Bercerita tentang seorang wanita yang sedang bekerja di kota lain demi bisa menghidupi anaknya. Nabila Maharani namanya, bekerja sebagai karyawan biasa disebuah perusahaan dikota tempat tinggalnya. Karna tuntutan pekerjaan Nabila terpaksa meninggalkan anaknya bersama sang suami dikampung halamannya....
Apa yang akan terjadi, Ikuti kisah selanjutnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nindi'G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekecewaan Nabila
"Saya mengatakan kebenaran mas, saya dan Raksa tidak ada artinya bagimu, bahkan rumah yang ditempati orangtuamu saat ini adalah rumahku mas, rumah yang telah kubayar lunas dan teganya kamu menipuku bahwa yang menjualnya padaku bukan pemilik sah rumah itu dan aku percaya padamu. Aku saat itu berfikir betapa bodohnya aku ditipu ratusan juta mengenai pembelian rumah, tapi ternyata kamu dan keluargamu yang menipuku, keluargamu yang tinggal dirumahku," pekik Nabila.
Samudra mematung mendengar semua fakta tentang dirinya dan keluarganya yang selama ini disembuyikan oleh istrinya, ternyata semuanya sudah diketahui oleh Nabila.
"Sayang, maafkan mas. Mas bisa jelasin semuanya," ucap Samudra mulai panik.
"Apa lagi yang mau kamu jelasin mas?" tanya Nabila tersenyum miring.
"Sayang, mas terpaksa melakukan ini semua sayang." Samudra membuat alasan yang tidak masuk akal.
"Terpaksa mas? Kenapa?" tanya Nabila dingin.
"Mas tidak tega melihat keluarga mas tinggal dikontrakan sempit sayang, makanya mas melakukan ini semua," ucap Samudra seraya menunduk.
"Sadar kamu mas, bahkan kamu membawa istri dan anakmu tinggal dikontrakan sempit. Jangan bilang kamu lupa kalau rumah ini hanya rumah dikontrak," tebak Nabila.
"Maaf sayang." Samudra semakin menunduk.
"Aku tidak habis pikir dengan jalan pikiranmu mas. Sebaiknya kembalikan anakku sekarang juga," ucap Nabila dingin.
"Sayang aku tidak tau dimana Raksa," ucap Samudra.
"Baiklah jika kamu tidak ingin mengembalikan anakku, aku sendiri yang akan menggambilnya. Akan kuambil kembali milikku," ucap Nabila dingin.
"Milik apa yang kamu maksud sayang?" tanya Samudra panik.
"Semua milikku, dari kendaraan, rumah dan tabungan. Itu semua milikku mas, tidak ada sepeserpun uang kamu yang masuk untuk membeli semua yang dinikmati keluargamu," ucap Nabila meninggikan suaranya dan menunjuk-nunjuk Samudra.
"Jangan sayang, jangan ambil rumah itu. Itu rumah orangtuaku," ucap Samudra kalang kabut.
"Tidak bisa mas, saya tetap akan mengambilnya dan akan menjualnya kembali," ucap Nabila.
"Tapi kamu tidak bisa menjualnya Nabila, sertifikat rumah itu masih berada dipemilik sebelumnya," ucap Samudra tersenyum.
"Saya punya sertifikatnya mas. Bahkan namanya pemiliknya sudah berganti dengan namaku. Nabila Maharani," jawab Nabila.
"Sejak kapan kamu menggantinya?" ucap Samudra menaikkan nada suaranya.
"Kamu tidak perlu tau, yang perlu kamu tau suruh keluargami meninggalkan rumah itu secepatnya. Dan tamp4ran kamu akan saya ingat sampai kapanpun mas," ucap Nabila.
"Kaisar coba liat lukanya aslinya apa buatan," titah Nabila pada Kaisar.
Kaisar yang masih berada dalam pegangan pak Wahyu melepaskan diri karna kebetulan pegangannya sudah melonggar.
Samudra mundur saat melihat Kaisar maju perlahan kearahnya.
"Pak Wahyu, boleh minta tolong?" tanya Kaisar tanpa mengalihkan pandangan dari Samudra.
"Iya boleh," jawab pak Wahyu.
"Apa yang kamu lakukan Isar?" tanya Samudra panik.
"Ayo kita bermain kakak ipar," sahut Kaisar tersenyum sinis.
Dan.... Hap.
Samudra ditangkap oleh pak Wahyu dari arah belakang. Inilah yang dimaksud oleh Kaisar meminta tolong pada pak Wahyu untuk menangkap Samudra.
"Lepasin saya, siapa Anda?" tanya Samudra saat sadar ada orang lain yang menyaksikan pertengkaran mereka.
"Tidak perlu tahu siapa saya," jawab pak Wahyu dari belakang.
"Kamu sel1ngkuh dengan pria ini Nabila?" tuduh Samudra.
