Anindiya dikenal sebagai seorang makeup artist berbakat yang memiliki sanggar rias pengantin ternama di kotanya. Setiap hari, ia membantu para calon pengantin mewujudkan impian mereka tampil sempurna di hari bahagia. Hidupnya berjalan tenang hingga suatu hari ia mengunjungi sebuah butik tua untuk mencari beberapa gaun pengantin baru.
Di antara deretan gaun mewah, pandangannya terpaku pada sebuah gaun putih yang dipajang anggun di atas manekin. Ada sesuatu yang aneh sekaligus memikat dari gaun itu. Seolah memiliki kehidupan, gaun tersebut memanggilnya tanpa suara. Meski sang pemilik butik memperingatkan agar tidak menyentuhnya, Anindiya justru membawanya pulang.
Sejak saat itu, kejadian-kejadian mengerikan mulai menghantui hidupnya. Bisikan misterius terdengar di tengah malam, bayangan pengantin berlumuran darah muncul di setiap cermin, dan setiap pengantin yang mengenakan gaun tersebut mengalami nasib tragis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 26
Malam sudah jauh melewati tengah malam.
Suasana di dalam sanggar rias benar-benar hening membisu. Seluruh lampu di lantai bawah sudah dimatikan. Hanya cahaya redup dari lampu kecil di dalam kamar lantai dua yang masih menyala.
Anindiya duduk sendirian di tepi tempat tidur.
Ia bahkan belum sempat berganti pakaian sejak pulang dari Kota C. Wajahnya memancarkan keletihan yang teramat sangat. Matanya membengkak dan memerah karena sejak tadi tak berhenti meratapi nasib naas yang menimpa Lestari.
Bayangan mengerikan itu terus terputar ulang di benaknya: Lestari yang terduduk kaku di depan meja rias, tatapan matanya yang melotot kosong tanpa nyawa, serta jeritan histeris yang tanpa sadar meluncur dari tenggorokannya sendiri.
Semua memori itu terasa amat nyata dan segar, seolah baru saja terjadi beberapa menit lalu.
Anindiya mengusap wajahnya pelan-pelan seraya menghembuskan napas berat. "Kamu harus tenang, Anin..." bisiknya menguatkan diri sendiri.
Ia tahu betul, jika terus-terusan tenggelam dalam pusaran rasa takut, logikanya akan lumpuh dan ia tak akan bisa berpikir jernih.
Ia bangkit berdiri, lalu melangkah menuju meja kecil di sudut jendela. Segelas air putih dingin yang tadi ia bawa masih utuh. Anindiya meneguknya perlahan-lahan. Sensasi dingin yang menjalar ke tenggorokannya sedikit meringankan beban di kepalanya, namun pikirannya tetap dipenuhi bermacam pertanyakan yang belum terjawab.
Mengapa dua orang pengantin yang mengenakan gaun yang sama harus menyambut kematian dengan cara yang serupa? Mengapa semua kebetulan ini terasa saling menjerat?
Ia menggelengkan kepala kuat-kuat. "Enggak... aku nggak boleh langsung percaya hal klenik begitu saja."
Sejak kecil, Anindiya memang dibesarkan untuk selalu mencari alasan logis dan ilmiah di balik setiap peristiwa. Baginya, ketakutan sering kali membuat manusia menghubungkan hal-hal yang sebenarnya tak saling berkaitan.
Ia kembali mengingat penjelasan petugas medis di rumah duka tadi. Belum ada hasil autopsi yang pasti. Penyebab kematian Lestari masih harus menanti pemeriksaan laboratorium lebih lanjut.
Anindiya berpegang teguh pada fakta itu. "Bisa jadi itu serangan jantung mendadak. Atau mungkin Lestari punya riwayat penyakit dalam yang tidak diketahui keluarganya."
Ia terus berusaha memeras otak, mencari segala kemungkinan lain. Apapun itu terasa jauh lebih masuk akal ketimbang harus memercayai dogma absurd bahwa selembar gaun kain bisa membawa kutukan maut.
Lagipula, jika gaun pengantin itu benar-benar terkutuk... mengapa selama tersimpan berbulan-bulan di sanggar tak pernah ada kejadian aneh? Mengapa Rina, dirinya, dan para pelanggan lain yang memegang gaun itu baik-baik saja? Mengapa harus dua orang itu saja yang bernasib malang?
Makin dipikirkan, makin rumit benang kusut di kepalanya. Anindiya memijit dahinya yang mulai berdenyut nyeri.
Ia sadar pikirannya sedang terombang-ambing. Apalagi belakangan ini Rina terus-menerus meracuninya dengan cerita mistis—mulai dari melihat bayangan perempuan, cium aroma melati, hingga diteror mimpi buruk saban malam. Semua itu selalu dianggap Anindiya sebagai bentuk ketakutan berlebihan akibat stres kerja.
