"Aku memang sanggup untuk menghapus namanya dan menggantikannya dengan nama suamiku di hatiku, tapi apa aku sanggup terus mempertahankan rumah tanggaku tanpa cinta dari suamiku? Yang selalu enggan untuk menyentuhku untuk lebih intim?" batin Suci
"Sampai kapan kamu tidak mencintaiku? Sampai kapan kamu akan terus belajar mencintaiku? Apa perlakuan manisku tidak bisa menggerakan hatimu walau pun sedikit saja Uci?" batin Arkan
"Bunda mohon nak, jadikan kakamu istri ke dua Arkan." ucap Anisa
Akan'kah rumah tangga Arkan dan Suci tetap utuh di saat Bunda dari Suci meminta Suci untuk menyutujui kakaknya menjadi istri ke dua dari suaminya?
Akan'kah Suci merelakan suaminya untuk kakanya sendiri di saat ia sudah mengandung benih dari suaminya karena menikah dengan dua wanita bersaudara kandung adalah haram? Atau Suci tetap mempertahankan rumah tangganya karena kakanya yang membatalkan pernikahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.F, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 14 Beramitan pada Ustazah
Setelah berpamitan dengan Lia, Suci langsung berpamitan dengan Ustazah yang dulu mendidiknya, sedangkan ke Ustazah lain ia tidak berpamitan lagi, karena waktunya sudah sangat mepet, setelah itu ia akan ke rumah Kiai.
" Assalamuailikum."
" Wa'alaikumsalam."
Ke tiga Ustazah itu menjawab salam dari Suci dengan serempak.
" Masuk dek."
" Iya Ustazah Syifa."
Suci langsung menyalami ke tiga Ustazah itu, lalu ia langsung duduk di tengah-tengah Ustazah Alisah dan Ustazah Syifa
" Dek Suci ko sudah pulang lagi? Bukan'nya saat itu bilang pulang satu minggu?"
" Iya Ustazah Sarah, memang rencana awal seperti itu, tapi Uci kemari ingin berpamitan dan sekaligus mau minta maaf pada ke tiga Ustazah, mungkin ada kata-kata kurang mengenakan yang Uci ucapkan saat para Ustazah mendidik Uci. Uci juga berterima kasih, karena selama ini para Ustazah sudah mendidik Uci dengan baik."
" Loh kenapa dek Suci berpamitan, baru juga datang? Memang dek Suci mau kemana lagi?"
Ke tiga Ustazah itu sangat bingung, saat mendengar ucapan Suci yang mau berpamitan lagi, apa lagi Suci baru saja datang.
" Uci mau keluar dari pesantren ini Ustazah Syifa."
" Apa dek Uci merasa tidak enak karena telah menolak lamaran Gus Ali? Untuk itu dek Uci keluar?"
" Tidak Ustazah, tapi Uci 4 hari lagi akan menikah."
" Dek Uci serius?!"
Ustazah Sarah sangat terkejut mendengar ucapan dari Suci, terlebih menurut mereka begitu mendadak dan Suci juga masih terlalu muda, sedangkan ia dan ke dua Ustazah lainnya juga belum menikah.
" Serius Ustazah Sarah, minta do'anya saja supaya di lancarkan pernikan Uci."
" Kalau do'a tentu kami akan selalu mendo'akanmu dek Uci, hanya saja kami sangat terkejut, kamu baru saja pulang 4 hari yang lalu dan sekarang datang-datang bilang mau menikah. Memang jodoh tidak ada yang tau, tapi apa dek Uci sudah mantap?"
Ustazah Syifa bisa melihat sorot mata Suci hingga ke dalam hati Suci, ada banyak kesedihan di mata Suci, dan kata yakin Suci hanya sedikit.
" Insya Allah Uci sudah mantap Ustazah Syifa."
Ustazah Syifa langsung memeluk Suci dengan erat, ia tidak pernah menganggap Suci sebagai muridnya, ia menganggap Suci sebagai adiknya sendiri, matanya sudah memerah menahan tangisan, karena harus berpisah dengan Suci, dan entah kapan akan bertemu lagi dengan Suci, biasanya saat ada acara apa pun itu, Suci selalu bersamanya. Suci juga membalas pelukan dari Ustazah Syifa.
" Saya tau kalau dek Uci juga mencintai Gus Ali, saya juga tidak tau kenapa dek Uci memilih lelaki lain dari pada Gus Ali, tapi pesan saya dek Uci sholat istikharah terlebih dahulu, yakinkan hati adek bahwa lelaki pilihan adek yang terbaik."
Suci tersenyum getir saat ada orang yang mengetahui isi hatinya, jelas-jelas selama ini ia tidak pernah terbuka pada siapa pun tentang perasaannya selain pada kakanya, itu pun saat ia masih belum mengetahui siapa Gus Ali sebenarnya.
" Sudah Ustazah Syifa, dan insya Allah pilihan Uci memang sudah mantap."
Ustazah Syifa hanya mengangguk saja, walau pun ada sedikit kecewa karena Suci menolak Gus Ali dan memilih lelaki lain, tapi ia hanya berharap pilihan Suci memang benar, dan berharap kalau lelaki yang di pilih Suci bisa membimbing Suci ke jalan ya Rabbnya. Mereka langsung melepaskan pelukannya, Suci bisa melihat kalau mata Ustazah Syifa memerah.
