NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Jenius Di Rahim Ibu Angkat

Reinkarnasi Jenius Di Rahim Ibu Angkat

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Anak Genius
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rina ylna

**Alya** adalah gadis yatim piatu yang bekerja keras demi bertahan hidup. Namun, sebuah kesalahan fatal di satu malam—akibat salah memasuki kamar hotel—mengubah takdirnya. Ia terbangun di samping **Devan Dirgantara**, CEO dingin nan kejam dari Dirgantara Group yang sangat membenci skandal.

Alya memilih melarikan diri dan merahasiakan malam itu. Namun takdir berkata lain, beberapa minggu kemudian ia dinyatakan hamil. Di sinilah keajaiban dimulai. Janin di dalam kandungan Alya ternyata bukanlah janin biasa. Sejak usia beberapa minggu, janin tersebut bisa berkomunikasi secara telepatis hanya dengan Alya!

Si "janin ajaib" ini memiliki kecerdasan luar biasa, indra keenam, dan bahkan bisa mendeteksi niat buruk orang-orang di sekitar ibunya.

Saat ibu tiri Alya mencoba meracuninya, si janin memberi peringatan. Saat Devan akhirnya mengetahui kehamilan Alya dan berniat merebut bayinya dengan kontrak dingin, si janin justru mendiktekan syarat-syarat kontrak tandingan yang membuat sang CEO jeni

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina ylna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 23

Sinar matahari pagi menembus celah gorden sutra Penthouse Lavender, memantulkan berkas cahaya keemasan di atas ranjang *king size*. Alya perlahan membuka matanya, merasakan sensasi hangat yang luar biasa nyaman menyelimuti seluruh tubuhnya. Ketika ia mencoba bergerak, ia menyadari sepasang lengan kekar masih melingkar erat di pinggangnya, mendekapnya tanpa celah dari belakang.

Devan masih tertidur lelap. Wajah tegas sang CEO yang biasanya selalu memancarkan ketajaman dingin, kini tampak begitu tenang dan damai dalam tidurnya. Napasnya yang teratur berembus hangat di tengkuk Alya.

Alya tersenyum simpul. Mengingat kembali kehangatan intens dan kelembutan luar biasa yang diberikan Devan semalam, wajahnya seketika merona merah muda. Ia perlahan mengelus perutnya yang terasa sangat nyaman.

> *[Hoaam... Selamat pagi, Ibu! Wah, wah, getaran energi di dalam kamar ini pagi ini sangat positif dan penuh cinta ya. Hibernasi sensorikku semalam berjalan sukses besar. Aku bisa merasakan struktur sel otakku berkembang dengan sangat harmonis berkat hormon kebahagiaan yang Ibu alirkan sepanjang malam!]*

Suara Baby El yang kembali ceria dan penuh percaya diri seketika bergaung di kepala Alya.

"Selamat pagi, El. Syukurlah kalau kamu tidak terganggu," batin Alya, merasa lega sekaligus sedikit malu karena bayinya menyadari perubahan atmosfer di antara kedua orang tuanya.

> *[Tentu saja tidak terganggu, Ibu. Malah aku ingin memberikan nilai bonus seratus persen untuk Ayah Dingin atas performa protektif dan kelembutannya semalam. Tapi... Ibu, bersiaplah. Di luar sana, dunia bisnis sedang mengalami gempa bumi berskala besar pagi ini. Ayah tampaknya benar-benar menepati janjinya untuk memusnahkan Alexander Group.]*

Alya sedikit tersentak. Sebelum ia sempat mencerna informasi dari bayinya, gerakan halus di belakangnya menandakan Devan telah terbangun.

Lengan kokoh Devan semakin mengetatkan pelukannya, menarik tubuh mungil Alya hingga punggungnya menempel pas pada dada bidang sang CEO. Sebuah kecupan hangat dan lama mendarat di bahu Alya yang terbuka.

