Chua Yulin mengira hidupnya sudah cukup buruk setelah menemukan kekasihnya berselingkuh. Lalu dia pindah ke apartemen baru dan mendapat teman sekamar seorang cowok misterius bernama Sim Zhenyu—yang pulang tengah malam berbau bensin, menerima transfer Rp 10 juta dari orang tak dikenal, dan memiliki wajah yang terlalu tampan untuk hidup biasa.
Kesimpulan Yu: dia pasti model.
Yang tidak Yu duga? Sentuhan Zhen adalah satu-satunya yang bisa meredakan kondisi langka yang dideritanya—haus sentuhan. Sementara Zhen, si clean freak yang tidak pernah membiarkan siapa pun menyentuhnya, mulai membuat pengecualian. Hanya untuknya.
Dari kesalahpahaman yang konyol hingga pengorbanan yang tak terduga, ini adalah kisah tentang dua orang yang ditakdirkan untuk saling melengkapi—karena kadang, yang kamu butuhkan bukan payung dari hujan, tapi hujan itu sendiri.
"Kamu memang ditakdirkan kekurangan hujan—kekurangan aku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2: Pukul Dua Pagi
Balasan itu masuk kurang dari satu menit.
Masih. Kalau cocok, bisa pindah besok. Unit kosong malam ini.
Yu menatap layar ponsel sampai huruf-hurufnya terasa kabur. Di sekitarnya, lobby apartemen Kevin sudah mulai sepi. Satpam menguap di pos. Satu mobil hitam menurunkan penumpang, lalu pergi lagi, meninggalkan suara ban yang menggesek aspal basah.
Unit kosong malam ini.
Empat kata itu terdengar seperti jebakan, tapi juga seperti satu-satunya papan kecil yang terapung di tengah air. Yu mengusap layar dengan ibu jarinya, lalu membalas sebelum keberaniannya habis.
Saya mau lihat unitnya besok pagi.
Admin hanya membalas dengan alamat, nomor tower, dan kalimat singkat: Bawa KTP untuk data penghuni. Khusus perempuan, ya.
Yu hampir tertawa. Di kolom komentar, orang bilang ada laki-laki tinggi keluar jam dua pagi. Admin bilang khusus perempuan. Hidupnya baru saja hancur karena laki-laki, dan sekarang ia mungkin akan menyerahkan deposit pada iklan yang bahkan tidak bisa menentukan jenis kelamin penghuni.
Tapi malam itu, pilihan Yu tidak banyak.
Ia memesan GrabCar ke kos sementara milik teman sekelas yang sedang pulang ke Bekasi, tidur hanya dua jam di atas kasur tipis, lalu pagi harinya pergi melihat unit itu dengan mata sembap dan kepala berat.
Apartemen itu berada di Jakarta Selatan, tidak jauh dari akses MRT dan masih masuk akal untuk perjalanan ke UI. Gedungnya tinggi, lobby-nya wangi kopi dari kafe kecil di sudut, dan lift-nya terlalu cepat naik sampai perut Yu sedikit mual.
Admin unit, seorang perempuan muda bernama Rani, menyerahkan kartu akses sambil tersenyum profesional.
"Penghuni satunya jarang di rumah, Kak. Orangnya bersih banget, jadi tolong jaga kebersihan juga, ya."
"Penghuni satunya perempuan?" tanya Yu.
Senyum Rani berhenti setengah detik.
"Data di sistem begitu, Kak. Unit ini terdaftar untuk penyewa perempuan."
Jawaban itu tidak menjawab apa pun.
Yu berdiri di depan pintu unit sambil menggenggam strap tasnya. Bekas semalam masih terasa di tubuhnya, seperti lelah yang tidak mau lepas. Ia sudah mengirim pesan ke Lily, tapi hanya menulis bahwa ia pindah tempat sementara dan tidak perlu dijemput. Lily membalas dengan dua puluh panggilan tidak terjawab, lalu satu pesan panjang penuh huruf kapital.
Yu belum sanggup membukanya.
Pintu unit terbuka.
Hal pertama yang Yu rasakan adalah bau bersih.
Bukan sekadar wangi ruangan. Ini bau lantai yang baru dipel, kaca yang baru dilap, dan udara yang tidak memberi ruang untuk debu. Sepatu rumah tersusun lurus di rak dekat pintu. Sofa abu-abu di ruang tengah tidak punya lipatan berantakan. Meja makan kosong, kecuali satu kotak tisu yang posisinya tepat di tengah. Di dapur, botol sabun cuci piring menghadap ke arah yang sama dengan botol hand sanitizer.
Yu melepas sepatu dengan hati-hati, tiba-tiba merasa dosanya bertambah hanya karena membawa koper roda dua yang tadi melewati trotoar becek.
"Ini... rapi sekali," gumamnya.
Rani tertawa kecil. "Iya, Kak. Penghuni satunya agak perfeksionis. Tapi tenang, kamarnya masing-masing. Area pribadi nggak akan diganggu."
"Dia pulang kapan?"
