Dean tidak pernah berpikir dia akan hidup. Setelah dua kali terkena hujaman peluru, dan tubuhnya yang terbentur bertubi-tubi di lereng tebing. Dia yakin, pas dirinya terjun ke laut Dia pasti mati!
Siapa sangka, tubuhnya masih kuat terbawa arusnya ombak, dan terdampar di tepian pantai. Meski begitu, dia masih berpikir...
Dia pasti, akan mati!
Wanita itu.... Yah... Bisa dibilang malaikat penyelamat hidupnya. Dengan sepasang kakinya yang indah bertelanjang kaki berlari kecil di atas pasir menghampirinya. Menemukan tubuhnya yang malang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonelondo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14 Si Cantik Mengeluarkan Tanduknya
Hawa dingin nan pekat menyelimuti pulau Elvaros. Hujan belum kunjung reda. Bukan hanya pria itu, wanita itu juga mulai kedinginan. Namun, bagaimana... Dia harus menyelesaikan urusannya.
Dean sudah selesai diberi makan. Sekarang Nina mau mengerjai dada dan kaki. Disuruhnya di depannya buka baju. Yang disuruh menurut.
Wanita itu tidak tahu saja, didalam dada di depannya layaknya ada bom waktu yang siap meledak. Bagaimana tidak? Disentuh oleh orang yang disukai, tentu memberi sensasi tersendiri.
Pemilik mata hazel itu mengamati alis, mata, hidung, pipi, dagu, dan bibir. Ya! Pria itu sedang asik menelusuri wajah si Jelita yang mirip boneka.
Akhirnya Nina sudah selesai dengan urusannya. Segera dia merapihkan segala hal yang dibawanya.
"Aku hanya menambah obat di dada dan kaki berupa menormalkan suhu badan."
Baguslah, berarti aku tidak keracunan.
Jelas, jika wanita itu memberi obat bukan untuk orang yang kedinginan. Nanti bisa berabe urusannya pria itu.
"Oh ya, aku lupa beri tahu. Jika luka di dada dan kaki kau sudah mengering, berarti itu sudah baik. Tapi bukan berarti kau bisa jalan. Tetap saja kaki kau butuh terapi. Nanti kau bisa lepas sendiri perban dan bebatnya," ucap Nina lagi.
Mengangguk. "Oke."
Selagi wanita itu masih sibuk merapihkan, Dean mengenakan baju.
“Telepon umum buka pukul 8 pagi. Kau berjalanlah dari depan rumahku. Ikuti terus jalur itu. Jangan berbelok ke kiri dan ke kanan. Kau berbelok ketika kau menemukan tanda panah pelabuhan. Besok jalanan pasti becek. Aku tidak punya sepatu boot pria. Kau pakai saja plastik untuk alas kaki. Ambil saja itu di dapur, di kabinet bawah. Tapi ya, terserah kau. Jika kau ingin pakai sepatu kau, asalkan kau tahan saja. Karena tali sepatu pasti akan menekan urat kaki saat kau mengikatnya, dan itu akan menimbulkan rasa nyeri di luka kaki kau. Sepatu kau kutaruh di rak sepatu di depan pintu belakang. Kau bisa mengambilnya di sana." Nina berbicara usai selesai.
"Nina, apa kau benar-benar ingin mengusirku?”
Mengerutkan dahi. "Kenapa kau masih bertanya? Apa aku tampak tidak serius?"
“Kau harus tahu, betapa berat untukku meninggalkan orang yang telah menolongku. Apa kau ingin aku menanggung hutang budi seumur hidupku?”
“Kau cukup membalas kebaikanku dengan pergi dari sini."
“Aku tidak bisa, Nina. Aku bukanlah orang yang nggak tahu terima kasih. Jujur, aku hanya punya waktu beberapa minggu saja. Aku nggak tahu, apa nanti aku akan seberuntung ini.”
Mengerutkan dahi lagi. “Apa maksud kau?”
“Aku akan kembali bertugas bulan depan. Sekarang ini pasukan yang menumpas organisasi di pulau Tartan bukanlah dari rombonganku. Nggak menjaminkan, nanti aku kembali ke hutan bisa kembali hidup. Jadi bisakah...”
Biasa... Pria itu membuat alibi agar bisa di sini. Walau memang kenyataannya benar. Hanya saja selain itu, demi menarik rasa simpati. Namun belum tuntas dia bicara, lawan bicaranya berdiri.
“Tidak bisa!”
“Kenapa, Nina?” Dean memegang pagar untuk membantunya berdiri.
“Tidak bisa!” tegas Nina lagi.
“Kasih aku alasan, kenapa aku tidak diperbolehkan membalas budi kau?”
