Elena Wilson, seorang wanita cantik berusia 28 tahun. Harus mendapati sebuah kepahitan dalam rumah tangganya, dan tepat di hari ulang tahun pernikahannya yang keempat, dia melihat dan menyaksikan dengan kedua mata dan kepalanya sendiri, jika suami dan juga sahabatnya Anna, sedang bercumbu.
"Kalian jahat! Apa salahku padamu, Mas? APA!" teriak Elena dengan deraian air mata.
"Salahnya, kau tak bisa hamil. Dan kau wanita mandul!" jawab Jordi, suaminya Elena.
"Aku tidak mandul, Mas!"
Perselingkuhan itu, membuat Elena menutup hatinya untuk pria manapun. Bayangan-bayang rasa sakit itu masih membuat Elena tak siap untuk membuka hatinya kembali dan menjalin kisah asmara. Aalagi, bukan hanya Jordi saja yang menekannya selama ini, tetapi juga Ibu mertuanya.
Akankah Elena membuka hatinya kembali? Atau, afakah pria yang mampu membuat Elena jatuh cinta kembali?
Simak di sini yuk!!! JANGAN LUPA TEKAN FAV, LIKE DAN KOMEN NYA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisyah az, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ajakan Evan
Happy reading......
Saat ini Elena, Ratu, Rio dan juga tante Astrid sedang sarapan bersama. Tetapi suasana begitu canggung antara Rio dan Elena, dan itu sangat terlihat jelas di mata Tante Astrid dan juga Ratu.
Elena juga tidak mau menatap ke arah Rio. Jika dia melihat Rio, entah kenapa dadanya berdebar dengan keras. Bahkan bayang-bayang ciuman panas mereka semalam pun, selalu terbayang di benak dan pikiran Elena.
"El, mata Lo kenapa? Kok kayak panda gitu? Lo kurang tidur semalam?" tanya Ratu dengan heran, saat menatap wajah Elena yang seperti kurang tidur.
"Iya, semalem aku kurang tidur." Elena menjawab sambil meminum susu yang ada di meja.
"Gimana kencan Lo semalam sama Pak Evan, dan keluarganya? Eh, cantik nggak cewek yang mau dijodohkan sama Pak Evan?" tanya Ratu dengan penasaran.
"Ya gitu deh! Cantik sih, tapi sayang, minus attitude!" jawab Elena sambil mengelap mulutnya.
Tante Astrid melihat ke arah Ratu dan Elena bergantian. Dia tidak mengerti apa yang mereka berdua bicarakan, Tante Astrid memang tahu semalam Elena pergi bersama seorang pria. Akan tetapi, dia tidak sempat menemui pria itu.
"Jadi bener Sayang, kalau yang semalam itu pacar kamu?" tanya Tante Astrid kepada Elena.
"Ah, bukanlah Tante. Saya hanya membantu saja! Ya sudah ya Tante, kalau gitu saya berangkat ke kantor dulu, takut telat. Soalnya nanti jam 09.00 ada meeting," pamit Elena sambil mencium tangan Tante Astrid, begitupun dengan Ratu. Akan tetapi Elena lupa, kalau berkas untuk meeting masih ketinggalan di kamar. Akhirnya dia pun naik ke kamar untuk mengambil berkas itu.
"Tu, benar kalau yang semalam itu bukan pacarnya Elena? Tapi, semalam kamu bilang kalau mereka itu pacaran?" heran Tante Astrid sambil melihat Ratu dengan dahi mengkerut.
"Iya Tante, Elena itu cuma membantu Bosnya buat ngebatalin perjodohan itu. Soalnya, Bosnya itu nggak mau dijodohin, Tante. Jadi, dia meminta Elena untuk pura-pura jadi pacar bohongan," jujur Ratu.
Setelah itu dia pun pamit pergi ke kantor bersama dengan Elena, tidak ada perbincangan yang penting di dalam mobil. Hanya seputar kencan Elena bersama Evan semalam.
"Gue penasaran deh sama cewek yang mau dijodohkan sama Pak Evan itu, kayak gimana sih rupanya?" Ratu berucap sambil mengetuk jari di setir mobilnya.