"Biasanya nggak tentu. Kadang malam, kadang subuh. Tapi jarang berisik kok."
Subuh.
Komentar jam dua pagi itu kembali muncul di kepala Yu.
Ia melihat kamar yang ditawarkan. Ukurannya tidak besar, tapi cukup untuk kasur, meja belajar, lemari, dan satu jendela menghadap gedung sebelah. Yang paling penting, pintunya bisa dikunci dari dalam. Setelah semalam, fakta sesederhana itu terasa seperti kemewahan.
"Saya ambil," kata Yu.
Rani berkedip. "Kakak yakin? Nggak mau pikir-pikir dulu?"
Yu menatap koper di dekat kakinya. Hoodie abu-abu masih membungkus mug ikan kecil di dalam tas. Semua barang yang ia punya malam itu muat di dua tas dan satu koper. Lucu sekali, tiga tahun hubungan ternyata bisa ditinggalkan dengan barang sebanyak itu.
"Saya yakin."
Sore harinya, Yu resmi masuk.
Ia menghabiskan beberapa jam untuk membersihkan kamar yang sebenarnya sudah bersih. Ia menyusun buku kuliah di meja, menaruh laptop di sudut kanan, menggantung dua kemeja, lalu meletakkan mug ikan kecil di dekat jendela. Mug itu retak sedikit di bagian bawah karena perjalanan, tapi masih bisa berdiri.
Di luar kamar, apartemen tetap sunyi.
Sunyi yang aneh.
Tidak ada suara penghuni lain. Tidak ada sandal bergeser. Tidak ada piring dicuci. Tidak ada batuk, tidak ada musik, tidak ada tanda bahwa ada manusia lain pernah hidup di tempat itu, kecuali jejak kerapian yang terlalu disiplin.
Yu keluar untuk mengambil air. Di dapur, ia melihat satu catatan kecil tertempel di pintu kulkas.
Jangan taruh makanan berbau tajam tanpa tutup.
Tidak ada tanda tangan.
Yu membaca catatan itu dua kali, lalu membuka kulkas. Isinya membuatnya terdiam. Botol air mineral tersusun berdasarkan ukuran. Telur berada di kotak transparan dengan label tanggal. Sayur dibungkus rapi. Bahkan saus sambal pun berdiri seperti ikut upacara bendera.
"Oke," bisik Yu. "Aku tinggal sama robot."
Ia membuat teh hangat, kembali ke kamar, dan berusaha mengerjakan tugas struktur data. Tiga baris kode membuat kepalanya sakit. Lima menit kemudian, ia malah membuka chat Kevin tanpa sengaja.
Ada tujuh pesan baru.
Yu, jawab.
Aku khawatir.
Jangan kekanak-kanakan.
Kita perlu bicara.
Yu menutup chat itu sebelum pesan berikutnya terbaca. Ia mematikan notifikasi, menaruh ponsel telungkup, lalu menarik napas panjang.
Kulit di lengannya terasa tidak nyaman.
Rasa itu datang pelan, seperti semut halus bergerak di bawah permukaan. Biasanya, setelah pertengkaran besar atau keramaian yang membuatnya tertekan, tubuh Yu mulai mencari sentuhan aman. Dulu, kalau Ko Darren ada di dekatnya, cukup satu tepukan di kepala atau pelukan sebentar dan semua beres. Di Jakarta, ia hanya punya dirinya sendiri.
Ia melipat tangan di dada, mencoba menekan rasa gelisah itu.
"Nggak apa-apa," bisiknya. "Tidur saja."
Menjelang tengah malam, hujan turun lagi. Tetesnya memukul kaca jendela dengan ritme kecil yang lama-lama membuat mata Yu berat. Ia sempat berpikir untuk mengunci pintu kamar dua kali, lalu tiga kali. Setelah memastikan kunci benar-benar masuk, ia berbaring dengan lampu meja masih menyala.
Entah jam berapa ia tertidur.
Yang jelas, ia terbangun karena bunyi pintu utama terbuka.
Ceklek.
Mata Yu langsung terbuka.
Kamar masih remang. Ponselnya menunjukkan pukul 02.03. Dari luar, terdengar suara langkah berat, teratur, lalu bunyi sesuatu diletakkan di dekat pintu. Bukan langkah Rani. Bukan langkah perempuan yang pulang diam-diam setelah lembur.
Yu duduk perlahan. Jantungnya memukul tulang rusuk.
Komentar itu benar.
Ada laki-laki tinggi keluar jam dua pagi.
Sekarang laki-laki itu masuk.
Yu meraih penggaris besi dari meja belajar. Benda itu konyol sebagai senjata, tapi tangannya membutuhkan sesuatu untuk digenggam. Ia membuka pintu kamar sedikit, cukup untuk melihat ruang tengah.
Lampu foyer menyala.
Seorang laki-laki berdiri di dekat rak sepatu.
