Celine, seorang mahasiswi cantik yang kabur dari rumah karena ingin menghindari perjodohan yang telah direncanakan oleh Ayahnya. Selama pelariannya, ia bertemu dengan seorang laki-laki dengan tingkah laku yang nakal, bernama Raymond. Dan ternyata Ray adalah Dosennya dikampus.
"Kak Ray lo jangan berani macam-macam ya sama gue." Celine.
"Bibir lo itu selalu menggoda gue, tau nggak?" Raymond
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RizkiTa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menerima Penawaran
Ray menggendong kembali tubuh Celine karena wanita itu terkulai lemah saat ini, tak peduli dengan luka yang ada di tangannya.
Celine tidak berontak, karena memang kepalanya masih terasa pusing, dan suhu tubuhnya juga masih panas, jangankan untuk berjalan, berdiri saja ia tak sanggup. Sepanjang perjalanan menuju kamar, Celine membenamkan wajahnya pada dada lelaki itu, menutup matanya rapat-rapat. Sengaja, ia tak mau menatap wajah Dosen yang ia anggap mesum.
"Lo tunggu disini, istirahat aja jangan kemana-mana!" titahnya setelah membaringkan kembali tubuh gadis itu.
Celine masih menutup matanya, ia mengubah posisinya menjadi miring dan meringkuk. Saat ini ingin sekali ia bertanya apa yang sebenarnya terjadi malam tadi, namun masih ia tahan karena tak kuasa untuk membuka mata.
Ray menuju kamar mandi, menucui tangannya yang berlumuuran daraah di wastafel. Sambil bercermin ia memandangi wajahnya sendiri. Tak habis pikir kenapa ia harus terjebak dengan urusan gadis itu? bahkan ia harus dua kali merasakan sakit pagi ini, yang pertama tamparan keras dipipinya yang kini masih meninggalkan kemerahan, dan sekarang, luka dalam pada telapak tangannya, yang sudah ia basuh dengan air berkali-kali.
Sejak kapan gue peduli banget sama orang lain? batinnya.
Ray keluar dari kamar mandi, mengenakan kaos tipisnya sebelum menerima tamu yang ia yakini adalah pengantar makanan yang ia order.
------------------------
"Makan!" seru Ray saat sudah duduk ditepi ranjang sambil memegang mangkuk berisikan bubur ayam.
Perlahan Celine mengubah posisinya menjadi duduk, membuka matanya pelan, selimut masih menutupi tubuhnya hingga dada. Membuka mulutnya saat Ray mulai menyuapinya. Ia tepis rasa malu dan gengsi saat ini karena memang perutnya sangat lapar.
Saat mulai mengunyah makanan itu, tiba-tiba ia ingat akan sesuatu. "Hape gue... dimana ya?" tanya gadis itu sambil melihat ke sekitarnya, tangannya meraba sisi kosong disampingnya, bawah bantal dan selimut.
"Udah gue buang, berisik banget dari semalam." Ray menjawab menampilkan wajah tak bersalah.
"Kak, itu salah satu harta berharga gue sekarang." ucapnya lirih, sambil memegangi pelipisnya.
"Ntar aja urusan hape, sekarang lo makan dulu, terus minum obat!" dengan nada ketus, tangannya masih menyuapi gadis.
"Gue bisa makan sendiri," Celine hendak mengambil alih mangkuk ditangan lelaki itu setengah memaksa.
Ray membiarkannya makan sendiri, namun lelaki belum mengubah posisinya ia masih duduk ditepi ranjang.
"Ngapain masih disini Kak?"
"Mau mastiin itu lo makan atau lo buang."
Mendengar itu, Celine langsung menghabiskan makanannya, tak lupa ia juga meneguk susu dan air putih yang sudah tersedia di nakas.
"Anak pintar," tutur Ray sambil membuka kemasan obat pemberian Dokter Virzha malam tadi.
"Ini obat apa? dan dari mana?" sebelum menerima obat itu dari tangan Ray, Celine memastikan.
"Penurun demam, cerewet banget sih?" gerutu Ray.
"Ya gue cuma nggak mau salah minum obat bisa aja kan ini obat nyelakin gue," meski ragu, Celine tetap meminum benda kecil berwarna putih itu.
"Makasih," ucapnya setelah meneguk air putih, kemudian gadis itu menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya, melangkah melewati Ray dan meraih semua pakaiannya, heran mengapa pakaiannya bisa sampai basah semua seperti ini.
"Kak,"
"Lo mau kemana?"
Secara bersamaan mereka membuka suara.
"Gue mau balik ke kosan," Tak peduli meski pakaiannya basah semua, ia tetap melangkah menuju kamar mandi untuk mengenakannya.
