Tak ada cinta yang tersisa di dalam hati seorang Digo Uparengga. Semenjak pengkhianatan yang dilakukan oleh sang istri dengan adik kandungnya sendiri bukan hanya meninggalkan luka yang menganga di dalam hati Digo, tetapi kelainan impoten yang membuat dirinya di cap sebagai lelaki anomali.
Berbagai cara telah dia lakukan untuk menyembuhkan kelainannya. Namun, tak ada satupun yang berhasil. Hingga, ia bertemu dengan seorang gadis mabuk yang membuatnya Turn on untuk sekian lama. Tanpa pikir panjang, untuk meyakini dirinya telah sembuh dia pun meminta permintaan gila kepada gadis itu, yaitu menikah dengannya.
Apakah gadis itu bersedia menikah dengan Digo?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Merveille, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Pra Nikah (Part 1)
"Abang ketawa?" tanya Arumi kepada Dicko terheran-heran karena baru kali ini selama hidupnya mendengar sang kakak tertawa seperti itu.
"Gapapa. Bagus deh kalau pikiran lo udah jernih. Meskipun perusahaan lo di ambil sama si bajingan sialan itu, setidaknya sekarang lo sadarkan kan apa yang gue katakan dulu itu benar adanya."
Cukup malu, Arumi mengakuinya. Tapi jauh di lubuk hatinya ucapan Dicko membuat hati Arumi kembali terusik. Tak perlu di tegaskan lagi, jika Arumi sudah benar-benar menyesal telah mencintai lelaki seperti Leon. Memilih meninggalkan rumah dan percaya sepenuhnya kepada lelaki itu.
Beruntungnya, Dicko tidak mengerutuki kebodohan dan kebucinan Arumi. Lelaki itu malah bersyukur, dengan kejadian seperti ini Arumi dapat melihat bagaimana sifat dan karakter asli dari lelaki yang dahulu paling ia bangga-banggakan.
"Jadi ini juga alasan lo terbang ke Amsterdam? Menemui Digo?"
Tersadar, Arumi tergagap menjawab pertanyaan Dicko tiba-tiba. "Akh, i... Iya, ka."
"Terus, lo kapan balik ke sini?"
Arumi berusaha berpikir. "Uhm mungkin 2 atau 3 hari lagi. Tunggu keputusan Digo."
"Oke gue tunggu. Jangan lupa bawa dia buat ketemu papa dan mama."
"Iya, kak." Jelas Arumi akan memperkenalkan Digo kepada orangtuanya, orang sebentar lagi mereka akan menikah dan Dicko akan resmi menjadi kakak ipar dari seorang Digo Uparengga.
Telpon pun berakhir, untuk sekian lama akhirnya Dicko menghubungi Arumi. Membuat hati Arumi sedikit tersentuh dan terobati karena menahan rindu dengan abang sekaligus patner bertengkarnya dulu.
Di luar, Digo ternyata telah datang. Tessa yang juga baru saja kembali dari bekerja sudah heboh sendiri melihat cowok ganteng berbadan kekar yang tadi mengantarkan Arumi pulang berdiri menunggu di bawah dengan mobil porselen miliknya.
"Rumi, Rumi. Kamu tau dia siapa?" Arumi sudah bersiap berangkat, tapi Tessa menghalangi. Berdiri dengan menggengam kedua bahu Arumi dan menatap Arumi dengan mata berbinar-binar.
"Tau. Digo Uparengga."
Tessa memutar matanya jengah. Bukan itu maksudnya.
"Maksud aku, kamu tau kan siapa keluarga Digo?"
"Pemilik perusahaan properti terbesar di Indonesia juga pemilik kelapa sawit terbesar di Kalimantan."
"Dan kamu biasa aja jalan sama Digo?"
"Ya memang kenapa? Apa spesialnya dia?" Dia tidak lebih dari seorang lelaki impoten yang berusaha mengobati dirinya dengan menumbalkan Arumi.
"Oh my god, Arumi. Kau jalan dengan lelaki dari kalangan bangsawan dan biasa saja? Apa kau tidak waras, huh?"
Sekarang gantian, Arumi yang memutar matanya jengah. "Oke Tessa, nanti malam aku akan menceritakan sesuatu kepadamu. Tapi sekarang ijinkan aku untuk pergi, karena di luar sana Digo sudah menunggu aku."
Dengan gaya sok elegan, Tessa melepaskan genggaman tangannya. Memundurkan tubuhnya dan mempersilahkan Arumi untuk pergi.
"Maaf lama. Tessa nahan gue pergi," ucap Arumi saat sudah berada di hadapan Digo.
Digo tersenyum, membuka kacamata hitamnya dan langsung menyoroti wajah Arumi dengan mata biru indahnya.
"Enggak masalah. Ayo jalan, pengacara gue udah nungguin."
