Garis kehidupan setiap orang kadang berliku. Awalnya mungkin sedikit menyimpang, tapi tujuan akhir yang ditentukan Tuhan tidak pernah meleset. Demikianlah yang terjadi dengan kehidupan Darel dan Dara di kisah sebelumnya.
Novel lanjutan ini akan mengisahkan:
》Perjalanan hidup Darel dan Dara selanjutnya bersama kedua anak mereka.
》Begitu juga dengan garis kehidupan Mikha dan Manche yang terhisap dalam lika liku kehidupan cinta Darel dan Dara sebelumnya.
Selamat membaca.
Semoga terhibur. 🙏🤗💖
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Rasa Hati 2.
...~•Happy Reading•~...
Kandara makin memperat pelukannya. Tanpa berkata apapun, Darel bisa merasakan yang dirasakan Kandara. Dia mengusap punggung Kandara dengan sayang, karena hatinya juga sedang sangat berat untuk berkata-kata. Tetapi dia harus menguatkan hatinya untuk berbicara dengan Kandara.
"Dara, coba lepaskan pelukanmu, lalu mari kita bicara, sebentar. Jika kau begini, aku tidak bisa bicara denganmu." Darel berkata sambil terus mengusap punggung Kandara untuk menenangkannya.
"Bicara saja, aku dengar..." Akhirnya Kandara berkata, tapi tidak mau melepaskan pelukannya dari Darel.
"Hhhhmmm..." Darel hanya bisa menarik nafas panjang dengan berat, saat mendengar suara Kandara yang tidak seperti biasanya.
"Tapi aku ingin melihat wajahmu. Mari angkat wajahmu." Darel berkata sambil mengangkat tangannya dan memegang dahi Kandara, agar bisa melihat wajahnya. Kandara merenggangkan pelukannya, lalu mendongakkan wajahnya, agar terlihat oleh Darel.
"Aaah... Jangan kau lakukan ini padaku, Dara." Darel kembali memeluk Kandara, karena mata Kandara sudah tergenang air mata. Kandara kembali balas memeluk Darel dengan erat.
"Jika bisa memilih, aku akan tetap di sini bersama kalian dan meneruskan rencana kita. Tetapi semua ini penting, Dara. Aku punya tanggung jawab yang lain, selain kau dan anak-anak." Darel tidak memaksa untuk melihat wajah Kandara, agar dia bisa berbicara dengan Kandara. Jika dia melihat wajah Kandara, tidak ada yang bisa dia ucapkan.
"Selain orang tuaku, kau dan anak-anak sangat berarti bagiku. Jadi jangan pikirkan yang lain dan tolong aku untuk lalui ini." Darel berkata pelan, sambil terus memeluk Kandara yang masih dalam pelukannya.
"Jika tidak ada kau dan anak-anak, tadi dari hotel aku tidak pulang ke sini, tetapi langsung ke bandara. Seperti yang aku lakukan selama ini, hanya katakan kepada Mommy dan Daddy juga Mikha, lalu terbang." Darel coba mengambarkan kepada Kandara, situasi yang dia lakukan dan menunjukan, Darel memikirkan perasaannya.
"Karena ritme kerja dan kesibukanku seperti ini, mungkin aku akan hidup seperti Mikha, jika tidak terjadi sesuatu dengan kita berdua. Bukan aku menyesal hidup bersamamu, tapi aku hanya berikan gambaran ini padamu. Sangat berat untuk membuat keputusan dalam kondisi seperti ini." Darel berkata sambil terus memeluk Kandara dan memainkan rambutnya yang lebat.
"Aku juga tidak bisa mengajakmu, karena ada anak-anak. Atau mereka akan sangat sedih jika kita pergi dan tidak bisa katakan, kapan akan kembali." Darel terus berbicara dengan serius dan pelan, berharap Kandara bisa menerima dan mendukungnya.
Kandara merenggangkan pelukannya lalu mengangguk dalam pelukan Darel. Ucapan Darel menyadarkan dia sebagai seorang istri dan juga ibu dari anak-anaknya. Kemudian dia melepaskan pelukannya sambil berusaha menahan tangisnya. Kandara sadar, Darel juga merasakan yang sama dengannya, tapi berusaha mengendalikan perasaannya. Apalagi harus meninggalkan anak-anak yang belum paham kesibukan Daddy nya.
"Maaf, Darel. Tadi aku terkejut mendengar kau harus pergi tinggalkan kami." Kandara berkata sambil memegang pipi Darel dan mengelusnya pelan. Kandara berharap, dengan apa yang dia lakukan, Darel lebih tentang dengan jalani keputusannya.
"Mari katakan, apa yang harus aku lakukan. Kau tau, aku tidak bisa lakukan apa pun di sini, jika tidak ada kau." Kandara berkata sambil terus memegang pipi Darel dengan sayang.