"Nggak bisa," Ray menahan tangannya.
"Kenapa?" Celine berbalik, Ray langsung menarik tangannya hingga gadis itu duduk dipangkuannya. Ray mengeratkan kedua tangannya pada pinggang gadis itu.
"Lepasin, Dosen mesum! gue mau kuliah, siang ini ada jadwal," Celine memberontak.
"Mata kuliah negosiasi bisnis kan? elo lupa siapa Dosennya?" Ray menatap dalam pada Celine, manik mata mereka saling bertemu. Mendengar pertanyaan itu, Celine menggigit bibir bawahnya. Ya baru ingat bahwa Dosen mata kuliah itu adalah lelaki yang sedang ia duduki saat ini.
"Tetap aja, gue mau pergi dari---"
"Kita kuliah privat aja gimana? dikamar ini? diatas ranjang." Ray menampilkan seringai mesumnya.
Plak. Lagi-lagi Celine menampar pipi lelaki itu tapi tidak kuat, hanya sekedar saja. Dan Ray hanya menampilkan senyum penuh makna, melihat senyum itu Celine langsung memalingkan wajahnya.
"Lepasin Kak! gue harus pergi dari sini, gue banyak urusan." Sekuat tenaga Celine mencoba melepaskan diri dari pelukan lelaki itu. Memang benar banyak hal yang harus ia urus hari ini, salah satunya adalah menemui pengelola kos, membayar biaya hunian itu mengingat hari ini sudah jatuh tempo.
"Terima tawaran gue, lo bisa tinggal disini gratis," bisiknya. Mendengar kata gratis, Celine mulai berpikir. Meski sambil berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Ray, sepertinya tawaran itu menarik.
"Oke."
Mendengar satu kata itu dari mulut Celine, Ray mengangkat kedua alisnya. Nggak salah dengar?
"Lepasin dulu tapi!" Segera Ray melepaskan kedua tangannya dan membiarkan Celine turun dari pangkuannya.
"Sebutin apa yang harus gue lakuin buat lo, dan apa aja yang bakalan gue dapat dari lo Kak!" sambil memunguti kembali pakaiannya yang berserakan di lantai.
"Gue cuma butuh kenikmatan dari lo, sementara lo butuh biaya hidup, dan fasilitas. simple kan? kita bisa saling penuhi itu." ucapan Ray terdengar mantap.
Celine menghela napasnya kasar. "Cuma itu kan?" tanya Celine tanpa ragu. Oke mungkin saat ini Celine sudah kehilangan akal sehatnya. Menurutnya semuanya sudah terlanjur, Ray sudah melihat tubuhnya tanpa sehelai benang pun.
Ray mengangguk, "ada satu syarat lagi buat lo." lanjut Ray.
"Apalagi?"
"Berhenti bekerja dibar!" Celine mengerjapkan matanya berkali-kali. Memang itu kan yang dia mau.
"Oke dengan senang hati." jawab Celine kemudian ia berjalan melangkah menuju kamar mandi untuk mengenakan semua pakaiannya.
"Ingat perjanjian kita dimulai dari hari ini." Ray berjalan cepat mengejar Celine.
"Dimulai dari hari ini, sampai kapan?" Celine menanyakan batas waktu perjanjian mereka.
"Sampai gue bosan sama lo." Ray menangkap kedua pipi Celine, kemudian mengecup bibir merah merona gadis itu. Celine tercengang, ingin marah. "Nggak boleh marah, perjanjian berlaku mulai hari ini, dan itu artinya tubuh lo milik gue, paham?"
Celine terdiam terpaku, mencoba menetralkan degup jantungnya, meski ini bukan ciuman pertamanya. Tapi entah mengapa ia begitu gugup. Dengan langkah cepat gadis itu kembali berjalan untuk meneruskan aktifitasnya. Segera mengunci pintu kamar mandi dengan benar, takut-takut lelaki itu menyusulnya.
"Lo yakin mau pake baju basah itu?" Teriak Ray dari luar kamar mandi, sementara Celine sudah membuka kaos berwana hitam milik Ray yang ia kenakan. Seketika Celine berteriak histeris menyaksikan bagian pundak dan dadanya yang banyak bercak merah kebiruan.
"Kurang ajar!!" Teriaknya lagi, Ray mendengar itu ia paham apa yang membuat gadis itu berteriak histeris, hanya menanggapi dengan gelak tawa mengejek.
-------------------------------------
Jangan bilang dikit dong, author udah banyak nih upnya 😄 jangan lupa di ramaikan.
Ingat ya di novel ini karakter tokohnya nggak pada baik, bad boy dan Celine yang lama kelamaam jadi bad girl juga. Bosan bikin cerita orang baik terus 😝