Ketika jatuh cinta, tidak ada yang bisa memberi alasan pasti. Hanya merasakan dan tidak bisa menghentikan.
Cinta Henry pada Cynthia, gadis biasa yang melamar menjadi sekretarisnya.
Benarkah itu cinta pada pandangan pertama.
Dua orang yang berbeda latar belakang. Henry Elfred seorang CEO perusahaan British Oil & Gas, keturunan Inggris dan Jawa, berasal dari keluarga kaya raya yang penuh intrik kotor dan drama, sedangkan Cynthia hanya gadis biasa dan sederhana.
Cinta mereka terhalangi karena Henry hanya bisa menikahi seorang puteri pengusaha untuk memperluas wilayah kekuasaan perusahaannya di Indonesia. Begitu banyak rintangan untuk bersama dengan wanita yang dicintainya.
Bisakah Henry menyakinkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adine Indriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14 Aichmo Phobia
Seseorang yang jahat dan keji datang dalam kegelapan, berjalan perlahan menggenggam pisau tajam di tangan kanannya. Sembari menyeret ujung pisau dipermukaan dinding yang dilewatinya. Suara mengilukan menyayat-nyayatku. Bersembunyi dalam ruangan sempit ini, berharap dirinya tidak menemukan persembunyianku.
Gemetar seluruh tubuhku, bergetar, hingga gemeretak gigi berbunyi. Tubuhku meringkuk dan merunduk menutupi ketakutan. Tiba-tiba, seseorang membuka pintu lemari ini dan menyeringai kejam penuh kepuasaan. Menyeret tubuhku keluar dengan paksa hingga jatuh di lantai. Aku tidak bisa berteriak, suara ini menghilang. Hingga pisau
itu mengiris leherku hingga putus.
“Tidaaak,” teriakku. Sembari terduduk dengan napas tersengal-sengal. Jantung yang berdebar sangat kencang, keringat yang mengucur sejak tadi. Aku berusaha menenangkan diri, namun bernapas saja sulit.
Henry datang setelah mendengar teriakanku. Melihat wajahnya yang kuatir justru membuatku sedikit tenang.
“Cynthia, kamu mimpi buruk lagi?...,” tanyanya. Aku hanya berusaha mengatur pernapasan agar kembali normal, Henry memelukku dengan erat. Perlahan, ritme jantungku kembali normal dengan tarikan napas seperti biasa. Pelukannya membuatku merasa aman.
“Aku akan ambilkan minum ya?...,” ucap Henry yang turun ke bawah. Tidak lama, dirinya sudah membawa segelas air putih dengan pouch yang di taruh di samping lampu tidur. Henry sekalian menyalakan lampu itu agar ruangan lebih terang.
Seteguk air murni membuat langit-langitku basah dan sejuk ditenggorokan. Kekeringan berganti hingga tidak haus lagi. Namun rasa mengerikan itu belum hilang, aku ingin menangis. Hingga tangisan ini pecah seketika. Aku sangat takut. Aku memimpikan Paman Karl yang menggorok leherku kedua kalinya. Dan itu sangat membuatku ketakutan.
Henry memelukku sekali lagi dan membaringkanku di ranjang. Dirinya menemaniku tidur, hingga tertidur dipelukannya.
“Aku tidak akan meninggalkanmu, Cynthia. Tidurlah,” ucapnya menenangkanku.
***
Keesokan paginya, aku bangun dengan tubuh yang terasa pegal dan lelah. Setelah bermimpi buruk pasti badan semua terasa tidak nyaman. Aku mencium aroma lezat dari dapur. Sepertinya Henry membuat sarapan. Menuruni tangga, melihat dirinya yang sedang berjibaku dengan bumbu-bumbu masakan dan menggunakan apron berwarna hitam.
Persis chef dalam acara memasak, hanya saja Henry lebih tampan.
Henry melihat kehadiranku di atas tangga, dengan mata di dahinya. Sembari tersenyum menyambutku.
“Turunlah, sarapan sudah hampir siap. Oiya, aku mohon ganti pakaianmu,” keluh Henry.
Ada apa dengan pakaianku? Aku sudah menggunakan jubah tidurku.
“Jika kamu tidak suka dengan penampilanku, kenapa membelikan lingerie sebagus ini,” keluhku sedikit kesal.
Aku kembali keatas mengganti baju dengan kaos dan celana panjang. Menuruni tangga ini lebih bersemangat, karena aku sangat lapar. Duduk di depan meja yang sudah ada dua piring yang sudah ada hiasan tomat cherry, daun mint.
Cantik sekali!
Henry mengambil piring-pring itu.
Lalu, mengambil dua buah potongan besar “Chicken Gordon Blue” dari penggorengan berbahan porcelain dengan bantuan dua spatula di kiri dan kanan tangannya, lalu diletakkan ke sebuah nampan. Dirinya mengambil pisau pemotong daging. Pantulan sinar dari pisau itu mengingatkanku dengan pisau milik Paman Karl. Sontak, aku terkejut, tubuhku terasa lemas hingga melerai ke bawah meja. Bersembunyi hingga ingatanku memudar.
Diletakkan daging itu ke dalam piring-piring, menjadi terbelah dua, mengeluarkan keju mozzarella yang meleleh dari dalam seperti volcano. Ditambah dengan asparagus panggang disisinya. Cream Sauce dilumurkan ke atasnya dengan taburan basil leaves.