Mendengar dan melihat respon Kandara, Darel mengambil tangan Kandara yang ada di pipinya lalu mencium telapak tangannya. "Thank you." Darel langsung mengacak rambut Kandara dengan sayang.
"Aku sedang tunggu info dari asistenku. Yang pasti, besok pagi sekali aku sudah harus terbang ke Amerika. Jadi setelah kita berbicara, aku sudah harus bersiap-siap untuk ke bandara." Darel merasa sedikit lega, lalu mulai pikirkan apa yang akan dilakukan Kandara, setelah dia pergi.
"Kau masih mau tinggal berapa lama di sini? Nanti Mikha yang urus perpanjangan tinggal kalian, jika kau mau meneruskan rencanaku ke Jeju, katakan saja." Darel berkata serius, sambil melihat Kandara yang sedang menatapnya dengan serius.
"Apa kau lama di sana?" Tanya Kandara, agar dia bisa memutuskan untuk tetap tinggal atau segera kembali ke Indonesia.
"Aku tidak bisa putuskan berapa lama, karena belum lihat masalahnya sebesar dan seluas apa. Mungkin seperti saat aku kembali dari Jakarta waktu itu. Aku harus ke Jepang juga dan baru kembali ke sini." Darel menjelaskan kepada Kandara masalah yang harus diselesaikan, agar Kandara punya gambaran.
Darel yakin, Kandara bisa mengerti yang dia jelaskan, karena dia wanita karier dan juga sibuk dengan pekerjaannya. Jadi dia bisa pahami, jika dijelaskan dengan baik.
Kandara mengangguk mengerti yang dijelaskan Darel. "Nanti aku bicara dengan Mama. Kalau aku, mau kembali ke Jakarta saja, setelah kau pergi. Bukan aku tidak suka tempat ini. Keluargamu sangat baik dan sayang kami, tapi aku belum terbiasa tinggal di sini tanpamu." Darel mengangguk mengerti apa yang dikatakan Kandara.
"Kau katakan saja pada Mikha atau Mommy. Nanti mereka akan bantu semua yang kau perlukan. Aku tadi sudah bicara dengan Daddy, saat diputuskan untuk berangkat. Kau ikuti saja yang mereka katakan." Darrel berkata lagi dengan serius, sambil berpikir mana yang baik bagi Kandara dan anak-anak.
"Besok aku akan bicara dengan Mama dan dengar pendapatnya. Jika Mama masih mau tinggal, aku dan anak-anak akan tinggal untuk beberapa waktu di sini." Kandara mengutarakan pendapatnya, agar Darel tahu dia biasa ajak Mamanya berbicara sebelum buat suatu keputusan untuk dirinya dan anak-anak.
"Kau tidak tanyakan anak-anak? Mungkin mereka masih mau tinggal untuk jalan-jalan di sini." Darel memberikan saran, mengingat kedua anaknya, terutama Efrima yang baru pertama kali datang ke Seoul.
"Mereka tidak usah ditanya. Kau sudah tau jawabannya. Mereka akan pilih tinggal dan itu akan ganggu pekerjaan Mikha. Mereka akan sering minta Mikha pulang ke sini. Apa lagi kau tidak ada." Kandara berkata serius, karena sudah tau sifat kedua anaknya, terutama Efrima terhadap Mikha.
"Kalau begitu, aku akan minta Mommy antar kalian kembali ke Jakarta. Sepertinya, Daddy dan Mikha tidak bisa, karena mereka sudah libur cukup lama untuk urus pernikahan kita." Darel berkata sambil berpikir mana yang lebih baik.
"Darel, Mommy tidak usah antar kami ke Jakarta. Kami berempat naik pesawat komersial saja. Anak-anak jangan dibiasakan seperti itu. Mereka harus belajar jadi anak-anakmu di publik. Mereka akan bersekolah seperti biasanya, bukan? Mereka akan tetap berada di tengah publik." Kandara berkata pelan, berharap Darel mengerti kondisinya dan anak-anak di Jakarta.
^^^Kandara berkata demikian, karena mengerti arti ucapan Darel. Jika Mommy nya yang akan mengantar mereka, pasti mereka akan pulang ke Jakarta dengan menggunakan pesawat pribadi keluarga Darel.^^^
Begini, Dara... Coba kau bantu pikirkan alasan yang bisa membuat kedua orang tuaku membiarkan kalian berempat kembali ke Jakarta dengan menggunakan pesawat komersial. Apalagi setelah konferensi pers dan publik ingin tahu tentang kau dan anak-anak. Kedua orang tuaku akan sangat berat untuk melepaskan kalian lakukan penerbangan komersial tanpa aku atau Mikha." Darel langsung bangun dan duduk di atas tempat tidur, sambil menggenggam tangan Kandara.
...~•••~...
...~●○♡○●~...
Terimakasih buat authornya..