Untuk mengukuhkan kerja sama dan persahabatan yang sudah terjalin cukup lama, Bara dan Elang menjodohkannya anak sulung mereka, Nathan dan Zea. Namun, pada kenyataannya, justru Zio-putra ketiga Baralah yang akhirnya menikahi Zea. Kok bisa?
"Gue bakal tanggung jawab, lo nggak usah nangis lagi," ucap Zio.
"Aku nggak butuh tanggung jawab kamu, pergi!" usir Zea.
Zio berdecak, "terus, lo mau abang gue yang tanggung jawab? Itu benih gue! gue yang bakal tanggung jawab!"
Tangis Zea semakin pecah," semua gara-gara kamu, aku benci kamu Zio!"
"Bukannya lo emang udah benci sama gue?"
" Aku makin benci sama kamu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon embunpagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14
Zea bergegas ke kantin menyusul Miranda.
"Lo kenapa, Ze? Kayak di kejar setan gitu, sampai ngos-ngosan!" ujar Miranda saat Zea sampi dan duduk sambil berusaha mengatur napasnya yang naik turun.
"Iya, emang aku di kejar setan," balas Zea.
"Hah? Mana ada setan di siang bolong begini, Ze? Ada-ada saja!" tanya Miranda dengan polosnya.
"Adalah, setan berwujud manusia!" jawab Zea. Ia mengambil gelas yang ada di depan Miranda lalu meminumnya.
"Punyaku itu!" seru Miranda.
"Kamu pesan lagi aja, aku butuh mendinginkan otak," sahut Zea.
"Emang kenapa sih? Serius kepo aku tuh!" Miranda penasaran. Dari raut wajah sahabatnya tersebut, terlihat jelas jika sebenarnya Zea tengah menahan sesuatu yang membuatnya merasa tertekan.
"Jangan kebanyakan kepo, nanti hidupmu nggak tenang," timpal Zea. Entahlah, ia berusaha bersikap biasa saja, tapi sepertinya tetap saja menimbulkan rasa penasaran Miranda.
"Ssst, lihat tuh si Claudya, lihatin kamu sampai segitunya. Waktu malam itu kan dia ngamuk di acara ulang tahunnya gara-gara Zio pulang begitu saja. Apalagi ada yang melihat kalian pulang bareng katanya," bisik Miranda.
Zea menoleh, menatap sekilas pada Claudya yang memang sedang menatapnya tajam seolah ingin menerkamnya saat ini juga. Lalu kembali menatap ke arah Miranda.
"Biarin ajalah! Nggak mau ambil pusing aku sama dia. Lagian juga aku terpaksa pulang sama Zio, kalau enggak mana mau aku," sebagaimanapun Zea berusaha melupakan kejadian semalam, bayangan itu selalu muncul setiap kali ia ingat Zio.
Dan sialnya, pria itu kini tengah berjalan semakin mendekat dengan sejuta pesonanya. Membuat mata siapa saja yang beradA di kantin tersebut tak berkedip menatap ke arahnya. Lain halnya dengan Zea yang pasti.
Zea menelan salivanya kasar," Udahlah nggak usah bahas mereka lagi," ucapnya kemudian pada Miranda. Tak mempedulikan Zio yang melewati mejanya menuju ke meja Claudya dan teman-temannya.
" Lo kenapa? Lihatin Zea sampai segitunya, Zio tahu, baru tahu rasa lo!" peringat Agas, matanya menunjuk pada pria yang sedang berjalan mendekat itu.
Claudya mendengus, "Gue nggak peduli, Zio cowok gue, sedangkan dia siapa? Cuma karena bokap mereka berteman, kan? Mana mungkin Zio bela dia. Aku mau buat perhitungan sama dia karena malam itu, gara-gara dia, Zio jadi pergi gitu aja dari pesta gue! Bikin gue malu di ledekin temen-temen gue!" ucapnya berbisik.
