Naomi Tan tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah total saat ia pindah dari Semarang ke Jakarta untuk bersekolah di SMA Nusantara Unggul — sekolah paling prestisius di Indonesia. Gadis cerdas dengan nilai akademik sempurna ini tiba-tiba harus bertahan di dunia yang dikuasai anak-anak konglomerat.
Di hari pertamanya, saat ia mengikat tali sepatunya, seseorang berjalan melewatinya — meninggalkan aroma mint yang tak bisa ia lupakan. Darren Lim, pewaris Lim Corporation, tampan dengan aura dingin namun jahil, adalah mahkota tak resmi di sekolah ini. Semua orang mengenalnya. Semua gadis menginginkannya. Dan ia sama sekali tidak tertarik — sampai Naomi mengalahkan nilainya di ujian pertama.
Cinta mereka tumbuh perlahan, dari tatapan yang dicuri di kelas hingga kencan rahasia di Taman Rahasia. Tapi dunia konglomerat tidak membiarkan cinta berjalan mulus. Vanessa Koh, putri keluarga rival yang terobsesi dengan Darren, menganggap Naomi sebagai ancaman. Richard Lim, ayah Darren yang kejam, menolak hubungan putranya dengan gadis biasa. Dan rahasia kelahiran Naomi — bahwa ia adalah anak di luar nikah dari kepala keluarga Koh — mengancam segalanya.
Mereka putus dua kali.
Pertama, karena kebohongan yang mereka percaya saat masih terlalu muda untuk bertanya. Mereka masuk ujian nasional dengan hati yang hancur — dan keluar dengan nilai tertinggi yang sama, seolah jiwa mereka tetap terhubung meski hati mereka berdarah.
Kedua, karena Darren rela berlutut di hadapan ayahnya sendiri demi melindungi Naomi. Ia pergi ke Cambridge, mengatur segalanya dari jauh agar Naomi aman — sambil menangis sendirian di kamar setiap malam.
Dua tahun berlalu. Naomi menjadi "Bintang Universitas Nusantara". Darren menjadi legenda di Cambridge. Richard Lim jatuh karena dikhianati kekasihnya sendiri.
Dan di sebuah pesta, mereka bertemu lagi.
Satu tatapan. Dua tahun kesakitan. Dan cinta yang tidak pernah padam.
Kali ini, Darren tidak akan melepaskannya. Ia melamar Naomi di Dubai, dengan air mancur menari dan kembang api yang menuliskan "I Love You Nao" di langit malam. Ia membangun kembali kerajaan keluarganya. Ia membawa Naomi ke hadapan kakek-neneknya untuk menerima gelang giok pusaka — simbol bahwa ia adalah nyonya rumah Lim yang sah.
Dan di musim panas yang sama dengan saat mereka pertama kali bertemu, mereka menikah.
"Naomi yang berusia tujuh belas tahun dan Naomi yang berdiri di hadapanku saat ini — aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu."
Mencintaimu adalah satu-satunya hal yang tak pernah berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5 - Suara di Lapangan
"Nao," kata Chelsea pelan, "kayaknya bukan cuma lo yang memperhatikan."
Naomi menatap Darren di ujung koridor, lalu cepat-cepat menarik lengan Chelsea turun tangga.
"Kamu kebanyakan baca novel."
"Dan biasanya novel lebih jujur daripada orang yang lagi denial."
"Aku nggak denial."
"Kalau begitu besok kita datang nonton pertandingan."
Naomi berhenti. "Kamu tadi bilang aku sibuk."
"Itu sebelum aku mendapat data baru." Chelsea tersenyum seperti detektif yang menemukan bukti. "Kita perlu observasi lapangan."
"Chelsea."
"Apa? Aku cuma mendukung olahraga sekolah."
Naomi tahu percuma berdebat. Maka keesokan sorenya, ia duduk di tribun lapangan basket SMA NU dengan Chelsea di sebelah kiri dan Susan dua kursi di kanan. Pertandingan antarkelas itu ternyata jauh lebih ramai daripada yang ia bayangkan. Anak-anak dari kelas lain memenuhi tribun, membawa poster kecil, minuman dingin, dan suara yang tidak ada habisnya.