“Aku tidak mau! Jika orang yang perbuat baik tidak mau, buat apa kau repot-repot berusaha membalasnya?”
“Iya, alasannya apa?” Dean mendesak.
“Tidak ada alasan."
"Nina, kumohon. Selagi menungguku kembali bertugas. Biarkanlah aku membalas kebaikan kau dengan bekerja di sini. Hanya 3 minggu lebih saja, Nina. Ya, anggaplah 3 minggu."
'
"Aku bilang tidak mau!"
“Lantas, bagaimana ini... Aku orang yang tidak bisa menerima kebaikan orang tanpa membalas. Sifat aku seperti ini, sifat kau begitu. Tidak ada titik temu diantara kita. Lagi pula, aku sudah memberi alasanku. Bukankah sebaiknya kau saja yang mengalah? Apa kau ingin aku dihantui oleh kebaikan kau sampai mati?”
“Dari mana kau tahu akan mati? Apa kau, Tuhan?”
“Ya! Aku bukan Tuhan. Tapi sebelum takdir itu datang, bukankah sebaiknya aku bersiap terlebih dahulu dengan urusanku di Dunia? Bagi seorang tentara gambaran itu selalu ada dimata kami. Kau tahu sendiri, semua orang pun tahu, itu sudah jadi rahasia umum. Dan kau pun salah satu saksi hidup, bagaimana seorang tentara hampir mati. Kau yang menolongku terdampar di sini.”
“Apa saat ini kau sedang membual?”
“Bagaimana mungkin aku membual, aku bicara fakta. Kau pun tahu, kepahitan yang akan kami hadapi jika terjun ke medan perang.”
“Tidak usah kau mengulang hal-hal itu terus. Kau nggak usah banyak cerita. Ingat! Kau tak bisa melewati takdir! Dan aku tak akan merubah keputusanku. Kau harus pergi dari sini!” Nina tetap bersikeras, kemudian pergi.
Meraih tangan. "Nina."
Menoleh, melempar pandangan tajam. "Mau apa kau?"
“Dengar, hanya 3 minggu saja Nina. Hanya 3 minggu saja aku di sini. Ayolah, janganlah keras kepala. Biarkanlah aku membalas kebaikan kau. Aku tak ingin mati dihantui oleh bayang-bayang kau.”
“Dari tadi kau bicara mati, mati, dan mati saja! Kalau ternyata nanti kau mati, itu sudah takdir kau. Urusan apa denganku? Jangan coba mempermainkan rasa ibaku. Kukasih tahu ya, rasa ibaku ada saat kau terdampar dan dalam kondisi tak berdaya. Sekarang tidak lagi! Jadi, kau pun dengar. Aku tak perduli dengan ungkapan hati kau mau membalas kebaikanku. Aku pun tidak perduli, kau nanti mati dibayang-bayangi oleh diriku. Keputusanku sudah bulat, pergilah kau dari sini. Ingat! Sekali lagi kubilang, aku tak butuh balas budi kau! Dan tak peduli bila nanti kau mati! Pokoknya kau harus pergi dari sini, titik!" Menghempaskan tangan. "Iiih...!"
Meraih lagi. "Nina.”
Meronta. "Lepaskan!”
"Tunggu, Nina. Aku masih mau bicara."
"Sudah! Aku nggak mau dengar!"
"Tunggu..."
"Tidak!"
Akhirnya terjadi tarik menarik diantara mereka. Cengkraman Dean rupanya makin kuat. Dia baru sadar, saat lihat di depannya merintih kesakitan. Segera dilepasnya.
“Oh! Maafkan aku."
“Kau menyakitiku!” hardik Nina.
“Maafkan aku." Meraih tangan lagi, berniat ingin melihat. "Apa kau sakit?”
Meronta kuat. “Lepas..!”
Sebaik terlepas, Nina balik badan berjalan pergi. Dean memanggil.
“Nina!”
Menoleh, dan mengancam. “Ingat! Keputusanku tak akan berubah! Besok pagi pergilah kau ke pelabuhan. Kalau tidak, aku akan menyiram kandang ini dengan cat!”
Nina kembali melangkah. Agar tetap berdiri, dan bisa berjalan, Dean mengikuti lewat bantuan pagar. Namun hanya sampai ujung kandang.
“Nina, Nina, maafkan aku. Nina, Nina..."
Tahu teriakannya sia-sia, sembari mendesah, dia kembali ke kasur ala kadarnya.
“Hari ini aku telah melukai nona besarmu. Aku bukan memberi ukiran cinta, malah meninggalkan ukiran tangan. Dasar, aku ceroboh! Pasti itu menyakitkan. Bagaimana keadaannya?"
