Naila Anindita adalah seorang anak perempuan yang menjadi korban broken home. Kedua orang tuanya bercerai akibat orang ketiga. Sejak Naila SD, Ibunya pergi dengan laki-laki lain saat dia memutuskan untuk menjadi seorang TKI di Luar Negeri akibat perekonomian mereka sulit. Usaha Ayah Naila hancur karena Ibu Naila yang sering hidup berfoya-foya. Saat ini Naila tinggal berdua dengan Ayahnya. Sedangkan Kakak Naila tinggal bersama Nenek dan Kakeknya.
Naila tumbuh menjadi wanita dewasa yang cantik, cerdas, dan kalem. Saat ini dia mendapatkan beasiswa di Universitas ternama di Yogyakarta. Suatu saat Naila harus mengorbankan diri, untuk menjadi pengantin pengganti Kakaknya. Namun Pria yang menikahinya marah, dia sama sekali tidak menganggap Naila seorang istri.
Suatu saat naila bertemu dengan teman kecilnya waktu SD. Dia adalah Salman Nanda Haris. Laki-laki yang dicintainya dalam diam. Naila tidak tahu, bahwa sebenarnya Salman juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hati seorang Ayah
Naila memutuskan untuk menghubungi Ayahnya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam, Naila kamu kemana saja? Dari semalam Ayah menghubungi, tapi nomormu tidak aktif."
"Maafkan Nai, sudah bikin Ayah khawatir. Bagaimana keadaan Ayah?"
"Ayah sehat."
"Kakek dan Nenek?"
"Semua baik-baik saja, Nenekmu juga sudah bisa bangun sendiri. Katakan kepada Ayah, kamu di mana sekarang?"
"Aku.... di Jogja, Yah!"
"Ayah sudah menghubungi Ibu kost-mu, tapi katanya kamu tidak ada di sana?"
"Ayah tahu kalau aku kabur?"
"Tadi malam Pak Arif menelpon Ayah, menanyakan apa kamu sudah sampai rumah? Ayah kaget sekali."
"Hiks.. maafkan aku, Ayah!"
"Jangan nangis, Nai! Kamu wanita yang kuat."
"Aku hanya kelilipan, Ayah."
"Kenapa kamu tidak menemui Ayah, Nai? Pak Arif sudah cerita tentang semuanya, dia juga minta maaf sama Ayah. Katakan sekarang jamu di mana? Jangan bohongin Ayah!"
"Aku di rumah Farah, Yah! Tadi malam keretanya sampai tengah malam, aku nggak mungkin langsung ke kost-an.Maaf aku tidak langsung menemui Ayah, aku butuh waktu untuk sendiri. Ayah tenang saja, aku baik-baik saja kok."
"Nai, apapun yang terjadi ini adalah kesalahan Ayah. Maafkan Ayah sudah membuatmu seperti ini, jangan menangis lagi ya! Ayah janji, akan menemuimu kalau kamu sudah merasa baik."
"Iya, Yah! Ini bukan salah Ayah, sudah takdirku menjadi seperti ini. Jangan bilang sama Nenek keadaanku yang sebenarnya. Biarkan Nenek kira aku masih bersama Kak Adit."
"Baiklah, Nai! Kamu masih ada uang, atau mau Ayah transfer?"
"Uangku masih banyak, Yah! Ayah baik-baik ya di rumah! Nai sayang Ayah."
"Iya, Ayah juga sayang kamu. Tetaplah menjadi putri yang baik untuk Ayah."
Ayah Faisal mengakhiri obrolannya dengan Naila. Sebenarnya dia sedang menahan gejolak di dadanya. Matanya perih mendengar suara putrinya.
"Maafkan Ayah, Nai! tidak seharusnya kamu mengalami semua ini. Aku merasa telah gagal menjadi orang tua yang baik. Freya, Ayah harap kamu bisa belajar dari kesalahanmu. Semoga Allah melindungi kalian berdua." Batin Ayah Faisal. Saat ini ia terduduk lunglai meratapi nasib kedua putrinya.
Naila dan Farah saat ini sedang keluar rumah. Farah memaksa Naila untuk pergi dengannya ke cafe. Farah tahu suasana hati Naila yang sedang berkabut, dia tidak ingin sahabatnya itu terpuruk. Meski kelihatannya Naila kuat, namun hati seorang wanita sulit untuk ditebak.
Mereka sudah sampai di Cafe Ceria. Keduanya memesan minuman dan makanan yang sama. Es coffe latte dan sanwich buah.
"Nai, dimakan! Jangan dilihatin terus!"
"Hem, iya! Ini juga mau makan Far."
"Oh iya, aku lupa mau bilang sama kamu, Nai."
"Bilang apa?"
"Salman, iya Salman! Waktu itu dia mencarimu. Dia bela-belain balik ke Jogja cuma ingin tabu kabarmu. Ternyata waktu dia hilang kabar, adiknya kecelakaan."
"Mana yang benar? Kata Caca dia pulang karena mau tunangan." Batin Naila dalam hati.
"Nai, kamu dengar nggak sih aku ngomong?"
"I-iya dengar! Terus- terus gimana ceritanya?"
"Ini dia ngasih nomor HP, katanya kalau sudah ada kabar dari kamu, suruh kasih tahu!"
"Nggak, Far! Tolong jangan kasih tahu! Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi."
"What? Serius? Kenapa?"
"Aku malu, Far! Setelah ini statusku sudah akan berubah. Aku tidak mau Salman tahu tentang itu."
