergetar karena takut campur hormat.
Madara menatap manusia gemuk di bawah kakinya dengan tatapan tanpa minat. Dia berjalan mendekat, langkahnya mantap, menyembunyikan sisa-sisa rasa pusing di kepalanya dengan sangat sempurna.
Dia berhenti di dekat tong kayu besar yang berisi cadangan air bersih. Madara duduk di atas tong tersebut, menyilangkan satu kaki di atas kaki lainnya, lalu meletakkan sikunya di atas lutut. Posisinya santai namun tetap mengintimidasi.
“Berdirilah,” perintah Madara pelan.
Mantan kapten itu ragu-ragu sejenak sebelum akhirnya mengangkat kepalanya. Dia tidak berani berdiri sepenuhnya karena kakinya yang patah, jadi dia hanya menopang tubuhnya menggunakan pedang patah sebagai tongkat penyeimbang.
“Aku tidak punya waktu untuk menebak-nebak aturan main di dunia ini,” kata Madara memulai pembicaraan. “Dunia ini terasa berbeda. Orang-orangnya, lautannya, kekuatannya. Jelaskan padaku.”
Pria gemuk itu mengerjap bingung. Pertanyaan Madara terdengar sangat aneh.
Bagaimana mungkin seorang pemuda dengan kekuatan dewa tidak mengetahui aturan dasar di dunia ini? Apakah Tuan Madara berasal dari pulau terpencil yang tidak tersentuh peradaban? Atau mungkin dia adalah pangeran dari kerajaan tertutup?
Namun, pria itu terlalu takut untuk bertanya. Otaknya segera memutar semua pengetahuan umum yang dia miliki.
“M-Maksud Tuan... tentang Pemerintah Dunia?” tanya mantan kapten itu hati-hati.
“Mulai dari sana,” sahut Madara.
Pria gemuk itu berdeham pelan. Dia mencoba menyusun kalimat agar tidak terdengar bodoh di depan penguasa barunya ini.
“Dunia ini sangat luas, Tuan,” mulainya menjelaskan. “Hampir seluruh permukaannya ditutupi oleh lautan. Ada empat lautan utama. East Blue, West Blue, North Blue, dan South Blue. Kita sekarang berada di West Blue.”
Madara hanya mendengarkan dalam diam. Wajahnya datar, mencerna informasi geografis dasar tersebut.
“Di atas empat lautan itu, ada satu kekuatan mutlak yang mengatur segalanya. World Government, atau Pemerintah Dunia,” lanjut pria itu, suaranya sedikit merendah. “Mereka adalah persatuan dari lebih dari seratus tujuh puluh negara di seluruh dunia.”
'Seratus tujuh puluh negara?' batin Madara. 'Aliansi yang cukup besar. Tidak heran dunia ini terlihat sedikit lebih terstruktur dari duniaku sebelumnya.'
“Siapa yang memimpin aliansi itu?” tanya Madara singkat.
“Mereka dipimpin oleh para Bangsawan Dunia, yang dikenal sebagai Tenryuubito, Naga Langit,” jawab pria itu dengan nada setengah berbisik, seolah takut nama itu akan memanggil malapetaka. “Mereka adalah keturunan dari pencipta Pemerintah Dunia. Mereka memiliki kekuasaan mutlak. Siapa pun yang berani melawan mereka akan langsung berhadapan dengan kekuatan militer utama Pemerintah Dunia.”
Madara menyipitkan matanya. “Kekuatan militer?”
“Benar, Tuan. Marine. Angkatan Laut,” kata mantan kapten itu dengan nada takut. “Mereka adalah anjing penjaga Pemerintah Dunia. Angkatan Laut tersebar di seluruh lautan untuk menangkap bajak laut seperti... yah, seperti kami sebelumnya.”
Pria gemuk itu menelan ludah sebelum melanjutkan penjelasannya.
“Angkatan Laut memiliki hierarki yang kuat. Di puncaknya ada tiga Admiral. Monster-monster yang kekuatannya bisa menghancurkan pulau dengan mudah. Jika Tuan bertemu dengan kapal laut berlambang burung camar di layar putih, lebih baik kita menghindar, Tuan.”
Madara tersenyum kecil. Sebuah senyuman sinis yang membuat pria gemuk itu bergidik.
“Menghindar?” ulang Madara dengan nada mengejek. “Seekor serigala tidak menghindar saat melihat kumpulan domba berseragam.”
Pria gemuk itu terdiam, tidak berani membantah. Dia mulai menyadari bahwa tuannya ini tidak memiliki konsep ketakutan terhadap institusi mana pun.
“Bagus. Jadi ada target yang jelas untuk diuji,” gumam Madara pada dirinya sendiri. Dia menatap kembali pria gemuk itu. “Lalu, apa itu Buah Iblis? Tadi kau berteriak tentang buah iblis tipe api saat melihat kekuatanku.”
Wajah pria gemuk itu kembali cerah. Dia merasa lebih percaya diri membicarakan topik ini.