Kelas 12A melawan Kelas 12C.
Di lapangan, Darren melakukan pemanasan bersama Brandon, Jason, dan Kevin. Seragam basket biru tua membuatnya terlihat berbeda dari saat memakai seragam sekolah. Lebih bebas. Lebih sulit diabaikan.
"Tutup mulut lo," bisik Chelsea.
Naomi langsung merapatkan bibir. "Aku nggak ngomong."
"Mata lo yang ngomong."
Susan yang duduk di kanan memandang lurus ke lapangan. "Darren memang selalu main bagus."
Naomi menoleh, tapi Susan tidak melihatnya. Gadis itu menggenggam botol air mineral terlalu erat sampai plastiknya berbunyi pelan.
Belum sempat Naomi menjawab, seorang panitia OSIS berlari ke tribun. "Chelsea! Anak announcer sakit tenggorokan. Ada yang bisa bantu baca skor dan nama pemain nggak?"
Chelsea langsung menunjuk Naomi.
Naomi membelalak. "Chel!"
"Dia bisa. Suaranya enak, jelas, dan nggak panik."
"Aku panik sekarang."
"Paniknya nanti setelah pegang mic."
Lima menit kemudian, Naomi sudah duduk di meja kecil dekat lapangan dengan mikrofon di depan mulutnya. Ia membaca daftar pemain dengan tangan yang sedikit dingin. Chelsea memberi dua jempol dari tribun. Jason dari lapangan melambai dramatis seperti artis.
Naomi menarik napas.
"Pertandingan antarkelas sore ini, Kelas 12A melawan Kelas 12C, akan segera dimulai."
Suaranya keluar lebih tenang daripada yang ia rasakan. Speaker memantulkan suaranya ke seluruh lapangan. Beberapa murid menoleh ke meja announcer.
Darren juga menoleh.
Naomi pura-pura menatap kertas.
Peluit berbunyi. Pertandingan dimulai cepat. Brandon membuka skor dengan tembakan bersih dari sisi kanan. Jason berlari sambil berteriak meminta bola, lalu nyaris terpeleset karena terlalu percaya diri. Kevin bermain lebih diam, tapi gerakannya tepat. Darren, seperti dugaan semua orang, menguasai lapangan dengan santai yang menyebalkan.
"Poin pertama untuk Kelas 12A, dicetak oleh Brandon Seng," ucap Naomi.
Chelsea berteriak dari tribun, "Keren, Bran!"
Brandon yang biasanya tenang tersenyum sedikit.
Naomi melanjutkan tugasnya. Setiap kali Darren mencetak angka, ia harus menyebut namanya. Awalnya biasa saja.
"Darren Lim menambah dua poin untuk Kelas 12A."
Teriakan dari tribun langsung naik.
Beberapa menit kemudian, Darren merebut bola dari lawan, berlari cepat, lalu melakukan layup. Bola masuk mulus.
"Dua poin lagi untuk Kelas 12A, Darren Lim."
Saat menyebut namanya untuk ketiga kali, Naomi sadar Darren menoleh sekilas ke arahnya sebelum kembali ke posisi bertahan.
Ia hampir salah menyebut skor.
Chelsea di tribun menutup mulut, jelas-jelas menahan jeritan.
Di kuarter kedua, Kevin menerima operan dari Darren. Seharusnya ia langsung menembak. Namun tepat ketika Naomi berkata, "Bola dipegang Kevin Tjoa," Kevin mendadak menoleh ke arah meja announcer.
Bola lepas dari tangannya.
Jason yang berada di dekatnya berteriak, "Kev! Fokus!"
Penonton tertawa. Kevin mengambil bola dengan wajah datar, tapi telinganya memerah. Naomi menggigit bibir agar tidak ikut tertawa.
"Maaf," gumam Kevin saat berlari melewati meja announcer.
