Suaminya hilang dari perantauan membuat Yara bertekad menyusulnya ke kota.
Alangkah terkejutnya Yara, saat bertemu seorang pria yang sangat mirip dengan suaminya. Hanya penampilan yang berbeda. Afkar, Suaminya menjelma menjadi pria berwibawa dan dampingi beberapa bodyguard di sekelilingnya.
Hal yang tak luput dari pandangan Yara adalah rangkulan mesra Afkar pada seorang wanita cantik di sisinya.
"Mas Afkar," panggil Yara lirih karena pria yang mirip dengan Afkar mengacuhkannya. Padahal tatapan mereka sempat bertatapan.
"Apa kamu kenal dengan Mas Afkar? Suamiku!" Ucap wanita anggun yang ada dalam rangkulan Afkar.
"Dia, Afkar Chairi, suamiku juga!"
"Tapi aku tidak mengenalmu." Afkar berbicara tegas dengan tatapan membenci pada Yara. "
Yara begitu syok mendengarnya.
Apa yang terjadi pada suaminya?
Kenapa dia tidak mengenali Yara, wanita desa yang begitu dicintai oleh pria itu?
Bagaimana nasib pernikahan Yara setelah ini?
Ikuti kisah me
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayya_zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengambil Barang Milik Afkar
Esok harinya Yara dan Firman bertukar kabar, memberi tahu sampai di mana teman dari suaminya itu mencari keberadaan Afkar.
"Terima kasih ya ,Mas Firman. Maaf, Yara merepotkan, Mas! Tolong kabari Yara terus mengenai perkembangannya! Dan kemungkinan esok lusa, Yara akan ke Kota. Yara tidak mau berdiam di sini saja, " Ucap Yara kepada Firman dari seberang telepon.
“Sama-sama, Ra. Saya janji akan bantu kamu menemukan Afkar. Kabari saya jika kamu akan ke sini!" Ucap Firman kemudian menutup sambungan teleponnya dengan Yara.
Firman kembali ke kontrakan yang ia tempati dulu bersama Afkar. Kak Ima yang kebetulan ada di depan kontrakannya segera mendekati Firman.
"Bagaimana, Man. Sudah ada titik terang keberadaan Afkar?" Tanya Kak Ima.
"Belum ada, Kak. Pihak kepolisian malah mau menghentikan pencarian. Sudah hampir satu minggu lebih tidak ada hasil," sahut Firman yang ikut duduk di bangku panjang di depan kontrakan Afkar.
"Datangi jasa travelnya aja, Fir!” Usul Kak Ima. "Soalnya waktu keberangkatanya pun Afkar di jemput ke sini sama travelnya. Kali aja pak supir tahu di mana Afkar?"
"Bener juga, Kak! Ya sudah, saya pamit dulu mau ke sana. Titip kuncinya lagi ya, kak!" Firman menyerahkan kunci kepada Kak Ima. Ia bergegas pergi ke jasa travel tempat Afkar memesan jasa keberangkatan antar kota dan provinsi.
"Ya, hati-hati, Fir! Semoga ada kabar baik," teriak Kak Ima. “Kasian sekali Afkar belum bertemu keluarganya sudah tertimpa musibah, semoga tidak terjadi apa apa sama dia!" Ucap Kak Ima penuh harap.
Travel Bintang Antar Kota dan Provinsi
"Permisi mba," sapa Firman pada salah satu petugas jaga.
"Ya, ada yang bisa saya bantu, pak?" Balas petugas itu.
"Ini, mba. Saya mau bertanya perihal keberangkatan ke Kota Mojokerto, waktu keberangkatan sekitar tiga minggu yang lalu. Apa ada berita perihal batalnya keberangkatan atas nama Afkar Chairi?" Tanya Firman kepada seseorang yang bertugas melayani pengunjung Travel.
"Tunggu sebentar ya, Mas. Saya cek dulu!" jawab petugas tersebut.
Setelah beberapa saat menunggu.