“Ah, Devil Fruit, Tuan! Itu adalah harta karun terbesar di lautan ini!” jelasnya penuh semangat. “Buah Iblis adalah buah misterius yang memberikan kekuatan supranatural bagi siapa saja yang memakannya.”
Madara menaikkan salah satu alisnya. “Buah yang memberikan kekuatan? Hanya dengan memakannya?”
“Benar, Tuan! Ada tiga jenis utama. Paramecia yang mengubah struktur tubuh pemakannya. Zoan yang memungkinkan pemakannya berubah menjadi binatang liar. Dan yang paling langka, Logia, yang mengubah tubuh pemakannya menjadi elemen alam, seperti api, es, atau petir.”
Mantan kapten itu menatap Madara dengan pandangan penuh harap.
“Tadi Tuan mengeluarkan api dari mulut. Kami semua mengira Tuan adalah pengguna Buah Iblis tipe Logia Api. Kekuatan semacam itu sangat diincar oleh banyak orang.”
Madara mendengus pelan.
'Mengandalkan buah untuk mendapatkan kekuatan?' batin Madara dengan rasa jijik. 'Pantas saja orang-orang di sini bertarung seperti anak kecil. Mereka tidak melatih tubuh dan energi mereka. Mereka hanya mengandalkan sihir murah dari sepotong buah.'
“Kekuatan yang didapat dengan instan pasti memiliki harga yang harus dibayar,” kata Madara dingin. “Tidak ada kekuatan absolut di dunia ini tanpa pengorbanan. Apa titik lemah benda itu?”
Pria gemuk itu menelan ludah, terkejut dengan analisis Madara yang sangat tajam dan tepat sasaran.
“T-Tuan benar. Ada harga besar yang harus dibayar,” jawab pria itu hati-hati. “Siapa pun yang memakan Buah Iblis akan dikutuk oleh lautan. Mereka tidak akan pernah bisa berenang seumur hidupnya. Jika mereka jatuh ke laut, tubuh mereka akan menjadi kaku seperti batu dan mereka akan tenggelam ke dasar laut.”
Hening sejenak.
Madara memproses informasi tersebut dengan wajah datar.
“Dikutuk oleh lautan?” tanya Madara, memastikan pendengarannya.
“Benar, Tuan.”
Madara terdiam. Dia memalingkan wajahnya menatap hamparan lautan luas yang mengelilingi kapal mereka sejauh mata memandang.
Sebuah senyum merendahkan muncul di bibir Madara. Dia menggelengkan kepalanya perlahan.
“Menjual kebebasan bergerak di air demi sekelumit kekuatan aneh? Di dunia yang 90 persen wilayahnya dipenuhi oleh air?” suara Madara dipenuhi oleh sarkasme dan keheranan.
Dia menatap pria gemuk itu dengan tatapan tidak percaya.
“Benar-benar dunia yang konyol. Orang bodoh macam apa yang mau menukar nyawanya dengan kekuatan cacat seperti itu?”
Pria gemuk itu tersenyum canggung. Dia tidak berani mengatakan bahwa hampir semua bajak laut terkuat di dunia ini adalah pengguna Buah Iblis. Dia takut fakta itu akan membuat Madara menganggap dunia ini tidak layak untuk dihiraukan.
“Tentu saja, kekuatan sejati ada pada latihan fisik dan pedang, Tuan!” jawab pria itu berbasa-basi.
Madara mengabaikan pujian murahan tersebut. Dia kembali bertanya tentang hal yang lebih praktis.
“Mata uang. Berapa banyak kau punya?”
Pria gemuk itu dengan cepat merogoh sakunya. Dia mengeluarkan beberapa lembar uang kertas berwarna hijau pudar dan koin-koin tembaga yang tampak usang.
“Ini Berries, Tuan,” katanya sambil menyodorkan uang tersebut dengan kedua tangannya. “Mata uang utama di seluruh dunia. T-Tapi kami tidak punya banyak. Kami baru saja kalah taruhan sebelum mendarat di pulau tadi.”
Madara bahkan tidak mengambil uang itu. Dia hanya melirik sekilas angka yang tercetak di kertas tersebut.
“Simpan itu. Aku tidak butuh uang receh,” kata Madara dingin. “Jika aku menginginkan sesuatu di dunia ini, aku akan mengambilnya secara langsung.”
Pria gemuk itu menarik tangannya kembali dengan perasaan lega campur takut.
“Terakhir,” kata Madara. Nada suaranya sedikit berubah. Keheningan dan rasa bosan sebelumnya menghilang, digantikan oleh percikan ketertarikan yang sangat halus. “Di mana aku bisa menemukan petarung-petarung kuat di dunia ini? Bukan serangga seperti kalian, bukan juga anjing laut peliharaan pemerintah. Petarung yang sejati.”
Mata kapten bajak laut itu membulat. Dia bisa merasakan hawa intimidasi yang mulai menguar kembali dari tubuh Madara.
