Cerita ini mengisahkan tentang Mawar. Menikah muda dengan Aditya walaupun sudah di larang oleh kedua orang tuanya.
Setelah berjuang ingin bangkit dari kemiskinan, rela berjualan kripik singkong agar suaminya bisa kuliah. Untuk menepis keraguan orang tuanya.
Namun, setelah berhasil. Apa jadinya jika sang suami malah menikah lagi?
Kita ikuti yuk kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Trisubarti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saling Rindu.
Adit melangkah mendekati pintu kamar dimana isterinya tidur. Tangannya terangkat ingin mengetuk pintu tersebut.
Tok tok tok
Adit kembali mengetuk hingga berulang kali namun tidak ada tanda-tanda pintu akan di buka.
Adit pun balik badan membawa rasa kecewa. Melangkah gontai menuju kamarnya lalu membuka pintu. Pandangannya tertuju di sudut tempat tidur sudah di siapkan kaos, celana pendek dan CD.
Senyum merekah di bibirnya terimakasih sayang ternyata kamu masih memperhatikan aku. Adit mencium pakaian yang sudah di siapan oleh istrinya.
Adit bergegas ke kamar mandi mengguyur tubuhnya yang terasa lengket.
Sementara di dapur "Biar saya saja yang masak Mbok" ucap Mawar sambil membuka kulkas.
"Ya Non, saya bantu ya" sahut Simbok. "Mau masak apa Non?" sambungnya.
"Masak sop ayam Mbok" sahut Mawar. Mawar membuat bumbu kemudian simbok memotong ayam kecil-kecil, memotong sayuran yang sudah di bersihkan oleh simbok. Mawar membuat sambal menggoreng tempe.
Masakan makan malam ke sukaan Adit pun matang semua. Kemudian Simbok menata di meja makan.
"Saya mandi dulu ya Mbok" ucap Mawar sambil melangakah.
"Iya Non" sahut Simbok menatap langkah Mawar hingga menghilang di balik pintu kamar mandi. Simbok mengulas senyum tipis walaupun sedang marah ternyata Nona barunya ini tetap perhatian.
Sementara Mawar mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Di kamar mandi dapur tidak ada shower, tidak ada air hangat. Tetapi bagi Mawar kamar mandi di dapur ini masih lebih bagus daripada kamar mandi di kampungnya.
⚘
^^^Sabar itu luas, seluas samudra. Namun, manusia itu sendiri yang membatasi kata sabar. Mungkin hanya dengan doa, dibalik kesusahan akan ada kebahagiaan.^^^
^^^Sabar, memang sulit untuk di lakukan tetapi dengan kesabaran akan menjadi sangat indah.^^^
...Dalam perjalanan hidup tidak selamanya lurus. Kadang ada krikil, jalanan berbatu, yang menghambat langkah....
...Yang penting bagaimana caranya agar bisa menyingkirkan batu dan kerikil agar tidak menjadi batu sandungan....
...Dan yang lebih penting membuat kerikil dan batu menjadikan sesuatu yang bermanfaat. Akan sangat egois jika membuang batu dan kerikil itu sendiri....
Mawar Merah. 🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
Adit kembali kelantai bawah berniat duduk-duduk saja di depan televisi. Siapa tahu istrinya keluar dari kamar. Ia ingin menatap wajah istrinya yang sudah dua hari selalu mengurung diri.
Adit melihat Mawar baru keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah. Adit terus memperhatikan gerak istrinya dari ruang keluarga. Saat menjemur handuk Mawar memakai baju piama bunga-bunga warna pink.
Ingin rasanya mendekat dan memeluk tubuh itu. Namun, rasa takut di tolak membuatnya terpaku dan hanya bisa meneguk saliva.
"Makan malam sudah siap Tuan" kata Simbok menyadarkan lamunanya. "Tidak lapar Mbok" lagi dan lagi jawaban Adit.
"Jadi benar? Tuan tidak mau makan, Non Mawar loh yang masak." tutur Simbok. Membuat Adit sepontan berdiri tidak menjawab Simbok langsung ngibrit ke meja makan.
Adit kemudian membuka tudung nasi. Senyum mengembang dari bibirnya.
"Mbok, tolong panggil Mawar ya, tapi jangan bilang saya yang nyuruh" pinta Adit jika ia yang manggil pasti Mawar tidak mau.
"Baik Tuan" Simbok pun menuju kamar Mawar.
Tidak lama kemudian, Mawar berjalan menuju meja makan, dengan wajah di tekuk.
Mawar kemudian menarik kursi dan duduk. Tidak perduli dengan pria yang memandangi dirinya sejak tadi.
Ia kemudian menyendok nasi untuk dirinya sendiri. Tidak mau menyendokkan nasi untuk suaminya seperti biasa. Mawar menyiram nasi nya dengan sayur sop, dan di bubuhkan sambal hingga tiga sendok.