Sedangkan Elena, dia melamun sambil melihat ke arah luar. Dia tidak konsen dengan pertanyaan yang diajukan oleh Ratu selama di perjalanan, karena pikiran Elena terus terbayang kejadian semalam.
'Kenapa aku terus terbayang ya, dengan ciumaan semalam? Kenapa aku serasa ketagihan? Ada apa dengan otakku Ini?' gerutu Elena sambil memukul kepalanya.
Ratu melihat Elena memukul kepalanya, seketika mengerutkan kening. Dia menatap heran ke arah sahabatnya itu.
"Lo kenapa, El? Kok mukulin kepala Lo kayak gitu? Kepala Lo sakit? Atau kepala Lo lagi pusing?" tanya Ratu dengan wajah yang begitu heran.
Elena tersadar, dia langsung menghentikan gerakan tangannya dan menjadi salah tingkah. "Ah, tidak kok! Ini kepalaku sedikit pusing," bohong Elena kepada ratu.
Dia hanya tidak mau saja, jika Ratu mengetahui kejadian semalam bersama Rio. Karena kalau sampai Ratu tahu, bisa diledek sehari semalam dia sama sahabatnya itu. Sebagai sahabat, Elena sangat tahu jika Ratu itu tipikal orang yang suka ngeledek sedari SMA.
Sampailah mereka di kantor MQ Group, tanpa banyak ba-bi-bu, Elena langsung masuk ke dalam lift bersama dengan Ratu. Sementara itu Ratu keluar di lantai 4, sedangkan Elena naik ke lantai 15 di mana ruangannya berada.
"Untung saja, Pak Evan belum datang," gumam Elena sambil melihat ke ruangan Evan yang masih kosong.
Dia pun mulai menyiapkan berkas untuk meeting nanti jam 09.00. Saat Elena tengah mengecek berkas-berkas untuk meeting nanti, tiba-tiba Evan memanggilnya di pintu ruangan. "Masuk ke ruangan saya, Elena!" titah Evan, setelah itu dia meninggalkan ruangan Elena.
Dengan sigap, Elena pun masuk ke dalam ruangan Evan. "Iya Pak, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Elena sambil menundukkan kepalanya.
"Nanti siang, Mama saya ngajak untuk makan siang bersama kamu. Jadi, kamu bersiap-siap ya!" Evan mengatakan itu sambil menatap laptopnya, dia bahkan tidak menatap Elena sama sekali.
Mendengar itu, Elena mengangkat wajahnya dan menatap Evan dengan alis bertaut. "Makan siang? Tapi Pak, saya--"
"Tidak ada penolakan! Kalau kamu menolak, maka Mama akan tahu kalau kita itu hanya pura-pura pacaran," potong Evan sambil menatap Elena, hingga tatapan mereka bertabrakan satu sama lain.
Elena menghela nafasnya dengan pelan, dia tidak bisa lagi untuk menghindar. Dia sudah terlanjur memasak nasi yang lembek, jadi Elena pikir sekalian saja dibikin bubur.
Dengan langkah gontai, Elena masuk ke dalam ruangannya, wajahnya mendadak lesu. Entah kenapa semangatnya seketika menjadi hilang. Dia sebenarnya malas harus berurusan dengan keluarganya Evan, apalagi harus berpura-pura pacaran.
Elena sebenarnya takut jika orang tuanya Evan tahu, kalau mereka hanya pura-pura pacaran. Elena hanya takut dicap sebagai wanita penghancur hubungan orang. Elena cuma takut, dia akan mengecewakan orang tuanya Evan, karena Elena bisa melihat tatapan yang penuh harapan dari kedua mata orang tuanya Evan.
'Sebenarnya aku tidak mau melakukan ini. Aku bisa melihat harapan di sepasang mata orang tuanya Pak Evan. Akan tetapi, aku sudah terlanjur membantunya. Apa aku harus bongkar aja, kalau aku dan Pak Evan sebenarnya tidak pacaran? Tapi nanti pak Evan marah, terus aku dipecat, gimana dong? Duh ... aku jadi bingung deh!' batin Elena sambil menggigit bibir bawahnya dengan kesal.
Bersambung......