NovelToon NovelToon
The Guy Next Door

The Guy Next Door

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Mafia / Kriminal / Tamat
Popularitas:209.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lady Magnifica

Aku hanya sesekali berpapasan dengannya, di lift, di koridor. Ya, dia tampak seperti pria biasa. Hanya sedikit aneh. Wajahnya dingin, tanpa senyum, bahkan nyaris tanpa ekspresi. Walaupun kuakui sebenarnya dia sangat tampan, dengan rambut cokelat berantakan dan mata birunya. Aku baru melihatnya beberapa hari ini. Sepertinya dia baru pindah ke gedung apartemen ini. Dan sepertinya, dia tinggal tepat di samping flatku. Kupikir dia semacam nerd atau apalah itu - Kirana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Magnifica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Par 13

Seorang pria ditemukan tewas di dalam mobilnya yang terparkir tak jauh dari Westfield South Center Mall, Seattle, Washington dengan dua luka tembakan di dadanya. Pria itu bernama James Adams.

Polisi masih menyelediki ....

Hayden tersenyum miring. Dia mendengarkan dengan seksama reporter televisi yang sedang melaporkan pembunuhan James Adams. Pria yang dihabisinya beberapa saat yang lalu.

Dia menenggak birnya dan menghisap rokok dalam - dalam.

Ponselnya bergetar.

"Ya." Dia menyapa seseorang di seberang sana.

"Good job, Mr. Vestergaard."

"Hmm ...."

"Akan kuurus pembayaranmu, dan kupastikan kau bersih."

"Senang berbisnis denganmu, Mr. Gagné."

Hayden menutup telponnya.

Dia merengganggkan otot - ototnya yang terasa pegal.

One job done.

***

Kirana membuka pintu flat Ibunya yang tak terkunci. Wajahnya berubah masam begitu melihat wanita berwajah Asia itu tidak sendiri. Ada seorang pria paruh baya berkulit putih yang duduk dengannya.

"Apa yang dia lakukan di sini?" tanya Kirana sinis.

Sang Ibu hendak menjawab, namun pria itu menyentuh lengannya. Memberi isyarat padanya untuk diam.

"Kira .. aku akan tinggal dengan Ibumu untuk sementara."

"Why?"

"Karena aku butuh tempat untuk bersembunyi."

"Tempat untuk bersembunyi? Yang benar saja, aku tidak akan pernah mengijinkanmu tinggal di sini," ujar Kirana dengan sengit.

Sang Ibu berdiri, lalu menatap tajam ke arah Kirana.

"Kira, sopanlah sedikit. Dia Ayahmu!"

Kirana tertawa ironis. "He's no longer my Father since he walked out the door (dia bukan lagi ayahku sejak dia minggat)!"

"Kira!" bentak Sang Ibu. Sementara Sang Ayah kembali menyentuh lengannya dan menyuruhnya tenang.

"Kira, aku sedang dalam masalah besar, aku punya banyak hutang pada seorang mafia. Mereka sedang mengejarku. Aku butuh tempat sembunyi untuk sementara waktu sampai aku mendapatkan uang untuk membayarnya."

Kirana tersenyum sinis.

"Well, it's not my business (yah, itu bukan urusanku) .. Clark!"

"Mereka akan membunuhku jika aku tidak bisa membayarkan hutangku, Kira.

"Bagus."

"Sudah cukup, Kira!" seru Sang Ibu geram.

Kirana mendecak. Diambilnya dompet yang ada di dalam tas selempangnya. Lalu mengambil dua lembar seratusan dollar dan meletakkannya di atas meja dengan kasar.

"Here's your money (ini uangmu)!"

Kirana menatap sinis pada Clark, Sang Ayah, lalu melangkah keluar meninggalkan kedua orang tuanya itu dengan perasaan hancur.

***

Kirana menelungkupkan kepalanya di meja cafe yang berada di seberang gedung apartemennya. Secangkir kopi yang telah dihidangkan di dekatnya belum disentuhnya sama sekali.

Another bad day (lagi - lagi hari yang buruk).

