Cinta Adharra dan Rafael sudah terjalin saat mereka masih kecil. Usia keduanya yang terpaut beberapa tahun dan masalah silih berganti datang menguji cinta keduanya. Terlebih setelah kesalahan besar yang Rafael lakukan membuat Adharra goyah dalam kekecewaan. Walaupun saat bersama Rafael membuatnya lemah dan terluka tapi dia tidak bisa berhenti mencintainya, dia telah terjebak dalam cinta Rafael.
Akankah mereka bisa mempertahankan kisah asmaranya? Simak ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shinbisar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Angga dan Tita melangkah masuk ke dalam Villa. Di sana suara riuh orang mengobrol di ruang tengah cukup terdengar nyaring. Segera Angga melangkahkan kakinya menyusul ke tempat itu dan bergabung.
"Raf, mereka siapa?" tanya Angga saat melihat tiga pria asing yang tidak di kenalnya bersama dengan Rafael. Angga pun ikut duduk di samping Arra yang tertidur nyenyak.
"Angga! lho itu habis dari mana sih? Sekalian gue kenalin deh sama sepupu gue— Gerald," jawab Rafael cepat.
Tita yang baru sampai pun beradu pandang dengan Gerald. "Kamu disini juga, Ta?" tanya Gerald langsung berdiri. Tita terpaku di tempatnya, bingung dan canggung harus menanggapi seperti apa.
"Kamu kenal dia, Ta?" todong Angga pada Tita.
Rafael dan lainnya saling pandang. Mereka tampak saling mengkode satu sama lain seakan sedang mendiskusikan sesuatu. "Kalian kenapa sih?" tanya Rafael kompak.
Berbeda dengan Ardi dan Doni yang sudah mengetahui, ketertarikan Gerald pada Tita sedari kelas X (Sepuluh). Lain halnya dengan Rafael, Arkala dan Rio yang belum tahu sama sekali.
"Emm, iya aku ikut liburan bareng Rafael, Rald," sahut Tita meladeni pertanyaan Gerald.
Angga yang diabaikan mengulang ucapannya lagi. "Ta...?" ucap Angga menggantung, mengerling Tita dengan ucapannya.
Tita meremat tangannya dan memandang Angga dengan lekat. "Dia Gerald, ketua OSIS di sekolah aku, Angga," jelas Tita terlihat ragu-ragu.
***
Di kediaman Dimas, Annisa merapihkan tatanan baju sang suami di lemari. Menyusun sesuai warna dan model pakaian tersebut.
Dimas yang baru saja pulang dari kantor, langsung menuju ke kamarnya. Mendapati sang istri yang sedang berbenah, Dimas pun memeluknya dari arah belakang. "Sibuk banget ya sayang. Gak sadar suaminya sudah pulang kantor," peluk Dimas erat, bertanya.
Nisa memalingkan tubuhnya, melingkarkan tangannya dan membelit erat. "Denger kok, Mas. Aku cuma mau beresin ini dulu," sahut Annisa mengangkat satu pakaian Dimas.
Diambilnya tas kerja sang suami dan menaruhnya di meja kecil dekat ranjang. "Mas pasti capek! Sana mandi, aku mau nyiapin makanan buat Mas," lerai Nisa melepas tangan Dimas yang membelitnya.
Cup...
Kecupan sayang Dimas, ia bubuhkan di kening sang istri. "Mas sayang kamu, Nis," ucap Dimas lembut. Nisa pun membalas dengan memeluk tubuh Dimas erat. "Nisa juga sayang Mas dan anak-anak!"
Kedua pasangan dewasa itu melepas rindu saling berpelukan hangat. Lika-liku pernikahan mereka selama 18 tahun, sungguh tidaklah mudah. Namun dengan keyakinan dari masing-masing mereka mampu bertahan hingga detik ini.
"Mas mandi gih, keteknya bauu..," kekeh Nisa mendorong sang suami ke kamar mandi. Dimas pun ikut terkekeh. Tidak menyangka ia bisa menghabiskan masa tuanya bersama istri dan anak-anak mereka.
***
Angga duduk di halaman depan ditemani secangkir kopi dan roti. Suasana pagi hari di puncak memang sangat menyegarkan. Hawa dingin dan embun yang melingkupi pemandangan menjadi daya pikat tersendiri.
Beda halnya dengan sang adik yang masih meringkuk tertidur setelah tadi subuh, ia dipaksa bangun. Tita pun ikut berbaring di sebelah Arra, menunggui gadis kecil itu sampai terbangun kembali. Ia juga mengisi kebosanan dengan melanjutkan bacaan novel onlinenya yang belum selesai.
Kemaren saat dihadapkan dengan Gerald dan Angga. Tita seakan mati kutu. Namun ia pun lega saat Angga berkenalan akrab dengan Gerald.