"Selamat pagi, *Wifey*," bisik Devan, suaranya yang berat dan serak khas bangun tidur terdengar begitu sensual di telinga Alya. "Bagaimana perasaanmu? Ada yang sakit?"

Alya membalikkan tubuhnya perlahan di dalam dekapan Devan, menatap langsung ke dalam sepasang mata abu-abu yang kini menatapnya dengan kelembutan mutlak. "Pagi, Devan. Aku merasa sangat baik. Sama sekali tidak ada yang sakit. Bayi kita juga bilang dia sangat bahagia pagi ini."

Devan menaikkan sebelah alisnya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat menawan. "Oh? Anak nakal itu sudah bangun dan mulai berkomentar lagi?"

Alya terkekeh pelan seraya mengangguk. "Iya, dia memujimu karena semalam."

Devan terkekeh rendah, suara tawanya bergetar halus di dadanya yang menempel pada dada Alya. Ia mengecup dahi Alya dengan penuh kasih sayang sebelum akhirnya mendudukkan diri di tepi ranjang. "Kalau begitu, aku harus memeriksa laporan dari Yudha terlebih dahulu. Tadi malam aku memerintahkan penghancuran total atas aset keluarga Alexander."

Pria itu meraih ponsel pintarnya di atas meja nakas. Begitu layar menyala, puluhan notifikasi mendesak dari Yudha dan papan direksi Dirgantara Group langsung memenuhi layar.

Devan menekan tombol panggil pada kontak Yudha, mengubah mode ke *loudspeaker* agar Alya juga bisa mendengarnya seraya ia berjalan ke kamar mandi untuk membasuh wajah.

"Halo, Tuan Muda!" suara Yudha terdengar sangat bersemangat di seberang telepon, meskipun jam baru menunjukkan pukul tujuh pagi. "Laporan mendesak pagi ini! Eksekusi pasar terhadap Alexander Group berjalan dengan kesuksesan mutlak!"

Devan keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar, mengeringkan wajahnya dengan handuk kecil. "Bicarakan detailnya, Yudha."

"Baik, Tuan Muda. Sejak bursa saham dibuka tiga puluh menit yang lalu, seluruh saham utama milik Alexander Group mengalami penolakan masif dari para investor setelah kami menyebarkan dokumen resmi percobaan pembunuhan berencana yang dilakukan Tiffany Alexander ke publik. Ditambah lagi, Dirgantara Group telah menarik seluruh investasi bersama dan membatalkan kontrak kerja sama pasokan bahan baku di tiga anak perusahaan mereka," jelas Yudha dengan nada penuh kemenangan.

"Bagaimana dengan valuasi mereka?" tanya Devan dingin, duduk kembali di sisi ranjang seraya merangkul bahu Alya yang kini ikut menyimak dengan serius.

"Nilai saham mereka anjlok hingga mencapai batas bawah *auto rejection* sebesar tiga puluh persen hanya dalam waktu lima belas menit pertama, Tuan Muda! Nilai valuasi perusahaan mereka menguap sebesar dua triliun rupiah pagi ini. Para pemegang saham minoritas panik dan melakukan *panic selling* massal. Jika tren ini berlanjut hingga siang nanti, Alexander Group dipastikan akan menyatakan kebangkrutan secara resmi sebelum pasar ditutup!"

Alya terkesiap mendengar angka triliunan yang disebut oleh Yudha. Dampak kemarahan Devan ternyata jauh lebih mengerikan dari apa yang ia bayangkan. Sebuah dinasti bisnis yang telah berdiri puluhan tahun bisa runtuh dalam hitungan jam hanya karena satu perintah dari suaminya.

"Bagaimana dengan kondisi Tiffany dan orang tuanya?" Devan kembali bertanya, tanpa ada setitik pun rasa kasihan di matanya.