Kuda itu menggelengkan kepalanya ke kiri dan kanan menikmati belaian demi belaian teman barunya.
“Sepertinya besok aku harus melindungi kamu dari siraman cat. Tapi tenang, aku akan membersihkan kandang ini. Ya, aku tahu, ini rumahmu. Maafkan aku, kamu jadi terkena imbasnya dari keributan kami.”
"Hiiik..."
"Oh ya, sepertinya kamu mengerti ucapanku. Tadi kulihat kamu tidak mengamuk. Harusnya aku suruh Nina masuk saja."
Ya! Kuda itu dari tadi diam saja, memandangi interaksi diantara mereka berdua.
"Hiiik..."
Memeluk. "Ah, aku menyayangimu. Hmm... Tubuhku jadi hangat. Ini sangat menyenangkan.”
Di luar, Nina jalan tergesa-gesa dengan nyeri di tangannya. Cetakan Dean, sungguh menyakitkan. Tenaga pria bukanlah main-main, kekar, dan berurat. Tangannya yang langsing dan indah harus tersakiti.
Sesampainya di rumah, dia melempar barang-barangnya serampangan. Bergegas masuk kamar untuk mengobati.
Wanita itu ada menyimpan ramuan yang sudah jadi. Ramuan untuk sakit ringan.
“Kurang ajar! Aku masih punya hati untuk tetap menolongnya, tapi malah dia masih meminta untuk tetap tinggal di sini, dan menyakitiku lagi. Sialan!”
Selang sesaat, Nina terpaku di tepian ranjang. Omongan Dean rupanya membayang-bayanginya. Memang pekerjaan tentara terhormat, jika pun mati, mati terhormat. Namun biar bagaimana pun itu mengenaskan. Tak terbayangkan, bagaimana perasaan orang-orang terkasih yang ditinggalkan. Bahkan tentara itu sendiri saat ajal mengenaskan itu tiba.
Angin sepoi-sepoi berhembus lembut melewati kisi-kisi jendela. Pagi sudah datang. Pagi ini cuaca cerah setelah diguyur hujan semalaman. Nina sibuk di dapur merebus kentang yang akan dijadikannya bubur. Tadi dia sudah membuat daging cincang, dan salad. Sarapan pagi ini sedikit mewah. Dia harus memberi gizi agar Dean punya tenaga pergi dari sini, setelah sakit tadi malam yang dideritanya. Biar marah, dia harus punya rasa tanggung jawab.
Sepanjang masak kadang dia berhenti sejenak. Rasa ngilu yang menjalar di tangannya kadang menyakitinya.
Selang sesaat, wanita itu sudah berjalan menuju peternakan. Sesampainya, dilihatnya pria itu masih terlelap di ranjang. Tapi yang menarik perhatiannya, musuh bebuyutannya hilang.
“Hei! Kau kemana kan kudaku?” teriaknya.
Dean membalikkan badan. Rupanya dia tidak tidur. Pria itu tubuhnya tengkurap membuat wanita itu jadi tidak tahu sedang tidur, atau sedang melek.
“Apa?”
“Kau kemana kan kudaku?"
“Kuda kau? Memang kau punya kuda?” Dean mengejek.
“Dasar kau...!” geram Nina.
Lekas dia mencari. Alangkah terkejutnya dia, kudanya di ikat di bawah pohon di belakang peternakan. Lekas dia balik badan menemui Dean lagi.
“Hei, kenapa kau taruh sana kudaku? Cepat, bawa ke sini!”
“Kalau kau mau, lepas saja sendiri."
“Apa?”
"Kenapa? Kau takut?"
Nina merengut.
“Aku menaruh kuda itu di sana, demi menyelamatkannya. Bukankah kau mau menyiramku? Keributan ini hanya antara kita berdua. Kuda itu tak layak dapat serangan dari kemarahan kau.”
“Kau, ya...! Asal kau tahu, aku berbaik hati ke sini membawa sarapan agar kau ada tenaga nanti pulang setelah semalam sakit. Oh! Rupanya kau memang benar-benar tidak bisa dikasih hati! Kau menguji kesabaranku ya. Baiklah, akan aku buktikan.”
Nina bergegas keluar peternakan. Nggak membutuhkan waktu lama dia telah kembali. Dean buru-buru menengkurapkan tubuhnya agar wajahnya tidak terkena siraman. Nina menyiram seluruh kandang, baik itu dari jarak dekat, dan jarak jauh. Semua rata dari siramannya. Lalu dia melempar semua kaleng ke dalam.
“Rasakan lah itu!”
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=@.@\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa kasih rating bintang 5, like, dan komen. Tinggalkan jejakmu...
terimakasih ya kak ❤️❤️❤️❤️
setelah greget baca dewi dan mas kris