Adit yang sejak tadi memperhatikan istrinya sejak keluar dari kamar membulatkan mata. Pasalnya, selama mengenal Istrinya belum pernah melihat istrinya makan pedas. Biasanya kalaupun membuat sambal hanya untuk dirinya.
"Maw, yakin? mau makan sambal?" tanya Adit perhatian.
"Tidak usah mengurusi orang lain! urus saja diri sendiri!" ketus Mawar kemudian menyuap nasi dan menelan dengan cepat.
"Bukan begitu Maw, biasanya kan perut kamu nggak kuat kena sambal" sahut Adit.
Klonteng. Mawar menjatuhkan sendok makan kedalam piring.
"Tidak usah mengurusi orang lain saya bilang?!
"Tidak hanya kamu! yang biasa berubah!"
"Saya pun juga bisa!" tukas Mawar kemudian berbalik badan meninggalkan Adit yang menatap sendu istrinya.
Mawar kemudian masuk kamar dan menguncinya. Ia menenggelamkan wajahnya di balik bantal. Badannya berguncang menangisi nasibnya. Di satu sisi ia rindu dengan suaminya. Namun di sisi lain, Mawar belum bisa terima bahwa suaminya telah ada wanita lain di hatinya.
Puas menangis Mawar keluar dari kamar menuju kamar mandi, melihat Simbok masih mencuci piring dan Adit masih duduk di sofa ruang tamu.
Mawar sikat gigi ambil air wudhu, kemudian kembali kekamar. Mawar menjalankan ibadah shalat isya. Setelah shalat, ia merasa sedikit tenang, kemudian tidur. Malam ini ia tidur pulas sebab sudah dua malam tidak tidur.
****
Pagi menyapa, suara adzan subuh membangunkan Mawar dengan lembut. Ia mengerjapkan mata melihat jam weker di atas nakas sudah jam empat tiga puluh menit.
Mawar duduk bersandar di ranjang ambil handphone di sebelahnya siapa tahu ada pesan yang penting.
Pertama yang ia baca pesan dari suaminya. "Selamat malam istriku... mimpi indah ya... I love you"
Mawar tidak membalas, kemudian beralih mengecek email ternyata ada pengumuman masuk SNPTN dan terselip namanya di antara calon mahasiswa yang lain.
Mawar senang sekali, walapun sudah lima tahun lulus dari SMA. Namun, masih bisa bersaing. Memang, Mawar gemar sekali membaca buku-buku dan akhirnya cita citanya masuk perguruan tinggi melalui jalur beasiswa pun terlaksana. Mawar segera shalat subuh. Selesai shalat ia beranjak menuju lemari menyiapkan berkas verifikasi data SNPTN. Mengumpulkan Surat Tanda Lulus (SKTL) dan kartu SNPTN.
Mawar kemudian keluar kamar menyiapkan sarapan di bantu simbok. Setelah matang, Mawar ingin menyiapkan pakaian kerja untuk suaminya.
Ia melangkah hendak menanjak tangga. Namun matanya tertuju seonggok manusia yang masih mendengkur di sofa. Mawar mendekati pria yang ia rindukan masih tidur pulas dengan kaki yang lebih panjang dari sofa tertumpu pada ujung kursi. Tangan kananya menjuntai ke bawah menyentuh lantai. Tangan kirinya di atas dahi.
Mawar meneteskan air mata kemudian balik badan melanjutkan langkah kakinya.
Setelah tugas rumah tangga selesai. Mawar segera mandi kemudian menyiapkan bekal untuk dirinya sendiri. Ia memesan Ojol menunggu di luar pagar dan mengabari Intan bahwa dia menunggu di kampus.
*****
"Mawar belum bangun Mbok?" tanya Adit setelah duduk di kursi meja makan.
"Tuan ini bagaimana to? ya sudah lah! sarapan ini kan Non Mawar yang buat" tutur Simbok.
Adit diam saja, memang benar yang dikatakan Simbok. Padahal istrinya tadi sudah menyiapkan pakaiannya pula.
"Panggil Mbok suruh sarapan" titah Adit sambil check email di handphone.
"Sudah berangkat Tuan dari jam enam tadi" terang Simbok.
"Berangkat? kemana Mbok?" tanya Adit menatap lekat Simbok.
"Katanya ke kampus gitu Tuan"
"Kampus?" tanya Adit semakin heran. "Kekampus mana Mbok?" sambungnya.
" Saya tidak tahu Tuan." pungkas Simbok.
Adit pun segera check di google kapan pendaftaran masuk perguruan tinggi. Adit membelak hari ini sudah pengumuman hasil seleksi mahasiswa baru.
Adit kemudian menjatuhkan tumbuhnya di sandaran kursi.