Kirana mengacak rambutnya kasar.

"Tough day, huh (hari yang berat, ya)?"

Kirana mendongak. Dia segera merapikan rambutnya. Lalu mengusap sudut matanya yang mengembun.

"Kenapa ada di sini?"

"Aku melihatmu dari sana." Hayden menunjuk ke luar jendela cafe. Ke seberang jalan.

Kirana meremas wajahnya yang kusut seperti biasanya.

"Can I join you (boleh bergabung)?"

Kirana mengangguk. Dia mengaduk cangkir kopinya yang mulai dingin. Lalu meneguknya pelan.

"Café Au Lait (kopi susu), please." Hayden berbicara pada seorang pelayan yang menghampirinya.

"Kenapa kau mau berkomunikasi denganku? Apa karena kau takut aku akan melaporkanmu pada polisi?" Kirana buka suara begitu Sang Pelayan berlalu.

Hayden terbahak. "Aku tidak takut sama sekali."

Kirana menatap mata biru Hayden lekat - lekat. "Ada urusan apa kau dengan Bosku?"

Hayden terdiam sejenak. Bibirnya menyunggingkan senyum kecil. "Kau sungguh ingin tahu?" Dia menaikkan alisnya.

"Tidak .. tidak. Apa pun itu pastilah sesuatu yang buruk. Lagi pula, sebenarnya aku sama sekali tidak tertarik untuk mengetahuinya. Aku sudah punya banyak masalah dalam hidupku."

"Good, minding your own business, that's better (bagus, tidak ikut campur, itu lebih baik)."

"Yeah." Kirana menyeruput kopinya. "Tapi aku penasaran dengan pekerjaanmu."

"Ouwh, you don't wanna know (kau tidak mau tahu)."

"Are you some kind of Hitman? Manslayer? Assassin (kau semacam pembunuh bayaran, ya)?"

Hyaden terbahak. "I told you I'm just an ordinary man (aku sudah bilang padamu aku hanya pria biasa)."

Kirana memutar bola matanya. "Right, with a gun, huh (iya deh, pria biasa yang bersenjata, ya)?"

"You should mind your own business, Miss (tidak usah penasaran, Nona)."

"Lalu kenapa kau berbicara denganku?"

"Because I want to (karena aku mau)."

Kirana mendesis. Ternyata dia orang yang cukup menjengkelkan.

"Thanks." Hayden berucap pada Sang Pelayan yang datang menyodorkan secangkir Café Au Lait.

"Bagaimana kalau kita ulang perkenalan kita. Tanpa ada pakaian yang dikotori dengan muntahan." sindir Hayden membuat pipi Kirana memerah. "Dan berbicara hal - hal normal. Layaknya tetangga," lanjutnya.

"Okay, Hi, I'm Kirana Rogers, you can call me, Kira."

Kirana mengulurkan tangannya. Hayden menyambutnya. Dia mengerenyitkan keningnya. Rogers?

Hayden berpikir sejenak. "Hayden Vestergaard. Call me .. whatever you want (panggil aku apa pun yang kau mau)."

"Alright."

Keduanya terdiam.

"Nice weather, huh (cuacanya bagus, ya)?" ujar Kirana asal seraya menunjuk ke luar jendela.

Langit Seattle yang tertutup awan.

***

Bel pintu flat mewahnya tak henti - hentinya berbunyi. Alex yang tengah berkutat dengan layar komputernya mendecak sebal.

"Seriously?" ujarnya begitu membuka pintu dan melihat Kania tersenyum lebar padanya.

Gadis itu melenggang masuk tanpa menunggu persetujuan si pemilik apartemen. Meletakkan tas Guccinya di atas meja kerja Alex.

"Kapan kau akan mengantarku menemui Hayden?" tanya Kania seraya menghempaskan tubuh rampingnya ke atas sofa empuk.

Alex duduk di samping gadis cantik itu dan mencebikkan bibirnya. "I don't know."

"Ayolah, Alex, please," rengek Kania dengan manjanya.