“Sarapan sudah siap!” sembari berbalik dengan kedua piring di tangan kanan dan kirinya.
“Cynthia,” tutur Henry mencariku. Sembari melepaskan apronnya, dirinya melihatku bersembunyi dikolong meja. Aku mengatakan takut melihat pisau yang digenggamnya. Melihat pisau, mengingatkanku pada peristiwa itu.
“Baiklah, aku akan membuang semua pisau dan benda tajam yang ada di rumah ini.” ungkapnya. Sembari mengumpulkan semuanya, memasukkannya ke sebuah kotak dan menaruh di gudang. Lalu Henry mengajakku untuk menikmati sarapan yang telah di buatnya.
“Enak sekali,” sanjungku. Aku mengambil setengah bagian miliknya. Henry hanya tertawa melihatku makan dengan rakus. Henry hanya tertegun memandangku, aku menyukai caranya melihatku.
“Cynthia, bagaimana jika aku mengajakmu berkonsultasi,” tuturnya hati-hati. Aku tidak mengerti maksudnya. Sembari meletakkan saus krim pada potong ayam.
“Konsultasi apa,” ungkapku dengan mulut penuh makanan. Saus krim itu meleleh dari ujung bibirku. Henry mengelapnya dengan ibu jari, memasukkannya ke mulut. Aku hampir tersedak melihat sikapnya seperti itu. Namun, dirinya seperti tidak sadar apa yang dilakukannya.
Aku tersipu malu sedangkan Henry dengan sigap memberikanku segelas air.
“Konsultasi untuk mimpi burukmu,” ujar Henry lagi. Aku melihatnya, muncul keraguan. Ketakutan itu semakin besar jika mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada diriku. Tiba-tiba, selera makanku hilang.
“Maaf, aku sudah kenyang,” ungkapku mendadak. Henry mengulum bibirnya seakan berpikir.
“Baiklah, jika kamu tidak mau, tidak akan kupaksa,” ucapnya lembut. Ucapannya itu justru membuatku luluh untuk mengikuti keinginannya. Aku tahu Henry sangat mengkhawatirkanku.
“Kapan aku harus pergi kesana?” terangku.
“Kamu yakin?”
Aku menganggukkan kepala menyakinkannya. Henry mengambil ponselnya untuk menjadwalkan pertemuan dengan psikiater.
***
Aku tidak ingin kembali kesana, menyusuri kejadian mengerikan itu. Untuk apa membuka ingatan terburuk, padahal aku ingin melupakannya. Benarkah jika datang ke seorang ahli jiwa, semua itu akan terhapus … dari ingatan untuk selamanya. [Cynthia,di depan Klinik pribadi Dr. Adam Grissham SpKJ]
Henry mengajakku ke sebuah klinik pribadi milik kenalan. Pemilik klinik itu bernama Dr. Abbott Grissham, tetapi karena saat ini sedang berada di Amerika untuk waktu yang lama, Cynthia akan ditangani oleh puteranya, Dr. Adam Grissham.
Tiba-tiba langkahku terhenti dan mendekat pada Henry. Aku memandangnya sembari berkata, “bisakah kita melakukan ini lain waktu, aku belum siap,” ungkapku terus terang. Henry seakan berpikir sejenak menelaah permintaanku.
“Baiklah, Cynthia. Kita akan kembali lain hari.” sembari memberikan pesat singkat pada dokter Adam membatalkan pertemuan. Semenjak itu Henry seperti terdiam, aku tahu jika dirinya khawatir. Namun, aku belum siap untuk kembali mengingatnya. Biarlah waktu yang akan menjadi obat pemyembuh untuk rasa takutku.
Trauma itu jika kuingat kembali seperti ketika terjatuh pada saat bersepeda untuk pertama kalinya. Betapa mengerikannya untuk kembali menaikinya, sedangkan luka yang terbuka sudah tertutup lama. Trauma ada dipikiran, karena mengingatnya. Aku hanya akan memulainya jika waktunya telah tiba.
“Henry, katakanlah apa yang ada dalam pikiranmu,” raungku tidak tenang melihatnya hanya terdiam.
“Aku hanya sedang mengingat-ingat sesuatu,” ucapnya seperti berpikir keras.
“Ingat apa?”
“Sepertinya, aku kehilangan satu botol garam. Tadi pagi, ketika membuat sarapan aku mencarinya kemana-mana tidak ada. Terpaksa membuka garam lagi,” celotehnya.
Aku tergelak tawa sangat lebar. Kupikir dirinya sedang memikirkan sesuatu masalah yang berat, ternyata hanya karena kehilangan garam.
“Hahaha … aku meminjamkannya ke tetangga sebelah, dasar!” sembari memukul bahunya.
Henry mengaduh kesakitan. Pukulanku memang terkenal menyakitkan.
Terlintas mengingat Steven yang sering kupukul seperti itu, bahkan lebih keras.
“Oh, syukurlah botol garam itu selamat, kupikir ada yang mencurinya. Hehehe …,” timpal Henry merasa lega.
Akhirnya ada yang membuatku bisa tertawa terpingkal-pingkal. Disamping pikiranku yang bercabang, memikirkan dimana Steven berada.
Steven kembalilah.
***
Berikan cinta dengan cara pencet like, vote, rate 5, tambahkan ke favorit kamu dan komen yang sopan ya )
boom balik karya ku
the thunder's love
🥰🥰
ditunggu lagi Kaka salam dari basecamp