"Terus lo mau apain dia?" tanya Zio yang sudah berada tepat di sebelah Claudya. Gadis itu langsung tergagap.
Zio duduk di sebelah Claudya karena dari sana dia bisa melihat gadis pembencinya, Zea.
"Gue yang ngajak dia pulang, bukan dia yang ngajak gue. Jadi, kalau lo mau buat perhitungan sama dia, lo salah alamat. Harusnya sama gue!" ucap Zio tegas.
Claudya tak bisa berkata-kata lagi, ia hanya bisa mendengus, menahan kekesalannya. Ia heran, sebenarnya tak ada masalah yang jelas dengan Zea, tapi ia sebenci itu dengan gadis itu.
" Yo, ntar anterin aku ke butik ini, ya? Ada baju bagus di sana, aku mau beli!" Claudya menunjukkan gambar di ponselnya pada Zio.
"Gue nggak ada duit! Gue kere Lo masih mau jalan sama gue?" sahut Zio. Tapi, siapa yang percaya kalau pangeran kampus itu tak memiliki uang. Seantero kampus juga tahu siapa seorang Ziovan Argantara Osmaro.
"Ck, aku nggak minta di beliin, cuma minta di temenin!" timpal Claudya, "Masa nggak mau nemenin pacar sendiri, terus aku harus minta di temenin siapa?" imbuhnya manja.
"Yang ngasih duitlah!" jawab Zio, entah maksudnya apa, sambil melirik tajam ke arah Zea.
"Ppppuffffhh!" Agas hampir tersedak mendengar jawaban Zio barusan, "Mam pus lo!" gumamnya, yang mana langsung mendapat pelototan dari Claudya.
"Ssstt, Ze. Aku perhatiin Zio dari tadi liatin kamu terus. Tapi, serem gitu mukanya, kalian berantem lagi?" bisik Miranda.
"Muka dia kan emang ngeselin!" sahut Zea cuek.
"Dih ngeselin, orang ganteng gitu kok. Apalagi kalau dia menyugar rambutnya, beuh! Kalau di slow motion, rontok hati adek bang! Melting say!" ujar Miranda.
Zea menggelengkan kepalanya, ia berdiri, "Yuk ah, ke kelas! Dari pada di sini, terlalu banyak halunya kamu! Korban drama korea, dasar!" Zea menarik tangan Miranda untuk meninggalkan kantin tersebut. Sebenarnya ia sudah sangat merasa sesak berada di tempat yang sama dengan pria yang sudah merenggut mahkota paling berharganya tersebut.
Zio hanya memperhatikan langkah Zea lalu bangkit dari duduknya. Ia datang ke kampus sebenarnya bukan untuk kuliah, melainkan untuk mengajak Zea bicara baik-baik soal. Kejadian malam itu. Tapi, sepertinya Zea tak menyambut niatnya tersebut. Haruskah ia juga bersikap masa bodoh?
.
.
.
Zea mulai menata hatinya kembali setelah kejadian malam itu. Meski tak bisa ia pungkiri jika sesekali kepingan-kepingan ingatan akan malam itu melintas sedikit demi sedikit di kepalanya hingga membentuk sebuah susunan ingatan yang membuatnya merutuki dirinya berkali-kali. Yaitu, ingatan dimana ia yang sengaja menggoda Zio.
Tapi, seharusnya laki-laki itu tak mengambil kesempatan dalam ketidakberdayaannya bukan? Apalagi sudah jelas jika dia adalah calon kakak iparnya. Zea benar-benar merutuki Zio. Seharusnya Zio tak melakukan itu padanya yang sedang tak berdaya. Kalaupun resiko pulang ke rumah akan diamuk daddinya, itu jauh lebih baik daripada ia harus kehilangan kesuciannya.
Sungguh bodoh bodoh bodoh! Menyebalkan! Dan sangat menjijikkan! Zea merasa dirinya tak ubahnya ja lang, jika kepingan ingatan saat dirinya memancing gairah Zio. Dan itu membuatnya semakin membenci pria itu.