“P-Petarung terkuat, Tuan?” pria itu menelan ludah. “Jika Tuan mencari monster, hanya ada satu tempat di dunia ini.”
“Di mana?”
“Grand Line,” bisik pria gemuk itu, menyebut nama wilayah tersebut seolah-olah menyebut nama pemakaman.
“Grand Line?” Madara mengulangi nama itu.
“Itu adalah lautan yang paling berbahaya di seluruh dunia. Berada di sepanjang ekuator. Tempat berkumpulnya para bajak laut terbesar, monster laut raksasa, dan Markas Besar Angkatan Laut. Di sanalah kekuatan sejati diuji, Tuan. Siapa pun yang bisa bertahan di sana, akan diakui sebagai penguasa lautan.”
Pria gemuk itu menundukkan wajahnya, suaranya sedikit bergetar.
“Banyak orang mencoba pergi ke sana untuk mencari ketenaran atau mencari One Piece, harta karun terbesar peninggalan Raja Bajak Laut. Tapi sebagian besar dari mereka mati bahkan sebelum melewati pertengahan lautan itu.”
Mendengar penjelasan itu, kesunyian menyelimuti geladak kapal.
Madara masih duduk di atas tong air. Matanya menatap lurus melewati pria gemuk yang berlutut di depannya. Dia menatap ke arah lautan tak berujung di depan haluan kapal.
Sebuah tempat yang dipenuhi oleh monster. Sebuah arena di mana hanya yang kuat yang bisa bertahan. Sebuah wilayah yang tidak tunduk pada aturan biasa, melainkan hanya tunduk pada hukum kekuatan murni.
Itu adalah bahasa yang dipahami Madara. Itu adalah medan perang yang dia kenal.
Sudut bibir Madara sedikit terangkat. Senyuman tipis dan tajam menghiasi wajah remajanya. Mata hitamnya berbinar dengan niat bertarung yang tertahan.
Dunia ini mungkin dipenuhi oleh orang-orang bodoh yang memakan buah kutukan dan pemerintah yang berlindung di balik tembok kekuatan militer. Dunia ini mungkin terlalu luas dan terlalu dipenuhi oleh air laut yang membuatnya mual.
Tetapi setidaknya, dunia ini memiliki satu tempat yang layak untuk diuji dengan tarian miliknya.
“Grand Line...” gumam Madara pelan, merasakan penyebutan nama itu di lidahnya.
Dia berdiri dari tong air. Gerakannya cepat dan efisien. Dia merapikan pelindung dadanya, lalu melirik ke arah pria gemuk itu.
“Berapa lama untuk sampai ke pulau terdekat yang memiliki informasi atau jalan menuju Grand Line?” tanya Madara dengan nada memerintah.
Pria gemuk itu segera menghitung dalam kepalanya.
“Dengan angin saat ini, kita bisa mencapai pelabuhan persinggahan di West Blue dalam waktu dua hari, Tuan. Dari sana, kita bisa mencari peta atau petunjuk arah menuju Reverse Mountain, pintu masuk Grand Line.”
Madara mengangguk kecil.
“Arahkan kapal ke sana,” perintah Madara.
Dia berbalik dan melangkah pergi, kembali menuju bagian depan geladak.
“Dua hari. Pastikan kapal ini tidak menabrak apa pun yang bisa mengganggu tidurku. Aku tidak suka keributan yang tidak berguna.”
“S-Siap, Tuan Agung! Kami akan memastikan perjalanan ini senyaman mungkin untuk Anda!”
Para kru kapal segera bergerak dengan kecepatan dua kali lipat. Mereka menarik tambang, menyesuaikan arah layar, dan mengemudikan kapal dengan sangat hati-hati.
Madara berjalan menuju pintu kabin kapten yang terletak di bagian belakang geladak atas. Dia membuka pintu kayu usang itu dan masuk ke dalam. Ruangan itu kotor dan berantakan, tetapi dia tidak terlalu peduli. Selama ada tempat datar untuk berbaring, dia bisa menahan sisa-sisa rasa mual yang masih sedikit mengganggu.
Dia duduk di atas ranjang kayu yang keras. Matanya tertuju pada sebuah jendela kecil yang menghadap ke laut lepas.
Perjalanannya baru saja dimulai. Kekuatannya perlahan pulih setiap kali ada manusia yang merespons eksistensinya.
'Pemerintah Dunia. Tiga Admiral. Grand Line,' batin Madara.
Dia menyandarkan punggungnya ke dinding kayu. Mata hitamnya perlahan menutup, membawa tubuhnya ke dalam istirahat singkat.
'Bersiaplah, dunia yang konyol ini. Hantu dari klan Uchiha akan datang untuk menguji panggung utama kalian.'
Kapal Bajak Laut Taring Berkarat, yang kini dipimpin oleh penguasa mutlak yang baru, membelah ombak West Blue, berlayar menuju takdir yang tak terhindarkan.