Dan sampai detik ini... ia masih ingin mempertahankan keyakinan logisnya. "Rina cuma terlalu kepikiran. Aku nggak boleh ikut-ikutan paranoid"
Gumamannya terdengar mantap, namun jauh di dasar hatinya, sebuah benih keraguan kecil mulai berkecambah—keraguan yang selama ini berusaha keras ia tekan rapat-rapat
Untuk mengalihkan pikirannya, Anindiya membuka laptop di atas meja kerja. Beberapa pesan masuk dari calon klien sudah menanti respons. Ada yang menanyakan ketersediaan tanggal, meminta price list, hingga memesan gaun pengantin.
Anindiya mengetik balasan satu per satu. Bekerja selalu menjadi obat paling mujarab baginya untuk melarikan diri dari kenyataan pahit yang enggan ia hadapi.
Tanpa terasa, jarum jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Matanya mulai terasa sangat berat dan perih. Ia mematikan laptop lalu merenggangkan otot-otot tubuhnya yang kaku.
Namun, tepat saat tangannya hendak mematikan sakelar lampu, aroma bunga melati mendadak berembus menyelusup ke hidungnya.
Wanginya lembut dan samar-samar.
Anindiya mengukir senyum kecil. "Harum melati lagi..."
Ia sama sekali tak merasa terancam. Di dalam pikirannya, wangi melati itu pastilah sisa-sisa aroma ronce bunga segar yang menempel pada gaun pengantin saat disimpan di ruang koleksi. Ia malah merasa wangi lembut itu membuat suasana kamarnya terasa lebih relaks.
Tanpa berpikir aneh-aneh, ia memadamkan lampu utama. Kini, hanya lampu tidur mungil yang menyalakan pendar redup berwarna temaram. Bayangan perabot di dalam kamar nampak memanjang menempel di lantai.
Anindiya membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, lalu menarik selimut hingga menutupi dada. Matanya mulai terpejam.
Namun... baru beberapa detik kelopak matanya tertutup...
Entah mengapa, ia merasa seperti sedang tak sendirian di dalam kamar itu.
Sensasi asing itu hadir begitu mendadak—seolah ada sesosok wujud yang sedang berdiri di dalam kegelapan, memperhatikan setiap helai napasnya.
Anindiya membuka matanya kembali. Ia menyapu pandangan ke arah pintu kamar. Kosong. Lalu melirik ke sudut lemari pakaian. Tak ada apa-apa.
Ia terkekeh pelan seraya menggelengkan kepala. "Duh, aku malah jadi ikutan parno begini."
Ia kembali memejamkan mata. Aroma melati busuk itu masih tercium, kali ini sedikit lebih kuat dan tajam. Namun, ia memilih untuk mengabaikannya dan mencoba rileks.
Tak butuh waktu lama, napasnya mulai teratur naik dan turun. Tubuhnya yang remuk akhirnya menyerah pada rasa kantuk. Anindiya terlelap masuk ke dalam alam tidur.
Sementara itu... di ujung kamar...
Tepat di sudut ruangan yang paling gelap dan tak tersentuh cahaya lampu tidur...
Kegelapan di sana tampak bergoyang dan merapat. Pelan, kaku, dan hampir tak kasat mata.
Dari balik bayangan kelam itu, perlahan-lahan muncul wujud sesosok perempuan.
Gaun pengantin putih yang melekat di tubuhnya tampak amat lusuh dan kotor, dengan bagian bawah kain dipenuhi noda kecokelatan mirip tanah kuburan basah. Rambut hitamnya yang panjang dan lengket terurai menjuntai menutupi hampir seluruh parasnya.
Ia berdiri mematung tanpa suara sedikit pun. Sepasang matanya terkunci lurus pada Anindiya yang tengah terlelap damai.
Perlahan-lahan, helai-helai rambut kusam yang menutupi wajah sosok itu bergeser.
Paras pucat pasinya mulai tersingkap —kulitnya yang dingin nyaris seputih cat dinding, dengan bibir yang membiru kehitaman. Dan sepasang matanya... berupa lubang hitam kelam tanpa ada selaput putih sama sekali.
Sudut bibir kebiruan milik sosok itu perlahan terangkat naik, mengukir senyuman kaku yang sarat akan dendam dan kebencian murni. Ia miringkan kepalanya sedikit, seolah sedang menikmati pemandangan korbannya yang telah lama ia incar
Aroma melati busuk kini kian meledak memenuhi seluruh penjuru kamar. Hawa udara berubah merosot dingin membeku. Tirai jendela bergoyang meliuk-liuk pelan, padahal tak ada angin yang tembus dari luar.
Perempuan itu mengangkat tangan kanannya secara perlahan. Jemarinya yang kurus pucat mengarah lurus ke tubuh Anindiya.
Namun, ia tak menyentuhnya. Ia hanya terus menyunggingkan senyuman dingin yang kian lebar—seolah amat menikmati kebodohan dan kepolosannya Anindiya yang masih saja sibuk mencari alasan logis atas teror membantai ini.
Di saat Anindiya terus membohongi dirinya sendiri bahwa semua tragedi ini hanyalah serangkaian kebetulan belaka...
Wujud mengerikan pencabut nyawa itu... kini telah berdiri begitu rapat di samping tempat tidurnya.