Tinggi. Sangat tinggi sampai ruangan itu terlihat lebih sempit. Ia mengenakan jaket balap hitam dengan garis putih di lengan, rambutnya sedikit basah oleh hujan, dan di tangannya ada helm full-face. Dari tubuhnya tercium campuran hujan, kulit jok mobil, dan aroma bensin yang tajam namun bersih.
Laki-laki itu mengangkat kepala.
Tatapannya langsung menemukan Yu.
Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap. Yu dengan penggaris besi di tangan. Laki-laki itu dengan helm di satu tangan dan sarung tangan balap di tangan lain.
Wajahnya terlalu bagus untuk situasi seburuk ini.
Garis rahangnya tajam, kulitnya pucat dingin di bawah lampu, matanya gelap dan tenang. Tenang yang bukan ramah, melainkan seperti seseorang yang terbiasa membuat orang lain lebih dulu menjelaskan diri.
"Kamu siapa?" tanyanya.
Suaranya rendah, datar, dan sama sekali tidak terdengar seperti orang yang baru membobol rumah.
Yu hampir tertawa karena takut. "Harusnya aku yang tanya begitu."
Alis laki-laki itu bergerak sedikit.
"Ini unitku."
"Admin bilang ini unit share khusus perempuan."
"Admin salah."
Jawaban itu begitu pendek sampai Yu ingin melempar penggarisnya.
"Aku sudah bayar deposit," katanya.
"Aku nggak terima pemberitahuan."
"Itu bukan masalahku."
"Sekarang jadi masalahku."
Udara di antara mereka mengeras. Yu merapatkan pintu kamar dengan bahunya, tapi ia tidak mundur. Kalau mundur, ia akan terlihat seperti penyusup. Padahal dia yang baru putus, baru pindah, baru mencoba hidup tanpa drama. Kenapa hidup malah mengirim laki-laki 189 cm berbau bensin ke ruang tengahnya pada pukul dua pagi?
Laki-laki itu menatap penggaris di tangannya.
"Kamu mau mukul aku pakai itu?"
"Kalau perlu."
"Penggaris?"
"Besi."
Untuk pertama kalinya, sudut bibirnya bergerak sedikit. Bukan senyum. Lebih mirip penghinaan kecil yang terlalu tampan.
Yu makin kesal.
"Aku akan telepon admin," katanya.
"Besok." Laki-laki itu melepas jaketnya dengan gerakan rapi. Di baliknya, kaus hitam menempel pada tubuh yang jelas tidak dibentuk oleh hidup santai. "Sekarang aku mau mandi."
"Hei, tunggu. Kita belum selesai bicara."
Ia berjalan melewati ruang tengah menuju lorong. Yu, yang panik melihat orang asing menuju area kamar, refleks keluar dari kamarnya dan menghalangi sedikit.
Kesalahan besar.
Mereka bergerak pada saat yang sama.
Lengan Yu tersentuh punggung tangan laki-laki itu.
Hanya sebentar.
Kulit bertemu kulit.
Yu membeku.
Rasa semut halus yang sejak tadi merayap di bawah lengannya mendadak berhenti. Bukan berkurang pelan-pelan, bukan ditenangkan dengan usaha, melainkan hilang begitu saja, seperti seseorang mematikan suara bising di dalam tubuhnya. Napasnya, yang sejak tadi pendek dan cepat, turun perlahan.
Sunyi.
Untuk pertama kalinya sejak ia membuka pintu apartemen Kevin, tubuh Yu benar-benar sunyi.
Laki-laki itu juga berhenti. Ia melihat bagian tangan mereka yang tadi bersentuhan, lalu menatap Yu dengan dahi sedikit berkerut.
"Apa?"
Yu menarik lengannya cepat-cepat, seolah baru tersadar.
"Nggak."
"Kamu pucat."
"Kamu masuk rumah jam dua pagi. Tentu saja aku pucat."
Ia menatap Yu satu detik lebih lama, lalu mengambil satu langkah mundur, menjaga jarak dengan cara yang terlalu sadar. "Kamar mandi di ujung. Aku pakai lima belas menit. Setelah itu kita bicara kalau kamu masih mau ribut."
"Aku nggak ribut."
"Kamu pegang penggaris besi."
Yu menurunkan penggarisnya sedikit.
Laki-laki itu berjalan ke kamar mandi. Sebelum pintu tertutup, ia menoleh sekilas.
"Sim Zhenyu."
Yu berkedip.
"Apa?"
"Namaku." Ia mendorong pintu kamar mandi. "Kalau mau lapor admin, sebut nama yang benar."
Pintu tertutup.
Suara shower menyala beberapa detik kemudian.
Yu masih berdiri di lorong, penggaris besi di tangan, jantung di dada, dan kulit lengannya yang tiba-tiba terasa terlalu tenang. Dari celah pintu kamar mandi, aroma bensin perlahan kalah oleh wangi sabun.
Ia menatap punggung tangannya sendiri.
Satu sentuhan tidak sengaja.
Satu detik saja.
Dan seluruh dunianya, yang sejak semalam berisik dan pecah, mendadak diam.