" Jadilah istri yang baik Uci, selama suamimu itu membimbingmu ke jalan yang benar, saya berharap kamu bisa melupakan masa lalumu dan mencintai calon suamimu."
Lagi-lagi Suci tersenyum getir saat Ustazah Syifa menasehatinya. Sedangkan ke dua Ustazah lainnya sedikit bingung, karena mendengar ucapan Ustazah Syifa yang mengatakan Suci juga mencintai Gus Ali, tapi Suci menolak Gus Ali dan memilih lelaki lain, membuat mereka tidak mengerti dengan jalan pikiran Suci.
" Insya Allah Ustazah Syifa."
" Dek Uci, saya sedikit tidak rela kalau harus kehilangan satu santriwati, terlebih itu kamu dek, kita bakalan kesepian."
Suci menatap ke arah Ustazah Alisah sambil tersenyum.
" Masih ada Karinah Ustazah Alisah."
" Hahaha iya tau, senior aneh yang suka ceplas-ceplos."
Suci tersenyum saat mendengar ucapan Ustazah Alisah, memang Karinah itu orangnya ceplas-ceplos dan selalu berbicara apa adanya, tanpa di tutup-tutupi, selama Karinah suka iya suka, kalau Karinah marah iya marah, jadi intinya Karinah selalu mengungkapkan isi hatinya dengan jujur.
" Itu mirip kamu Ustazah Alisah, saat kamu masih menginjak remaja."
" Ih kamu iya jadi bawa-bawa saya."
Ustazah Sarah memang berteman dari kecil dengan Ustazah Alisah, jadi ia bisa tau sipat masa lalu Ustazah Alisah seperti apa.
" Dek Uci, serius seperti mimpi, kalau adek akan menikah, rasanya percaya tidak percaya."
" Jodoh tidak ada yang tau Ustazah Sarah, kapan akan datang."
Mereka hanya mengangguk saja, lalu mereka mulai berbincang-bincang tentang yang lainnya, tanpa mau bertanya lelaki seperti apa yang akan menikahi Suci, karena bagi para Ustazah yakin kalau Suci akan memilih lelaki yang tau tentang agama, melihat Suci yang memang tau banyak tentang agama, jadi menurut mereka tidak mungkin kalau Suci memilih lelaki yang biasa saja agamanya. Tidak terasa perbincangan mereka hingga satu jam, Suci melirik jam di tangannya, ia harus segera berpamitan dengan Umi dan Abi, terutama dengan Gus Ali juga, karena sebentar lagi Gus Ali akan pergi kuliah. Gus Ali memang masih kuliah semester empat, hanya saja Gus Ali sudah S2, sedangkan Suci S1 saja belum selsai.
" Ustazah, Uci pamit dulu, untuk berpamitan dengan Umi dan Abi, takutnya Uci pulang kemalaman di jalan."
" Iya dek Uci."
Sedangkan ke dua Ustazah lainnya hanya mengangguk. Suci menyalami ke tiga Ustazah itu dan di akhiri dengan pelukan hangat, tidak bisa di pungkiri kalau Suci juga memang tidak rela berpisahah dengan para Ustazah yang sudah mendidiknya menjadi seperti sekarang.
" Dek Uci tidak gagal untuk merubah dirinya menjadi wanita muslimah yang sesungguhnya, semoga dek Uci juga tidak gagal untuk menjadi istri yang baik, dan mengingatkan suami jika suami salah langkah. Seorang suami memang harus membimbing istri ke jalan yang benar, tapi seorang istri juga wajib mengingatkan suami jika suaminya salah jalan."
" Iya Ustazah Syifa, terima kasih atas nasehatnya, dan terima kasih telah membimbing Uci selama ini."
Suci langsung meneteskan air matanya, ia sangat berat berpisah dengan ke tiga Ustazahnya, yang sudah membimbingnya menjadi wanita muslimah yang sesungguhnya, terlebih waktu yang di lewati ia bersama ke tiga Ustazahnya bukanlah waktu yang sedikit, ia menghabiskan waktu selama 3 tahun bersama para ke tiga Ustazahnya, ada banyak kenangan selama 3 tahun, terlebih kenangannya bersama ke tiga Ustazah itu hanyalah kenangan manis. Ke tiga Ustazah itu memang paling sabar dari pada Ustazah lainnya, dan tidak pernah menghukum para santri, kalau pun ada yang salah pada para santri, maka para Ustazah itu akan menasehatinya dengan lemah lembut, dan itu membuat Suci sangat berat untuk berpisah.
" Itu sudah tugas kami untuk membimbingmu dek Suci, dan santri lainnya."
ceritanya bagus kak,,,,,alurnya menarik gak membosankan,, and maafken kak aku gak komen per bab,, aku lebih suka komen setelah tamat baca ceritanya,,, yok kak lebih semangat lagi yokk😉😉😉
umpama,, bertanya, "tempat pendaftarannya dimana ya ? gitu thorr !!
bukan di mana iya ?..🙏🙏🙏