"Kenapa kau tidak menyerah saja? Aku bisa menggantikan Hayden. Aku cukup tampan juga, bukan?" goda Alex seraya menaik - naikkan alisnya.

Kania mendesis. "You're not my type (kau bukan tipeku)."

Alex terbahak.

"Ayahku akan memberi pekerjaan penting untuk Hayden, bukan? Kau pasti akan sering menemuinya."

"Kau suka sekali menguping ya? Gadis nakal!"

Kania meringis. Memperlihatkan gigi - gigi putihnya yang rapi.

Alex menghela nafas pelan. "We'll see this weekend (coba kita lihat minggu ini)."

Mata Kania berbinar. Lalu menghambur ke pelukan Alex. "Thank you," ucapnya seraya mengecup pipi Alex lembut.

Alex mengusap pipinya dengan senyum lebar yang tersungging di bibirnya. "Lepaskan pelukanmu atau kau akan membuatku horny."

Kania buru - buru menarik badannya menjauh. Mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.

***

Dengan hati - hati Vou mendekati Keemo yang tengah berkutat dengan kertas - kertas di meja kerjanya. Pria itu menghentikan aktifitasnya begitu melihat kedatangan gadis itu.

"Ada perlu apa?" tanyanya ketus.

"Emm .. Paman, apa .. aku boleh menanyakan .. sesuatu?"

"Hmmm ...."

Vou menelan ludahnya. "Bagaimana .. nasib teman - temanku .. yang lain, Paman."

Keemo menggebrak mejanya. Membuat Vou terpekik ketakutan.

"Kau beruntung aku tidak menaruhmu di rumah bordil. Kalau saja kau bukan keponakanku aku pasti sudah menjualmu pada Malvori, atau Morales." Keemo mengatur nafasnya yang memburu. "Sekali lagi kau menanyakan hal itu aku akan menjualmu pada mereka. Kau mengerti?"

"A - aku mengerti, Paman."

"Pergi sana."

Vou membungkuk kecil memberi hormat. Dengan langkah cepat dia meninggalkan ruangan itu. Dadanya terasa sesak. Tak terasa air matanya pun jatuh membasahi pipinya.

***

***

Ohya, ni dia nih si Kirana

Kusut bet ye mukenye. 😂😂

1
Kustri
jd inget lagu'a see u again
Kustri
hahaa...alex makan simalakama
Kustri
ufft... keren si othor👍
Kustri
wanita manja👊
hayden kasian kau, gmn reaksimu saat tau bosmu yg menghabisi pacarmu
dan hati"lah x ini sakira akan jd target berikut'a
Kustri
kirana diculik, waduduuuuh.... ketegangan di mulai
Kustri
nha... lbh bagus begitu thor
bhs asing lgsg diartikan, drpd hrs nunggu di akhir part👍
Kustri
yaaaa.... kasian sandra, dijadikan pelampiasan alex
Kustri
sayang sekali qu baca sdh tamat
saran aja... sebaik'a lgsg bhs indonesia
ribet klo hrs baca di akhir
pembaca pasti paham koq ini kejadian di LN👍
Kustri
iih...jorok kirana
udh tau gk bisa byk minum alkohol, ngeyel
Kustri
kirana org mana... indonesia bgt nama'a
Kurda Ningrum
keren nih ceritanya
Fardiana Hamsah
Luar biasa
Mooie Jkt
Menarik ceritanya..
Riska Aprianty
Lumayan
Riska Aprianty
Luar biasa
Dewa Qin
ahhhhh akhirnya.....😍😍
Dewa Qin
sepertinya kania tidak jadi menargetkan hayden dan kirana karna sudah menemukan ben.dan alex tidak benar2 membunuh hayden
Dewa Qin
q malah udah baca duluan novel itu thor...😁
Dewa Qin
kenapa kania sama ben sich thor,kan eman ben dapet anak mafia yg manja.😂
Dewa Qin
wanita akan menjadi bodoh saat jatuh cinta dan wanita akan jadi mengerikan saat hatinya tersakiti.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!