Naomi menjawab pelan tanpa mikrofon, "Nggak apa-apa."
Darren melihat pertukaran kecil itu.
Permainan berikutnya, Darren bergerak lebih cepat. Ia mencuri bola, melewati dua pemain, lalu mencetak three point yang membuat tribun meledak. Saat seluruh lapangan bersorak, ia tidak melihat penonton. Ia justru menatap meja announcer.
Naomi menunduk ke kertas skor, tapi suaranya tetap harus keluar.
"Three point untuk Kelas 12A, Darren Lim."
Suara Chelsea dari tribun terdengar jelas, "Nao, jangan gemeter!"
Naomi ingin menghilang.
Kelas 12A menang dengan selisih cukup jauh. Setelah pertandingan selesai, pemain berkumpul di pinggir lapangan. Jason menjatuhkan diri di lantai sambil berkata ia hampir melihat leluhur. Brandon memberi minum pada Chelsea yang turun dari tribun. Kevin berdiri agak jauh, membuka tutup botol, lalu menutupnya lagi tanpa minum.
Darren berjalan ke meja announcer.
Keringat membuat rambutnya menempel di dahi. Aroma mint yang biasanya dingin bercampur dengan panas tubuh dan udara sore.
"Suara lo bikin pertandingan lebih enak," katanya.
Naomi membereskan kertas skor. "Kamu main memang sudah bagus."
"Jadi lo nonton gue?"
Naomi terdiam.
Darren tersenyum, terlalu puas.
"Maksudku, aku harus lihat bola untuk baca skor."
"Bola atau gue?"
"Darren."
"Iya?"
Naomi menatapnya dengan wajah yang ia harap cukup tegas. "Minggir. Aku mau balikin mic."
Darren tertawa dan benar-benar menyingkir. Dari belakang, Chelsea mengacungkan jempol seperti sutradara puas dengan adegan romantis.
Saat Naomi berjalan ke meja panitia, Susan turun dari tribun membawa handuk kecil dan sebotol minuman isotonik. Langkahnya berhenti di dekat Darren.
"Darren," panggil Susan pelan. "Minum."
Darren menoleh, menerima botol itu sebentar. "Thanks."
Namun sebelum Susan sempat tersenyum, Darren sudah meletakkan botol itu di bangku, lalu kembali melihat ke arah Naomi yang sedang menyerahkan mikrofon. Perhatian yang hanya lewat sepersekian detik itu cukup untuk membuat wajah Susan berubah kaku.
Chelsea yang berdiri tidak jauh dari sana melihat semuanya.
"Wah," gumamnya.
Naomi kembali tanpa tahu apa yang baru saja terjadi. "Kenapa?"
"Nggak. Lapangan hari ini ternyata banyak pertandingan."
"Pertandingan sudah selesai."
Chelsea menatap Susan yang diam di pinggir lapangan, lalu menatap Darren yang masih memperhatikan Naomi. "Yang itu belum tentu."
Malamnya, Naomi pergi ke minimarket kecil dekat gerbang asrama untuk membeli susu dan plester karena tumitnya sedikit lecet. Ia sengaja pergi sendiri setelah Chelsea terlalu sibuk mengirim pesan panjang ke grup kelas tentang kemenangan 12A.
Minimarket itu sepi. Hanya ada suara pendingin dan musik pelan dari speaker. Naomi mengambil sebotol susu, lalu berhenti di depan rak minuman kekinian. Ia memilih satu cup milk tea dingin rasa brown sugar.
Saat ia berbalik, seseorang membuka pintu minimarket.
Bel kecil berbunyi.
Aroma mint datang bersama udara malam.
Naomi tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang masuk.
Darren berdiri di lorong yang sama, rambutnya masih agak basah seperti baru mandi. Ia melihat cup milk tea di tangan Naomi, lalu mengambil satu cup yang sama dari rak.
"Kebetulan?" tanya Naomi sebelum ia sempat menahan diri.
Darren menatap dua minuman yang identik itu, lalu tersenyum.
"Kalau gue bilang iya, lo percaya?"