"Sembarangan nuduh-nuduh, saya bukan kamu mas yang akan mengotori janji suci yang sudah saya buat dihadapan Allah," jawab Nabila santai. Kini Nabila duduk disofa ditemani oleh ibu Ros.
"Ikat aja Kaisar agar tidak bisa kabur," usul Nabila.
"Iya mba bener, pak Wahyu tahan sebentar saya ambil talinya dulu."
"Iya cepat Kaisar."
"Lepasin saya," teriak Samudra yang saat ini duduk dikursi kayu dengan lil1tan tali meng1kat badannya.
"Tenang mas, jangan teriak-teriak. Kamu akan saya lepasin setelah anak saya kembali dan semua milikku berada ditangannku," ucap Nabila.
Nabila tidak asal menebak bahwa anaknya diculik oleh Samudra dan keluarganya. Awalnya Nabila begitu syok melihat rekaman penculikan anaknya dan suaminya. Tapi sejak kedatangan Samudra membuat Nabila bisa menyimpulkan jika ini semua rencana suaminya sendiri.
Jika samudra diculik, tidak akan semudah itu dia bisa kabur dari tempat penyekapan, dan tidak secepat itu dia bisa sampai dirumah. Penculik tidak bodoh mencari tempat penyekapan yang tidak jauh dari rumah korban. Dan yang paling membuat Nabila yakin jika ini rencana suaminya adalah luka yang ada diwajah samudra.
"Kaisar, kamu belum membersihkan luka mas Sam?" Tanya Nabila.
"Oh ya mba, Isar hampir lupa," ujar Kaisar.
Kaisar mengambil beberapa lembar tisu diatas meja.
"Apa yang kamu lakukan Kaisar?" tanya Samudra panik.
"Saya cuma mau membantu mas Kaisar membersihkan luka diwajah mas Sam yang sepertinya sedikit bergeser." Kaisar terkekeh.
Samudra pasrah, dia tidak bisa lagi mengelak. Karna apapun alasan yang akan dibuatnya itu akan sangat kentara alasan dibuat-buat.
"Waah mba, tangan Isar hebat.. Bisa nyembuhin luka mas Sam sekali usap," ucap Kaisar mengejek.
"Kamu hebat Kaisar, kerja yang sangat bagus dek," ucap Nabila ikut mengejek.
Suasana menjadi hening, ibu Ros kaget saat luka yang tadi diobatinya tertanya luka pasto tapi terlihat seperti luka asli.
"Kamu keterlaluan Sam, dimana kamu menyembunyikan cucuku?" tanya ibu Ros marah.
"Bukan Sam yang menyembunyikan Raksa bu," jawab Samudra pasrah.
"Lalu siapa yang menyembunyikannya?" tanya ibu Ros.
"Sam tidak tau bu."
"Bohong kamu mas, Cepat katakan dimana anakku.. anakku tidak muda akrab dengan orang baru mas, pasti saat ini anakku sedangkan menangis," ucap Nabila yang kembali mengingat anaknya tidak dalam pantauannya.
"Mas benar-benar tidak tau dimana Raksa sayang," ucap Samudra.
"Jangan panggil aku sayang, karna kamu tidak pernah benar-benar menyayangiku mas," ujar Nabila.
"Selama ini aku mengalah saat kamu tidak adil dalam dan juga waktu mas, kamu selalu mengutamakan keluargamu meskipun baru sekarang aku mengetahui itu semua tapi aku yakin waktumu lebih banyak dengan keluargamu. Jika kamu mengabari akan pulang malam karna rapat itu hanya alasanmu kan mas?" Nabila kembali mengingat-ingat kebersamaannya dengan suaminya.
"Sayang maafkan mas, mas tidak bisa menolak kemauan mereka karna aku satu-satunya harapan mereka," ucap Samudra.
"Mas seandainya kamu jujur tentang semuanya aku tidak pa-pa kamu beri nafkah 1 jt waktumu berkurang untukku dan Raksa... Tapi yang aku perlukan kejujuranmu mas. Bahkan mungkin aku juga akan memberikan uang bulanan untuk orangtuamu," ucap Nabila.
"Maafkan aku sayang."
"Dengan kamu tidak jujur itu artinya kamu menghargaiku, tidak menghargai hubungan kita. Sakit mas, saat ini rasanya aku hampir menyerah tapi aku ingat jika anakku akan sangat membutuhkanku," ucap Nabila dengan air mata tidak ada hentinya keluar.
"Nak, kamu yang sabar. Ibu yakin kita akan segera menemukan Raksa," ucap ibu Ros mengusap-usap punggung Nabila.
Nabila menatap ke arah pak Wahyu yang sedari ada diruangan itu tapi tetap diam.
mustahil .....
udh bener2 di kasih kesempatan buat bahagia eh malah cari kehancuran lagi..