Mereka pun masuk ke dalam mobil berwarna abu metalik. Tanpa di duga, di dalam apartemen Tessa sedang mengintip di balik jendela. Cekikikan bahagia melihat temannya yang dapat move on dari mantan kekasih yang tak tau diri itu.
Berkendara sekitar tiga puluh menit, akhirnya mereka tiba di sebuah restoran bintang lima di pusat kota Amsterdam. Arumi turun dari mobil, dan langsung berjalan membututi Digo dari belakang dengan langkah penuh kehati-hatian.
Meja nomer lima sudah duduk seorang pria paruh baya dengan kumis putih tebal. Dia berdiri, kala melihat kami datang dan mendekat.
"Good night Mr.Uparengga." Aksen British nya begitu kental. Arumi meyakini jika paruh baya itu bukanlah orang asli Belanda.
Dengan sopan, lelaki paruh baya itu menyalami Arumi. Kemudian mempersilahkan dia duduk sebelum kemudian memanggil pelayan untuk mencatat menu makanan yang akan ketiganya makan.
"Bawakan kami sepiring steak dan wine terbaik restoran ini." Baru saja Arumi ingi memesan ternyata Digo telah terlebih dahulu memutuskan untuk memesan apa.
"Kau bilang aku tidak boleh mabuk, tapi kenapa kau memesan wine?" Arumi berbisik diam-diam di telinga Digo.
Digo berdehem, lalu mencondongkan wajahnya ke arah telinga Arumi. "Kau akan mabuk jika kau meminum satu lusin wine." Kemudian kembali memposisikan duduknya dan memasang wajah sedatar mungkin.
Entah mendengar atau tidak, lelaki paruh baya di hadapan mereka sama sekali tidak bereaksi. Lelaki dengan usia sekitar enam puluh tahunan itu sibuk mengeluar masukan kertas kertas di dalam tasnya.
"Ok, bisa kita mulai? Atau kita makan terlebih dulu?" Lelaki paruh baya itu akhirnya berkata.
"Kita bisa mulai sekarang. Setelah selesai baru kita akan makan malam bersama."
Ingin sekali Arumi protes. Tidak tau apa jika perut gadis itu sudah keroncongan sedaritadi. Dia bahkan sengaja tidak makan di rumah karena tau akan bertemu dengan pengacara Digo di restoran mewah. Dia berharap bisa makan, makanan enak setelah baru saja melewati masalah yang begitu sulit. Akan tetapi, sialnya dia malah tidak jadi makan enak. Tertunda. Kalau tau begitu, di apartemen Tessa tadi dia memasak mie dulu untuk mengganjal perutnya.
"Baik nona Arumi, kau bisa menuliskan apa-apa saja hal yang di larang oleh tuan Digo selama menikah dengan mu. Dan hal-hal apa saja yang harus di taati oleh tuan Digo kala menjadi suami mu nanti." Lelaki paruh baya itu memberikan Arumi secarik kertas lengkap berserta pulpennya.
Sama halnya dengan Arumi, lelaki paruh baya yang namanya saja Arumi tidak tau juga memberikan secarik kertas dan pulpen kepada Digo. Berkata hal yang sama, untuk Digo menulis aturan dan larangan apa saja yang harus Arumi taati dan Arumi hindari.
Mereka berdua di beri waktu selama tiga puluh menit. Lelaki paruh baya itu berpesan kepada mereka untuk menulis semua sesuai dengan hati dan perasaan mereka.
Aku harus menulis apa, ya? Tidak mungkin kan, aku menulis dia di larang menyentuh tubuhku setelah menikah? Huh, padahal aku sendiri tau alasan utama dia menikahi ku karena ingin mengobati impotennya. Jelas untuk mengobati kelainan impoten, akun harus siap melayaninya.
Tidak seperti Digo di sebelahnya yang menulis begitu khusu tanpa beban seperti sudah membuat daftar dalam pikirannya, Arumi justru binggung setengah mati harus menulis apa saja jika Digo menjadi suaminya.
"Oke selesai."
Arumi gelagapan ketika lelaki paruh baya menghentikan mereka menulis. Dengan sigap, lelaki paruh baya itu segera mengambil kertas mereka semua. Menumpuknya menjadi satu dan meletakkannya di ujung meja.
Dia berdehem, sebelum kemudian berkata. "Baik, sebelum aku membacakan keinginan apa saja yang diinginkan oleh masing-masing bakal calon pengantin, aku akan membacakan surat Pra nikah ini yang ada di tangan ku terlebih dulu."
Kepala Arumi menoleh ke arah Digo. Matanya memicing. Katanya, surat pranikah yang Digo buat yang memuat peraturan dan daftar keinginan kedua belah pihak, tapi kenapa ini ada surat pranikah yang lainnya?
***
bingung euy
pokok e tampan bgt,hot duda wkwk
sebenarnya kamu baik kok,iya kan?
nikah dikit ya?