"Apa salahnya, Nai? Kalian kan berteman, dia pasti mendukungmu."
"Tidak ada pertemanan yang abadi antara laki-laki dan perempuan, Far! Aku takut tidak bisa mengontrol hatiku."
"Baiklah, terserah kamu saja! Kalau begitu biar aku blokir saja nomornya. Daripada dia nanya kamu melulu, dan aku harus berbohong terus menerus."
Keesokan harinya, Naila pergi ke kampus bersama Farah. Dia menghadap kepala Prodi untuk menjelaskan keadaannya yang tanpa kabar beberapa hari ini.
"Maaf Naila, kamu adalah Mahasiswi percontohan, Mahasiswi berprestasi. Jika mereka tahu kamu diberikan konpensasi atas keteledoranmu, tentu mereka juga akan menuntut hal yang sama. Dengan terpaksa kami mencabut beasiswamu."
"Tidak masalah, Pak. Tapi saya masih boleh melanjutkan study saya kan, Pak? Saya akan membayar biaya administrasi dan lainnya."
"Boleh saja, silahkan kamu temui Pak Iwan."
"Terima kasih, Pak."
Semangat Naila untuk tetap melanjutkan kuliahnya sangat besar. Dia tidak ingin mimpinya hancur begitu saja. Naila harus bangkit dari rasa sakit dan kecewanya.
Satu bulan berlalu, sidang putusan pengadilan sudah keluar. Adit dan Naila,sudah resmi bercerai. Mereka hanya menunggu surat akte ceritanya keluar. Naila sengaja tidak hadir ke pengadilan untuk mediasi, untuk memperceoat proses perceraiannya.
Di Singapura
Seorang wanita cantik, mantan model yang cukup terkenal di negaranya, saat ini tengah berbaring lemah di rumah sakit. Usia kandungannya yang memasuki empat bulan, membuatnya lemah karena sering mual dan muntah.
"Ayo, Fre! Makan dulu buburnya!"
"Nggak enak, Bang!"
"Dipaksa dulu, kasihan bayimu!"
"Aku tidak menginginkannya! Dari awal aku ingin membuangnya, tapi Abang malah menyelamatkannya."
"Cukup, Fre! Dia tidak berdosa! Sudah aku bilang, kalau kamu tidak menginginkannya, biar aku yang mengadopsinya!"
"Huek...huek..." Freya mual lagi.
Alfano memijit tengkuk Freya.
"Sudah-sudah, Bang!Abang nggak, kerja? Jam segini kok masih di sini?"
"Aku bisa kerja dari sini, Fre! Kamu jangan mengalihkan pembicaraan. Ayo aku suapi! Makan buburnya, dan minum susunya."
Kali ini Freya tidak ingin membantah Alfano.
Alfano Ahmad Sanjaya, kini usianya sudah memasuki 30 tahun. Dia adalah putra pertama dari Rindi dan Rendy. Rindi adalah sepupu Raisya, Bundanya Salman. Salman dan Alfano masih memiliki ikatan saudara yang cukup dekat. Saat ini Alfano sedang berada di Singapura. Dia bekerja sebagai seorang design grafis di salah satu perusahaan ternama milik teman Papanya di Singapura. Di isinya yang sudah matang, dia sudah menjadi duda sekitar tiga tahun lalu. Istrinya meninggal bersama bayi yang dilahirkannya. Alfano sangat terpukul dengan kejadian itu. Sampai saat ini dia belum menemukan pengganti istrinya.
"Maaf Tuan, permisi! Kami mau mengecek Nyonya Freya." Suster dan dokter masuk ke kamar inap Freya.
"Iya, silahkan!"
"Sudah stabil, Tuan. Hanya saja Nonya Freya harus lebih banyak makan makanan yang bernutrisi. Kalau masih mual, bisa sering konsumsi es krim."
"Baik, dok, terima kasih."
"Sama-sama, Tuan. Anda suami yang luar biasa."
Alfano menahan senyumnya mendapat pujian itu dari dokter yang menangani Freya.
"Andai itu nyata, Dok!" Batin Alfano dalam hati.
"Abang kok senyum-senyum sendiri, kenapa?"
"Jangan banyak tanya! Habiskan susunya! Kamu mau cepat pulang, kan?"
"Iya, Bang! Jangan galak-galak atuh, Bang! Nanti jadi perjaka tua!"
"Aku sudah duda, Freya! Kamu lupa itu?"
"Ah, iya! Maaf, Bang! Habis Abang kayak bujangan, haha...."
"Teruslah tersenyum, Fre! Aku lebih senang melihatmu tersenyum seperti ini daripada melihatmu depresi seperti beberapa bulan lalu." Alfani kembali membatin.
"Ya sudah, aku mau ke kantor dulu. Kalau kamu ingin sesuatu jangan lupa menghubungiku!"
"Iya, Bang! Terima kasih ya!"
"Hem..."
Alfano meninggalkan Freya sendiri di kamar inap. Dia melajukan mobilnya menuju kantor.
Di sepanjang perjalanan, Alfano memikirkan perasaannya.
Bersambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ayo siapa yang masih ingat dengan Alfano?
Yang pernah baca Novel 'Ketegaran Hati Raisya' pasti tahu.
Jangan lupa dukungannya ya, Kak🤗
See you again...
Author banyakin literasi lagi ya biar ga salah². Kasihan yg baca, jadi dapet informasi yg salah kalo begini