"Maaf, Mas. Penumpang atas nama Afkar Chairi memang tidak diantar sampai tujuan. Ada kendala di perjalanan," petugas menjeda ucapannya. Sesaat ia membaca detail laporan yang ia terima. Menurut laporan supir. Pak Afkar mengalami kecelakaan personal saat menyeberang jalan. Korban dilarikan ke rumah sakit oleh penabraknya. Kami sudah berusaha mencari keberadaan yang bersangkutan.Tapi tidak ada yang tercatat oleh semua rumah sakit perihal korban kecelakaan dengan ciri-ciri yang kami sebutkan. Jadi pihak travel menarik diri untuk kasus ini. Dan ini, barang yang beliau tinggalkan di kendaraan kami. Semuanya masih utuh karena kami memang berencana mengembalikannya ke tempat tujuan dari korban." Petugas Travel mengambil barang yang dititipkan di ruang petugas oleh supir travel kemudian memberikannya kepada Firman.
Firman diam terpaku mencerna apa yang dikatakan petugas. “Ya Allah, jadi Adkar mengalami kecelakaan?" Firman begitu terkejut mendengarnya.
Kemudian kembali bertanya kepada petugas itu. "Apa Anda tau kronologi kejadiannya seperti apa?" lanjut Firman.
"Maaf pak, kami tidak mengetahuinya karena pak supir saat itu juga tidak ada di tempat. Kejadian pun berlaku begitu cepat. Penabrak dengan sigap membawanya ke rumah sakit. Demi keselamatan korban, Mas! Mas, bisa cek lagi keberadaan korban di rumah sakit terdekat. Barangkali ada info di sana! Ada lagi yang bisa saya bantu, Mas?” Tanya petugas yang berjaga.
"Tidak Mba, terima kasih. Kalau begitu barang-barangnya saya ambil ya, Mba!" pinta Firman.
"Silakan, Pak! Tapi sebelumnya, tolong isi formulir dulu ya, Pak! Agar ada bukti pengambilan barang dari travel kami." Petugas itu menyodorkan selembar kertas untuk diisi.
"Oh, ya, Mba!" Firman segera mengisi Formulir tersebut. Setelah proses selesai, Firman bergegas kembali ke kontrakan Afkar. Menaruh barang-barang Afkar yang baru ia bawa dari travel.
Kak Ima yang melihat Firman kembali dengan barang bawaan di tangannya, kembali menghampiri Firman.
"Gimana, Man. Ada kabar apa?” tanya Kak Ima. Wanita itu langsung memegang barang yang Firman bawa. “Ini 'kan tas yang Afkar bawa saat pulang waktu itu.” Kak Ima menjelaskan.
"Afkar kecelakaan, Kak. Pihak travel juga tidak tahu di mana rumah sakit tempat Afkar dirawat. Katanya kejadiannya begitu cepat, si penabrak langsung membawanya pergi," ungkap Firman. Pria itu juga merasa sedih dengan apa yang terjadi.
Firman merasa heran dengan kecelakaan itu. Usai dari tempat travel Firman mencari informasi dari tempet kejadian hingga setiap rumah sakit. Tidak ada korban kecelakaan pada hari itu. Apalagi dengan ciri-ciri yang disebutkan.
Firman tidak tahu saja siapa yang menolong Afkar. Dia adalah orang yang berkuasa. Jika kejadian itu tidak dihapus, Syafa putrinya bisa saja terseret dalam masalah hukum karena itulah semua jejak telah dibersihkan oleh Tuan Rio.
Dia lebih memilih mengobati korban terlebih dulu, barulah memberitahu keluarga korban.
Kak Ima merasa lemas saat mendengar penururan Firman. "Kasihan sekali istri dan anaknya. Apa kamu sudah memberitahu mereka?" Tanya Kak Ima.
Firman langsung merebahkan tubuhnya di bangku panjang di depan kontrakan Afkar.
"Belum, Kak! Aku tidak tega sama Yara. Apalagi kalau kakak tau bagaimana perlakuan ibunya Afkar sama dia?"
"Kenapa memangnya?" Tanya Kak Ima penasaran.
"Sikap ibunya Afkar kurang baik sama Yara. Itu yang sering dikeluhkan oleh Afkar. Dia kadang merasa bingung kedua wanita itu sama-sama berarti buat Afkar."
.
.
.