"Tiffany Alexander saat ini masih dirawat di ruang isolasi ICU dengan penjagaan ketat dari kepolisian. Tim dokter menyatakan bahwa ia mengalami kelumpuhan saraf sebagian akibat syok mendadak, sehingga dia tidak bisa menggerakkan kakinya. Sementara ayahnya, Tuan Alexander, sejak subuh tadi terus menelepon ruang kerja Anda dan kediaman Utama Tuan Besar Abraham, menangis dan memohon untuk diberikan waktu bertemu guna meminta maaf," tutur Yudha.

"Tolak semua panggilannya," jawab Devan tegas dan dingin. "Keluarga Alexander harus menerima konsekuensi penuh karena telah mencoba menyentuh milikku. Biarkan hukum berjalan, dan pastikan tidak ada satu pun bank yang memberikan pinjaman dana talangan kepada mereka."

"Baik, Tuan Muda! Perintah dilaksanakan!"

Setelah sambungan telepon diputus, Devan meletakkan ponselnya kembali. Ia berbalik menatap Alya yang tampak sedikit melamun. Pria itu meraih dagu Alya, mengangkatnya lembut agar mata mereka saling bertemu. "Kenapa? Kamu merasa aku terlalu kejam?"

Alya menggelengkan kepalanya perlahan, menatap Devan dengan tatapan yang penuh keyakinan. "Tidak, Devan. Aku tahu kamu melakukannya untuk melindungi kami. Tiffany sudah melintasi batas yang sangat berbahaya ketika dia mencoba menggunakan racun untuk membunuh anak kita. Mereka harus menerima hukumannya."

> *[Tepat sekali, Ibu! Ayah tidak kejam, Ayah hanya melakukan kalkulasi bisnis dan perlindungan yang sangat logis. Di dunia atas, jika kau membiarkan seekor ular yang terluka tetap hidup, dia akan kembali dengan racun yang lebih mematikan di masa depan. Penghancuran total adalah satu-satunya jalan untuk memastikan kedamaian kita!]*

Mendengar dukungan dari Baby El, Alya mengulas senyuman manis. "Anak kita juga setuju dengan tindakanmu, Devan."

Devan tersenyum tipis, sebuah binar kebahagiaan terpancar dari mata abu-abunya. Ia menarik Alya kembali ke dalam pelukannya, menghirup aroma harum rambut istrinya yang menenangkan. "Mulai hari ini, fokuslah pada yayasan beasiswamu dan kesehatan kandunganmu. Biarkan urusan di luar menjadi tugasku."

"Iya, Devan. Terima kasih," bisik Alya hangat.

Pagi itu, di atas ketinggian Penthouse Lavender, badai besar yang sempat mengancam eksistensi keluarga kecil mereka akhirnya benar-benar tersapu bersih. Dengan Alexander Group yang berada di ambang kehancuran dan posisi Alya sebagai Nyonya Muda yang semakin kokoh berkat restu mutlak sang kakek, lembaran baru kehidupan mereka kini dimulai dengan fondasi cinta dan kekuatan yang tak tergoyahkan oleh apa pun di dunia luar.

1
beybi T.Halim
keren ceritanya,gak menye menya,gas poll👍
Ariany Sudjana
haha dasar pelacur murahan kamu itu Mita, suami yang kamu banggakan, ternyata kalah jauh dibanding Devan Dirgantara 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
bagus Devan, orang sombong dari masa lalu Alya, memang harus dibungkam
Miu Miu 🍄🐰
seru ceritanya 😍
Ariany Sudjana
hahaha bangkrut keluarga Alexander, kalian salah cari lawan 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
harusnya dua tikus itu dibunuh saja
Ariany Sudjana
Alya gitu lho 😂😂
Ariany Sudjana
hahaha mampus kamu Tiffany 🤣🤣😂😂
Rina ylna
buat kalian yang emang bener² suka sama ceritanya, pliss kasih like, vote dan komen lanjut Thor biar aku makin semangat nulisnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!