Tangan Zea mengepal kuat menatap cermin yang ada di depannya. Semua sudah menjadi bubur, terus menyesali dan larut dalam kesedihan pun tak ada gunanya. Ia hanya perlu mengubur kejadian itu dalam-dalam dan kembali menjalani kehidupannya seperti sebelumnya. Toh, sebelumnya juga ia dan Zio memang tak pernah akur. Kalaupun sekarang mereka semakin berjarak, tak masalah baginya. Justru itu lebih baik.
Biarlah kejadian itu menjadi mimpi buruk yang harus segera ia lupakan. Menganggap semuanya baik-baik saja adalah pilihannya. Ia hanya perlu fokus terhadap rencana pernikahannya dengan Nathan.
Namun, satu yang menjadi pertanyaan Zea, apakah dia benar-benar bisa melakukannya dan bersikap biasa saja saat bertemu dengan Nathan nanti?
Dan, pertanyaan Zea itu kini menemui jawabannya.
"Sayang, mommy punya kejutan buat kamu!" ucap Senja yang baru saja masuk ke kamar gadis itu.
Zea menoleh, ia segera menutup dadanya yang baru saja ia perhatikan demi melihat tanda-tanda merah yang Zio ciptakan mukai memudar bahkan menghilang, "Kejutan?" tanyanya mengernyit.
Senja mengangguk, "Ayo ikut mommy!" Senja menuntun putri semata wayangnya tersebut supaya mengikutinya.
"Apa sih, mom? Zea jadi penasaran," tanya Zea.
"Udah ikut aja, pasti kamu senang dengan kejutan dari mommy," sahut Senja.
Begitu sampai di ruang tamu, Senja menunjuk seorang pria yang berdiri membelakanginya menggunakan dagunya.
"Itu kejutannya, mommy ke dalam dulu, ya?" senja menepuk punggung Zea pelan lalu pergi.
Zea berdiri mematung di tempatnya. Ia tahu siapa pria itu meski dari belakang. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat saat pria itu memutar badan menghadapnya. Tak ada kata terucap dari bibir pria itu, hanya sebuah senyum mengembang di bibirnya lalu merentangkan kedua tangannya. Dimana salah satu tangannya memegang buket bunga.
Zea semakin kuat menggigit bibirnya guna menahan sesak. Matanya berkaca-kaca.
"Nggak rindu sama abang?" ucap pria itu yang tak lain adalah Nathan.
Zea bingung harus bagaimana. Kakinya benar-benar terpaku di tempatnya berdiri untuk beberapa saat lamanya, hingga sekuat tenaga ia berusaha bergerak, berlari menuju ke pelukan tunangannya tersebut.
Nathan tersenyum, menyambut Zea ke dalam pelukannya, "Kejutan!" ucapnya kemudian.
Zea tak bisa lagi menahan air matanya.
"Abang pulang kok malah Nangis sih? Harusnya kan senang?" ucap Nathan sambil mengusap lembut punggung Zea.
Zea semakin terisak dan mengeratkan pelukannya. Bukan hanya karena terlalu rindu dan senang akan kedatangan pria itu. Tapi, ada rasa sesak yang mendalam karena rasa bersalah terhadap pria tersebut. Campur aduk ia rasakan, senang dan terharu, namun juga ada rasa takut di hatinya.
...----------------...
hampir tiap hari nyari2 notif barangkali nyempil /Sleep//Sleep//Sleep/
ternyata hari ini kesampaian juga
makasih kak author
sehat" selalu 😘
🌸🏵️🌼 tetap semangat 💪
Zio cinta Zea tapi Zea tunangan dgn Nathan, kakaknya Zio. Karena suatu hal, Zio tidur dengan Zea akhirnya mereka menikah.
alhamdulillah semoga terus lanjut ya kka smpai tamat...
di tunggu up beriktnyaa