Sekuel After Marriage.
"Anha nggak mau menikah lagi, Ma."
Karena masa lalunya yang kelam, Anha di ceraikan di malam pertamanya.
Satu kali diceraikan, satu kali gagal menikah, itu semua membuat Anha trauma akan yang namanya pernikahan. Anha tidak mau menikah lagi dan memilih untuk sendiri saja.
Hamkan, anak dari teman Mamanya diam-diam memiliki rasa kepada Anha. Akankah Anha mau membuka hati untuk Hamkan?
***
Instagram: Mayangsu_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayangsu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Buka Suara
***
“Anha batal, Ma, nikah sama Hasan….”
Anha menjeda sejenak ucapannya tersebut, lidahnya terasa kelu, kemudian dia melanjutkan lagi ucapannya yang terputus itu.
“Hasan udah mutusin ini semua Ma.”
Mata mama terbelalak mendengar dua kalimat itu. Masih tidak percaya dengan apa yang baru ia dengar menggunakan telinganya sendiri.
“Apa maksud kamu, Anha?” tanya mama sambil mengguncang bahu Anha. Bagaimana mungkin ini terjadi? Tetapi melihat ekspresi Anha yang masih saja menangis. Tidak mungkin juga Anha berbohong ataupun sedang main-main.
Jadi… ini semua alasan Anha terpuruk seperti itu.
“Kan, Mama udah bilang sama kamu
“Anha batal, Ma, nikah sama Hasan….”
Anha menjeda sejenak ucapannya tersebut, lidahnya terasa kelu, kemudian dia melanjutkan lagi ucapannya yang terputus itu.
“Hasan udah mutusin ini semua Ma.”
Mata mama terbelalak mendengar dua kalimat itu. Masih tidak percaya dengan apa yang baru ia dengar menggunakan telinganya sendiri.
“Apa maksud kamu, Anha?” tanya mama sambil mengguncang bahu Anha. Bagaimana mungkin ini terjadi? Tetapi melihat ekspresi Anha yang masih saja menangis. Tidak mungkin juga Anha berbohong ataupun sedang main-main.
Jadi… ini semua alasan Anha terpuruk seperti itu.
"Kenapa kalian bisa pisah begitu aja?!" desak mama menuntut sebuah jawaban.
"Ha-Hasan udah tahu, Ma, soal masa lalu Anha, dan dia nggak bisa nerima Anha seutuhnya."
Kalimat itu di akhiri dengan isakan yang tertahan. Mama menatap Anha lamat-lamat. Bagaimana itu bisa terjadi? Padahal pernikahan mereka tinggal dua minggu lagi.
Mama mengeratkan tangannya yang masih memegangi bahu Anha.
“Anha! Kan, Mama udah bilang sama kamu buat diem aja. Kenapa malahan kamu ceritain itu semua sama Hasan!"
"Anha nggak cerita ke Hasan, Mama. Hasan ketemu sama mantan Anha waktu SMA dulu dan dia ngasih tahu semua hal ke Hasan, Mama."
Lengang langsung hadir menengahi konfrontasi tersebut. Memutus perdebatan dan menyisakan tubuh mama yang kini juga ikutan menegang lantaran tidak percaya jika ini semua akan terjadi.
Di hari ini….
Anha menceritakan semuanya kepada mama. Semua hal, tanpa ada yang terlewati sama sekali meskipun butuh beberapa kali jeda ketika menjelaskannya. Pun sama, Anha juga sudah tidak menutup-nutupi lagi perihal Ikramlah yang menjadi dalang dari ini semua.
Awalnya mama hanya terdiam. Memang tidak ada kebohongan di dunia ini yang bisa disembunyikan dengan rapat. Serapat-rapatnya mengubur bangkai pasti kelak akan tercium juga baunya.
Tapi kini tangan mama menggenggam erat sampai buku-buku tangannya memutih, merasa geram bukan main. Kenapa juga mantan suami dari anaknya itu berani-beraninya sampai tega melakukan ini semua kepada Anha.
"Terus Anha harus gimana, Ma?"
Mama bingung menjawabnya. Dengan perlahan mama menggengam tangan Anha dan mengatakan….
"Nggak papa, An. Itu artinya Hasan bukan jodoh kamu. Kamu harus relain dia. Mungkin dia bukan yang terbaik buat kamu saat ini."
Anha menatap ke arah mamanya dan memeluknya sangat erat.
"Udah, ya, Sayang. Kamu tenangin diri kamu dulu. Jangan kayak gini terus, Mama jadi ikutan sedih."
Hari ini, tanpa memberitahu Anha sama sekali. Mamanya memutuskan untuk mendatangi kediaman dua orang, yaitu mendatangi rumah Hasan untuk meminta penjelasan tentang pernikahannya dengan Anha yang diputuskan secara sepihak itu, dan satunya lagi mama berencana akan mendatangi rumah Ikram untuk memberinya perhitungan.
***
makasih udah bikin karya sebagus ini
banyak pembelajaran yang bisa diambil
si hamkan pula juga msh banyak perempuan suci msh ngejar² bekas orang