Ali, seorang pemuda berusia 23 tahun, terjebak dalam kebuntuan hidup—menganggur dan bermimpi membangun bisnis, tetapi tak memiliki modal. Namun, segalanya berubah ketika tanpa sengaja ia membangkitkan kekuatan untuk menjelajahi dunia paralel. Di sana, ia menemukan teknologi canggih, harta tanpa batas, serta buku-buku seni bela diri yang dapat ia bawa kembali ke dunia nyata. Dengan kecerdasan dan tekadnya, Ali memanfaatkan semua yang ia peroleh untuk menaklukkan dunia. Uang, teknologi, dan keterampilan bertarung kini ada di tangannya. Inilah kisah seorang pemuda yang melangkah dari nol menuju kejayaan—mengubah takdir dan menapaki jalan menuju puncak dunia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyligh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 TERSANGKA ATAU PAHLAWAN
Tersangka atau Pahlawan?
Ali baru saja tiba di apartemennya, melepas jaket, dan menghempaskan diri ke sofa. Namun, sebelum ia sempat menghela napas, ponselnya bergetar di atas meja.
Alana menelepon.
Ali mengernyit. "Kenapa lagi dia?" pikirnya, sebelum akhirnya mengangkat telepon itu.
“Halo?”
Suara Alana terdengar panik. “Kak, gawat! Polisi mencari kamu! Barusan mereka datang ke rumah dan menanyakan soal pembunuhan begal kemarin!”
Ali yang semula santai, kini duduk tegak. Matanya menyipit, tapi suaranya tetap datar. “Terus, kamu bilang apa?”
“Aku menyangkal! Aku bilang malam itu terlalu gelap, jadi aku nggak lihat siapa pelakunya. Tapi mereka nggak percaya! Mereka bilang bakal melakukan investigasi lebih lanjut!” ujar Alana dengan suara gemetar.
Ali terdiam sejenak. Ia menatap ponselnya, lalu mendesah pelan. "Jadi begini akhirnya..."
Tiba-tiba—
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu bergema di apartemennya.
Ali menoleh, lalu berdiri. Perlahan, ia berjalan ke pintu dan membukanya.
Di hadapannya, berdiri beberapa polisi dengan ekspresi serius.
“Selamat siang, apakah Anda yang bernama Ali?” tanya salah satu polisi.
Ali tetap tenang. “Ya, saya.”
Tanpa banyak bicara, polisi itu langsung mengeluarkan borgol dan menguncinya di pergelangan tangan Ali.
“Anda harus ikut dengan kami ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.”
Ali menatap borgol di tangannya, lalu mengangguk pelan. “Baik.”
Interogasi di Kantor Polisi
Beberapa saat kemudian, Ali sudah berada di ruang interogasi. Lampu di atasnya menerangi meja logam di depannya. Seorang polisi duduk di seberangnya, membuka berkas, lalu menatap Ali dengan tatapan tajam.
“Saudara Ali, apakah Anda yang melakukan pembunuhan terhadap tiga orang begal pada hari Kamis sekitar pukul 22.30?”
Ali menatap mata polisi itu tanpa ragu. “Ya, saya.”
Ruangan itu hening sejenak.
Polisi itu menghela napas. “Apa motif Anda?”
Ali menautkan jemarinya, bersandar ke kursi. “Murni membela diri, Pak. Kalau saya tidak melawan, mungkin saya yang akan mati malam itu.”
“Tapi tiga orang mati di tangan Anda.”
“Tiga orang yang bersenjata tajam. Kalau saya tidak merebut parang salah satu dari mereka, saya sudah jadi mayat saat ini.”
Polisi itu memperhatikan raut wajah Ali. Tidak ada kebohongan di sana.
“Baik. Bisakah Anda melakukan reka ulang kejadian?”
Ali mengangguk. “Bisa.”
Reka Ulang yang Mengejutkan
Ali berdiri di sebuah ruangan khusus, dikelilingi beberapa polisi yang mengamati setiap gerakannya.
Dengan gerakan terukur, ia memperagakan bagaimana ia menghindari serangan pertama, bagaimana ia menangkis pisau dengan lengannya, bagaimana ia merebut parang, dan bagaimana satu per satu begal itu tumbang di tangannya.
Setiap gerakan Ali cepat, tepat, dan mematikan.
Para polisi yang menyaksikan mulai saling bertukar pandang. Beberapa dari mereka bahkan tampak kagum.
Setelah reka ulang selesai, salah satu petugas menghela napas panjang. "Luar biasa... Tiga orang dengan senjata tajam, dan dia hanya bertarung dengan tangan kosong.”
Atasan mereka yang sejak tadi memperhatikan akhirnya bersuara. “Saudara Ali, setelah mempertimbangkan bukti dan saksi, kami menyimpulkan bahwa tindakan Anda murni membela diri.”
Ali menatap polisi itu, menunggu kelanjutannya.
“Anda tidak bersalah. Bahkan, atas keberanian Anda, pihak kepolisian akan memberikan penghargaan sebagai bentuk apresiasi.”
Ali mengangkat alis, sedikit terkejut. “Penghargaan?”
Polisi itu mengangguk. “Tindakan Anda tidak hanya menyelamatkan diri sendiri, tapi juga membantu menyingkirkan pelaku kriminal yang telah banyak meresahkan masyarakat.”
Ali tersenyum tipis. “Terima kasih, Pak.”
Beberapa saat kemudian, ia diantar kembali ke apartemennya.
Kembali ke Apartemen
Begitu sampai di apartemen, Ali langsung menjatuhkan diri ke sofa, menghembuskan napas panjang.
“Huh… Aku kira tadi bakal dipenjara.” gumamnya sambil memijat pelipisnya.
Tiba-tiba, matanya tertuju ke layar TV yang menyala.
"BREAKING NEWS: Polisi menggelar konferensi pers terkait insiden pembunuhan begal di Jakarta..."
Ali menyeringai kecil. “Untung tadi aku minta wajahku disensor.”
Saat ia masih memperhatikan siaran berita itu, ponselnya kembali berdering.
“Kring… Kring… Kring…”
Ali melirik layar ponsel.
Alana menelepon lagi.
Ali menghela napas, lalu mengangkatnya. “Halo?”
“Kak! Kamu di mana?!” suara Alana terdengar panik.
“Di apartemen. Kenapa?”
“Kamu habis dibawa ke kantor polisi, kan?! Aku lihat kamu di berita tadi!”
Ali terkekeh kecil. “Iya, tapi tenang, semuanya sudah selesai.”
“Kamu yakin? Aku khawatir, kak!”
Ali bisa mendengar nada ketakutan dalam suara Alana.
“Serius, Alana. Aku baik-baik saja.”
Namun, sebelum Ali sempat berkata lebih banyak, suara Alana terdengar tegas.
“Aku ke sana sekarang.”
Ali terdiam, lalu tersenyum kecil. “Terserah kamu.”
Ia memutus panggilan dan kembali menyandarkan kepalanya di sofa.
Malam ini panjang, tapi satu hal yang pasti—
Ia telah melewati badai.
Dan ia siap menghadapi apa pun yang akan datang berikutnya.
BELEUNG BELENG....